HUMAN 2075

HUMAN 2075
Pasangan Sesungguhnya


__ADS_3

Jupiter melempar  senjata api laras panjang ke arah Juju. Lelaki itu segera mengunakan senjata itu untuk menembaki beberapa zombi yang baru datang.


Jupiter tampak bingung, dia takut bayi di dalam kandungan ibu itu akan terkontaminasi Virus Zombi.


"Bolehkan saya membelah perut anda?" tanya Jupiter pada ibu-ibu yang sudah lemas karena rasa sakit ditubuhnya.


"Selamatkan anak saya!" kata ibu itu.


Pisau tajam sudah berada di kepalan tangan Jupiter, gadis itu harus melakukannya dengan cepat. Sebelum rahim ibu itu ikut terkontaminasi.


Dengan sekali sayatan Jupiter yang memang ahli dalam bidang medis itu, bisa membelah perut ibu itu.


Darah merah yang segar masih mengalir deras dari luka sayatan Jupiter, artinya tubuh ibu itu belum berubah menjadi zombi.


Dengan semangat Jupiter yang sudah tak peduli dengan ibu itu yang mulai tak sadarkan diri. Segera mencari letak rahim dan tempat sayatan lain, agar bayi di dalamnya tak terluka saat Jupiter membelah selaput ajaib itu.


Setelah menemukan tempat yang tepat, Jupiter menyayat tempat itu dengan hati-hati. Tapi darah di sana sudah mengental hitam.


Segera Jupiter menjauh dari tubuh ibu itu. Jupiter masih melihat ke arah perut ibu-ibu yang baru saja dia belah tadi.


Tangan mungil yang pucat merobek sayatan yang tadinya dibuat oleh Jupiter. Perlahan-lahan bayi yang sudah terkontaminasi oleh Virus Zombi itu keluar dari dalam perut ibunya.


Bayi yang harusnya hanya bisa merengek itu malah merangkak keluar sendiri, dan saat melihat Jupiter. Bayi kecil mungil itu langsung melompat ke arah Jupiter yang ia kenali sebagai makanan.


Duarrrrrrrrr


Sebuah tembakan membuat bayi itu terkapar di aspal jalanan. Juju terpaksa menembak zombi kecil itu untuk melindungi Jupiter yang masih syok.


"Kembalilah, tak seharusnya kamu disini!" kata Juju.


Tubuh dan wajah lelaki itu sudah dihiasi dengan cipratan darah zombi, yang berwarna hitam pekat. Tapi ketampanannya sama sekali tak luntur apa lagi hilang.


"Aku baik-baik saja!" kata Jupiter.


Juju memandang ke arah wajah ketakutan Jupiter, ini adalah ekspresi baru yang Jupiter perlihatkan pada suaminya. Ekspresi ketakutan dan rasa bersalah itu membuat Juju merasakan sisi manusia di diri Jupiter.


Juju segera mendekati tubuh istrinya itu dan menekan tombol di tangan Jupiter, helm besi wanita itu kembali tertutup. Juju memeluk tubuh Jupiter yang di balut pakaian besi itu.


"Tidak papa, ini bukan salahmu!" kata Juju lembut.


Di dalam helmnya Jupiter tampak terharu dengan kasih sayang yang ditunjukkan oleh Juju.


"Kita harus menyelamatkan yang lain!" ujar Juju.


Dia tak mau larut dalam kesedihan itu, meski rasanya mereka bisa perpelukan seharian. Tapi Juju harus bisa melepas Jupiter, mereka masih punya banyak tugas yang harus dikerjakan.

__ADS_1


Zen dengan seragam militernya pun keluar dari dalam mobil tanknya dan berlari ke arah Juju.


"Tuan daerah ini sudah bersih!" kata Zen.


Juju mengedarkan pandangannya, meski hanya kehancuran yang dia bisa kenali dari manik matanya. Tapi Juju juga tak mendengar pergerakan zombi di sekitar sini.


"Bagaimana di tempat lain?" tanya Juju pada Leon melalui earpiecenya.


"Area dua sepertinya butuh bantuan anda Tuan!" kata Leon.


Juju segera berjalan ke arah mobil tanknya, dan diikuti oleh Zen dan Jupiter.


"Kita harus pergi ke area dua!" perintah Juju pada Zen.


Jupiter berjalan masuk duluan dan dia duduk di kursi penembak, sementara Juju duduk di kursi bebelah kemudi yang diduduki oleh Zen.


"Bagaimana kau bisa kemari?" tanya Juju pada Jupiter yang sudah membuka helmnya tadi.


"Terbang!" kata Jupiter.


