HUMAN 2075

HUMAN 2075
Bayi dari dua pria


__ADS_3

"Apa tadi kau kejedot waktu di lift?" tanya Juju pada Jupiter.


Lelaki itu sudah keluar dari ruang ganti dan menuju pintu utama kamar itu, untuk pergi. Tapi Jupiter malah membuat Juju berhenti melangkah.


"Aku akan menunggumu di sini! Cepat kembali ke sini!


"Jika kau tak kesini nanti malam, aku akan mencarimu sampai ketemu!" ujar Jupiter.


Juju tampak sangat bingung dengan perubahan sikap Jupiter yang tiba-tiba. Apa cewek cantik itu punya kepribadian ganda, kenapa langsung berubah manis begitu.


"Kau sudah gila!" ujar Juju.


Lelaki gagah itu segera pergi dari dalam ruangan kamar mewah itu. Padahal Juju butuh istirahat, tapi pria muda nan tampan itu memilih pergi saja dari sana.


Jika dia terus tinggal di kamar mewah itu, bukannya bisa istirahat malah Juju yakin dia akan makin lelah karena ulah Jupiter yang makin berani.


.


.


Juju tak punya tujuan lain, tubuhnya sudah sangat lelah dan matanya sudah amat sangat perih karena mengantuk.


Kamar Anthony, siapa lagi. Juju tak mungkin tidur di pesawat induk yang sedang digunakan untuk evakuasi ke tengah kota.


Juju awalnya tak bisa berbaring di ranjang Anthony, karena pria berwajah licik itu hampir telanjang bulat saat tidur. Anthony hanya mengenakan kolor pendek saja saat tidur.


Tapi Juju tak ingin berpikir lagi, dia segera membuka kemejanya dan tidur di ranjang Anthony. Tak butuh waktu lama matanya segera terlelap mengarungi bahtera mimpi.


.


.


LINGKAR PUSAT OLIO


Luca baru saja bangun dari tidurnya, masih mengenakan piyama kimono berwarna hitam.


Dada bidangnya terekspos tanpa sensor dan wajah melankolisnya tampak tak ada semangat. Mata birunya kini memandang hiruk pikuk aktifitas warga Olio dari lantai 25 kamarnya.


Dua lengan kecil tiba-tiba memeluk pinggang ramping Luca, tapi sentuhan intim itu tak membuat Luca kaget.


"Kau sudah bangun?" tanya Luca pada wajah manis yang kini asik mencium aroma tubuh Luca yang belum mandi.


"Emmm!" gadis manis itu hanya berdehem singkat.


Kemesraan kedua sejoli itu harus terganggu oleh perangkat pintar Luca yang berdering.


Dengan sigap gadis manis berambut hitam itu melepas pelukan tangannya dari pinggang Luca. Dan Luca segera menuju meja dekat ranjangnya untuk menemui perangkat pintarnya.


Perangkat pintar itu hanya seperti sebilah kaca bening biasa. Tapi layar datar bertenaga surya atau pun listrik nukir itu punya segala data tentang perusahaan SYPUS.


Luca mendapat kabar tentang Jupiter yang pergi ke Benua Aust, serta beberapa kejadian yang menimpa Juju. Termasuk vidio perkelahian Juju dengan Zombi super besar di ruangan pertemuan Benua Aust.


Wajah datar pria berambut pirang dan bermata biru itu langsung tegang saat menyaksikan betapa hebatnya Juju.


"Dia bahkan belum mendapat pelatihan tempur yang bagus.

__ADS_1


"Tapi sudah sehebat ini?!" gumam Luca kesal.


Harapannya Luca hanyalah, dia bisa melayani pemimpin yang bodoh dan tolol. Karena hanya dengan begitu Luca bisa bertindak sesuka hatinya untuk mengendalikan SYPUS.


Tapi tak sesuai harapannya, dua pemimpin yang dia layani adalah pria tanpa cacat. Apa lagi Juju yang tampaknya seperti punya kekuatan dan energi yang luar biasa.


"Apa yang kau cemaskan?" tanya gadis manis yang kini duduk di sebuah kursi, dengan hidangan sarapan yang sudah separuh ia makan.


"Tidak ada! Aku hanya mendapat laporan terkini, tentang Calon Pemimpin yang berada di Benua Auts!" kata Luca.


Lelaki gagah itu segera meletakkan perangkat pintarnya dan bergabung untuk sarapan dengan istrinya.


"Suamiku, apa kali ini Jupiter akan berhasil?" tanya Wenda.


Nama Istri Luca adalah Wenda, dia adalah putri tunggal orang paling penting di Gen Akis.


"Entahlah," Luca tak mau berpendapat.


