
Seperti tak merasakan sakit ditubuhnya, Seva melanjutkan tugasnya untuk menyisir area tengah kota.
Sedangkan Juju yang merasa masih khawatir dengan keadaan Seva, hanya bisa memantau Jet Seva dari pesawat khusus milik Tim Monitoring.
"Tuan anda terlihat sangat mencemaskan Seva?" tanya Leon.
Sambil meledek Juju, lelaki berwajah datar yang tampan itu masih mengintai pergerakan Zombi di dalam monitor canggihnya.
"Memangnya kau tak khawatir pada Seva?" tanya Juju pada Leon sedikit kesal.
"Kenapa saya harus khawatir pada salah satu pasukan tempur terbaik milik SYPUS!" ujar Leon.
Juju hanya diam, Seva pasti bukanlah manusia biasa yang sembarangan dicomot oleh SYPUS. Seva pasti adalah orang yang sudah dilatih lama di SYPUS.
"Apa anda pernah dengar Pasukan Alpha Satu?" tanya Leon.
"Aku belum pernah mendengarnya," akui Juju.
"Itu adalah pasukan pertama yang dibentuk SYPUS untuk memberantas Zombi!
"Seva dan Tuan Anthony adalah angota pasukan legenda itu!" kata Leon.
"Pasukan legenda?!" Juju masih bingung.
"Pasukan Alpha satu hanya berisi, 20 orang.
"Tapi mereka mampu menumpas Zombi dalam satu malam di sebuah kota Malio yang paling besar!" jelas Leon.
Juju akhirnya bisa bernapas lega, dia begitu khawatir dengan kondisi Seva. Tapi Seva adalah salah satu angota pasukan elit yang sangat mumpuni.
Lagi pula pergerakan Jet Seva tampak baik-baik saja. Artinya wanita setengah robot itu dalam kondisi setabil saat ini.
.
.
Juju segera menemui Seva yang sudah mendaratkan Jetnya di garasi pesawat induk. Lelaki itu tampak berjalan cepat bahkan berlari di lorong panjang menuju tempat luas itu.
Juju tampak sangat khawatir pada Seva, bisa dilihat dari wajahnya yang biasa ceria kini terlihat sedih dan cemas.
Juju berhenti di depan Seva yang baru saja keluar dari dalam Jetnya. Wajah manis Seva terlihat agak pucat, Juju segera meraih pergelangan tangan Seva.
"Kau harus cepat dirawat!" ujar Juju.
Calon Pemimpin SYPUS itu terus menarik pergelangan tangan Seva. Dan gadis manis itu ikut saja tanpa banyak bicara. Pemimpin Pangkalan Militer SYPUS ujung selatan itu tau, dia memang butuh perawatan segera.
"Ruang medis di sana!" kata Seva.
Gadis robot itu menunjuk ke arah lain di pertigaan lorong yang amat panjang itu.
"Dokterku yang akan merawatmu!" ujar Juju.
"Tak perlu serepot itu, ini hanya luka ringan!" kata Seva menunjuk bahunya yang terluka.
__ADS_1
Juju bisa mencium bau darah segar di tubuh Seva. Lelaki itu malah membuka reseting rompi tempur Seva, dan tanpa aba-aba malah membuka kancing kemeja Seva.
"Kau mau menelanjangiku di sini?" tanya Seva.
Gadis manis itu sudah menahan napasnya cukup lama, karena apa yang dilakukan Juju saat ini adalah sebuah sentuhan yang tak lazim bagi Seva yang seorang wanita.
"Lukamu pasti parah!" ujar Juju.
Seva akhirnya sadar, Juju hanya cemas akan lukanya. Dia naif menganggap sentuhan itu punya maksut keintiman.
Seva pun membuka semua kancing kemejanya, dan membuat Juju menutup wajahnya dengan ke dua telapak langannya dan berbalik.
"Apppppaaaa, yang kkkauuu lakuuukan?" Juju jadi gugup sendiri.
"Bukankah Tuan mau melihat lukaku?!" tanya Seva, gadis itu tersenyum mengejek ke arah Juju.
Padahal Seva masih memakai tanktop hitam di dalam seragam tempurnya. Tapi Juju mungkin berpikiran lain.
Seva meraih bahu Juju, lelaki itu berbalik ke arah Seva.
"Ini harus dijahit!" kata Juju.
Calon Pemimpin SYPUS itu kembali panik, saat melihat luka sayatan yang dibuat sendiri oleh Seva.
"Aku akan keruang medis sekarang!" kata Seva.
Tapi Juju malah mengikuti Seva menuju ruang medis itu.
