Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
Jungkir Balik Dunia Jessy #8


__ADS_3

"Mama ingin ketemu kamu Jess, kalau kamu mau."


Jessy masing sangat ingat. Orang yang paling terpukul atas perceraian mereka adalah ibu Kent, Putri Sadewa. Dia sampai dirawat di rumah sakit. Jessy tidak datang menengok karena dia merasa tidak berhak. Dia bukan lagi istri Kent.


"Darimana tante tahu tentang aku?" Alis Jessy terangkat.


"Pak Ari yang cerita ke mama. Dewi juga menanyakan kabarmu. Dia sudah menikah."


Ingatan Jessy kembali ke empat bulan lalu saat dia bertemu dengan Pak Ari di kantor Royal.


"Maaf aku tidak bisa." Tolak Jessy tegas. Mereka sudah lama selesai.


"Ya kamu berhak menolak."


"Kalau begitu aku permisi."


Jessy berbalik dan kali ini dia sungguhan pergi. Kakinya melangkah. Hingga akhir Kent tidak pernah mengucapkan kata maaf. Meskipun begitu dia sudah memaafkannya. Jessy sudah lelah membencinya.


*****


Lantai dansa berdentum seirama dengan musik yang dimainkan. Malam semakin larut dan pesta semakin membara.


Acara formal dengan para pimpinan dan pemegang saham Royal Corp telah lama usai. Pesta berlanjut dan berpindah dari convention hall ke bar hotel. Tempat itu penuh sesak dengan semua karyawan Royal Corp dari semua cabang.


Begitu masuk akan disambut dengan ruangan yang redup dan lampu kelap-kelip. Di tengah ruangan banyak pasangan yang menari. Suara bising sangat memekakkan telinga. Ditambah dengan kerasnya musik. Untuk saling berbicara saja harus berteriak. Teman-teman Jessy telah berhamburan kemana-mana. Dia kehilangan mereka. Terakhir Jessy bersama dengan Yola, beberapa menit kemudian Yola ditelan lautan manusia. Bau rokok dan minuman keras membuat Jessy tidak tahan.


Dia butuh udara. Dia harus keluar dari dalam. Tapi usahanya sia-sia. Jessy terbawa arus gelombang manusia. Akhirnya dengan susah payah Jessy sampai ke balkon yang terbuka. Angit laut yang dingin segera menerpa wajahnya.


Malam ini Jessy memilih untuk mengenakan dress potongan simpel berwarna merah. Rambutnya diikat rapi ke atas. Panjang dress melewati lutut, ketat sehingga membentuk lekukan di badannya. Potongan atasnya diagonal dan terikat di leher Jessy. Bagian belakangnya adalah intinya. Belakangnya sedikit terbuka dan rendah. Leher, pundak dan punggungnya sedikit terekspos. Semua orang menggunakan pakaian yang menarik bukan hanya Jessy, karena acara ini memang dikonsep untuk pesta malam.


Stiletto hitam menambah jenjang kakinya. Untuk riasannya hanya sederhana. Jessy tidak mengenakan aksesoris lainnya selain anting kecil yang sering dia gunakan. Jessy juga tidak membawa handbag. Dia cukup hanya dengan ponselnya.


Jessy memeluk tubuhnya sendiri. Hawa dingin segera menerpa pundak dan lengannya yang terbuka. Dia ingin segera kembali ke kamar dan mengubur diri ke dalam selimut. Jessy tidak peduli Yola dimana. Jessy hanya ingin kembali.


"Hai, sendirian?"


Jessy menoleh, dia mengamati sekitar. Tidak ada siapapum kecuali mereka.


"Iya." Jessy mengangguk pada orang yang menyapa.

__ADS_1


"Berisik ya di dalam?" Tanyanya.


Jessy mengangguk. "Aku gak suka yang berisik." Ucap Jessy santai karena dia melihat orang itu masih muda, seumuran dengannya.


"Kenalin aku Ian dari Royal Corp Bali." Tangan orang yang bernama Ian terulur kepada Jessy.


"Ah aku Jessica, aku bukan karyawan Royal Corp. Aku dari perusahaan rekanan. Jayanegara Group Jakarta." Jessy menyalami Ian.


"Oh gitu. Pantes kamu sendirian disini. Gak bareng temen?"


"Ada sih tapi pada gak tau kemana." Jawab Jessy jujur.


"Sama. Meskipun kerja disini aku juga kehilangan temen-temenku. Kayaknya pada asyik sendiri di dalam." Ian menunjuk kumpulan orang yang sedang menari melalui dinding kaca yang menghubungkan bar dengan balkon. Ada pula yang sudah mabuk. Jessy merinding melihatnya.