"Terbang?!" Juju dan Zen tampak bingung dengan jawaban Jupiter.


"Pakaian ini diproduksi oleh Gen Sai, dan kali ini baru aku yang bisa memakainya.


"Ini bisa terbang, dan melindungi diri dari terkontaminasi Virus.


"Harusnya ada beberapa senjata yang terpasang secara otomatis, tapi masih diproduksi dan diteliti.


"Jadi aku tak punya banyak hal, selain lengan kuat ini!" kata Jupiter.


Dia memamerkan tangannya yang dilapisi besi khusus yang memang terlihat kuat.


Juju dan Zen tampaknya tak mendengar penjelasan Jupiter. Tapi mereka malah fokus ke jalanan dan intruksi dari Leon di earpiece masing-masing.


"Kalau nggak mau denger, kenapa tanya!" Jupiter tampak kesal.


.


.


Sepeninggalan mobil tenk Juju, mayat ibu-ibu yang perutnya dibelah oleh Jupiter tadi mulai bergerak-gerak.


Seseorang dengan baju serba hitam dan topi hitam mendekati mayat ibu itu. Lelaki yang tak lain adalah tangan kanan Tuan Gayo yang bernama Tyfan. Pria itu meneteskan sebuah cairan biru tua ke atas tubuh ibu-ibu yang mulai berubah menjadi zombi itu.


Manik mata ibu itu berubah warna kebiruan yang amat terang. Tubuh yang sudah terkoyak pisau dibagian perut dan gigitan Zombi di sekujur tubuhnya itu berdiri dan berjalan sempoyongan.

__ADS_1


Tubuh tambun wanita itu bergerak tidak seperti zombi yang menuruti insting lapar. Tapi tubuh manusia yang mulai membengkak itu mengikuti sebuah dendam di hatinya.


Ibu itu ternyata melihat Juju menembak anaknya yang baru lahir. Zombi yang diciptakan oleh rasa dendam dan kekuatan pikiran yang kuat. Sebuah senjata jenis baru yang diciptakan oleh Tuan Gayo.


Benua Aust adalah sebuah tempat yang tepat untuk menguji Virus aneh itu. Sekalian Tuan Gayo ingin memgetes, bagaimana kemampuan si ahli warisnya. Sang pemilik Gen Horo dan juga mutasi darah dari mahluk Mars.


.


.


Juju sudah sampai di area dua. Tempat ini bahkan sudah lebih kacau dari area satu yang di pegang oleh Juju. Mobil tank yang menjadi kendaran tim yang menyisir area ini sudah dikerubuti oleh para zombi.


"Apa mereka menembak secara ngawur?" tanya Jupiter pada Juju dan Zen.


Tapi pertanyaan itu tak di hiraukan oleh keduanya.


"Apa kau akan keluar lagi?" tanya Jupiter pada Juju.


Karena suaminya itu mempersiapkan beberapa senjata api dan mulai memasangnya di kantung-kantung rompi yang dia kenakan.


"Kau disini saja!" perintah Juju pada Jupiter.


"Aku harus mengetes baju tempur baru ini!" Jupiter tak mau menurut.


Tapi Juju juga cukup percaya dengan kekuatan pakaian tempur yang dikenakan oleh Jupiter. Gen Sai pasti bekerja keras untuk mempersiapkan baju tempur itu, mereka tak mungkin mengecewakan SYPUS dengan meluncurkan produk gagal.


Juju dengan senjata api laras panjangnya sudah melancarkan tembakannya ke arah tenk yang di timbun oleh tubuh-tubuh zombi yang kelaparan itu. Sementara Jupiter mengikuti Juju, dia mengunakan tangan robotnya untuk menghancurkan zombi yang berusaha menyerang mereka berdua.


"Pecahkan tengkoraknya!


"Hanya dengan begitu mereka nggak akan bangun lagi!" perintah Juju pada Jupiter.


"Ok, bawel!" ujar Jupiter yang tak mau menegenakan helm robotnya.


Juju yang mendengar jawaban kesal Jupiter tampak tersenyum senang. Juju masih tak percaya jika Jupiter bisa sebersahabat seperti sekarang ini.


Karakter wanita kaku yang agresif yang awalnya dia pegang teguh akhirnya luntur. Menjadi wanita yang lembut dan penuh perasaan.


Jupiter meninju seorang zombi yang berlari ke arah mereka, tepat di kepala zombi itu. Darah hitam mebasahi tangannya, tapi hampir saja darah kental itu membasahi wajah cantik Juju. Tapi pria itu dengan sigap menghalangi muncratan darah itu dengan telapak tangannya.


"Pakai Helmmu!" ujar Juju.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2