"Apa kau juga terluka?" tanya Seva pada Juju.
Yang pasti lelaki muda itu hanya mencari alasan, padahal dia ke sana untuk melihat Seva dirawat.
Seva langsung ditangani sesampainya di ruangan itu. Meski banyak prajurit lain yang terluka, Juju akhirnya berkeliling dan melihat beberapa prajurit lain yang terluka.
Dia melihat seseorang dengan daging lengannya terkoyak. Luka gigitan Zombi itu amat lebar dan sangat mengerikan.
Juju mendekati lelaki yang tengah duduk di atas ranjang rawat itu. Karena belum ada satu pun tim medis yang mendekati pria yang tampak kesakitan itu.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Juju.
"Saya punya Gen Uras level tiga Tuan, saya akan baik-baik saja!" kata prajurit itu.
Tapi Juju malah duduk di dekat prajurit lelaki itu, dia membantu prajurit itu melepas rompi dan seragam tempurnya.
"Tuan tak perlu melakukan ini!" kata prajurit itu.
"Aku sudah biasa melakukan hal ini, aku lulusan akademi kepolisian dan lolos tahap akhir seleksi pasukan khusus SYPUS!" ujar Juju, dia menyombongkan dirinya.
Meski prestasinya itu tak seberapa, tapi Juju juga mempelajari merawat luka luar seperti ini di akademi kepolisian.
Dengan telaten dan cekatan Juju merawat luka pria itu, pemandangan itu tak luput dari perhatian Seva.
Gadis setengah robot itu dapat melihat kegiyatan yang dilakukan oleh Juju dari ruang rawatnya.
__ADS_1
Senyum Seva mengembang, apa yang dilakukan Juju saat ini. Membuat Seva mengingat Vie kakaknya, Vie mempunyai sifat yang hampir sama dengan Juju.
Baik, tak sombong dan penuh dengan ketulusan. Sosok kakak yang begitu sempurna bagi Seva, tapi sayang. Kakaknya itu harus meninggal di usianya yang masih muda, dengan cara yang tak biasa juga.
Wajah bahagia Seva tiba-tiba memudar, air matanya kini menetes membasahi pipi cabinya.
"Apa rasanya begitu sakit?Kau sampai menangis begitu?!" ujar Anthony.
Lelaki itu tiba-tiba muncul entah dari mana dan mengagetkan Seva yang masih menjalani perawatan medis.
"Apa kamu juga terluka?" tanya Seva pada Anthony.
"Iyaaaa aku terluka," ujar Anthony.
"Di mana?" tanya Seva khawatir.
"Di sini!" Anthony menyentuh dadanya.
Seva yang sudah hafal dengan gelagat candaaan Anthony pun hanya terdiam kesal.
"Bagaimana hatiku tak sakit? Kau menatap pria lain dengan pandangan menusuk, seperi itu!" kata Anthony dengan nada menyindir.
Seva hanya bisa menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangannya. gadis manis itu seolah mengakui, bahwa pandangannya pada Juju memang menusuk.
"Aku jadi ingat Vie!" kata Seva.
"Tapi dia lebih kuat dan lebih pintar dari Vie!" ujar Anthony.
"Kau benar!" Seva mengarahkan pandangannya lagi ke arah Juju.
Gadis setengah robot itu tampaknya tak mau berpaling sedetik pun dari Juju.
Anthony yang melihat ekspresi bahagia Seva yang tengah memandang Juju. Sahabat baik Seva itu hanya bisa tersenyum. Akhirnya Seva, temannya itu mendapat sebuah alasan untuk terus hidup.
Semenjak Vie meninggal, Seva seperti tak punya semangat hidup. Dia sering termenung dan berdiam diri.
Seva hanya punya sebuah kekuatan dari perkataan terakhir Vie. 'Tolong lindungi Jupiter untuknya'.
Apa yang dikhawatirkan Vie, sampai mengatakan kalimat itu di napas terakhirnya. Tak ada yang tau, tapi gadis iblis itu juga masih hidup sampai sekarang.
Perkataan terakhir Vie mungkin hanyalah sebuah permintaan, karena lelaki itu sudah mulai jatuh cinta pada pesona Jupiter.
"Kamu terluka juga?" tanya Juju pada Anthony yang berdiri di pintu masuk ke ruangan rawat Seva.
"Nggak aku hanya mau melihat Seva!" kata Anthony.
"Tuan Juju!" teriak Leon.
Lelaki bertubuh tegap tapi tak terlalu berotot itu baru saja masuk ke dalam ruang medis.
"Ada apa?" tanya Juju.
"Nyonya Jupiter memasuki area Benua Aust!" kata Leon.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