HUMAN 2075

HUMAN 2075
Tubuh Baru


__ADS_3

Clappppppppppp


Lelaki berwajah datar yang menyerang Raves digedung terbengkalai, tiba-tiba saja muncul di parkiran kendaraan umum di tengah kota Gen Akis.


Lelaki itu seperti baru saja melakukan teleportasi dari gedung terbengkalai, ke salah satu area parkir umum di Lingkar paling aman di dunia itu.


Meski wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi Alan tidak bisa menyembunyikan rasa sakit ditubuhnya. Lelaki itu langsung terduduk ditanah, sesaat setelah ia sampai di parkiran tersebut.


Bibir mungilnya yang lurus memuntahkan darah kotor yang sudah agak mengumpal. Ia segera menyeka ujung bibirnya dengan jemari jempol dan telunjuknya yang amat lentik.


Alan lebih pantas disebut perempuan dari pada lelaki. Wajahnya mungil dan sangat halus, begitu pula tubuhnya yang terlihat tak ada gagah-gagahnya, bahkan saat terbalut setelan Jas keren seperti itu.


"Akhhhhh!" bibirnya mengeluh juga, mungkin Alan sudah tak bisa menahan rasa sakit ditubuh rampingnya.


Mungkin karena pukulan keras dari Zombie Raves, atau karena teleportasi yang baru saja ia lakukan untuk kabur. Kedua hal itu kemungkinan adalah tersangka utama, kenapa tubuh Alan yang terlihat abadi itu jadi mudah kesakitan.


Alan segera berdiri, dia harus segera pergi dari sana sebelum ada yang mendeteksi keberadaan mahluk asing di area itu.


Keamanan di Lingkar Olio Gen Akis sangatlah sensitif, jika ada sedikit saja hal janggal alarm keamanan pasti akan berbunyi. Apalagi jika sistem keamanan menangkap keberadaan makhluk asing, yang bukan dari golongan Gen Akis. Sistem itu pasti akan berbunyi dan tak akan membiarkan makhluk itu kabur dari sergapan Tim Keamanan.


Lagi-lagi tubuh ramping dengan wajah imut yang datar milik Alan, memghilang dalam waktu sekejap dan tanpa jejak. Hanya tersisa hembusan angin dengan tekanan yang biasa saja di udara. Bahkan setitik debu pun tak ada yang tertinggal dari diri Alan.


.


.


.


.


Raves ditempatkan disebuah mobil khusus yang dikemudikan oleh salah satu rekan Seva, dalam menjalani misi ini.


Mobil besar mirip dengan gerbong sebuah kereta di tahun 2020. Ada skat kaca, untuk membatasi, meski begitu mobil yang berjalan di atas angin itu mempunyai teknologi yang cukup canggih.


Meski ada kaca yang memisahkan antara kedua ruangan di dalam mobil tersebut, mereka bisa berbincang-bincang dan mendengarkan suara satu sama lain dengan sangat jelas.


"Apa kau tau, tadi itu makhluk apa?" tanya Seva pada rekannya yang masih fokus mengemudi. "Tidak mungkin dia manusia biasa. Kalau manusia biasa, tak mungkin dia menghilang secepat itu dari hadapan kita!" lanjut Seva.


"Anda benar Nona Seva! Makhluk tadi pasti adalah anak buah Tuan Gayo!" ujar Raves yang berada di ruangan belakang.


"Maksutmu?" Seva segera memutar kursi yang ia duduki, biar dia bisa leluasa berbicara dengan Raves.


"Aku pernah dengar dari Tuan Luca!" kata Raves. "Pemimpin SYPUS itu telah menunjuk Tyfan. Untuk membuat manusia tanpa Gen, menjadi bahan uji coba sebuah virus yang dibawa oleh makhluk dari Mars!".

__ADS_1


Seva terdiam dan mengamati raut wajah Raves.


"Luca bicara seperti itu padamu?" tanya Seva pada Raves.


"Saat itu Tuan Luca bicara pada Nyonya Jupiter, dan saya hanya mencuri dengar!" ujar Raves.


"Tampaknya kau adalah pengunjing yang hebat!" ujar Seva.


"Manusia tadi!!! Dia bukan dari Gen apa pun!" ujar Raves.


Seva yang awalnya ingin berbalik lagi ke arah depan, tapi dia mengurungkan niatnya.


"Gen Akis adalah satu-satunya Gen yang bisa merasakan dan membedakan Ras dari Gen lain dengan sangat akurat, hanya dengan mengamati darah manusia!" kata Raves. "Ketika saya berubah menjadi Zombie, indra di seluruh tubuh saya semakin meningkat! Karena itu saya bisa langsung tau jika makhluk tadi adalah manusia tanpa Gen!".


