
"Oh jadi begitu." Juna menggaruk dagunya yang tidak gatal.
Saat ini dia berada di bungalow Kent, dia baru saja sampai di Bali ketika matahari sepenuhnya tenggelam. Dia sudah melihat kondisi Jessy dan kini dia sedang terlibat percakapan dengan Juna.
Kent menyambutnya dengan hangat. Mereka duduk saling berhadapan di ruang tengah bungalow. Jessy masih belum sadar. Tapi untungnya demamnya sudah mereda berkat Kent yang mengurusnya dengan baik.
Juna telah mendengar semua cerita Kent, kecuali malam panas yang mereka lalui. Meskipun tidak diceritakan Juna bisa melihat tanda merah di balik kemeja yang Kent kenakan. Juna tak berkomentar. Dia hanya diam-diam mencuri pandang.
"Makasih ya udah bantu Jessy. Kalau tidak ada kamu Jessy pasti dalam bahaya." Ucap Juna tulus. Lebih baik dengan Kent daripada dengan pria lain yang tidak bertanggung jawab. Itu asumsi Kent.
Kent mengangguk.
"Kamu pasti sudah kesulitan selama ini. Makasih juga sudah menahannya Kent." Juna mengeluarkan kata spontan.
Dia tahu pasti apa masalah Jessy dan Kent. Juna juga tahu bahwa sejak awal Kent tidak menyukai Jessy. Jessy adalah orang yang terbuka dengannya. Apapun yang dia alami selama pernikahan mereka, Juna tahu. Dia hanya menjadi pendengar setia. Ikut campur bukan haknya. Itu masalah pribadi mereka.
"Tidak apa-apa."
"Aku akan membawa Jessy kembali malam ini juga. Biar aku yang urus dia."
Wajah Kent pias.
"Kenapa buru-buru sekali? Tunggu sampai Jessy bangun." Kent menegakkan punggungnya.
"Aku tidak mungkin menambahi beban orang yang sangat sibuk Kent. Jessy adalah tanggung jawabku." Bantah Juna.
"Kamu juga sama sibuknya denganku."
"Iya sih, tapi dia adikku. Aku tidak mau terus merepotkanmu."
Bahu Kent turun. Dia sadar posisinya. Dia berhadapan dengan orang yang tidak bisa dibantah kedudukannya di hidup Jessy. Kent sendiri bingung dengan perasaannya.
"Kembalilah besok pagi Juna. Jangan buru-buru. Aku tidak keberatan. Kamu pasti lelah, kamu kan baru saja pulang dari luar negeri. Ambil nafas sebentar. Bungalow di sebelah kosong, kamu bisa memakainya."
Juna diam sejenak.
"Betul apa yang kamu bilang Kent. Badanku rasanya hampir remuk. Aku bukan robot. Rasanya mau mati saking lelahnya." Tubuh Juna rileks. Dia menghempaskan badannya ke sandaran sofa. Betapa lelahnya dia. Dalam sehari berpindah-pindah tempat.
Kent diam-diam tersenyum tipis.
"Aku antar ke kamarmu."
Juna bangkit mengikuti Kent. Bungalow itu sudah lama tidak ditempati tapi sangat terawat. Kent memilih untuk tinggal di bungalow daripada di rumah oranh tuanya sejak perceraiannya dengan Jessy. Sepulang dari Inggris dia sempat tinggal bersama orang tuanya tapi tidak lama. Kent memutuskan menetap disana.
"Thanks Kent." Juna menepuk bahu Kent. "Maaf ya kalau Jessy sering merepotkanmu. Aku atas nama Jessy minta maaf dan makasih sudah bantu banyak." Lanjutnya.
__ADS_1
"Berapa kali kamu bilang maaf sama makasih Juna. Aku senang bisa membantu." Jawab Kent.
"Ya gak papa dong Kent, emang itu kenyataannya. Kalau salah minta maaf, kalau bersyukur ya terima kasih. Butuh bantuan ya minta tolong." Celetuk Juna seraya melepas kemeja dan mengendorkan ikatan dasinya.
Kent mengangguk setuju. Tiga kata ajaib yang tidak semudah diucapkan.
"Kamu istirahat saja, Jessy biar aku yang urus. Disini ada dokter yang bisa dipanggil 24 jam."
"Serius? Kamu gak papa?"
"Yes, im fine."
"Oke baiklah. Aku titip Jessy padamu lagi ya Kent."
"Kondisinya sudah membaik kok, saat ini dia sedang masa pemulihan makanya belum bangun."
Juna mengangguk.
