HUMAN 2075

HUMAN 2075
Nasib Nyonya Wenda


__ADS_3

Acara makan malam dengan Ayah angkat Jupiter serta Luca berlangsung cukup lama. Mereka bertiga membahas tentang kondisi bisnis SYPUS.


Obrolan itu secara tidak langsung membuat Juju tahu tentang perkembangan dunia. Ternyata keadaan dunia saat ini, berada di titik yang cukup mengenaskan.


Karena perang menghadapi zombie selama setahun penuh, membuat banyak ladang pertanian di Malio yang hancur. Banyak manusia juga yang harus mati sia-sia karena wabah itu.


Belakangan cuaca di bumi juga sangat buruk, hujan yang turun di bumi bukanlah air yang bersih. Entah apa yang terjadi di tengah laut sana, namun kemungkinan besar bahwa habitat laut juga ikut bermasalah, karena wabah dan juga iklim di bumi yang mulai tidak karuan.


Luca dan ayah angkatnya juga beberapa kali menyebutkan tentang wacana SYPUS untuk pindah ke Mars. Namun sepertinya mereka tidak terlalu tahu tentang perkembangan proyek itu. Sedangkan Juju dia tidak ingin terburu-buru, menyampaikan apa yang Tuan Gayo katakan padanya tentang wacana proyek pindah ke Mars. Yang sudah berada di proses akhir.


Sepertinya para petinggi SYPUS mempunyai rahasia masing-masing. Mereka juga punya tujuan masing-masing yang sangat berbeda, dengan satu sama lainnya. Mereka bahkan punya cara sendiri untuk menggapai impian mereka. Meski kebanyakan dari semua rencana yang Juju dengar dimakan malam itu, adalah rencana yang sama sekali tidak manusiawi.


Setelah hampir dua jam lebih Juju menghabiskan waktunya di meja makan. Juju segera masuk ke dalam kamar Jupiter, dia ingin cepat mengistirahatkan tubuhnya. Karena besok dia harus pergi lagi ke Benua Aust.


Saat dia memasuki kamar Jupiter, ternyata Luca mengikutinya dan tanpa meminta izin. Kakak kembar istrinya itu menerobos masuk ke dalam kamar.


"Tutup pintunya! Aku perlu bicara secara pribadi denganmu!" kata Luca.


Meski Juju menaruh rasa curiga kepada Luca, namun ia tetap menuruti perintah kakak iparnya itu.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Juju setelah menutup pintu kamar jupiter.


"Bukankah kau, baru saja dari laboratorium Gen Akis?" tanya luca dengan nada yang sedikit rendah.


Pria itu sepertinya sungkan saat menanyakan hal itu kepada Juju.


"Iya aku dari sana! Memang ada apa?" tanya Juju.


Juju sebenarnya sudah bisa menebak, apa yang ingin Luca tanyakan kepadanya.


"Apa kau melihat istriku?" tanya Luca.


"Aku melihatnya!" jawab Juju.


"Bagaimana keadaanya!" ada raut kekhawatiran di wajah Luca.


"Dia baik-baik saja!" kata Juju.


"Tidak mungkin dia baik-baik saja, dia pasti sudah berubah menjadi zombie!" raut kekhawatiran di wajah Luca seketika berubah menjadi datar kembali.


"Suruh Jupiter menyingkirkannya saja!" lanjut Luca dengan ketusnya.


Juju cukup tercengang dengan apa yang dikatakan oleh Luca barusan. Ia pikir Luca menanyakan tentang Nyonya Wenda, karena lelaki itu cemas terhadap keadaan istrinya.


"Kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Juju.

__ADS_1


Meski Juju tidak suka dengan keputusan yang Luca katakan. Namun sebagai seorang Calon Pemimpin, Juju juga harus mendengar alasan Luca ingin melakukan hal itu.


"Aku yakin dia hanya akan membahayakan Gen Akis!" kata Luca.


"Pihak laboratorium masih bisa menangani hal ini, kau tidak perlu cemas!" Juju mencoba menenangkan hati Luca, yang sebenarnya tidak gundah atau pun merasakan hal yang aneh.


"Aku tahu istriku berubah menjadi zombie setengah manusia, yang bisa berkamuflase!


"Jika sampai wanita setengah zombi itu, kabur dari laboratorium.


"Menurutmu apa yang akan terjadi dengan Gen Akis dan Bumi ini?" ujar Luca.


Juju terdiam, dia memikirkan perkataan Luca barusan. Meski kemungkinan untuk Nyonya Wenda bisa kabur dari laboratorium Gen Akis, adalah hal yang cukup mustahil. Namun jika hal itu sampai terjadi, tentu saja keadaan dunia akan kacau nantinya.


