HUMAN 2075

HUMAN 2075
Tyfan dan Edward


__ADS_3

Wajah tegas Tyfan berubah bengis, ia tak bisa menekan emosi di hatinya. Sebab lelaki yang kini berdiri tegak di dalam salah satu Ruang Penjara Kaca, adalah seseorang yang amat ia kenal.


Ssseorang yang mendorongnya jatuh ke jurang paling dalam di hidupnya. Seseorang yang telah menjadi dalang kehancuran dirinya.


"Lihatlah, ku pasti bisa mendapatkanmu?!" Tyfan bergumam.


Orang yang berada di dalam ruang penjara kaca, tak bisa melihat situasi di luar. Selain kaca yang mengelilingi ruangan itu sangat kuat, tetapi kaca itu juga kaca satu arah. Hanya orang yang berada di luar penjara kaca yang bisa melihat kondisi di dalam setiap ruang penjara kaca.


Satu lantai besar dengan banyak petak-petak ruangan kaca, yang di isi oleh banyak manusia. Manusia dengan berbagai macam bentuk aneh, sebab mereka sudah lama menjadi eksperimen Tuan Gayo.


Tyfan tersenyum menyeringai dengan amarah yang menguasai hatinya. Tanpa berpikir panjang, ia menghancurkan Ruang Penjara Kaca dimana musuhnya dikurung.


Kekuatan terbesar yang dimiliki Tyfan adalah mengendalikan molekul Unsur Kaca dan Minyak Bumi. Lelaki berwajah bengis itu dapat merubah bentuk molekul kaca dan minyak, menjadi benda apa pun yang ia mau.


Tanpa menghasilkan suara apa pun, Tyfan dapat memecahkan sebuah ruang penjara kaca dengan mudah. Kaca tebal nan kuat pecah berkeping-keping, melayang di udara tanpa penyangga.


Lelaki yang berada di dalam ruang kaca tentu saja kaget, dia berusaha menghancurkan ruangan aneh itu selama berhari-hari. Tetapi sekarang, tak ada angin atau hujan, kurungannya yang terbuat dari kaca tebal itu pecah berkeping-keping.


Yang lebih aneh lagi, pecahan-pecahan kaca itu berhamburan ke udara namun pergerakannya cukup lambat dari seharusnya.


"Apa ini?" tanya lelaki di dalam ruang penjara kaca.


Ia segera bangun dari ranjang tidurnya, pandangannya berputar ke seluruh area untuk mencari penyebab keanehan yang terjadi di dalam ruangan kaca yang mengurungnya.


Pyarrrrrrrrr


Seketika kaca tebal yang sudah berubah menjadi serpihan, terbelah menjadi dua dan terhempas ke udara. Mengenai ruangan penjara kaca lain, yang ditempati oleh makhluk-makhluk hasil eksperimen ngawur Tuan Gayo.


Akhirnya Edward dan Tyfan bertemu pandang.


Angin masih berhembus di sekitar tubuh keduanya, mereka saling menatap tajam dalam ekspresi kasar yang sama-sama mengancam.


"Kau?!" Edward tampak tidak suka dengan kehadiran Tyfan di depannya.


"Kamu pasti berpikir bahwa aku sudah mati, kan?!" Tyfan mengeluarkan senyuman licik khas dirinya.

__ADS_1


Tampak jelas jika perkataan Tyfan sangat mengganggu Edward. Saudara Alan itu mengernyitkan dahinya, dan mempertahankan pandangan tak sukanya pada Tyfan.


"Kau memang harus mati!" Edward tak bisa menyembunyikan rasa ketidaksukaannya kepada Tyfan. "Kau tak pantas disebut sebagai Pemimpin Rakyat Malio!" lanjut Edward.


"Aku tidak pernah meminta, untuk dijadikan Pemimpin oleh rakyat Malio!" ujar Tyfan, wajah bengisnya yang licik menoleh kearah lain. Ia membuang muka, karena tak suka dengan pernyataan Edward tentang dirinya yang tak pantas menjadi Pemimpin Rakyat Malio.


Tyfan memang tidak pernah meminta untuk dijadikan Pemimpin di Malio. Tetapi karena keberanian ayahnya melawan pasukan SYPUS yang selalu menindas rakyat Malio, sebutan itu diturunkan kepadanya.


"Tak ada pemimpin, yang membuat pengikutnya menjadi umpan!" ujar Edward.


"Umpan?!" Tyfan mulai kesal.


"Jika kau ingin membela SYPUS, bela saja mereka! Jangan libatkan kami!" ujar Edward dengan penuh kemarahan.


Perselisihan di antara keduanya, tampak tak sederhana.


"Lihatlah karena dirimu! Banyak orang Malio mati sia-sia!" Tyfan mendekat ke arah Edward, dia sudah tak segan lagi untuk melawan pria Malio dengan tubuh yang lebih besar darinya itu.


