
Duarrrrr
Duarrrrr
Duarrrrr
Duarrrrr
Duarrrrr
Luca terus menembaki, tubuh Zombi istrinya. Begitu juga dengan rekan setimnya yang tidak tahu bahwa Zombie itu adalah Nyonya Wenda istri pemimpin mereka sendiri.
Tembakan mereka menghujani tubuh Zombie Nyonya Wenda, hingga tubuh besar itu berubah mengecil lagi. Menjadi ke bentuk asalnya, wanita anggun yang pasti sudah sekarat. Karena semua peluru itu bersarang di tubuh Nyonya Wenda.
Tak ada yang berani mendekati tubuh Nyonya Wenda yang sudah sekarat itu, hanya Luca yang mendekati tubuh istrinya.
Ekspresi wajahnya begitu sangat datar. Lelaki berambut pirang itu tak merasa kesedihan atau kemarahan. Ia hanya melihat ke arah istrinya yang sudah terkapar di aspal jalan.
Jupiter sudah tak melakukan pergerakan yang kuat lagi, namun Juju masih memeluk istrinya dengan sangat erat. Ia melupakan rasa sakitnya luka cakaran di pergelangan tangannya, yang diakibatkan oleh kuku-kuku tajam Zombie Jupiter.
Manik mata Jupiter juga sudah berubah menghitam seperti semula, gadis cantik itu sudah mendapatkan sekadarnya kembali. Sehingga dia bisa menyaksikan apa yang ada di depan matanya.
Luca masih memandang ke arah istrinya, yang tergeletak di aspal. Tubuh wanita bangsawan itu masih bernafas, karena terlihat jelas. Bagian dada dan juga perutnya Nyonya Wenda, masih kembang-kempis memompa udara.
Pakaian yang dikenakan Nyonya Wenda, terlihat sobek di sana-sini. Karena tubuh Zombie Nyonya Wenda, berubah cukup besar dari tubuh aslinya.
Tubuh manusia Nyonya Wenda, terlihat berlumuran darahnya sendiri. Ratusan luka tembakan, yang menghantam tubuhnya. Memang mengkoyak beberapa bagian tubuhnya.
Entah karena tubuh Zombie Nyonya Wenda tidak bisa mati, atau memang regenarasinya yang semakin cepat.
Hal yang dilakukan oleh Luca selanjutnya, benar-benar membuat semua orang yang berada di sana tercengang melihatnya. Lelaki itu mengambil sebuah belati dari salah satu kantong rompinya.
Dengan cepat Luca membuka sarungnya dan langsung menancapkan belati itu ke arah jantung istrinya.
"Kamu sudah gila, Luca?" teriak Seva.
Wanita setengah robot itu segera menghampiri kedua suami-istri itu. Ia segera menghentikan aksi Luca selanjutnya. Karena lelaki berambut pirang itu, mencabut kembali belatinya dan akan mengayunkannya sekali lagi ke atas tubuh istrinya sendiri.
"Berhenti sekarang juga!" kata Sava.
Gadis itu sudah menahan pergelangan tangan Luca. Seva berdiri di belakang Luca yang tengah berjongkok dihadapan tubuh istrinya.
Wanita bangsawan itu benar-benar tengah sekarat sekarang dan mungkin saja Nyonya Wenda akan meninggal.
Jupiter yang menyaksikan langsung adegan penikaman kakaknya, terhadap istrinya sendiri itu. Hanya bisa menitikkan air mata dari kedua matanya.
Dia tahu Luca sangat membenci Nyonya Wenda, namun Jupiter tidak pernah menyangkal. Jika Luca sanggup membunuh wanita bangsawan itu.
Mungkinkah dirinya akan bernasib sama dengan Nyonya Wenda. Hanya hal itu yang yang dipikirkan oleh Jupiter saat ini.
Namun saat memandang ke bawah perutnya, hati Jupiter lebih sakit lagi. Karena melihat keadaan lengan suaminya, yang masih memeluk erat dirinya.
__ADS_1
Air mata Jupiter benar-benar mengalir sangat deras, wanita cantik itu menangis sejadi-jadinya.
"Harusnya kau membunuhku, seperti Luca membunuhnya Nyonya Wenda!" kata Jupiter di tengah isak tangisnya.
Wanita itu terus meronta, dia tidak ingin dipeluk lagi oleh suami. Luka cakaran di tangan Juju benar-benar menyiksa batin Jupiter.
"Ku mohon lepaskan aku!" kata Jupiter.
Wanita itu sudah mulai tenang dan Juju pun melepaskan pelukannya dari tubuh istri tercintanya.
"Jangan sentuh aku lagi!" kata Jupiter dengan nada kasar ke arah Juju.
Rasa sakit akibat cakaran tangan Zombie Jupiter, tak begitu menyakitkan bagi Juju. Namun lelaki itu benar-benar merasa sedih dan terpuruk, saat melihat reaksi Jupiter yang seperti menganggap dirinya sendiri sangat menakutkan.
