
Perubahan Manusia
"Ini darah salah satu pasukan keamanan inti Gen Akis! Tapi dia dinyatakan meninggal beberapa hari yang lalu, saat terjadi serangan Zombi di Lingkar Olio Gen Akis!" jelas Daniel pada Seva.
Wanita setengah robot itu meminta bantuan Daniel untuk mengidentifikasi darah Zombie yang dia ambil dari TKP.
Seva jadi berpikir, kecurigaannya pada Luca mungkin memang benar adanya. Karena Pasukan Keamanan Inti Gen Akis, dipimpin oleh lelaki berambut pirang dari lahir itu.
Sementara Zombie yang menyerangnya adalah salah satu orang yang bekerja di bawah Pasukan Keamanan Inti Gen Akis. Tetapi, apakah seorang kakak sanggup menyakiti adik kembarnya sendiri.
Luca memang orang yang sangat dingin dan tidak peduli pada orang lain. Tetapi setahu Seva, Luca itu sangat peduli pada Jupiter.
Segila-gilanya Luca, dia tidak akan membuat adiknya menjadi tikus percobaan Virus Manusia Zombie. Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Luca.
Seva pun segera keluar dari laboratorium Dokter Daniel. Ia akan mencoba hubungi Juju, dan menceritakan kegundahan di dalam hatinya. Entah kenapa, Seva merasa hatinya lega ketika sudah menceritakan semuanya kepada Juju.
Berkali-kali Seva melakukan panggilan kepada Juju panggilannya tidak dapat diterima oleh lelaki itu, Seva jadi khawatir. Apa yang sebenarnya Juju lakukan saat ini, sampai-sampai lelaki gagah itu tidak sempat menjawab panggilan di ponselnya.
Di tengah kebingungan dan kekhawatiran Seva, muncullah seseorang yang tadi membuat gadis setengah robot itu curiga.
Seva tampak tak menyukai kedatangan Luca di dekatnya. Sementara Luca mengamati gerak-gerik Seva dalam keraguan.
Luca sebenarnya tidak ingin mempercayai Seva, namun dia tidak punya pilihan lain. Satu-satunya orang yang tidak akan dicurigai oleh Tuan Gayo adalah Seva.
Alasannya Seva dan Vie adalah kakak adik yang dipungut oleh Tuan Gayo di jalanan Malio, Pemimpin SYPUS itu membiayai pendidikan mereka dan menjadi wali untuk kedua anak itu.
Itulah Alasannya kenapa Luca sangat ragu kepada Seva, tetapi dia juga tidak bisa menunjuk orang lain selain Sava.
Luca terus berjalan gontai ke arah Seva, ia mencoba untuk bergelagat biasa saja. Agar Sava menurunkan kewaspadaannya terhadap dirinya, Luca tahu Sava sedang mencurigainya sebagai dalang terjadinya Virus Zombie di dunia ini.
Saat tiba di hadapan Seva, Luca langsung mengeluarkan botol yang berisi darah Makhluk Mars, yang tadi diberikan oleh Juju kepadanya.
"Juju mendapatkannya dengan susah payah. Dia harus mencuri ini dari Tuan Gayo!" ujar Luca.
Perkataan Luca ini adalah sebagai peringatan dan sebagai unpan untuk Seva. Jika sampai hal ini bocor keluar, sudah bisa dipastikan jika Seva adalah penghianat. Tapi jika hal ini tetap menjadi rahasia pribadinya, maka Seva mungkin memang benar-benar ingin membantu Juju dan Jupiter.
Seva mengambil botol berisi darah Makhluk Mars yang diulurkan oleh Luca.
Mata bulat Seva melirik ke atas, ke arah wajah dingin Luca. Dia mengendurkan kewaspadaannya terhadap lelaki di depannya ini.
__ADS_1
"Darah zombie yang kutemukan di TKP, terdeteksi darah salah seorang dari anak buahmu di Tim Inti Keamanan Gen Akis!" ujar Seva yang masih terus mengamati ekspresi di wajah Luca.
"Aku menyembunyikannya, karena aku takut seseorang akan menyakitinya. Dia tidak mempunyai latar belakang keluarga yang bagus!" jelas Luca dengan ekspresi datar.
"Aku tau hatimu tak selembut itu!" ujar Seva, gadis setengah robot itu mundur satu langkah kebelakang. Rasanya ia tidak nyaman berada di dekat Luca, si pria balok es.
