HUMAN 2075

HUMAN 2075
Istri dan Suami


__ADS_3

Meski dirumahnya Jupiter masih saja berkerja, ia membaca beberapa data penelitian Labolatorium Gen Akis tentang Zombi.


Wanita itu tak ingin kembali ke rumah Juju, sebelum suaminya pulang. Ia malas ke sana, karena Jupiter tak mau bertemu dulu dengan istri Juju yang lain.


Entah kenapa, Jupiter merasa hatinya ngilu saat memikirkan Juju bersama wanita lain. Gadis cantik yang lahir dari cara cloning ini, merasakan perasaan cemburu juga.


Alasannya menginap di rumah ayah angkatnya, bukan hal itu saja. Jupiter harus cepat menemukan Vaksin untuk Nyonya Wenda, supaya pihak SYPUS tak ikut campur dengan masalah ini.


Jupiter berhenti menatap layar komputer di depannya, ia memijat kepalanya sejenak. Ia juga melepas kacamatanya, lalu merasakan sesuatu di perutnya.


Jupiter merasa perutnya seperti di aduk-aduk oleh sendok besar. Kemudian ia merasa, makanan yang belum selesai dicerna oleh tubuhnya meluap ingin keluar dari kerongkongannya.


Secepat kilat Jupiter berlari ke arah kamar mandi, ia membuka korslet di kamar mandinya dan menundukkan kepalanya di atasnnya.


Uwekkkkkkk


Uwekkkkkkk


Berkali-kali, sampai ulu hatinya sakit. Jupiter merasa sangat mual dan ingin mutah. Namun hanya air bening yang keluar dari dalam perutnya.


Ia tak pernah sakit, setelah lepas dari Virus Danger25 yang hampir membunuhnya.


Hal ini membuat tubuh Jupiter melemas, karena setelah berusaha mutah. Dadanya menjadi sakit dan sesak.


"Kenapa aku?" tanya Jupiter pada dirinya sendiri.


Dengan langkah lemas, Jupiter kembali duduk di kursi kerjanya. Ia masih mau bekerja, meski kondisi tubuhnya sedang tak bagus.


Namun ponselnya berdering karena Juju menelponnya.


"Hallo!" sapa Jupiter, suaranya masih agak serak karena baru saja muntah.


"Apa kau sakit?" tanya Juju.


Lelaki itu begitu perhatian sekali pada Jupiter, khususnya sekarang. Mungkin rasa tak sukanya pada gadis cantik itu, sudah berubah menjadi cinta setengah mati.


"Tidak, hanya sedikit pusing!" ujar Jupiter.


Jupiter tak bisa berbohong pada siapa pun, itu--lah wataknya.


"Istirahatlah, aku akan sampai sekitar satu jam lagi!" kata Juju.


Rasa sedih karena kehilangan Lisa, masih menyeruak di hati Juju. Calon pemimpin SYPUS itu, bahkan meminta Anthony dan timnya menguras danau air payau. Tempat dimana Lisa meninggal.


Untuk menemukan jasat Lisa, agar Juju bisa menguburkan istrinya yang tak sempat ia gauli sama sekali. Dengan layak dan seperti manusia pada umumnya.


Namun nada bahagia ia gunakan untuk berkomunikasi dengan Jupiter. Juju tak ingin Jupiter merasakan kesedihan yang ia rasakan, karena kehilangan Lisa.


"Kenapa kau menelfonku, padahal kau sudah hampir sampai?" tanya Jupiter.

__ADS_1


"Aku merindukanmu!" kata Juju.


Seketika pipi Jupiter memerah, ia tak menyangka akan mendengar kalimat itu dari mulut suaminya.


"Benarkah?" tak ada kata lain yang bisa diucap oleh Jupiter.


"Apa kau tak merindukanku?" tanya Juju balik.


"Emmmm...!" Jupiter sedang memikirkan banyak kata di otaknya.


Namun hanya ada kata 'Aku juga merindukanmu' di dalam kepalanya. Meskipun begitu, Jupiter tampaknya enggan mengatakan perasaannya pada Juju suaminya.


"Istirahatlah, dan sambut aku! Ketika aku sampai di rumah!" ujar Juju.


Jupiter tersenyum kecil, namun ia segera mennutup mulutnya. Gadis cantik benar-benar sudah terlalu senang.


"Kau masih disana?" tanya Juju.


Istrinya diam cukup lama, karena Jupiter sedang melamunkan adegan ketika Juju pulang nanti.


"Iya!" Jupiter berusaha membuang pikiran mesumnya.


"Istirahatlah!" kata Juju.


"Baiklah!" ujar Jupiter.


"Aku akan tidur setelah kau sampai!" ujar Jupiter.


"Kau benar-benar keras kepala--ya?" Juju meledek istrinya.


"Aku ingin melihat wajahmu, ketika kau kembali!" ujar Jupiter.


"Wajahku saja?" Juju masih meledek istrinya.


