Haruskah Aku Merelakanmu

Haruskah Aku Merelakanmu
Bertemu Orang Tua


__ADS_3

Tak butuh waktu lama bagi Sifa dan Rio untuk mengetahui dimana keberadaan orang tua Sifa saat ini, berbekal nomer ponsel dan alamat rumah sakit beserta nomer kamar rawat inap ibu nya ahirnya Rio dan Sifa pun menemukan tempat mereka, tapi sayang sekali mereka terlambat, orang tua Sifa tak mampu membayar biaya rumah sakit, itu sebabnya mereka menghentikan pengobatan ibu nya Sifa.


Rio tak kehabisan akal dia pun meminta tolong pada pihak rumah sakit untuk memberikan alamat pasien yang barusan meminta untuk pulang.


Berbekal kejujuran dan juga bukti bukti yang kongrit ahirnya pihak rumah sakit memberikan info alamat yang tertera di KTP milik pasien, tentu saja dengan beberapa pertimbangan.


Dimobil..


Sifa begitu khawatir akan keadaan ibunya.


"Mas sifa takut." ucap Sifa.


"Sabar sayang kita pasti bisa menemukan keberadaan orang tua kamu oke." ucap Rio sambil memengang tangan istrinya.


"Mas kasihan sekali mereka sampai buat biaya rumah sakit aja ga ada." ucap Sifa.


"Iya sayang nanti coba kita bantu ya." balas Rio.


"Mas aku malu sama kamu." ucap Sifa.


"Malu kenapa sayang, udah jangan malu ya kita hadapi ini sama sama oke." ucap Rio sambil membawa mobil nya dengan tenang.


Sifa semakin terlihat gugup ketika mobil yang membawa mereka semakin dekat dengan alamat yang tertulis dikertas yang digenggamnya.


"Ini Beneran ga ya yank alamatnya?" tanya Rio.


"Kayaknya bener deh mas, Ya Allah mas bapak ibu ku tinggal ditempat kayak gini." ucap Sifa, tak terasa air matanya menetes tak bisa membayangkan betapa berat beban hidup yang harus ditanggung boleh kedua orang tuanya, ditambah ayahnya harus menanggung biaya rumah sakit ibu nya yang tidak sedikit.


"Yank lap dulu air matanya." pinta Rio sambil mengulurkan sapu tangan nya pada istrinya.


"Makasih mas."


"He em, turun yuk." ajak Rio.


Mereka berdua pun turun dan mulai bertanya pada penduduk disana dimana rumah orang tua Sifa.


"Yank oleh olehnya bawa sekalian." ucap Rio.


"Oia lupa." jawab Sifa, dia pun membawa buah dan juga makanan dirantang yang dia masak sendiri khusus untuk kedua orang tuanya.

__ADS_1


Rio dan Sifa menelusuri lorong lorong pemukiman warga yang sempit, banyak pasang mata yang memperhatikan mereka, dilihat dari penampilanya Sifa dan Rio terlihat orang berada, dengan sopan nya mereka pun menyapa beberapa orang yang mereka temuai, sesekali mereka berdua pun bertanya pada salah satu penduduk disana.


"Ini padat sekali ya mas." ucap Sifa.


"Kamu bener istriku, jika bapak sama ibu mau kita ajak pindah aja dirumah kita yang di dekat sini kan ada yang kosong, atau kalau mau serumah ama kita juga boleh." ucap Rio.


"Ga papa mas rumahmu buat tempat tinggal orang tuaku." ucap Sifa ragu.


"Kamu ini lo yank apa yang aku punya kan punyamu juga." jawab Rio.


"Makasih ya mas kamu baik banget sama keluargaku." ucap Sifa.


"Iya sayang aku mencintaimu, yank kearah mana lagi kita harusnya?" tanya Rio.


"Tanya orang aja mas." jawab Sifa.


Mereka pun bertanya lagi pada salah satu orang yang yang mereka temuai.


"Maaf cak numpang tanya?" ucap Rio pada salah satu orang yang ada didepan nya.


"Boleh ada apa mas?"


"O pak Romdhoni itu mas rumah nya, masuk gang yang ada benderanya itu masuk mentok rumahnya paling ujung sebelah kanan." jawab mas mas itu.


"Makasih banyak cak Assalamualaikum." jawab Rio.


"Waalaikumsalam sama sama mas." jawab orang itu.


Rio dan Sifa pun melanjutkan perjalanan mereka kembali, Sifa terlihat gugup.


