HUMAN 2075

HUMAN 2075
Mengubah Dunia


__ADS_3

Kedua orang itu sudah berada di dalam pesawat pribadi milik Juju.


Pintu pesawat telah ditutup rapat, kini yang mereka dengar hanya deru nafas keduanya yang saling bersautan.


"Trimakasih!" ujar Juju.


"Sama-sama," Seva menahan nafasnya sejenak, agar kata yang keluar dari mulutnya bisa terdengar jelas.


Dengan sisa kekuatan tubuh mereka, Juju dan Seva melangkah masuk ke dalam badan pesawat.


Di tengah dera rasa lelah yang menghampiri Juju, lelaki itu memandang kosong ke arah udara di dalam pesawatnya.


Seva yang lebih dulu duduk di salah satu sofa ternyaman, dalam pesawat itu. Pasti bisa melihat kegundahan di wajah tampan Juju.


"Kau tidak akan menyerah--kan!" tanya Seva pada Juju.


"Menyerah tentang apa?" tanya Juju.


"Segalanya! Kau pernah bilang padaku kau ingin merubah, dunia ini!" ujar Seva.


Juju tak langsung menjawab pertanyaan Seva, dia menghampiri kursi lain yang sejajar dengan kursi Seva. Lelaki gagah itu duduk di sana, sambil menghela nafasnya perlahan.


"Aku merasa sudah tak punya kepercayaan diri lagi!" ujar Juju.


"Dulu aku juga pernah putus asa!


"Namun aku bangkit karena aku mengingat sebuah perkataan yang pernah kakakku katakan kepadaku.


"Orang yang sudah mati, tidak ingin ditangisi. Orang yang sudah mati, ingin sesuatu berubah!" kata Seva.


Juju memandang ke arah jendela pesawatnya, hanya kegelapan yang ia lihat di sana.


"Juju, mari kita rubah dunia ini!" kata Seva.


Juju yang masih terpuruk karena kehilangan Lisa. Rasa sedihnya bahkan masih menumpuk di pelupuk hatinya. Namun perkataan Seva barusan membuatnya sedikit tergugah.


"Apa menurutmu kita bisa melakukannya?" tanya Juju dengan nada yang tak ada semangatnya.


"Kita pasti bisa, asalkan kita. Saling membantu satu sama lain.


"Selalu bersama dan tidak pernah meninggalkan.


"Itu kata kakakku!" ujar Seva.


Meski pun Juju senang mendengar perkataan Seva, namun Juju tidak bisa tersenyumlah dengan lebar.


.


Keadaan dunia ini sudah sangat kacau, semua tumpang tindih dan mereka hanya bisa mengandalkan SYPUS.


Setelah bangun dari komanya, Juju belum pernah mengunjungi Malio tempat dimana dia dilahirkan. Apakah tempat itu masih ada, atau sudah rata dengan tanah. Sebab serangan zombie yang merajalela selama setahun ini.


.

__ADS_1


"Aku sudah menyuruh Anthony untuk memblokir teluk, yang menghubungkan antara laut dan juga danau!" kata Seva.


"Hal itu percuma saja! Karena aku yakin, habitat di lautan sudah 90% berdampak dengan virus zombie!" ujar Juju.


"Kau benar sekali!" kata Seva.


"Sebaiknya kau mengirim pesan ke pusat SYPUS!


"Suruh semua manusia, menghindari lautan untuk sementara waktu!" perintah Juju.


"Baiklah!" ujar Seva.


.


.


.


.


Nyonya Wenda duduk di sebelah ayahnya, mereka berdua berada di sebuah pesawat mobil yang menuju kediaman Tuan Benjamin.


"Ayah, harusnya aku tetap berada di laboratorium!" kata Nyonya Wenda dengan nada sopan.


Seperti biasa wanita itu sangat sopan dan berkelas. Meski tubuhnya masih mengenakan pakaian pasien, namun Nyonya Wenda tidak melupakan bahwa dia adalah seorang keturunan bangsawan. Yang harus selalu menawan, di setiap kesempatan.


"Kau sudah sembuh Wenda! Tidak ada alasan untuk kau berada di sana lebih lama lagi!" ujar Tuan Benjamin.


"Tapi Ayah, bagaimana jika aku kambuh lagi dan melukai orang lain?" nada bicara wanita bangsawan itu begitu nyaring terdengar.


"Dan kau tidak akan pernah melukai siapa pun!" nasehat Tuan Benjamin.


Tak butuh waktu lama, untuk Tuan Benjamin dan juga Nyonya Wenda sampai di kediaman pribadi mereka. Beberapa pelayan rumah itu menyambut mereka dengan begitu senang.


Sudah cukup lama Nyonya Wenda tidak mengunjungi mereka.


