
Jika membicarakan tentang semua angota Tim Keamanan milik SYPUS, tak ada yang tak Seva kenal dan tak ada yang tak mengenal sosok Seva.
Wanita bertubuh setengah robot ini adalah salah satu angota utama dari Tim Keamanan SYPUS yang sangat berpengaruh. Seva adalah salah satu angota pertama Tim Keamanan SYPUS yang dibentuk oleh Tuan Gayo, saat Tuan Gayo baru pertama kali menjabat sebagi Pemimpin SYPUS. Tim Keamanan SYPUS yang terdiri dari, Vie, Anthony, Luca, Jupiter, Sarosa, Mondy, serta Dhan ditugaskan untuk menangani wabah virus di dunia.
Saat itu Vie, Anthony, Seva, Sarosa serta Mondy menjadi kepala Tim Lapangan, yang berhadapan langsung dengan manusia yang terjangkit Virus. Sedangkan Luca dan Jupiter menjadi kepala peneliti anti virus atas nama SYPUS. Sedangkan Dhan saat itu menguasai Tim Monitoring, untuk mengumpulkan berbagai keluahan diseluruh dunia.
Tetapi hanya Seva, Dhan, Anthony, serta saudara kembar Jupiter dan Luca saja yang masih bertahan sampai saat ini. Menjadi orang-orang yang dapat diandalkan di Gen mereka.
.
.
Namun saat ini Seva terpaku saat melihat sosok lelaki yang kini memandang lurus ke arah Zombie besar, yang mencoba melawan lelaki berwajah datar itu. Dia sama sekali tak mengenal, atau pernah merasa berpapasan. Padahal Seva mempunyai daya ingatan yang bagus tentang wajah orang-orang, meski baru sekali melihat.
Seva menaikkan tangan kanannya sebatas dada, lalu memencet tombol merah di sebuah alat yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebuah hologram layar lima dimensi langsung muncul.
"Perlihatkan padaku seperti apa wajah Tuan Raves dari Divisi Lingkar Keamanan Gen Akis!" perintah Seva kepada sebuah alat canggih, yang terpasang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
Seva mengamati gambar yang muncul di layar hologram lima dimensi. Bahkan alat yang berbentuk seperti jam tangan itu, memberikan informasi detail tentang Tuan Raves yang diminta oleh Seva.
"Dia bukan Raves anak buahnya Luca!" gumam Seva lirih.
Raves memiliki bentuk tubuh yang cukup kekar dengan wajah tegas namun hangat. Tetapi pria berjas rapi yang di dilihat oleh Seva saat ini, memiliki fitur wajah yang cukup imut untuk ukuran laki-laki.
Meskipun terlihat seperti bocah SMU, tapi raut wajah yang imut itu memancarkan hawa dingin yang cukup membuat orang yang melihatnya merinding.
Karena merasakan sebuah kejanggalan, Seva kembali memberikan instruksinya kepada dua rekannya, yang dia bawa dari Tim Keamanan Gen Akis.
Seva memberikan intruksi agar mereka semua selalu waspada. Meskipun mereka bukan objek serangan dari kedua makhluk, yang sama sekali tidak Seva kenal ataupun mengerti.
.
.
Zombie besar di sisi kiri tubuh Seva berdiri, berlari kencang ke arah lelaki berwajah dingin yang baru saja bangun dari jatuhnya.
__ADS_1
Tembok dibelakang lelaki berwajah dingin itu retak, sampai-sampai ada bongkahan beton yang berceceran di atas lantai.
Wajahnya sama sekali tidak mengeluarkan ekspresi apa pun, meski darah segar terlihat menetes dari ujung bibirnya yang mungil.
Lelaki bertubuh ramping itu masih terlihat santai, padahal dirinya tengah menjadi sasaran amukan seekor Zombie besar berukuran tiga kali lipat dari besar tubuhnya.
"Wuarrrrrrr!" Zombie itu berlari dengan arah yang lurus, seolah mayat hidup berukuran besar itu dapat mengendalikan tubuhnya dengan otaknya.
Blammmmmmmm
Sebuah tinju dari sang Zombie mengayun keras ke arah pria berwajah dingin. Tetapi pria itu menghilang dengan cepat, bahkan gerakannya melebihi kecepatan cahaya.
"Kemana pria tadi?" tanya Seva kebingungan.
Bagaimana dia tidak bingung, baru saja dia melihat seseorang menghilang dari hadapan bola matanya di siang bolong begini.
