
Keteguhan
Pasukan yang dipimpin oleh Anthony dan juga Sefa bukan termasuk pasukan keamanan dari Gen Uras. Dua kelompok pasukan itu dibentuk langsung oleh Tuan Gayo atas nama SYPUS.
"Bukankah Anda takut, jika pasukan Anda banyak yang gugur! Karena membantu Benua Aust yang sedang terjangkit wabah Zombie?" tanya Juju.
"Bukan begitu Tuan, jarak kami cukup jauh dari Benua Aust! Sehingga kami terlambat mengirimkan bantuan kepada anda, maafkan kami!" Pemimpin Gen Uras itu masih sempat mencari alasan.
"Jika saat kami berangkat kau juga memberangkatkan pasukanmu ke sana, mungkin Pasukan Khusus Pemberantas Zombie tidak akan kesusahan!
"Karena bantuan yang kau kirim saat itu sangat terlambat, beberapa orang di Pasukan Khusus Pemberantas Zombie harus meninggal dunia!" Jelas Juju. "Lalu sekarang, dengan entengnya kau meminta wilayah itu untuk kau jaga?".
Juju menatap Pemimpin tertinggi Gen Uras itu dengan sangat tajam dan mengintimidasi. Sampai-sampai pemimpin yang mempunyai perawakan jauh lebih besar daripada Juju itu terdiam seketika.
"Keamanan di Benua Aust, akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab SYPUS!" ujar Juju tegas.
Tentu saja orang-orang yang berada di sana langsung saling bergunjing satu sama lain, karena keputusan yang diambil oleh Juju sangat berani. Bagaimana bisa seorang Juju yang tanpa dukungan Gen, berani menolah permintaan Pemimpin Gen Uras yang kuat.
"Selanjutnya!" kata Juju.
Juju sama sekali tidak peduli menjadi bahan gunjingan, dia memutuskan semua ini karena dia sudah menandatangani perjanjian dengan Benua Aust.
Baginya Benua Aust akan lebih aman jika SYPUS yang memegangnya. Karena rencana Juju adalah membuat Tuan Gayo berada di atas angin, lalu menjatuhkan orang itu ketika ia baru bisa terbang.
Yang mendapat giliran kedua adalah Pemimpin Tertinggi Gen Sia, dia hanya menyampaikan seketsa pembangunan untuk membangun Bemua Aust. Juju dengan cepat menyetujui keputusan itu. Sebab ia tau benar bahwa Tuan Gayo menginginkan pembangunan di Benua Auts dipercepat.
Yang ketiga tentu saja giliran Gen Akis.
Sesuai tebakan Dhan, Pemimpin Gen itu meminta pembangun Lingkar Olio mereka dipercepat.
Juju menghela nafasnya sebelum berbicara, karena dia tak punya cukup alasan agar pembangunan itu di tunda.
"Kurasa kita tak perlu buru-buru Tuan Redolf!" ujar Luca mendahului Juju.
"Apa maksutmu Luca, setengah Lingkar Olio Gen kita hampir rata dengan tanah. Bagaimana jika para Zombie itu bangkit kembali?" orang yang ditunjuk para pemimpin terdahulu Gen Akis itu tampaknya mempunyai tempramen yang kacau.
"Bukankah, percuma saja membangun kota. Jika Zombie-Zombie itu bisa keluar lagi?" tanya Luca.
Tampaknya Luca tidak diikut-sertakan oleh para petinggi Gen Akis ketika merundingkan masalah ini.
__ADS_1
"Itu memang benar, maka dari itu kita membutuhkan bangunan-bangunan yang lebih kuat dalam waktu yang cepat!" ucap Tuan Rudolf dengan kosa kata yang acak-acakan.
Juju hanya bisa mengeleng-gelengkan kepanya dengan kelu. Bagaimana bisa Gen Akis menunjuk lelaki gila sebagi pemimpin.
"Kurasa solusi yang anda katakan kurang tepat Tuan Rudolf!" ujar Juju dengan tegas.
"Kami tau apa yang kami hadapi, dan kami tau apa yang kami butuhkan!" ujar lelaki gila itu sangat emosi, sampai-sampai otot-otot lehernya menyembul keluar.
Seolah-olah itu dapat membantunya.
"Bagaimana jika kita membuat Lingkar Olio baru, untuk Gen Akis!" kata Juju.
Semua orang di ruangan itu pun kembali terdiam. Usul yang diberikan oleh Juju sangat masuk akal. Jika Gen Akis dipindahkan dari Lingkar Olio-nya yang sekarang, mereka tidak perlu khawatir lagi tentang bangkitnya zombie-zombie yang berada di bawah tanah pemukiman mereka.
