
Dawas adalah sebuah kota di ujung dunia, yang tak akan mungkin dilewati oleh mobil dari kota lain. Kehadiran mobil merah di pinggiran hutan kota, tentu saja membuat Joseph dan Arlo kebingungan.
Kedua pemuda yang sudah menginjak usia dewasa itu, menghampiri mobil merah yang terparkir di pinggir jalan dengan salju putih yang sudah memenuhi atapnya. Mereka dengan cekatan menyelidiki, apakah di dalam mobil itu ada manusianya.
"Kelihatannya mereka sekarat karena kedinginan, Jo!" Arlo yang sampai duluan, dengan susah payah membersihkan salju tebal yang menutupi salah satu jendela mobil itu.
Lelaki tampan dengan wajah menenangkan itu melongokkan wajahnya ke arah kaca mobil, diikuti oleh Joseph.
"Kau benar, Ar! Kita harus secepatnya menolong mereka!" ujar Joseph.
Singkat kata, Joseph dan Arlo pergi ke desa dan melapor bahwa ada satu keluarga yang membawa mobil, telah memasuki kota mereka. Tetapi kondisi satu keluarga itu sedang sekarat di dalam mobil.
Hampir semua laki-laki di kota Dawas berbondong-bondong untuk menolong keluarga itu.
15 hari 15 malam, satu keluarga itu pingsan. Seluruh warga Dawas mencoba menolong keempat orang dari daerah luar kota mereka, dengan berbagai cara yang mereka bisa dan tahu.
Warga Dawas belum tau, jika ada Virus baru selain varian Enza saat itu. Jadi mereka pikir keluarga itu hanya mengalami gejala Virus Enza 19 biasa.
Vaksin Virus Enza 19 memang sudah tersedia dimana pun, bahkan di Kota terpencil seperti Kota Dawas. Jadi para warga Kota Dawas tak begitu khawatir dengan penularan Virus jenis influenza itu.
Setelah 15 hari, satu persatu angota keluarga itu sadar dan keadaan mereka membaik dengan cepat.
Pasangan suami-istri yang kabur ke kota Dawas itu adalah salah satu ilmuwan SYPUS. Suami-Istri itu tau betul, apa yang akan keluarganya alami jika sampai mereka tak bisa sembuh dari Virus jenis baru. Kematian akan menunggu mereka.
untuk menekan penyebaran Virus varian baru, pemerintah Dunia sepakat untuk menyuntik mati, manusia-manusia yang terjangkit Virus varian baru yang saat itu belum diberi nama.
Kedua Ilmuwan itu takut, setelah mengetahui keluarganya mengalami gejala-gejala terjangkit Virus Danger 25 Ex. Virus jenis baru yang membunuh penderitanya hanya dalam waktu tiga hari saja.
Virus Danger 25 Ex sangat berbahaya, karena pengidap tidak dapat dideteksi dengan alat cek kesehatan apa pun pada saat itu. Sehingga penyebarannya sangat cepat, dan tak bisa ditanggulangi dengan cara yang biasa saja.
Dalam jangka waktu seminggu setelah Virus Danger 25 Ex, sudah menjangkit seperempat penduduk dunia. Hampir 500.000.000 manusia yang terjangkit Virus Danger 25 Ex, sudah meninggal dengan mengenaskan.
Pemerintah dunia tak bisa berbuat banyak, cara terakhir adalah menyuntik mati para pengidap Virus Danger 25 Ex yang keadaannya semakin parah.
__ADS_1
Siapa yang tidak takut mati, apa lagi mati karena mengabdikan diri sebagai peneliti AntiVirus untuk seluruh umat manusia.
Kepala keluarga Demon itu tau, cepat atau lambat dia dan keluarganya pasti mati. Namun dia tak akan membiarkan keluarganya disuntik mati oleh pemerintah.
Baginya nyawa yang ia punya harusnya cukup berharga bagi pemerintah. Pengabdiannya pada dunia AntiVirus, bukanlah sebuah hal yang bisa dibilang kecil.
Kelahiran kedua buah hatinya, ulang tahun mereka, perayaan pernikahannya dan istrinya. Semuanya ia lewatkan, ia berkerja sangat keras agar manusia di dunia bisa hidup normal tanpa virus-virus.
Tetapi balasan perbuatan baik yang kita dapat dariĀ manusia langsung, memang tak pernah setimpal.
Sewaktu-waktu, mungkin sedetik lagi. Pemerintah negaranya pasti akan memerintahkan pasukan medis khusus, untuk menjemput keluarganya di rumah.