Alhasil tinju yang diayunkan Zombie besar itu menembus dinding bangunan terbengkalai tersebut.
Suara hantaman yang dikeluarkan oleh tinju yang beradu dengan beton itu, sangat menggelegar. Setara dengan ledakan sebuah granat di medan perang.
debu mengepul menutupi pandangan Seva dan kedua rekannya.
Namun Seva tidak ingin kehilangan satu momen pun dari kejadian ini. Wajahnya yang masih terlindungi oleh helm pelindung, masih mengarah lurus ke arah di mana Zombie besar itu menyerang pria berwajah dingin, yang sudah hilang entah kemana.
Asap debu yang berhamburan karena kerasnya hantaman tinju sang Zombie kearah dinding bangunan terbengkalai itu, berangsur memudar. Berangsur-angsur juga, Seva mulai bisa melihat dengan jelas pemandangan di sekitarnya.
Seva terdiam dan membeku, saat melihat sosok yang berada di kepulan asap debu yang sudah mulai hilang terbawa angin.
Seorang lelaki bertelanjang dada, dengan celana panjang yang sudah tak berbentuk. Tubuh kekar dan wajah tegasnya yang hangat, ternodai oleh kotoran serpihan beton yang melekat. Karena darah segar yang mengering menghiasi setiap sisi tubuh indah pria itu.
"Anda... Tuan Raves?" tanya Seva dengan nada kagok karena ragu.
Lelaki berwajah lelah itu hanya memggangguk tipis ke arah Seva.
"Apa anda Nona Seva, yang diutus oleh Tuan Luca untuk menjemputku?" lelaki itu bertanya pada Seva.
__ADS_1
"Iya!" kata Seva masih dengan nada Ragu.
Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa manusia ini berubah menjadi Zombie. Lalu berubah menjadi manusia lagi, dalam waktu yang singkat dan tidak meninggalkan reaksi yang berlebihan seperti yang di dialami oleh Jupiter.
Seva berdiri diam di tempatnya mengawasi setiap pergerakan Raves. Wajah manisnya sangat tegang, ketika melihat Raves berdiri dan melangkah maju kearahnya. Bukan karena merasa ketakutan, tetapi Seva masih bingung dengan keadaan Raves, si manusia zombie yang baru saja dia lihat.
Tanpa Seva sadari, Seva melangkah mundur saat Raves melangkah maju kearahnya.
"Saya bisa mengendalikan diri saya! Saya tidak akan menyakiti anda!" kata Raves.
Melihat bagaimana ketakutannya Seva terhadap dirinya, Raves tidak berani melanjutkan langkah kakinya untuk mendekati Seva.
"Jadi, anda benar-benar bisa mengendalikan kekuatan Zombie yang sangat besar itu?" tanya Seva.
Raves memutar bola matanya karena tidak tahu maksud dari perkataan Seva.
Dia sama sekali tidak merasa telah bisa mengendalikan kekuatan Zombie. Lelaki bertubuh kekar itu lebih merasa, dirinya bisa menguasai dirinya sendiri bahkan ketika dia terkontaminasi Virus Zombie.
Tetapi tempat ini bukanlah tempat yang tepat untuk menjelaskan semua itu kepada Seva. Karena Raves tahu betul, jika lelaki berwajah dingin yang baru saja dihadapi, pasti bukanlah sekutu Tuan Luca atasannya.
Sewaktu-waktu lelaki yang punyai kemampuan aneh serta daya tahan tubuhnya di atas manusia rata-rata itu, bisa saja datang kemari lagi. Dan membawa lebih banyak pasukan, karena lelaki itu mengetahui bahwa di tempat ini ada seorang manusia yang telah terkontaminasi Virus Zombie.
"Bolehkan saya Jelaskan hal itu di laboratorium Gen Akis saja?" tanya Raves kepada Seva.
"Baiklah!" kata Seva.
Wanita itu sebenarnya belum ingin percaya, bahwa ada manusia setengah Zombie yang bisa mengendalikan kekuatan Zombie.
Tetapi ketika melihat Raves segera berubah menjadi manusia, setelah lelaki berwajah dingin tadi pergi. Seva mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri, mungkin saja Virus Zombie membuat beberapa manusia di dunia ini bermutasi. Jadi lebih kuat dan dan bisa memanfaatkan kekuatan Zombie.
TYFAN
RAVES
__ADS_1