Hampir semua kepala manusia yang ada di ruang pertemuan itu mengangguk-ngangguk faham, dengan apa yang diputuskan oleh Juju hari ini.
"Saya akan secara pribadi menemui anda nanti, di Lingkar Olio Gen Akis.
"Kita harus membicarakan konsep bangunan dan tata letak yang sesuai!" ujar Juju.
Tuan Rudolf tampak sedikit kebingungan, apa yang dikatakan Juju adalah usul yang brilian. Lelaki itu jadi malu sendiri, karena dari tadi tidak menahan emosi di dalam dirinya.
"Sepertinya sudah tidak ada keluhan lain lagi!" ucap Juju.
"Luar biasa!" kata Dhan.
Juju dan lelaki berwajah oriental itu memasuki ruangan khusus yang menjadi kantor Juju mulai sekarang.
"Apanya?" tanya Juju pada Dhan.
"Penampilan pertamamu!" celetuk Dhan, dia mengacungkan jempol tangan kanannya ke arah Juju.
"Biasa saja!" ujar Juju lemas.
Ia segera merebahkan dirinya di salah satu sofa nyaman yang tersedia di ruang kantornya. Tanpa sengaja Juju melihat papan nama yang bertenger menghadap padanya, di atas meja kerja di ruangan itu.
"Juju Haresa, Wakil Pemimpin SYPUS!" ujar Juju membaca tulisan huruf tebal di papan nama itu.
"Sebelumnya, tak ada jabatan ini. Tapi Tuan Gayo membuatnya khusus untuk kamu. Dia pasti sangat bangga padamu!" ujar Dhan.
__ADS_1
"Begitu ya!" Juju yang awalnya ingin berjingkrak kesenangan, jadi letoy kembali.
"Kenapa kamu?" tanya Dhan.
"Enggak papa, hanya sedikit capek!" ujar Juju.
"Apa karena Lisa?" tanya Dhan.
Juju termenung sesaat, ia jadi menginggat wajah manis gadis muda itu. Sayang sekali gadis secantik dan selucu Lisa harus berakhir menjadi santapan ikan Zombie.
"Sudahlah, masih banyak gadis cantik yang ada di Gen Sia!" ujar Dhan.
Dia berusaha menghibur Juju, tapi tak ia sangka bahwa perkataanya akan membuat Juju marah.
"Kau pikir wanita hanya sebuah benda?" tanya Juju dengan raut wajah penuh kemarahan. "Apa semua orang menganggap wanita hanya sarana untuk berkembang biak?".
"Bukan begitu, sebagai Wakil Pemimpin SYPUS kau tak boleh terlihat menyedihkan begitu!" ujar Dhan.
Juju sadar apa yang dikatakan oleh Dhan ada benarnya juga. Dia sedang dikondisi terlemah saat ini, jadi dia harus terlihat kuat dan tak terkalahkan. Agar tak ada orang yang berani menginjak-injak dirinya.
Dia juga harus memikirkan cara untuk mengobati Jupiter dan anak yang dikandung oleh wanita itu. Dia juga harus selalu terlihat baik-baik saja, dimana pun, dan kapan pun.
Kematian Lisa mungkin bisa melindungi Jupiter untuk beberapa saat ini. Tapi jika seterusnya ia terus terlihat menyedihkan, lambat-laun akan ada yang mencurigai keadaan Jupiter.
"Aku harus bekerja agar segera melupakan, Lisa! Beri aku banyak pekerjaan!" perintah Juju.
"Baiklah, akan kuberi kau banyak sekali pekerjaan!" kata Dhan.
Lelaki tinggi dengan rambut gondrong terlampau panjang itu berjalan keluar dari ruangan Juju.
Juju yang masih di dalam segera merogoh kantung jasnya, dia mengamati darah Makhluk Mars yang dia ambil di Mansion Pribadi Tuan Gayo tadi.
"Semoga ini benar-benar bisa menyelamatkanmu, Jupiter!" gumam Juju dengan penuh penghayatan.
Dia sedang memohon pada sebotol darah hijau terang di tangannya, terlihat sangat bodoh memang. Tapi apa daya, dia tak bisa memikirkan cara lain. Dia bahkan tak bisa berpikir dengan rasional saat ini.
Juju merasa dia sudah berubah cukup jauh dari dirinya yang dulu. Dia seolah-olah tak mengenali dirinya yang sekarang, namun ia tak menyesal, dia tak akan menyesalinya. Sebab hanya dengan cara ini Juju bisa melindungi apa yang ia punya sekarang.
Ia akan melindungi Jupiter dan bayinya yang masih dikandungan wanita cantik itu. Ia akan mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk mencari obat bagi Jupiter yang telah berubah menjadi Zombie.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