Meski sebenarnya Luca berharap Jupiter membunuh Juju. Lalu dia bisa mencari pengganti Calon Pemimpin SYPUS lain lagi.


"Aku tak menyangka kejadiannya akan seperti ini.


"Aku bahkan tak pernah melihat senyum adik ipar sejak kematian Vie!" ujar Wenda.


Luca sadar, selama dia terpilih menjadi Pengawal Pertama dan Jupiter sebagai istri Calon Pemimpin. Kedua saudara itu bahkan tak pernah sekali pun saling peduli.


Jupiter mau tersenyum atau tidak, itu seperti tak penting lagi baginya. Padahal sewaktu kecil Luca hanya peduli pada adiknya itu, tapi sepertinya tahta telah membutakan mata seorang kakak.


"Jika Jupiter tak berhasil dengan Juju, mungkin kita tak akan melihatnya lagi!" kata Luca.


"Akan kucarikan dia suami yang bisa merawatnya!" kata Wenda.


Gadis manis yang penuh dengan ketulusan, tapi perkataan lembut Wenda itu sepertinya menyinggung hati suaminya.


Dengan wajah yang bahagia, tapi kedua tangan yang mengepal geram. Luca menjawab niat baik istrinya itu. "Trimakasih istriku!"


Jupiter dan Luca hanyalah manusia hasil koning, orang tua angkatnya memang salah satu petinggi di Gen Akis.


Tapi orang tua angkat mereka juga bukan orang yang, mengangkat mereka sebagai anak karena sayang. Tapi karena ambisi dengan kekuasaan di SYPUS.


Jadi Luca hanya bisa bertumpu pada orang tua istrinya, jika menyangkut masalah pribadi seperti ini.


.


.


Malam lalu Tuan Gayo tidur di mansionnya, dia kelewat bahagia karena seorang bayi dapat lahir dari ruang penelitiannya penelitiannya.


Juju punya adik di usia ke 24--nya, dan bayi perempuan itu adalah kejutan yang akan diterima oleh Juju dikepulangannya nanti.


Garis senyum di wajah Tuan Gayo tak pernah sirna, dia begitu sangat bahagia melihat bayinya dirawat oleh seorang Dokter diruangan khusus.


"Ini adalah bayi Gen Uras pertama yang lahir dari ruang penelitian ini Tuan.


"Anda akan memberi nama siapa?" tanya salah seorang ilmuwan yang berdiri di dekat Tuan Gayo.

__ADS_1


"Biar Juju yang akan memberi nama adik perempuannya!" kata Tuan Gayo.


"Tanpa Juju, bayi itu mungkin tak akan lahir dengan selamat!" ujar Tuan Gayo.


Bayi itu adalah hasil kloning dari Gen Tuan Gayo dan Gen Juju. Jaman dimana pria dengan pria bisa punya anak.


.


.


.


.


BENUA AUST


Juju membuka matanya dengan cepat, entah kenapa lelaki gagah itu merasa mendengar suara yang aneh.


"Mati kauuuu paraaaa Zombiii!"


Ternyata suara itu berasal dari mulut Anthony yang masih tidur dengan pulasnya.


Juju pun duduk, dia melihat jam digital canggih di pergelangan tangan kirinya.


Dia telah tidur tiga jam rupanya, dan tubuhnya sudah tak lelah lagi.


Awalnya Juju ingin membangunkan Anthony, tapi Juju merasa tak tega lelaki itu tampak masih sangat lelah. Jadi Juju segera pergi dari kamar Anthony.


Dia harus kembali ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.


.


.


Seperti anak kucing yang enggak mau ketahuan setelah mencuri ikan goreng. Juju masuk ke dalam kamarnya dengan langkah yang pelan-pelan.


Juju melihat ke sekitar kamar dan melihat Jupiter tengah ketiduran di sofa depan TV yang masih menyala.


Seperti mendapat angin segar, Juju bisa mandi dan berganti baju dengan tenang karena biang kerok sedang bobok siang.


Juju mandi dengan cepat, dia tak mau Jupiter keburu bangun dan malah melancarkan aksi pengen anu-anu lagi.


Karena Juju sadar, dirinya sedang di usia matang-matangnya. Dan dia lelaki normal yang mudah sekali terpancing birahi.


Tinggal mengenakan kemeja saja, Juju malah menangkap bayangan sosok Jupiter dari kaca-kaca di almari ruang ganti itu.


"Sejak kapan kau di situ?" tanya Juju kaget.


"Sejak awal kau mengenakan pakaian!" kata Jupiter jujur.


Juju hanya bisa menelan saliva di seluruh ronga mulutnya. Tanpa dia sadari dia telah telanjang di depan istrinya itu.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2