
"Apa kau yang menghancurkan dinding ruang kaca itu?" tanya Tyfan pada Lisa.
Gadis manis yang memiliki paras cantik itu tengah dirundung rasa bingung yang luar biasa. Bagaimana tidak, kali ini dia terbangun di ruangan yang amat aneh, ruangan yang benar-benar asing baginya.
Wajah pucatnya yang menunduk ke lantai, karena Tyfan sedang mengunci pergerakannya dengan teknik bela diri. Meski jika Lisa memberontak, Tyfan pasti juga akan kualahan.
Untung saja Lisa sedang terguncang saat ini, jadi gadis Gen Sia yang sudah diubah menjadi Monster itu tampak jinak dan tak berdaya.
"Iya!" ujar Lisa dengan nada sangat lemah, tengorokannya terasa kering dan panas sehingga sangat susah baginya mengeluarkan suara keras.
Tyfan perlahan-lahan melepaskan Lisa, tak ada gunanya juga ia mengunci pergerakan Lisa, jika gadis manis itu saja berhasil memghancurkan ruang penjara kaca. Ruangan yang didesain tidak akan bisa dihancurkan oleh apa pun itu saja, bisa dihancurkan oleh gadis Gen Sia tersebut.
Lisa masih berjongkok di atas lantai meskipun Tyfan sudah melepaskan teknik kuncian pada tubuhnya. Situasi yang baru saja ia hadapi begitu sangat membingungkan, apa lagi dia secara tiba-tiba dapat menghancurkan sesuatu secara mudah.
Dari dulu Lisa tahu tubuhnya sangat lemah, Ia tidak pernah menyangka bisa menggunakan kekuatan fisik untuk bertahan hidup seperti hari ini.
Ia masih berusaha untuk tidak bernafas, agar tidak menghirup asap beracun yang sudah memenuhi ruangan laboratorium. Lisa juga tahu, jika asap yang mengepul putih hingga menutupi seluruh pandangannya itu adalah asap beracun yang sangat berbahaya.
Tyfan tidak diam saja melihat kebekuan Lisa, ia segera mengambil tindakan dengan menarik salah satu lengan Lisa sehingga gadis manis itu sekarang berdiri di hadapannya.
Tanpa keraguan apa pun, Tyfan menempelkan bibirnya ke arah bibir Lisa. Tubuh Lisa yang sudah sayu, karena menahan nafas hanya bisa menerima perlakuan Tyfan yang tidak senonoh kepadanya.
Ternyata Tyfan tidak bermaksud melecehkan Lisa, ia menyalurkan oksigen dari tubuhnya pada Lisa. Memang satu-satunya cara di dalam keadaan genting seperti ini, hanyalah itu.
Wajah Lisa sudah amat pucat, gadis manis itu pasti sudah menghirup asap beracun. Jika Lisa tidak cepat mendapatkan oksigen, maka bisa-bisa gadis tercantik di Gen Sia itu pasti akan mati perlahan-lahan.
__ADS_1
Cukup lama Tyfan menautkan bibirnya dengan bibir Lisa, kedua tangannya bahkan sedang memegang kepala bagian belakang Lisa dengan erat. Seolah pertolongan nafas buatan ini adalah ciuman mesra yang mengairahkan.
Lisa tak bisa menolak, apa lagi menghindar, ia butuh sekali oksigen saat ini. Ia harus hidup, meksipun dia belum punya tujuan untuk hidup lagi. Lisa sama sekali tidak bisa berpikir, karena tubuhnya yang terasa amat sakit dan lemah.
Lisa tidak bisa mengingat banyak hal, dia bahkan tak mengenal pria yang saat ini sedang menciumnya. Lisa hanya berhasil mengingat namanya, untuk saat ini.
Tyfan melepaskan tautan bibirnya dari bibir Lisa, dia lalu menarik Lisa, memimpin gadis itu. Agar Lisa bisa keluar dari dalam ruang laboratorium yang penuh gas beracun.
Letak pintu keluar laboratorium memang tidak jauh dari tempat Tyfan menemukan Lisa. Tyfan segera menyalakan sistem keamanan pintu laboratorium, agar dia bisa keluar dari ruang penuh asap beracun itu bersama Lisa.
Tetapi naasnya sistem keamanan pintu laboratorium, mati secara otomatis jika terjadi hal-hal berbahaya. Fungsinya, agar tidak ada satu orang pun yang dapat masuk dan keluar dari laboratorium. Ada banyak rahasia yang disimpan di ruangan laboratorium terakhir Mansion pribadi Tuan Gayo ini. Kerahasiaannya sangat dijaga, meski mereka harus mengorbankan banyak orang. Asal rahasia tak bocor, maka membunuh adalah hal yang dibenarkan.