"Oooh, ya ampun Nyonya--ku! Bagaimana kabar anda? Kami sangat merindukan anda di sini!" ujar Darea kepala pelayan rumah pribadi Benjamin.


"Aku tidak begitu baik, Nyonya Darea..."


"Dia baik-baik saja Darea, layani dia selayaknya Nyonya di rumah ini!" potong Benjamin.


Wanita paruh baya itu hanya bisa terdiam mendengar tuannya, memotong perkataan putri bercintanya.


"Apa sesuatu terjadi? Kenapa Tuan Benjamin sangat kasar kepada anda?" bisik Darea.


"Nyonya Darea, sebaiknya anda jangan dekat-dekat pada saya!" ujar Wenda.


Namun langkah Tuan Benjamin, yang sengaja dihentak-hentakannya kelantai. Membuat acara curcol antara Wenda dan kepala pelayan itu terhenti sejenak.


Mereka harus mengikuti Tuan Benjamin masuk ke dalam rumah. Sebelum laki-laki tua itu marah besar, kepada semua orang yang berada di dalam rumah itu.


"Bawah dia ke kamarnya!

__ADS_1


"Dan jangan biarkan satu pelayan pun melayani Wenda. Selain kau Darea!" ujar Tuan Benjamin.


"Baik Tuan! Saya akan mengantar Nyonya Wenda ke kamarnya sekarang juga!" kata Darea.


Wenda dan juga kepala pelayan rumah itu pun pergi ke kamar wenda, yang berada di lantai ketiga rumah mewah itu.


"Apa benar-benar tidak ada masalah Nyonya?" tampaknya Darea masih kepo.


"Turuti saja apa kata ayahku, jangan biarkan pelayan lain masuk ke dalam kamarku!" ujar Wenda dengan penuh wibawa.


Wanita itu sadarlah jika dia belum sembuh sepenuhnya.


"Kuharap memang tidak ada apa-apa! Bencana akhir-akhir ini memang membuat semua orang menjadi gila!


"Hampir seperempat penduduk di sini, meninggal gara-gara serangan zombie yang mengerikan itu!" ujar Darea dengan mimik wajah ketakutan.


Wenda yang pernah mengalaminya cara langsung pun, tidak kaget lagi. Zombie memang sangat mengerikan. Apa lagi jika kau, terjangkit virus itu namun tidak seperti zombie pada umumnya.


Pikirannya yang masih berpikir seperti manusia biasa. Benar-benar merasa sangat ketakutan, bagaimana jika dia kambuh lagi.


Wenda memang tidak nyaman berada di ruangan isolasi milik laboratorium Gen Akis. Namun dia merasa lebih tidak nyaman berada di kamar pribadinya sendiri.


Wenda takut dia akan melukai orang orang di dekatnya, tanpa dia sadari. Dia masih membayangkan bagaimana  tubuhnya berumur darah segar dan songkok mayat manusia berada di dekatnya.


Mayat dengan luka yang tidak manusiawi itu. Rasa manis darah segar yang melewati tenggorokannya. Serta pandangannya yang cukup tajam ketika dia baru sadar dari kegilaannya.


Semua bayangan itu terus berputar-putar di kepala Wenda.


"Apa anda butuh yang lain Nyonya?" tanya Darea.


Wanita itu baru saja meletakkan handuk bersih di kamar mandi mewah Wenda.


"Tidak silahkan perginya Nyonya Darea! Jangan datang ke sini, jika aku tidak menghubungimu lewat telpon!" kata Wenda.


"Apa anda tidak papa? Anda terlihat sangat tidak stabil!" ujar Darea.


Winda yang biasanya sangat cerewet, tiba-tiba menjadi sangat tertutup. Hal itu tentu saja membuat Darea merasa aneh.


"Apa ada yang salah dengan wajahku?" Wenda sangat gugup, dia segera mencari cermin dan memeriksa wajahnya.


Dia takut wajahnya memucat, karena itu adalah satu indikasi bahwa dia akan berubah menjadi zombie.


Setelah melihat pantulan wajahnya di cermin Wenda tampak sedikit tenang. Wajahnya masih segar merona dan tampak tidak ada cacatnya.


Bukannya pergi. Karena melihat tingkah anak perempuan yang dia asuh sejak kecil itu, begitu nampak mencurigakan. Darea malah memeluk tubuh Wenda dari belakang.


"Ceritakan kepada saya Nyonya Wenda!


"Apa pun yang kau derita, pasti bisa kau bagi juga denganku!


"Ingatlah, aku adalah ibu susumu!" ujar Darea.


Wenda menunduk sedih, dia begitu terpukul dengan perkataan Darea. Apa pun bisa dia bagi, dengan wanita yang sudah dia anggap sebagai ibu kandungnya itu. Namun apakah dia bisa membagi penyakitnya, dengan ibu susunya itu.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2