Jessy mengangguk setuju.


"Mau minum gak?" Ian menawarkan.


"Aku gak minum yang kayak gituan."


"Aku juga kalau kamu tahu. Aku agak haus jadi mau ambil air atau jus, kamu mau sekalian?"


"Oke tunggu bentar ya." Ian segera kembali ke dalam dan menghilang di kerumunan orang.


Jessy kembali melihat laut. Langitnya sangat gelap. Jessy melihat jam di layar ponselnya. Hampir pukul dua belas. Jessy ingin pesta ini segera berakhir.


"Pesanan datang."


Ian membawa nampan yang berisi dua gelas minumam dan satu piring makanan riang. Air putih untuknya dan cola untuk Ian. Ian juga mengambil satu piring berisi buah anggur, biskuit dan keju. Sangat menggoda. Perut Jessy seketika keroncongan.


Saat acara formal tadi Jessy tidak bisa menikmatinya dengan baik. Dia sibuk menyembunyikam dirinya. Untung saja orang tua Kent tidak hadir. Kent juga tidak memperhatikannya. Tidak mungkin. Ada ribuan orang di aula saat itu juga.


Mereka duduk di salah satu meja yang ada di balkon. Ian mendorong nampan berisi makanan ke arah Jessy.


"Laper ya?" Tanya Ian dengan senyum tipisnya. Saat dia tersenyum lesung pipi disebelah kanannya terlihat.


Jessy mengangguk malu. Dia menghabiskan biskuit dan keju dalam waktu yang singkat.


"Ini dihabisin juga, nanti aku ambilin lagi." Ian menyodorkan gelas berisi air putih pesanan Jessy.

__ADS_1


Jessy mengangguk kemudian menenggak air dalam gelas itu sekaligus. Rasanya segar dan kenyang.


"Makasih ya Ian." Ucap Jessy dengan senyum yang tulus. Dia beruntung bertemu dengan Ian. Orang yang satu frekuensi dengannya.


"Iya sama-sama." Jawab Ian singkat seraya menenggak minumannya.


"Kayaknya aku harus balik deh, udah malem gini." Jessy bangkit.


"Sudah mau balik? Bentar dulu, duduk sebentar. Kalau pergi aku sendirian doang. Gak asyik ah. Beberapa menit lagi deh, nanti aku anter ke kamar baliknya." Pinta Ian dengan sungguh-sungguh.


Jessy kembali duduk. Ian sudah susah payah mengambilkan makanan untuknya. Jessy juga merasa tidak enak. Saat dia kembali duduk, tiba-tiba sakit kepala menyerangnya. Kepala berdenyut tak karuan. Nafas Jessy berat. Dadanya terasa sesak.


"Ah... uhuk... uhuk..." Jessy berjuang untuk bernafas dengan kedua tangan memegangi kepalanya.


"Jessica kamu kenapa?" Suara Ian terdengar samar.


"Ian kepalaku sakit." Ucap Jessy kesakitan.


"Sesak nafas juga?"


Jessy mengangguk lemah. Tubuhnya ambruk ke kursi panjang yang dia duduki.


"Sebentar lagi tubuhmu akan panas Jessica, setelah itu kamu akan memohon padaku untuk menyentuhmu." Seringai jahat muncul di bibir Ian.


Jessy bangkit dengan sekuat tenaga.


"Apa yang kamu berikan padaku?" Bentak Jessy dengan suara lemah.


Tubuh memanas. Benar apa yang dikatakan Ian. Dia kehilangan kekuataannya. Tubuhnya kembali ambruk. Pandangan Jessy kabur. Ian menarik tubuhnya. Jessy ingin mendorongnya tapi tidak bisa. Tubuhnya tak berdaya. Air mata Jessy tumpah.


"Tubuhmu harum Jessica, kamu sangat cantik sekali. Malam ini akan menjadi malam yang indah." Ucap Ian seraya mengangkat tubuh Jessy untuk berdiri.


Ian melingkarkan tangan Jessy ke lehernya kemudian menarik tubuhnya mendekat. Dia mendukung tubuh Jessy untuk berjalan mengikuti langkahnya.


"Lepaskan aku." Jessy memberontak dengan sisa-sisa kekuatannya.


"Tenang cantik. Aku akan memuaskamu malam ini."


Air mata Jessy tumpah. Seluruh tubuhnya terasa panas dan aneh. Ada geleyar asing menyusup ke seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Jungkir Balik Dunia Jessy #9 Next...


__ADS_2