Seva tau benar, Gen Akis memang sangat istimewa. Mereka bahkan bisa membedakan Gen hanya melalu bau tubuh. Begitulah mereka, Gen yang selalu waspada di segala kondisi.


"Apa kau yakin?" tanya Seva.


"Saya yakin sekali!" ujar Raves.


Tampaknya Raves benar-benar sangat meyakini, jika lelaki berwajah datar yang ia lawan di gedung terbengkalai tadi, bukanlah manusia biasa.


.


.


.


.


Wajah imut yang tak ada raut ketegasan itu sudah menghadap lurus ke arah meja Tyfan yang masih kosong. Pakaian yang ia kenakan masih sama, persis seperti yang ia pakai di saat ia menghadapi Raves di gedung terbengkalai yang berada di Lingkar Olio Gen Akis.


Meskipun Tyfan sedang tidak ada di tempat, Alan tetap memasang pose bak tentara di medan perang. Padahal dia bisa saja bersantai dan duduk di salah satu sofa diruangan itu.


Ruangan milik Tyfan memang tidak semegah ruangan yang dimiliki oleh Juju di perusahaan. Tetapi ruangan yang dimiliki Tyfan cukup mewah untuk ukuran pegawai biasa tanpa jabatan.


Tangan kanan Pemimpin SYPUS bukanlah sebuah jabatan yang resmi di perusahaan tersebut. Karena para antek-antek Pemimpin biasa diberi jabatan Pengawal satu sampai empat, seperti Luca dan kawan-kawan.


Cekrek


Akhirnya pintu berdaun dua yang cukup lebar terbuka karena Tyfan sudah kembali ke kantornya. Urusan mendesaknya juga sudah selesai ia kerjakan.


"Bagaimana?!" tanya Tyfan pada Alan tanpa basa-basi lagi.

__ADS_1


"Berhasil Tuan!" ucap Alan masih dengan wajah datarnya tanpa ekspresi.


"Kemana mereka akan membawanya pergi?" tanya Tyfan pada Alan.


"Laboratorium Gen Akis!" ujar Alan.


Tyfan tersenyum miring saat mendengar berita itu, seolah-olah apa yang sedang berjalan diluar sana adalah rencananya yang telah berhasil.


"Mereka bodoh! Tapi berlagak pintar!" ujar Tyfan dengan tawa yang menggelegar.


Alan masih berdiri tanpa bergerak, ia seolah hanya robot yang dikendalikan oleh Tyfan saat ini.


"Bagaimana? Apa kau sudah merasa terbiasa dengan tubuhmu yang sekarang?" tanya Tyfan.


Lelaki yang dari tadi tak memedulikan anak buahnya itu, segera mendekati Alan yang masih berdiri tegak dengan tenang.


"Tubuh ini terlalu lemah. Aku merasa selalu merasa kesakitan saat mengunakan kemampuanku!" kata Tyfan.


"Bersabarlah, sebentar lagi kau akan mendapatkan tubuh yang kuat dan tak terkalahkan!" ucap Tyfan.


Entah apa yang dimaksut oleh Tyfan. Tubuh kuat yang tak terkalahkan...mungkinkah, tubuh yang dimaksut Tyfan. Tubuh itu adalah tubuh Juju.


.


.


.


.


Juju sedang sangat sibuk di kantornya, dia masih di temani oleh Dhan untuk memeriksa banyak berkas yang baru saja terkumpul hari ini.


"Kita harus makan siang!" ujar Dhan dengan memasang wajah memelas yang terbingkai kaca mata.


"Sedikit lagi, apa kau sudah lapar?" tanya Juju tanpa memperhatikan Dhan yang berada di samping meja kerjanya.


"Memang kau tak lapar?" tanya Dhan balik.


Juju mengalihkan pandangan dan fokusnya dari dokumen yang dia baca, lalu memusatkan konsentrasinya ke arah perutnya.


"Kurasa belum!" ujar Juju jujur.


"Wahhhh kau benar-benar manusia robot, jika jam segini belum lapar!" ujar Dhan dengan nada kesalnya.

__ADS_1


"Kalau kau sudah lapar, pergilah makan dulu!" ujar Juju tanpa merasa bersalah.


"Hayyyy aku ini bawahanmu. Masa iya aku makan, kamu nggak?! Apa kata orang nanti?" Dhan masih dirundung rasa kesal akibat Juju belum merasa lapar.


__ADS_2