
Bukan Manusia
"Aku akan meminta mereka menyediakan makanan yang lain. Tapi kau harus makan ya nanti!" kata Juju dengan senyuman yang mengembang diwajah tampannya.
Jupiter masih berusaha mengendalikan dirinya, yang baru saja pulih dari kambuhnya.
Juju keluar dari ruang isolasi Jupiter. Di sana dia baru bisa melepaskan semua emosi di hatinya.
Dia memukul-mukul dinding di depannya dengan tinju tangan kirinya. Air matanya juga tak bisa ia bendung lagi, ia merasa dunia telah menghakiminya seorang diri. Kenapa harus orang-orang yang berada di dekatnya yang harus terluka.
"Tuan ada yang harus kukatakan kepada anda!" kata Dokter Daniel.
Dokter yang mempunyai wajah datar tanpa ekspresi itu, baru saja mendekati Juju yang tampak frustasi dan melampiaskan emosinya pada dinding.
"Ini tentang kondisi Nyonya Jupiter!" lanjut Asisten Jupiter itu.
"Katakan saja!" ujar Juju.
Lelaki itu tampaknya sudah pasrah dengan apa pun. Dia sudah tak kuat lagi menahan rasa sedih dihatinya.
"Nyonya Jupiter tengah mengandung!" kata Dokter Daniel.
Seolah petir menyambar dan mendarat di kepala Juju. Matanya membulat tak percaya, dadanya tersentak keras. Karena ia terkejut dengan kabar mendadak yang diberiakan oleh Dokter Daniel.
"Apa kau bilang? Jupiter hamil?!" Juju seolah tak ingin percaya.
Cobaan apa lagi yang tengah dilimpahkan kepada lelaki tampan itu. Dia begitu terpukul dengan keadaan Jupiter yang terkena Virus Zombi baru. Dan sekarang, istrinya yang tengah sakit itu sedang mengandung benih darinya.
"Benar Tuan!" ujar Dokter Daniel.
"Apa janin itu mengancam kondisi kesehatan Jupiter?" tanya Juju.
Keselamatan Jupiter adalah hal yang paling penting saat ini. Juju tak mau, janin yang dikandung oleh Jupiter akan menghambat kesembuhan wanita yang paling ia cintai itu.
"Janin di perut Nyonya Jupiter masih berumur kurang dari satu minggu.
"Saya tidak yakin, janin itu akan tumbuh dengan baik di rahim istri anda yang sedang terjangkit Virus Zombi!" kata Dokter Daniel.
Peralatan medis yang semakin canggih di masa ini. Dapat mendeteksi janin yang bahkan baru berusia beberapa jam saja.
Karena bayi yang memiliki gen adalah sesuatu yang sangat berharga. Jadi peralatan medis untuk mendukung seluruh perkembangan bayi didalam kandungan. Sangat diperhatikan dan dikembangkan dengan teknologi yang paling mutakhir.
"Jangan beritahu siapapun tentang kehamilan Jupiter, apalagi kepada Jupiter sendiri!
"Bisa saja bayi itu akan mati berapa hari lagi!" perintah Juju.
Kabar yang harusnya membuat hatinya bahagia, malah membuat Juju semakin menderita.
__ADS_1
"Saya tahu maksud anda Tuan. Anda tidak ingin membuat Nyonya Jupiter sedih.
"Tapi kita bisa mengambil janin itu dan memindahkannya ke rahim wanita lain!" usul Dokter Daniel.
Juju segera meremas kerah baju dokter berwajah datar di depannya.
"Jangan mencoba mengusulkan hal-hal yang tidak masuk akal!" ujar Juju.
"Mungkin saja Nyonya Jupiter setuju dengan hal itu!" sepertinya Dokter Daniel, tak takut dengan kemarahan Juju.
"Jangan beritahu Jupiter, atau siapapun! Biarkan saja, janin itu...," Juju tak sanggup mengatakan, maksudnya.
Meski janin itu masih berusia dibawah satu minggu. Namun calon bayi itu adalah anaknya sendiri. Dia tidak mungkin membunuh makhluk mungil, lucu. Yang masih berada di dalam perut Jupiter.
Tetapi Juju juga tidak mau membebani Jupiter. Jika Jupiter tahu, gadis itu dalam keadaan hamil sekarang. Jupiter pasti meminta untuk dibunuh saja, agar bayi di dalam kandungannya bisa diselamatkan.
"Bukankah Zombie tidak terpengaruh dengan obat bius apa pun?!
"Apa kau ingin membunuh Jupiter, hanya untuk menyelamatkan janin yang mungkin tidak akan bertahan hidup lama itu?" tanya Juju.
