
Malam itu Juju terbangun, tubuhnya sudah kembali segar. Padahal dia hanya tidur beberapa jam saja, tapi tubuhnya terasa seperti terisi energi dengan penuh lagi.
Juju duduk di atas kasurnya, dia melihat kekelilingnya dan tak menemukan hal yang aneh. Tapi kenapa dia bisa telanjang dada, kedua tangannya meraba dadanya sambil berpikir. Ini adalah kebiasaannya dari kecil, Juju tak bisa tidur nyenyak jika ada kain yang menutupi dadanya.
Kaus di sampingnya yang sudah terlipat rapi, di ambilnya. Tentu saja ingin dia ke kenakan, tapi niatnya itu diurungkan. Karena manik matanya sedang fokus pada tubuh indah Jupiter. Gadis cantik itu baru saja keluar dari kamar mandi. Gaun satin tanpa lengan yang sangat pendek yang dikenakan Jupiter. Memperlihatkan semua keindahan yang hampir membuat Juju mimisan.
Juju segera berpaling, dia tak mau menambah dosa di masa mudanya. Tapi rangkulan jemari dingin itu sudah membuat seluruh tubuh besarnya bergetar. Otak mungkin bisa menolak, tapi tubuh matangnya mana mungkin menolak kenikmatan semacam ini.
"Tinggallah sebentar lagi!" pinta Jupiter.
"Masih banyak tugas yang harus kukerjakan!" ujar Juju.
Ekspresi wajahnya antara mupeng dan ingin menolak, lucu sekali.
Tapi benda kembar kenyal tanpa pengaman yang memadai, milik Jupiter sudah menekan punggung Juju. Seakan diterpa angin pegunungan di pagi hari, semua bulu dan antena ditubuh Juju berdiri seketika.
Bagaimana tidak, hal itu adalah panggilan alam. Manusia mana yang bisa menolak ajakan untuk berkembang biak.
Hembusan napas lembut Jupiter di tengkuk Juju, menggugah semua syaraf di tubuh Juju. Perintah segera dikirim ke otaknya, tapi Juju masih mencoba menolak perintah tegas itu.
Juju tak bisa menahannya lagi, karena bibir Jupiter menyusuri bahu belakangnya dengan ciuman dan gigitan lembut. Area itu menjadi bulan-bulanan gadis seksi itu, tanpa ampun dan jeda. Juju segera berada dipuncak agresinya, tapi dia tak ingin menyerang duluan.
Juju ingin merasakan selincah apa istrinya itu, dia ingin tau rasanya digoda dengan jutaan kenikmatan. Tanpa di minta tubuh ramping Jupiter sudah berada di pangkuan Juju.
Bibir penuh itu mulai menelusuri setiap inci bibir suaminya. Tak ada yang tertinggal dari jilatan dan hisapannya, hal itu membuat Juju tak bisa mempertahankan pertahanan dirinya.
Kecupan lembut juga dia berikan ditengah-tengah atraksi Jupiter dia atas tubuhnya. Bibirnya, lehernya, dan remasan di area kenyal yang besar itu.
Tanpa Juju sadari, sesuatu menghentak menjepit area bawahnya.
"Akhhhhhhh!" lenguhan itu keluar dari mulut manis Jupiter.
Juju juga hampir melenguh tapi dia tahan, kenikmatan ini memang luar biasa. Tapi Juju masih bisa menahannya, dia harus pandai bertahan di hubungan percintaan ini.
Dia harus menjalani jugasnya sebagai seorang lelaki, memuaskan pasangannya sampai sepuas-puasnya. Tapi gerakan Jupiter yang sudah naik turun secara intens di atas tubuh Juju. Membuat lelaki bertubuh tegap itu tak bisa menghentikan ******* kenikmatannya juga.
Juju bisa melihat bagaimana tubuh Jupiter bergetar di atas tubuhnya. Wanita itu baru saja mendapat puncaknya untuk pertama kali dari Juju. Inisiatif segera menbuat Juju membalikan posisi mereka secara cepat.
Kini setiap inci kulit tubuh Jupiter segera menjadi obyek keganasan Juju. Tampaknya disaat birahi sedang menguasainya, Juju bukan pria yang pendiam. Permainan pemanasannya cukup membuat Jupiter kalang kabut. Padahal Juju hanya mengerakkan laju rudalnya dengan perlahan-lahan, sambil menyusuri area-area terlarang di tubuh Jupiter.
__ADS_1
Setelah keduanya puas dengan keindahan tubuh masing-masing, Juju mulai menabuh genderang perang yang sebenarnya. Dia sudah memuaskan Jupiter, kali ini dia akan mencari kepuasannya sendiri.