"Sial!!!" Tyfan memukul layar pintar yang terletak di samping pintu laboratorium dengan keras. Karena Tyfan tidak dapat membuka pintu otomatis dengan sistem keamanan yang sangat canggih itu, meski sudah berusaha berkali-kali.
"Apa kau masih bisa menahan nafasmu?" tanya Tyfan pada Lisa. Lisa hanya menggeleng pelan, gadis manis itu benar-benar sudah tidak bisa bertahan di situasi ini. Manusia mana yang bisa bertahan setelah menghirup asap beracun.
Kekawatiran sudah memenuhi wajah Tyfan, ia tak bisa memikirkan cara lain untuk mengeluarkan Lisa dari tempat ini.
Tubuh ramping Lisa yang hanya terlapisi gaun pasien laboratorium tipis, dengan rambut acak-acakan namun wajah pucatnya masih saja terlihat amat manis. Tubuh lemah itu bersandar di daun pintu laboratorium, ia masih mencoba menahan nafas meski sudah kewalahan.
Tyfan segera mendekati Lisa lagi, lalu menyalurkan oksigen di dalam paru-parunya dengan cara yang sama seperti tadi. "Bertahan--lah!" bisik Tyfan sebelum ia mencium bibir Lisa lagi.
Apa pun yang hilang, tidak sebanyak seperti yang kita duga. Terkadang apa yang kita anggap hilang, sesuatu itu masih tersisa dan masih berada di sekitar kita. Hanya saja, kita tidak dapat melihatnya karena lebih banyak hal lain yang menjadi perhatian kita.
Apa pun yang terlihat di mata kita, bisa saja tidak seperti yang kita lihat. Dunia yang hancur ini, mungkin bagi sebagian orang adalah tempat terindah yang pernah mereka tempati. Meski beberapa orang merasa, bumi saat ini adalah tempat kejam yang bahkan lebih kejam dari neraka.
__ADS_1
Setiap mata punya sudut pandang yang berbeda dan setiap telinga ingin kata yang berbeda pula untuk didengar. Seperti itu--lah hidup manusia, tak pernah sama satu sama lain.
Juju masih terdiam tanpa kata, ia hanya memandang lurus kedepan dengan tatapan kosong. Padahal di depannya telah duduk dua orang yang sangat penting yaitu Seva dan Dokter Daniel.
"Bagaimana bisa menjadi seperti ini?" desah Juju. Ia benar-benar tidak menyangka, jika satu-satunya harapan terakhirnya untuk menyembuhkan Jupiter, sama sekali tak ada gunanya.
"Keadaannya semakin lemah! Darah Makhluk Mars itu sama sekali tak membantu!" ujar Seva.
Mimik wajah gadis bertubuh setengah robot itu, juga tak kalah kecewa--nya dari ekspresi yang dikeluarkan oleh Juju.
"Satu-satunya cara, kita harus menurunkan Tipe Gen Nyonya Jupiter," ujar Dokter Daniel.
"Menurunkan Tipe Gen Jupiter?" tanya Juju.
Pewaris SYPUS ini masih terlihat sangat putus asa, dan kini dia bertambah bingung dengan pernyataan asisten pribadi istrinya.
"Benar Tuan Juju! Satu-satunya perbedaan yang dimiliki oleh, Tuan Raves dan Nyonya Jupiter, hanyalah tingkat Tipe Gen mereka!" jelas Dokter Daniel.
Juju terkesiap sampai menghela nafasnya panjang, ia memundurkan tubuhnya sampai tubuh sempurnanya bersandar di sofa.
Juju, Seva dan Dokter Daniel saat ini sedang berbincang, di ruangan pribadi yang biasa ditempati oleh Jupiter ketika bekerja di laboratorium Gen Akis.
Tidak ada tempat yang lebih aman untuk mereka bertiga, untuk membahas hal ini. Bangunan megah dan besar yang memiliki sistem keamanan paling mutakhir seantero dunia ini, bukankah hak pribadi keluarga Jupiter.
Jika sampai mereka bertiga membahas tentang Jupiter yang telah terkontaminasi Virus Zombie, secara sembarangan. Bisa-bisa akan ada banyak gosip tentang Jupiter dan Juju. Dan ketika gosip itu didengar oleh Tuan Gayo maka habislah Juju.
__ADS_1