"Kamu gugup yank?" tanya Rio.


"Iya mas Sifa gugup." jawab Sifa, tibalah mereka di sebuah rumah petakan dengan bercat kuning, pintu rumah itu dibuka sehingga mereka bisa melihat seorang bapak bapak sedang menyuapi seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat kurus, sesekali bapak bapak itu menggoda istrinya agar mau tersenyum dan mau menerima suapan makanan darinya.


"Assalamualaikum." sapa Rio, Sifa berdiri dibelakang suaminya sehingga tidak terlihat dari depan mereka.


"Waalaikumsalam, bentar buk ada tamu." ucap bapak itu sambil beranjak menyambut kedatangan Rio.


"Ada apa ya mas?"tanya bapak itu.

__ADS_1


"Maaf pak apa benar ini rumah bapak Romdhoni sama Ibu Fatimah?" tanya Rio.


"Bener mas saya Romdhoni dan itu istri saya Fatimah ada apa ya ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Romdhoni, saat itu juga Sifa keluar dari belakang tubuh Rio, mata bapak itu seketika terperanjat melihat siapa yang datang, dia seperti melihat dublikat istrinya, ingin pak Romdhoni memeluk langsung putri yang sangat dirindukanya tapi dia takut Sifa akan menolaknya.


"Maa ma mari masuk mas mbak." ucap pak Romdhoni.


"Siapa yang datang pak?"tanya bu Fatimah.


"Ooo ini buk..?" jawab pak Romdhoni gugup, dia ga tau harus menyebut apa mereka, Rio dan Sifa pun masuk kerumah itu sangat sempit, pengap bahkan baunya pun sangat kurang enak, hanya bau minyak kayu putih yang berasa nyaman dihidung mereka.


"Maaf mas mbak jika tempat kami kurang nyaman." ucap Pak Romdhoni.


"Ga papa pak kami diterima disini saja sudah senang, oia pak perkenalkan nama saya Rio dan ini Sifa istri saya." jawab Rio sambil menengok kearah istrinya, mata Sifa dan Ibunya saling menatap membuat Rio merasa kasihan pada dua wanita yang saling rindu tapi tak tau bagaimana cara mengekspresikanya.


"Fa kamu mau nanya apa, nanya aja." suruh Rio, Rio tau jika istrinya gugup dia pun menggengap erat tangan yang mulai dingin itu.


"Ibu sakit apa pak?" tanya Sifa pelan pada Bapaknya.


"Ibu sakit darahnya mbak." jawab Pak Romdhoni.


"Tadi kami dari rumah sakit pak kata perawat disana ibu sudah dibawa pulang makanya kami kesini." ucap Rio.


"Oia mas ibu minta pulang katanya ga enak dirumah sakit terus." jawab Pak Romdhoni, bu Fatimah saja diam dan mendengarkan obrolan mereka.


"Emm boleh saya tanya sesuatu pak?" ucap Sifa.


"Silahkan mbak , mbak mau tanya apa." jawab Pak Romdhoni.


"Apa bener bapak saya anak bapak?" tanya Sifa. Pak Romdhoni menatap lekat kewajah putri nya.


"Saya tidak tau mbak apakah saya masih pantas disebut sebagai seorang ayah karena memilih menitipkan putri kami dipanti dari pada merawatnya sendiri, demi tuhan mbak kami terpaksa, kami tidak rela jika putri kami dijadikan sesuatu yang tidak bagus, itu sebabnya kami menyembunyikanmu putriku." ucap Pak Romdhoni membuka apa yang selama ini dipendam nya.


Sifa merasa terguncang sekaligus masih bingung dengan apa yang Ayahnya bicarakan, tapi dia masih belum bisa bertanya apa yang sebenernya terjadi dikarenakam sikon nya belum mendukung.


"Saya masih belum bisa mengerti apa yang bapak maksud, tapi saya percaya bahwa bapak dan ibu adalah orang tua kandung saya, saya pernah melihat bapak sekali waktu panti dan mohon maaf waktu itu saya juga mendengar bapak membicarakan saya dengan ibu panti, apa pun alasan bapak menitipkan saya dipanti saya tidak mau ambil pusing, yang penting sekarang saya pengen bawa ibu berobat pak apa boleh." hati orang tua mana yang tak tersentuh mempunyai seorang putri berhati peri seperti Sifa.


Pak Romdhoni dan ibu Fatimah masih belum bisa menjawab apa yang putri mereka ucapkan mengingat mereka tak ikut merawat dan membesarkan Sifa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2