Tanpa peduli dengan teriakan kenikmatan diri mulut Jupiter yang seperti wanita yang sedang disiksa, disiksa dengan kenikmatan. Rudal Juju terus melaju kencang, dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencapai kenikmatan yang baru pertama kali dia rasakan itu.
Setelah pertarungan kenikmatan yang cukup lama dan pelik itu. Juju akhirnya bisa mencapai puncaknya sendiri, tentu saja posisi apa saja sudah dia coba agar rudalnya itu memuntahkan peluru kenikmatan.
Lenguhan panjang keduanya menggema di seluruh ruangan kamar mewah itu.
Tubuh Juju basah oleh keringatnya sendiri, dia merasakan betapa segar setelah semua otot ditubuhnya merengang dan melemas karena pelepasan hawa n,afsunya.
Dia membuka matanya perlahan-lahan, nafasnya masih memburu keras. Dada bidangnya masih kembang kempis karena lelah, tapi sebuah kejanggalan ditemukan oleh Juju.
Tak ada Jupiter di sekitar tubuhnya, gadis yang tadi memuaskan hasrat dengannya hilang entah kemana. Akhirnya Juju sadar, dia bukan sedang bercinta dengan Jupiter. Tapi dia sedang mimpi basah.
"Setttttttt dahhhh!" ujarnya kesal.
Kenapa dia mengalami mimpi indah ini, padahal lawan mainnya ada. Juju merasa area bawahnya penuh dengan cairan lendir yang hangat.
"Menjijikan sekali!" ujar Juju.
Dengan cepat Juju segera pergi ke kamar mandi. Dia harus membersihkan diri sebelum Jupiter sadar akan kelakuan absrudnya.
"Oyyy antena kampret, tau situasi dikit donk!" Juju memarahi senjata rahasianya sendiri karena malu. Sambil mencuci celananya sendiri yang penuh dengan lendir kenikmatannya.
Juju keluar dari kamar mandi hanya dengan sehelai handuk yang ia lilitkan di pinggangnya.
"Astaga!" Juju hampir terjengkang.
Karena Jupiter sudah berdiri di depan kamar mandi saat Juju keluar dari ruangan sempit itu.
"Kenapa kau sekaget itu?" tanya Jupiter.
"Nggak papa!" Jawab Juju.
Lelaki gagah yang tubuhnya masih basah itu hendak pergi ke ruang gantinya.
"Kenapa aku mencium bau aneh!" ujar Jupiter.
"Bau apa?" tanya Juju bingung.
__ADS_1
"S.eperma pria!" ujar Jupiter.
Kenapa penciuman wanita itu tajam sekali, Juju segera menarik seprai dan selimut di kasurnya. Tak lupa sarung bantal dan sarung gulingnya.
"Aku akan memanggil tukang bersih-bersih sekarang!" ujar Juju, dia malu tapi juga merasa bersalah.
"Jangan bilang kau baru saja...melakukan?" Jupiter mulai menebak, tindakan tak senonoh Juju.
"Aku ini lelaki, apa salahnya mimpi basah!" ujar Juju.
"Apa??? Kau mimpi basah, di usiamu?" Jupiter awalnya tak menyangka jika s.eperma Juju keluar hanya karena mimpi.
Jupiter malah mengira Juju membawa wanita lain, saat dia pergi ke Pesawat Induk. Karena setelah Jupiter melihat hasil penelitiannya, gadis seksi itu pergi ke Pesawat Induk untuk melihat situasi dilapangan.
"Usiaku masih 24 tahun!" elak Juju.
"Itu adalah usia di atas matang untuk seorang manusia di jaman sekarang!" ujar Jupiter.
Juju tau, dia pertama kali mengalami mimpi basah di usia sembilan tahun. Padahal di masa lalu, di usia itu para manusia masih dikategorikan sebagai anak-anak.
Di saat angkat harapan hidup adalah 45 tahun, maka usia Juju ini adalah usia pertengahan. Bisa dibilang tua juga, tapi kenapa Juju masih mengalami mimpi basah di usia petengahannya.
"Apa kau mengalami peningkatan hormon?" tanya Jupiter.
Juju hanya mengeleng, dan segera melakukan panggilan pada jasa keamanan gedung itu. Juju ingin meminta seprai baru.
Satu sentuhan jari Jupiter di layar canggih di depan Juju mematikan tombol panggilan itu.
"Apa yang kau lakukan?" Juju bingung sekali dengan tindakan Jupiter.
Apa lagi kini tubuh Juju sedang polos, dan hanya dibantu sehelai handuk untuk menutupi antena yang sudah menemukan sinyal betulan.
Maaf jika autor agak lambat menulis novel ini, karena outor lagi fokus di novel satunya yaitu HUJAN TELUH.
Maafff yaaa...
Novel ini emang aku tulis nyantai😁😁😁
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