HUMAN 2075

HUMAN 2075
Luca Mencurigakan


__ADS_3

Luca mencurigakan


Seva segera mengaktifkan panggilan terhadap Luca.


"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan hasilnya?" tanya Luca.


"Aku mendapatkan sampel darah!


"Tapi apa kau bisa mencari alamat pria yang terekam di cctv itu?" tanya Seva.


Luca melempar pandangannya ke arah Haru, yang masih sibuk dengan layar komputer dan keyboard.


Haru tahu apa yang diperintahkan padanya, jadi laki-laki itu segera melancarkan aksi pencariannya di komputer.


"Aku tak bisa menemukannya!" kata Haru.


"Database Gen Akis, tak mendata orang itu dalam sistem!" kata Luca.


Seva bisa mendengar perkataan itu, wanita setengah robot itu segera menebak. Jika, siapa pun orang yang diserang oleh Zombie Nyonya Wenda, bukanlah salah satu warga Gen Akis.


Seva bermaksud untuk keluar dari gang sempit itu, Gadis itu berjalan santai sambil berfikir. Tentang beberapa kemungkinan yang bisa terjadi.


Panggilannya ke ruang monitoring telah dia putus karena dia merasa sudah tidak membutuhkan informasi dari Haru, lebih lanjut lagi.


Tampaknya prediksi Seva, tentang manusia yang diserang oleh Zombie Nyonya Wenda tidak akan kembali lagi ke tempat itu. Adalah salah.


Karena tubuh mungilnya ditarik oleh sesuatu yang kuat dari dalam gang itu. Sehingga Seva terseret, kembali ke TKP tempat Nyonya Wenda menyerang pria kekar semalam.


Seva bisa merasakan, bahwa tubuh yang menarik Seva saat ini sangatlah kuat. Manusia yang menarik saat ini pasti bukanlah manusia biasa.


Sehingga dengan kerasnya Seva meninju dada orang itu, dengan sikutnya yang setengah robot. Lalu memelintir salah satu tangan yang mencengkeram tubuhnya.


'Tangan yang sangat besar!' gumam Seva dalam hati.


Seva berhasil terlepas dari cengkraman pria besar itu.


Mata bulat Sheva seketika terbelalak, karena melihat penampakan laki-laki yang menyerangnya di depannya.


Karena laki-laki yang menyerangnya, mempunyai visual seperti zombie. Namun Kenapa, laki-laki itu tidak menggigit Seva ketika pertama kali menangkapnya tadi. Aneh.


Seva segera menarik senjata api yang dia simpan di pinggangnya. Dia acungkan ke arah pria besar itu dan Seva tetap siaga dengan kuda-kuda kuatnya.


Benar sekali, zombie itu tidak diam saja. Dia menyerang Seva dengan cepat, namun Seva yang yang terkenal sangat lincah. Dapat menangkis serangan zombie itu, meski dia harus terjatuh.


Posisi terjatuh Seva sama sekali tak bisa menguntungkan dirinya, apa lagi senjata api yang dia pegang tadi terjatuh cukup jauh dari tempatnya.

__ADS_1


"Sial!" pekiknya keras.


Sementara Zombie besar itu masih mencoba menyerang Seva, yang sudah dalam kondisi terpojok.


Benar saja, zombie itu mengangkat karah kemeja yang dikenakan oleh Seva. Hingga gadis setengah robot itu, sempat melayang di udara.


Buakkkkkkkkkk


Dengan lincahnya Sefa menendang kepala zombie itu. Gadis itu membalikan tubuhnya, dengan tangan besar Zombie yang mencengkeram kerah bajunya, sebagai tumpuannya.


Alhasil zombie itu onleng, kelemahan Zombie adalah di kepalanya. Jika Zombie masih mempunyai kepala, maka Zombie itu masih akan hidup selama-lamanya.


Seva masih terus bergerak meski pakaian yang ia kenakan sangat berantakan, karena ulah Zombie. Seva memanfaatkan barang-barang di sekitarnya, dia mengambil bila besi yang tergeletak di tanah.


Dengan sigap Seva memukulkan besi itu ke arah kepala zombie, yang sudah oleng tadi.


Preangggggggg


Zombie itu sama sekali tidak terpengaruh, pukulan penuh tenaga yang Seva arahkan ke kepalanya. Seperti mau balas dendam, zombie itu mengarahkan tangannya ke arah perut Safa dan membuat wanita itu terpental menghantam dinding.


Tentu saja saya merasa kesakitan, tubuhnya seolah remuk. Namun Seva tidak ingin terluka lebih banyak lagi. Jadi dia masih berusaha untuk berdiri.


