
Pelukan hangat yang sudah lama tidak didapatkan oleh Wenda. Meski dia sudah menikah lama dengan Luca, dan sering dipeluk oleh lelaki yang ia cintai itu.
Namun kehangatan pelukan dari Darea ibu susunya itu, tidak pernah bisa digantikan oleh kehangatan pelukan siapa pun.
"Saya baik-baik saja Nyonya Darea!" kata Wenda dengan butiran air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Aku berharap juga begitu. Namun kau terlihat sangat berbeda Nyonya Wenda!" kata Darea.
Wanita paruh baya itu, benar-benar tidak mau melepaskan Wenda yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri itu.
Wenda membalikkan tubuhnya ke arah Darea. Mereka berdua saling bertatapan dan berebut oksigen untuk bernafas.
Keduanya berpelukan sangat mesra, rasa rindu telah menguasai mereka berdua.
.
Darea begitu menikmati kehangatan yang yang dia dapatkan dari tubuh ramping anak majikannya yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu. Kelegaan dan juga kebahagiaan tersirat jelas di wajah wanita berusia 45 tahun itu.
Cukup lama mereka berpelukan hingga Darea ingin melepas pelukannya dari tubuh Wenda. Namun tampaknya Wenda belum mau melepas kehangatan tubuh dari Darea pelukannya.
"Nyonya kita lanjutkan nanti, masih banyak hal yang harus kukerjakan!" ujar Darea.
Wanita paruh baya itu berusaha untuk melepaskan pelukannya dari Wenda. Namun kekuatan Wenda, menjadi semakin kuat. Sehingga Darea tidak berdaya di dalam pelukan Wenda.
"Nyonya tolong lepaskan saya!" pekik Darea yang masih dipeluk erat oleh Wenda.
Namun wanita paruh baya itu hanya bisa mendengar suara geraman dan juga desisan lirih dari mulut Wenda. Ditambah dengan suara gemeretak gigi Nyonya--nya itu seketika membuat dari terbelalak kaget.
Wanita paruh baya itu, masih memikirkan apa yang telah terjadi. Namun rasa perih tercabik, sudah ia rasakan di sekeliling lehernya.
"Akkkkkkkkkkkkk!" wanita paruh baya itu hanya bisa berteriak sekuat tenaganya.
.
Dengan rakusnya Wenda yang sedang dikuasai oleh virus Zombie. Menelan, menenggak darah segar dari tubuh ibu susunya.
Glekkkk
Glekkkk
Glekkkk
Wenda terus menghisap cairan merah kental, dari tubuh wanita paruh baya di pelukannya. Di pikiranya kini hanya ada tentang rasa haus dan juga lapar yang tidak bisa dia tahan.
Dahaga di tubuhnya mulai berangsur terpuaskan dengan darah ibu susunya sendiri. Dia terus menengak cairan merah kental yang masih tersisa di dalam tubuh wanita paruh baya bernama Darea itu.
__ADS_1
.
.
Wenda duduk di depan sebuah cermin meja rias. Dia masih kecil, wajahnya masih sangat imut dan Darea yang masih muda berada di belakangnya.
"Nona hari ini anda harus pergi ke sekolah, dan belajar dengan benar.
"Jangan berkelahi lagi, atau ayah anda akan marah nanti!" nasehat Darea.
"Ayah tidak akan pernah marah padaku Nyonya Darea, Dia sangat mencintaiku!" bantah Wenda.
Darea menghentikan aktivitasnya menata rambut Wenda kecil yang panjang nan indah. Wanita dengan baju pelayan biasa itu, terduduk di depan anak yang diasuh.
"Lihatlah tangan anda, Nona. Jika anda terluka seperti ini saya juga merasakan sakitnya!" ujar Darea muda, ketua bb-nya sudah dibasahi oleh air mata.
Siku dan juga telapak tangan Wenda kecil memang terluka, bekasnya masih memerah. Karena baru kemarin gadis kecil itu mendapatkan luka itu.
Wenda berkelahi dengan teman lelaki di kelasnya, hanya karena hal yang sangat sepele.
"Yang terluka--kan, saya. Kenapa anda itu sakit?" tanya Wenda yang masih polos.
"Karena anda adalah jiwa saya! Jika anda sakit, maka saya akan lebih sakit!" kata Darea.
.
.
"Nyonya Darea. Maafkan Aku!" ujar Wenda.
Wajah, mulut, dada dan juga kedua tangannya, telah basah oleh darah Nyonya Darea.