"Dia masih hidup, dan dia masih manusia! Apa kau tega membunuh istrimu sendiri?" tanya Juju pada Luca.


Menik mata biru milik Luca, menatap tajam ke arah manik mata hitam milik Juju. Kedua pria yang memiliki postur tubuh yang hampir sama itu, saling memandang dalam diam. Namun keduanya memasang wajah dengan penuh keyakinan, akan pikiran mereka masing-masing.


"Aku memikirkan tentang dunia! Dan apa pun akan aku korbankan, untuk melindungi keamanan dunia ini!" kata Luca tanpa keraguan di dalam matanya.


"Tapi aku tidak bisa begitu! Aku tidak bisa menyakiti manusia, hanya karena manusia itu berbeda!" kata Juju. Calon Pemimpin SYPUS itu mengatakan pendapatnya, dengan nada yang penuh keyakinan pula.


"Kau akan menyesal nanti! Karena tak semua manusia akan berterima kasih padamu, setelah kau melindunginya!" kata Luca.


"Aku hanya perlu melihat semua orang merasakan sebuah kebahagiaan, menurutku itu itu lebih dari cukup.


"Dari pada kata terima kasih!" kata Juju


Luca memandang ke arah Juju dengan tatapan yang penuh arti. Entah karena bingung dengan ungkapan yang baru saja Juju katakan, atau terkesima dengan perkataan Juju. Pandangan Luca terhadap Juju hanya berarti dua hal tersebut.


"Aku akan mengatakannya secara langsung kepadamu!


"Aku tidak akan pernah mendukungmu, meski pun aku adalah pengawal utamamu.


"Ingat itu baik-baik!" kata Luca.


Lelaki berambut pirang itu dengan santainya, meninggalkan Juju yang ada di kamar adik perempuannya.


.


.


Sebenarnya perkataan Luca ada benarnya juga, dan hal itu membuat Juju memikirkan tentang nasib Nyonya Wenda sepanjang malam.


Pagi harinya Juju ingin mengunjungi Jupiter di laboratorium Gen Akis dan merundingkan tentang nasib Nyonya Wenda. Nama dua orang pengawal yang diutus oleh Tuan Gayo, sudah menjemputnya di rumah pribadi Ayah angkat Jupiter.

__ADS_1


Terpaksa Juju mengurungkan niatnya untuk mengunjungi Jupiter di laboratorium Gen Akis.


.


.


Sesampainya di kediaman Tuan Gayo Juju langsung dihadapkan pada kedua istri barunya.


"Kenapa kau tidak pulang tadi malam, apa Jupiter menahanmu?" tanya Tuan Gayo.


Juju hanya tersenyum kecil kearah Ayah angkatnya itu, dia tidak ingin mengaku. Bahwa dia menginap di rumah Jupiter, karena ingin menghindari kedua istri barunya.


"Seharusnya kau pulang tepat waktu, dan menyapa mereka berdua!" kata Tuan Gayo.


Tuan Gayo mengarahkan tatapannya kepada dua wanita yang sudah duduk di meja makan. Mau tak mau Juju juga mengarahkan pandangannya ke arah dua gadis yang tersenyum manis kepadanya.


Juju tampak terpaku saat melihat senyuman manis Lisa, gadis itu benar-benar mengingatkannya pada wajah ibunya.


"Dia Lisa dari Gen Sia, dia istri ketiga--mu!" kata Tuan Gayo.


Sebagai sesama lelaki, Tuan Gayo pasti bisa menilai pandangan Juju terhadap Lisa.


"Dia Amana, istri keduamu. Dia dari Gen Uras!" jelas Tuan Gayo.


Kedua lelaki itu pun segera duduk di kursi masing-masing, namun pandangan Juju masih tertuju kepada Lisa.


Entah kenapa Juju merasa sangat tertarik dengan senyuman manis Lisa. Dia mulai mencari sosok ibunya di wajah manis gadis itu.


"Apa kau ingin membawa Lisa bersamamu, untuk mengunjungi Benua Aust?" usul Tuan Gayo.


Jarang sekali Tuan Gayo melihat pandangan penuh ketertarikan dari mata Juju. Apa lagi ketertarikan pada seorang perempuan.


"Aku bisa sendiri kok, Yah!


"lagi pula perjalanan ke Benua Aust, itu memakan waktu yang cukup panjang.


"Pasti akan sangat melelahkan!" jelas Juju.


"Kudengar ada danau yang sangat indah di Benua Aust!


"Boleh aku ikut? Aku ingin melihat danau itu dengan mata kepalaku sendiri!" kata Lisa.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2