"Akhhhh kamu, cepat pulang!" pungkas Jupiter.


Karena merasa malu, Jupiter malah mematikan panggilan telepon dari suaminya.


Di dalam pesawat yang membawanya Juju hanya bisa tersenyum senang. Tingkah laku gadis yang ia kenal sangat kasar itu, begitu mengemaskan sekarang. Hingga membuat Juju merasa lebih baik.


Jupiter juga tersenyum senang, hatinya yang ia kira tak akan menerima lelaki baru dihidupnya. Kini berbunga-bunga lagi, ia punya seseorang yang mengisi renung hidupnya.


Namun lamunannya segera buyar saat ia mendengar sistem keamanan di rumahnya berbunyi nyaring sekali.


Seseorang pasti telah menyusup ke dalam rumah ayah angkat Jupiter. Gadis cantik itu segera bangkit dari kursinya dan berjalan cepat, ke arah pintu keluar kamarnya.


Di ruangan tengah rumahnya ia bertemu dengan Luca kakaknya, yang ternyata masih terjaga juga.


"Ada penyusup!" kata Jupiter.

__ADS_1


"Kurasa begitu!" Luca segera bergerak duluan.


Lelaki gagah itu menuju ruang tv, ruangan yang juga punya fungsi untuk mengintai keadaan rumah itu secara menyeluruh. Melalui kamera cctv yang sudah dipasang sejak lama, atau kamera drone yang akan otomatis mencari sumber pemicu alarm, ketika sistem keamanan berbunyi.


Mereka berdua mengamati setiap layar di ruang tv, yang lebih mirip dengan ruangan seorang heaker provesional.


Ada banyak layar cekung yang mengelilingi pusat ruangan itu. Layar yang akan muncul secara sendiri, jika sang pemilik rumah memencet tombol pemantau di remote kontrol.


"Ayah dimana?" tanya Jupiter.


"Kurasa, ayah tak bisa diganggu!" ujar Luca.


Beberapa saat sebelum Jupiter pulang, ayah mereka sudah memanggil dua perempuan untuk menghangatkan ranjang pria tua itu.


Dua perempuan yang cukup dikenal oleh Luca, wanita-wanita muda yang bekerja di pusat pembuatan Bayi di SYPUS. Kedua wanita tersebut baru saja masuk ke sana, dan pemesan pertama mereka adalah ayah angkat Luca.


Sepertinya ayah angkat mereka yang sudah tua, masih belum menyerah untuk mendapatkan anak kandung.


Jupiter dan Luca masih memasang mata mereka, untuk fokus mencari sesuatu di semua layar. Namun semua kamera, tak menangkap apa pun yang mencurigakan.


"Ini aneh!" ujar Luca.


Kembaran Jupiter itu terus memencet tombol remote, sehingga layar paling besar di depan mereka. Berubah-ubah menunjukkan, sesuai lokasi yang di tunjuk.


"Tidak mungkin alarm rumah berbunyi, jika tidak ada pemicunya!" ujar Luca.


"Kakak benar, tapi kenapa kamera tak bisa menangkapnya!" ujar Jupiter.


"Entahlah!" Luca sama bingungnya dengan adik perempuannya.


Mereka sepertinya tak bisa tidur nyenyak malam ini, karena apa pun yang membuat alarm di rumah mereka berbunyi. Pasti adalah sesuatu yang menakutkan.


Dugaan mereka tak salah, karena Nyonya Wenda yang kini sudah normal. Telah memasuki area rumah mereka, tak lupa Wenda mengenakan pakaian salah satu pelayan yang berakhir dilumpuhkannya.


Itu--lah kenapa alarm berbunyi, karena salah satu pelayan robot di rumah itu dideteksi tak berfungsi secara tiba-tiba. Dan kejangalan itu, langsung ditangkap oleh sistem sebagai tanda bahaya.


Tapi Nyonya Wenda yang tau seluk beluk rumah, dan apa pun yang ada di dalamnya itu. Berhasil mengecoh sisitem keamanan, dan membuat sistem kembali normal.


Tujuan Nyonya Wenda datang ke sini adalah meminta bantuan Luca dan juga Jupiter. Karena ia telah mencelakai orang yang menyerangnya di gang gelap. Orang itu tidak, berhasil kabur dari Nyonya Wenda.


Pria besar yang menyerang Nyonya Wenda, pasti terinfeksi Virus Zombie. Jelas sekali, karena Nyonya Wenda yakin. Jika manusia yang ia gigit di gang sempit itu bukanlah manusia dari ras Gen Akis.


Entah kenapa pria itu berada di area Lingkar Olio Gen Akis. Sedangkan dia bukan salah satu dari Gen Akis.


Di kepala Nyonya Wenda, perempuan itu tak memikirkan hal itu. Ia hanya harus mengabari suaminya, untuk mencari pria yang menyerangnya. Agar pria itu tak menyerang warga Gen Akis.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2