Dengan sisa tenaga yang dia punya, Seva menendang perut zombie yang akan menyerangnya kembali.


Buakkkkkkkk


Tetapi wanita itu langsung kehilangan Zombie itu  ketika ia keluar dari dalam gang. Namun Sava sempat melihat seorang pria, dengan pakaian compang-camping. Yang berjalan santai, memasuki gang di seberang jalan.


Gadis setengah robot itu, tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Seva segera mengejar laki-laki yang tampak begitu mencurigakan di matanya.


Sampai Seva berada di pintu Gang tersebut, namun Entah kenapa Seva tidak menemukan apa pun di sana.


"Sial!!! Kenapa dia cepat sekali?!" kata Seva geram.


Padahal tinggal selangkah lagi, dia dapat menangkap pria itu. Tetapi Seva malah dengan bodohnya melepaskan  targetnya dengan mudah.


Harusnya Seva lebih berhati-hati, karena gadis itu sudah menebak. Bahwa lawannya bukanlah manusia biasa, namun Seva malah lengah dan terlalu percaya diri dengan dirinya sendiri.


Seva memegang perutnya yang masih terasa sangat sakit. Meski sedang kesakitan, Seva masih bisa menghubungi Luca masih berada di ruang monitoring.


"Apa kau melihat Zombie tadi yang menyerangku dari CCTV?" tanya Seva pada Luca.


"Zombie apa? Aku tidak melihat siapapun, keluar dari gang selain dirimu!" ujar Luca.


Luca tidak mungkin berbohong tentang hal ini, namun pernyataannya tentang tak ada seorangpun yang keluar dari gang selain Seva. Membuat Seva merasa curiga, tidak mungkin ada makhluk yang bisa menghilang dalam sekejap mata.

__ADS_1


"Periksa lagi! Beberapa saat yang lalu, ada pria yang keluar dari gang itu.


"Setelah dia menyerang diriku!" ujar Sava.


"Baiklah aku akan memeriksanya lagi.


"Sebaiknya kau segera kembali dan mendapatkan perawatan jika kau terluka!" kata Luca.


"Aku baik-baik saja!


"Kita harus segera menemukan pria itu,  sebelum pria itu menggigit lebih banyak orang.


"Menularkan Virus Zombie baru, kepada seluruh Gen--mu!" ujar Seva sedikit marah.


Jelas sekali Luca tahu, jika Sava baru saja diserang oleh seseorang. Jika tidak kenapa Luca, menyuruh Sava untuk segera kembali ke laboratorium Gen Akis.


"Sebaiknya kau pulang saja, aku yang akan melanjutkan pencarian!" ujar Luca.


Pria itu sudah bersiap pergi ke TKP, karena Luca sudah keluar dari dalam ruang monitoring pusat kota Gen Akis.


"Apa kau menyembunyikan sesuatu dari kami?" tanya Seva pada Luca.


Luca tampak mengubah Ekspresi di wajahnya. Lelaki itu tak menghentikan langkah kakinya, saat berjalan menyusuri lorong yang penuh beberapa orang dari Gen Akis yang bekerja di tempat itu.


"Berhentilah mengarang hal-hal yang tak penting! Kau harus menyembuhkan dirimu dahahulu!" kata Luca.


Entah kenapa Luca selalu menyebut, agar Seva segera pergi dari tempat gadis itu berdiri. Dengan alasan menyembuhkan luka Seva, akibat serangan Zombie aneh tadi.


Apa yang dikatakan Luca memang ada benarnya. Seva harus merawat dirinya sendiri jika terluka. Namun setau Seva, lelaki berambut pirang dengan mata biru menyala yang indah itu.


Paling tak peduli pada siapa pun, Luca bahkan tak peduli jika seluruh anak buahnya mati. Asal semua tujuannya tercapai.


Luca mempunyai kepribadian macam itu. Dia bisa menghalalkan segala cara untuk menuju puncak tertinggi. Dia akan menggapai apa pun yang dia inginkan, dan dia tak akan menyerah sebelum ia berhasil.


Itulah sifat Luca yang sebenarnya.


"Apa kau punya hubungan khusus, dengan Zombie pria. Yang baru saja menyerangku?!" tanya Seva.


Dan sifat dasar Seva adalah selalu mencurigai apa pun yang janggal, meski hanya sedikit. Seva itu sangat teliti, dia tak pernah meninggalkan satu hal pun ketika menjalankan misi.


Dia begitu intuisi, dan kadang cenderung tak masuk akal.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2