"Oh iya, teman-teman Jessy sepertinya mencarinya. Sejak tadi menelepon tapi tidak kuangkat. Namanya Yolanda."
"Mereka karyawan Tim Arsitek di kantorku. Iya benar mereka teman Jessy. Nanti biar aku saja yang urus. Ponsel Jessy ada padamu?"
"Iya."
"Berikan saja padaku."
"Kamu kembali saja Kent. Biar aku urus sisanya."
"Oke. Aku pergi ya."
Pintu bungalow Juna tertutup. Kent kembali ke bungalownya. Langkahnya melambat mendekati tempat tidur. Kondisi Jessy kian membaik. Wajah pucatnya kini telah kembali. Ada semburat merah di pipinya. Kent tak mengalihkan pandangannya pada Jessy.
Jessy bermimpi buruk dalam tidurnya. Semuanya gelap dan hanya ada satu titik cahaya di ujung sana. Jessy berlari. Semakin dia berlari cahaya itu semakin menjauh. Jessy ambruk karena kelelahan. Air matanya tumpah. Dia hanya ingin keluar dari kegelapan ini.
Akhirnya ada cahaya di mimpi Jessy berikutnya. Dua orang duduk saling berhadapan. Di depan mereka ada meja kaca yang memisahakannya. Di atas meja ada dokumen yang ditumpuk rapi.
"Kita bercerai saja mas."
"Iya itu keputusan yang baik."
"Sampaikan maafku pada ayah dan ibumu karena tidak bisa menjadi menantu yang baik."
"Iya semoga hidupmu bahagia Jess."
"Mas Kent juga. Mari lupakan kenangan buruk satu tahun pernikahan kita."
__ADS_1
"Hiduplah sesuai keinginan hatimu Jessy."
"Tentu."
"Semoga kita tidak bertemu lagi."
"Semoga mas. Jika aku dilahirkan kembali aku tidak akan mau bertemu dengamu lagi."
Dua orang itu hanya saling menatap dan kemudian semuanya menjadi gelap. Air mata Jessy kembali merembas. Itu adalah mimpi tentang perceraian mereka. Hingga akhir mereka saling menyakiti.
Jessy membuka matanya. Bulu matanya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya disekitar. Langit-langit tinggi yang pertama kali dia lihat. Tempat yang asing. Jessy mencoba bangkit tapi tidak bisa. Tubuhnya mati rasa dan kepalanya rasanya sakit. Jessy mengerang di tempat tidur.
"Kamu belum boleh bangun. Tidur lagi aja. Mau minum?"
Jessy menoleh ke arah sumber suara. Matanya membulat saat mendapati orang yang duduk ditepian ranjang mengamati wajahnya. Ingatan Jessy berputar seperti piringan CD. Memutar memori yang telah terjadi.
"Dimana aku?" Jessy mencoba menolak kenyataan.
"Di kamarku Jess."
Wajah Jessy berubah pias. Tangannya gemetar. Dia mencoba bangun tapi rasa sakit menusuk kepalanya. Tubuhnya juga terasa remuk saat digerakkan.
"Ah!" Jessy mengerang. Dia menahan berat tubuhnya dengan salah satu tangannya yang gemetar sedangkan tangan yang lain memegang kepalanya yang berdenyut sakit.
"Jessy kamu belum boleh bangun."
Kent menyentuh tangan Jessy. Memegangnya agar tidak jatuh.
"Ahh!" Jessy kembali mengerang dan akhirnya tubuhnya ambruk dalam pelukan Kent.
"Sudah kubilang kamu belum boleh bangun. Kondisimu masih lemah." Ucap Kent seraya membaringkan tubuh Jessy.
Mata Jessy basah oleh air mata yang tidak bisa dia tahan lagi. Dia mengingat semuanya. Kejadian kemarin malam. Apa saja yang dia lakukan dengan Kent hingga saat ini. Dia berakhir tak berdaya di kamar Kent. Jesst mengutuk dirinya sendiri. Jika saja dia tidak di bawah pengaruh obat, kejadian ini pasti tidak akan terjadi.
"Kenapa menangis lagi?" Kent menyeka air mata Jessy dengan tangannya.
Jessy memalingkan wajahnya. Menolak bertatap muka dengan Kent.
"Tolong, tolong lupakan apa yang terjadi kemarin malam." Ucap Jessy dengan suara yang serak.
Kent menghentikan aktivitasnya. Bibirnya berkerut tanda tidak suka.
"Kamu cukup mengatakan terima kasih Jess."
Kent bangkit kemudian pergi. Suara pintu tertutup terdengar. Isak tangis Jessy pecah.
__ADS_1
Jungkir Balik Dunia Jessy #13 Next...