"Manusia selalu berubah sesuai keadaan!" ujar Luca, lelaki itu malah mendekatkan dirinya ke arah Seva yang berdiri sangat tegas di depannya. "Vie yang sangat bijaksana, pernah mengatakan itu bukan!" lanjut Luca.
Luca mengungkit nama Vie untuk memancing reaksi Seva. Seva biasanya tidak suka jika ada seseorang yang mengungkit Vie di depannya, apa lagi mengungkit tentang kakak tersayangnya itu adalah Luca atau Jupiter. Yang dianggap sebagai dalang paling berpengaruh atas kematian kakaknya.
"Semoga, kau bisa berubah menjadi orang yang lebih baik!" ujar Seva dengan sangat tenang.
Luca kaget, ternyata Seva bertingkah sangat lembut. Biasanya gadis ini akan memukul paling tidak tiga kali ke arah titik vital Luca, jika lelaki ini mengungkit tentang Vie di depan Seva.
"Kelihatannya, sekarang kau lebih jinak!" komentar Luca, dia mundur untuk memberi ruang pada Seva.
"Kita bukan anak kecil, seperti dulu! Kita harus menyelesaikan masalah secara tuntas, bukan menyelesaikan masalah dengan keributan!" ujar Seva.
Luca tersenyum miring mendengar perkataan Seva, dia jadi mengingat masa lalu ketika semuanya belum berubah. Luca adalah orang yang sangat dingin, tetapi dia selalu bisa tersenyum ketika melihat tingkah Seva dan juga Jupiter yang selalu bersama dulunya.
"Bisakah aku mempercayaimu lagi, Seva?" tanya Luca.
Luca tidak bisa berkata-kata lagi Mungkin ini jalan satu-satunya, Tim tujuh mungkin akan bersatu lagi seperti dulu.
Seva meninggalkan Luca yang masih berdiri di depannya, Seva kembali ke dalam ruang laboratorium untuk meminta Dokter Daniel memeriksa darah Makhluk Mars.
Semakin cepat proses pembuatan antivirus untuk Jupiter, maka akan semakin baik untuk semua orang.
.
.
.
.
Detik demi detik menuju menit, menit demi menit menuju jam, dan jam semakin berputar, hari pun mulai gelap.
Seva dan Dokter Daniel masih sibuk di laboratorium untuk mencari antivirus di dalam darah Makhluk Mars.
__ADS_1
Sementara Juju masih sibuk di kantornya dengan tumpukan dokumen yang menghiasi meja kerjanya. Lelaki itu begitu sangat serius ketika memeriksa semua dokumen, apalagi dokumen-dokumen menyangkut Virus Zombie.
Juju ingin mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai Virus Zombie jadi dia bisa Mencari antivirus yang tepat untuk Jupiter.
"Apa kau tak lelah?" tanya Dhan, matanya yang sipit sudah hampir terpejam karena hari sudah menunjukkan waktu tengah malam.
"Jam berapa sekarang?" tanya Juju pada Dhan yang sudah lemas.
"Jam 12 malam!" ujar Dhan kesal.
Juju melepaskan dokumen yang dia baca dari tangannya, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.
"Akkkkkkkkkk, estttttttt punggungku!" gumamnya.
Juju pun merenggangkan otot-otot badannya yang sudah kaku, karena seharian duduk di kursi kerjanya dengan kegiatan hanya membaca.
"Jika kau ingin pulang, kau bisa pulang duluan! Kurasa aku akan tidur di kantor!" ucap Juju.
"Kau lupa kau punya janji dengan Luca? Dia sudah menunggu di rumahmu!" ujar Dhan.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!" kata Juju dengan nada sedikit membentak.
Lelaki gagah itu segera bangun dari kursinya, mengambil jas di gantungan dan memakainya. Lalu nyelonong pergi begitu saja.
"Tadi kamu serius sekali membacanya, aku tidak tega mengganggumu!" ucap Dhan yang sama sekali tidak digubris oleh Juju.
.
.
Luca berada di kediaman Juju bukan semata-mata hanya untuk bertemu dengan adik iparnya itu, dia juga dipanggil secara khusus oleh Tuan Gayo.
Bagaimanapun Luca masih menjabat sebagai pengawal utama Tuan Gayo, jadi dia masih mengurusi beberapa urusan Pemimpin SYPUS tersebut.
Besok Tuan Gayo akan ke benua Aust, untuk meresmikan kerjasama antara SYPUS dan Benua Aust. Jadi Tuan Gayo meminta Luca untuk menemani perjalanan dinasnya.
Tujuannya sudah pasti agar Luca tidak bisa membantu Gen--nya yang sedang dalam krisis.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