Alasannya pasti akan se-klise biasanya, 'Untuk menjalani perawatan medis di rumah sakit'.
Tetapi semua tidak sesederhana itu, banyak pasien yang mengidap Virus Enza 19 yang dijadikan penelitian AntiVirus sampai kematian mereka.
Manusia-manusia yang diteliti oleh perusahaan SYPUS itu, memang tidak diijinkan sembuh dari penyakitnya.
Virus Danger 25 Ex, adalah salah satu virus yang diciptakan oleh ilmuwan SYPUS. Siapa yang menyangka jika virus mematikan itu akan membunuh separuh manusia di bumi.
Karena mengira nasibnya akan sama dengan manusia-manusia yang pernah menjadi bahan penelitiannya, Dokter Demon memutuskan untuk pergi saja dari negaranya dan mencari tempat perlindungan yang jauh dari manusia.
"Dimana ini?!" putri pertama Dokter Demon, Santiana Demon adalah orang pertama yang sadar.
"Anda berada di tempat yang aman!" kata Joseph.
Joseph sangat rajin, terlalu rajin malahan. Dia menjaga keluarga yang tak ia kenal, tanpa peduli keluarga itu mempunyai penyakit apa, dengan sangat baik.
"Apa aku masih hidup?!" putri keluarga Demon yang amat cantik jelita itu masih dirundung kekagetan yang mendalam.
15 hari pingsan bukanlah waktu yang singkat, apa lagi temperatur tubuh mereka sering berubah-ubah secara drastis dalam jangka waktu yang singkat. Bisa dipastikan, bahwa ada syaraf-syaraf di tubuh mereka yang mungkin saja rusak.
"Tentu saja anda masih hidup! Aku tak akan membiarkan kau mati, apa pun yang terjadi!" ujar Joseph dengan otak yang mungkin sedang terganggu.
__ADS_1
Matanya tak bisa lepas dari wajah pucat Santiana, seolah ada medan magnet yang kuat terpasang di wajah Santiana.
"Hehhhh!" Santiana bingung.
Baru saja dia pulang dari jurang kematian, tetapi seorang lelaki tampan sudah merayunya dengan kata-kata yang cukup membuatnya, harusnya melayang.
"Yaaaaa...Aku tidak akan membiarkan siapapun mati di hadapanku! Aku bukan pria yang pengecut!" Joseph mengoreksi perkataannya dengan nada terbata-bata karena gugup.
"Dimana Ayah, Ibu dan juga adikku?" Santiana terlihat baik-baik saja karena dia masih dapat mengingat keluarganya dengan baik.
"Mereka ada di ruangan sebelah, tapi mereka masih belum sadar!" jawab Joseph.
Santiana yang sudah tidak sabar segera turun dari ranjang rawatnya dengan terburu-buru. Tetapi berbaring di atas ranjang selama 15 hari, pasti membuat sendi dan syaraf di tubuhnya kaku.
Sehingga saat Santiana turun dari ranjang rawatnya, dia langsung terjatuh di pelukan Joseph yang sangat sigap menangkapnya.
"Akhhhhh!" Santiana seketika mencengkeram kedua lengan bagian atas Joseph, dia merasa tak kuat untuk berdiri sendiri. "Maaf!" ucap Santiana.
"Tidak papa!" Joseph gugup setengah mati.
"Berbaringlah dulu!" Joseph mencoba menyembunyikan gejolak di hatinya yang sudah sangat membara. "Nanti setelah keadaan tubuhmu membaik, aku akan mengantarmu ke kamar keluargamu yang lain!".
Santiana tak punya pilihan lain, selain menuruti perintah Joseph untuk kembali Istirahat di atas ranjang rawatnya.
Meski dia sudah sadar dari koma-nya, namun Santiana tahu tubuhnya masih sangat lemah untuk bergerak secara bebas. Dia tak ingin memaksakan diri, apalagi sampai membahayakan tubuhnya.
Bagaimanapun dia baru saja, lepas dari maut. Sembuh dari Virus Danger 25 Ex adalah sebuah keajaiban yang sangat langka.
"Keluargaku, apa mereka semua masih hidup?" Santiana hanya bisa bertanya keadaan keluarganya pada Joseph.
"Mereka semua masih hidup!" ujar Joseph.
Santiana yang sudah berbaring di atas ranjang tidurnya, menghela nafas karena lega. Ternyata bukan hanya dirinya yang bisa lolos dari maut Virus Danger 25 Ex.
__ADS_1