Apa lagi ditambah dengan adegan Luca yang menikam jantung Nyonya Wenda di hadapan Jupiter. Peneliti paling pintar di Gen Akis itu, pasti amat sangat terguncang hatinya.
Juju tak bisa melakukan apa pun, selain berada di dekat Jupiter. Ia yakin Jupiter pasti bisa sembuh, seperti kata Jupiter sendiri tempo hari.
Ia akan menuruti perkataan Jupiter. Untuk mencari mahluk berdarah hijau yang dimaksut Jupiter, sampai ke ujung tata surya sekali pun.
.
.
.
.
Seva dengan setia mendampingi calon pemimpin SYPUS itu. Seva tau penderitaan yang dialami Juju malam ini, benar-benar tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Meski gadis setengah robot itu, tidak bisa mengatakan kata-kata konyol untuk menghibur Juju. Paling tidak, Seva harus berada didekat Juju agar bisa memantau keadaan sahabat barunya tersebut.
"Sebaiknya kau pulang dan istirahat Seva! Kau pasti sangat kelelahan!" ujar Juju.
Nada bicaranya benar-benar sangat lemah, kelihatannya Juju sangat terpukul dengan kejadian malam ini.
"Aku akan menjadi pendampingmu mula sekarang! Aku tidak akan membiarkan kamu, mati karena penderitaan!" ujar Seva.
Kedua manik mata Juju dan juga Sava bertemu.
Pandangan Juju yang kebingungan ke arah Seva membuat, gadis bermata bulat itu sedikit bingung juga.
"Kenapa? Kau tidak boleh tak setuju.
"Luca, Anthony, dan Dhan tidak bisa didekatmu untuk sementara waktu. Karena mereka juga memiliki kesibukan masing-masing!" jelas Seva.
Juju memikirkan tentang pendamping wanita untuknya, sama halnya dengan menjadi istriya.
"Kurasa aku ingin sendiri dulu, untuk beberapa waktu!" Juju mencoba menolak Seva.
"Urusanmu sangat banyak. Apa lagi ditambah masalah di Gen Akis ini.
__ADS_1
"Kau tidak bisa mengerjakannya sendirian, tanpa bantuan pendamping ke-4!" ujar Seva.
Apa yang Seva kerjakan selama ini, memang hanya berperang. Namun gadis setengah robot itu tahu, bagaimana cara kerja perusahaan yang dia naungi selama lebih dari 10 tahun itu.
"Tapi...!" Juju masih berusaha untuk menolak Seva. Namun dia tidak bisa memikirkan kata-kata yang lebih lembut, untuk menolak tawaran sahabatnya itu.
"Kau tidak perlu keras kepala seperti itu! Bukankah kita teman, harus saling membantu. Apa pun yang terjadi!" kata Seva.
Perkataan Seva itu membuat Juju sedikit lega. Ternyata Sava tidak menyinggung tentang menjadi pendamping harus menjadi istrinya. Mungkin saja hal konyol itu, adalah karangan Jupiter semata.
.
.
.
.
Tuan Gayo masih sibuk mengayuh, untuk mengiring Amana mencapai puncaknya. Wanita cantik dengan manik mata keabu-abuan itu, mendesah keras karena kenikmatan tiada tara sedang mendera sekujur tubuh indahnya.
Tubuh keduanya saling memeluk tanpa menghentikan gerakan kenikmatan mereka. Ciuman mesra mereka lakukan, sembari menahan gejolak di diri Amana yang baru saja mencapai ******* tertingginya.
"Nikmat sekali sayang, aku ingin melakukan ini setiap hari!" ujar Amana.
"Kalau begitu, kita lakukan setiap hari!" ujar Tuan Gayo yang masih berbirahi tinggi.
Gerakan kayuhan lambat itu mulai Tuan Gayo percepat lagi, karena dia juga butuh *******. Setelah membuat Amana mencapai ujung kenikmatanya berkali-kali tadi.
Mulut Amana mulai meracau lagi.
"Ohhhh nikamatnya!"
"Nikmat sekali sayaaanggggg!"
"Akuuuu puasssss!"
"Ouhhhhhhhhh!"
"Akuuuu mencintaimuuuuu sayanggggg, aku sangaat mencintaiiii mu!"
*******, helaan nafas mereka berdua saling bersahutan. Hingga titik terakhir Tuan Gayo, yang menyentakkan kayuhan kenikmatannya secara acak di lubang cinta Amana.
Mereka saling berpelukan lagi, menciumi wajah lawan mainnya yang sama-sama penuh dengan peluh kenikmatan.
"Apa kau puas?" tanya Tuan Gayo pada Amana yang masih terlentang di bawah kungkungannya.
Amana tak menjawab, gadis cantik itu hanya tersenyum puas dan kembali mengecup bibir lelaki yang 15 tahun lebih tua darinya itu.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1