"Harusnya kau berpikir terlebih dahulu! Sebelum menuduhku!" Tyfan berkata dengan nada meninggi, dia sebenarnya tak pernah gentar melawan siapa pun. Tetapi dia tau, jika Tyfan yang berada di dekatnya sekarang, bukanlah manusia biasa, dia jadi sedikit ketakutan.


Tubuh manusia biasa Edward bahkan sampai melayang ke udara, dan berakhir di dinding penjara kaca lainnya.


Tubuh lemas Edward yang masih menolak makan dan minum. Memcoba bertahan dari cengkeraman tangan besar Monster Tyfan.


"Jika kau tak menghasut mereka untuk menghianatiku! Tuan Gayo tak akan membunuh-i mereka saat itu!" wajah Tyfan memgeras, dia menahan hasrat pembunuhnya.


"Cepppaaattt, atau... Lammmbattttt. Kita akan dibinasakannnn...Olehhhh Monster itu!" Edward memcoba memgatakan pesan terakhirnya.


Dadanya sudah sesak, terasa seperti terbakar api neraka. Pandangan matanya sudah kabur, pertanda tubuh manusianya kekurangan banyak oksigen.


"Diam kau! Jangan bicara lagi, atau aku akan membunuhmu dengan cara yang sangat menyakitkan!" Tyfan tak bisa menahan emosi dihatinya.


Dari dulu, hanya ada satu orang yang ingin dia bunuh yaitu Edward dan Joseph. Josep adalah ayah Edward yang telah menghasut para rakyat Malio untuk berpaling dari Tyfan yang sudah menjadi kaki-tangan Tuan Gayo.


Sehingga Tyfan merasa dihianati, harusnya sebagai sesama rakyat Malio yang ingin merubah dunia dengan perbedaan kasta yang amat mencolok ini. Mereka bersatu, dengan senang hati datang ke Tuan Gayo untuk dijadikan Pasukan Rahasia.

__ADS_1


Tetapi gara-gara perkataan Ayah Edward yang indah dan memojokkan SYPUS dan Tyfan, semua rakyat Malio tak ada yang mau mendukung keputusan pemimpin mereka pada saat itu yaitu Tyfan, untuk secara suka rela bergabung dengan Tuan Gayo.


Kulit wajah pucat Edward sudah berubah dari kemerahan menjadi biru tua. Edward sudah tak punya banyak tenaga untuk melawan Tyfan yang sangat kuat, satu-satunya cara adalah pasrah dan mati dengan tenang.


Toh Edward sudah menyangka, setelah dia sampai di tempat ini, dia akan bertemu Tyfan dan lelaki penghianat itu pasti akan membunuhnya.


Banyak kabar di Malio berkata, jika Tyfan sudah menjadi manusia yang berbeda. Lelaki keturunan pahlawan Malio itu sudah menjadi Anjing setia Tuan Gayo.


Seluruh Rakyat Malio kecewa, tetapi mereka bisa apa-apa selain bersembunyi. Musuh mereka bertambah satu kelompok, dan kelompok Tyfan ini bukanlah kelompok pasukan biasa yang bisa dilawan dengan senjata.


Rakyat Malio yang hanya tinggal segelintir, begitu membenci Tyfan. Pahlawan yang mereka puja-puja dahulu, telah melahirkan keturunan pemghianat seperti Tyfan.


Mungkinkah karena ibu kandung Tyfan adalah Rakyat Olio dengan Type 7 Gen Uras. Jadi lelaki yang dianggap sebagai penerus Arlo Sang Pahlawan, membelot dan membela SYPUS. Sebab di tubuh Tyfan terdapat Gen Uras juga.


Edward benar-benar kehilangan kesadarannya, di dalam kegelapan titik-titik akhir hidupnya, dia mengingat momen-momen indah dengan keluarganya. Ia, Alan, Ibu dan juga Ayahnya.


            ~♧~


Kami dulu bahagia, meski harus bertahan hidup dalam ketakutan akan Zombie.


Kami selalu tersenyum walau derita dan rasa sakit mengerayangi tubuh kami...


Kami tertawa bersama, saling menguatkan. Hal-hal kecil, menjadi pelipur lara yang amat berharga...


Maafkan aku Ayah!


Maafkan aku Ibu! Aku tidak bisa melindungi Alan...


Aku tak bisa melindungi perjuangan kalian...


Aku tak bisa melindungi Rakyat Malio...


EDWARD DIER


            ~♧~

__ADS_1


Air mata menetes pelan dari pelupuk mata Edward yang sudah kelu. Rasa sakit menjelang kematian yang ia rasakan saat ini, tak ada apa-apanya dengan derita yang ia tanggung setelah kedua orang tuanya meninggal.


__ADS_2