Tubuh pelayanan yang amat menyayangi Wenda itu, sudah terkapar tak berdaya di atas lantai. Nyawanya sudah pergi dari raganya, melayang ke udara dan ditangkap oleh malaikat pencabut nyawa.
Wenda yang sudah kembali normal, hanya bisa meratapi dan juga menyesali perbuatan yang ia lakukan.
Dia memang tak sengaja, namun rasa bersalah pasti sudah menguasai dirinya. Orang yang begitu tulus menyayanginya sejak kecil, merawatnya dan juga membesarkannya. Telah ia bunuh dengan cara yang amat sangat keji dan menyakitkan.
Pintu kamar Wenda terbuka. Beberapa pengawal dengan tubuh kekar, mengenakan pakaian khusus keamanan SYPUS. Ingin masuk ke dalam kamar Wenda, namun keadaan mengerikan yang mereka lihat di depan mata mereka, menghentikan langkah mereka.
Karena mereka adalah pasukan yang dilatih khusus oleh SYPUS, maka mereka langsung paham dengan apa yang mereka lihat.
Bahkan salah satu dari mereka telah mengangkat senjatanya dan menodongkannya ke arah Wenda.
"Turunkan senjatamu! Atau kau akan mati!" perintah Tuan Benjamin yang baru saja sampai di depan kamar Wenda.
__ADS_1
Beberapa pengawal itu langsung memblokir pintu, agar Tuan Benjamin tidak langsung masuk ke dalam ruangan kamar Wenda.
"Minggir kalian semua! Benar-benar tidak berguna!" teriak Tuan Benjamin.
Pasukan itu dengan sigap memberi jalan kepada Tuan Benjamin, karena tidak ada siapa pun yang bisa menghentikan orang nomor satu di Gen Akis tersebut.
.
Saat masuk ke dalam kamar putrinya, Tuan Benjamin cukup tersentak dengan keadaan yang terpampang di depannya.
Tuan Benjamin memang pernah melihat Zombie namun dia tidak pernah menyangka jika putrinya akan menjadi zombie juga.
Wenda yang merasakan kehadiran ayahnya, langsung memandang lurus ke arah lelaki yang sekarang berdiri di depannya.
Mereka berdua saling berhadapan dan mayat Darea yang menjadi pemisah jarak keduanya.
"Ayah, aku telah membunuh Nyonya Darea!" kata Wenda.
Suaranya bergetar dan tak jelas, sebab darah segar yang kental Darea masih memenuhi kerongkongan Wenda.
"Tidak. Kau tidak membunuhnya, putriku!" kata Benjamin dengan nada yang tegas.
Seolah dia mau menginterprestasikan pada putrinya. Bahwa apa yang baru saja dilakukan oleh putri semata wayangnya itu, bukanlah suatu kejahatan.
"Lalu apa? Aku memakannya?" kini suara tak jelas Wenda semakin tak jelas karena ditambah dengan isakan.
Benjamin ingin mendekati putrinya memeluknya dan menenangkannya. Namun ia sendiri tidak berani, mendekati putrinya yang sekarang lebih mirip hantu itu.
Gaun putih panjang dengan rambut yang terurai, noda darah yang hampir memandikan seluruh tubuh Wenda. Siapa yang tidak merasa ketakutan ketika melihat sosok seperti itu, meski di siang bolong sekalipun.
"Bukankah Ayah juga takut padaku?" tanya Wenda. "Ayah takut kumakan juga, kan?"
Tebakan putrinya sangat benar.
"Sekarang aku harus bagaimana, Ayah? Aku telah berubah menjadi seorang Monster menakutkan!" Wenda terus berbicara.
Dia benar-benar tidak bisa menahan rasa sedih di hatinya.
Kehilangan orang yang kita cintai adalah sebuah hal yang menyakitkan. Namun akan lebih menyakitkan jika, kita kehilangan orang yang kita cintai karena kita membunuhnya sendiri.
Tidak ada kata yang bisa digambarkan untuk situasi ini.
Wenda yang sudah dikuasai oleh pikiran yang tidak warasnya. Ia memutar bola matanya dan menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan kamarnya.
Ia melihat ke arah jendela kaca tebal, yang menghadap langsung ke arah halaman depan rumahnya. Meski kamarnya yang terletak di lantai tiga, namun tingginya lebih dari 15 meter. Wenda berpikir jika dia melompat dari sana dia pasti akan mati seketika.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