Lelaki gagah itu masih belum melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Dokter Daniel. Juju benar-benar sangat marah, namun dia tidak tahu harus melampiaskan pada siapa.
Dokter Daniel diam saja, dia juga tidak punya cara untuk menyelamatkan kedua nyawa itu secara bersamaan. Dalam keadaan ini, tim medis mana pun tidak akan bisa melakukan hal seperti itu.
"Jadi jangan beritahu siapapun, jika saat ini Jupiter tengah mengandung anakku!" kata Juju.
Dokter Daniel pun mengangguk, dokter berwajah datar itu. Akhirnya mengerti kebimbangan yang dirasakan oleh Juju.
Jika ada manusia yang bisa membunuh kedua ha itu, mereka tidak dapat disebut manusia, karena manusia yang membunuh manusia lain. Mereka tidak pantas disebut dengan manusia.
.
.
.
.
Seva yang sudah mencurigai Luca tidak dapat mengatakan, apa yang dia temukan kepada pengawal utama Juju tersebut.
Seva memutuskan untuk segera pergi ke laboratorium Gen Akis, untuk menemui Juju. Dia akan melaporkan, apa yang dia dapatkan di TKP. Langsung kepada calon pemimpin SYPUS itu.
Namun saat Seva sudah hampir sampai di ruang isolasi Jupiter. Seva sempat mendengar pembicaraan Juju dengan Dokter Daniel, yang membahas tentang kehamilan Jupiter.
Saat mendengarkan hari itu Seva juga ikut dibuat bingung. Seva yang awalnya sangat membenci Jupiter, karena menganggap Jupiter--lah yang mengakibatkan kakaknya Vie meninggal. Kini Seva merasa sangat iba kepada Jupiter.
Akhirnya Jupiter hamil lagi namun wanita cantik itu, harus kehilangan bayi yang sudah susah payah dia dapatkan.
__ADS_1
Seva baru bisa merasakan bagaimana perasaan Jupiter selama ini. Pasti Jupiter merasakan kesedihan yang lebih besar daripada dirinya.
Saat kematian Vie, Jupiter tidak hanya kehilangan suaminya saja. Gadis itu juga kehilangan anak yang dia kandung. Sedangkan Sava hanya kehilangan kakaknya.
Namun dengan kejamnya, Seva menyalakan Jupiter. Tanpa memikirkan rasa sakit yang juga ditanggung oleh Jupiter.
"Kau harus sembuh Jupiter! Kau pantas bahagia, bersama Juju dan Putranya yang kau kandung!" guman Seva.
Sava menyeka air mata yang tumpah dari pelupuk matanya, dia akting seperti baru saja sampai di tempat itu.
"Juju apa kita bisa bicara sebentar!" kata Seva.
Lelaki gagah itu segera melepaskan cengkramannya dari kerah Dokter Daniel.
Seperti halnya Seva yang berakting, Juju juga pura-pura tidak kaget dengan panggilan Seva yang tiba-tiba.
"Apa ada yang penting!" tanya Juju langsung, sambil merapikan kerah Dokter Daniel yang berantakan karena ulahnya.
"Ini sangat penting!" kata Sava.
"Kalau begitu, kita bicara di ruangan Jupiter saja!" Juju mengajak Seva pergi dari sana, agar mereka melupakan tentang kabar kehamilan Jupiter.
Juju harus fokus untuk mencari anti-virus, Virus Zombie yang menyerang Jupiter.
"Jadi apa yang kau temukan Katakan sekarang!" kata Juju.
Mereka berdua telah duduk di sofa ruangan Jupiter. Saling berhadapan dengan secangkir teh di depan mereka masing-masing.
"Aku tidak yakin!
"Tapi kurasa Luca ada hubungannya dengan hal ini.
"Dan ini adalah sampel darah yang kutemukan di TKP! Minta orang untuk mengidentifikasi. Darah siapa ini!" jelas Seva.
"Maksudmu Luca ada hubungannya dengan Virus Zombie baru?" tanya Juju.
"Memang sulit dipercaya! Tapi dia mencurigakan. Aku akan mengawasinya!
"Kau fakus aja menjaga Jupiter!" ujar Seva.
"Seva apa kau pernah medengar tentang makhluk, yang mempunyai darah hijau?" tanya Juju.
Juju mengingat tentang perkataan Jupiter, yang selalu mengungkit tentang darah hijau. Partikel darah berwarna hijau yang terkandung didalam darahnya, serta darah Zombie.
"Makhluk dari Mars! Mempunyai darah berwarna hijau!" kata Seva.
"Makhluk dari Mars?! Apa kau pernah bertemu dengan makhluk itu?" tanya Juju.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