HUMAN 2075

HUMAN 2075
Istri kedua dan ketiga


__ADS_3

"Pulanglah lebih dulu, Tuan Gayo pasti sudah menunggumu!" ujar Jupiter.


Baru saja gadis seksi itu menyedot beberapa mili darah Juju dengan alat mirip suntikan, dari nadi pria itu. Namun tampaknya Jupiter sudah ingin mengusir suaminya dari tempat kerjanya.


"Kau tak ikut aku pulang?"  tanya Juju.


"Masih banyak yang harus kukerjakan di sini!" kata Jupiter.


"Bagaimana jika aku menunggumu, sampai kau selesai kerja?" tanya Juju.


Lelaki kekar yang masih duduk di ranjang rawat, di salah satu ruangan dalam laboratorium Gen Akis itu. Tampak memandangi wajah istrinya dengan tatapan penuh harapan.


"Aku tidak tahu kapan akan selesai! Jadi pulanglah dan bersenang-senanglah di rumah!" kata Jupiter.


Jupiter tampak tidak memandang kearah Juju saat mengatakan hal itu.


"Aku tidak akan bisa bersenang-senang tanpa dirimu!" kata Juju.


"Ada seseorang yang menunggumu di rumah! Nikmati dia dan jangan terlalu banyak berpikir!" kata Jupiter.


Wanita itu masih belum mau memandang kearah Juju, dia malah tampak sibuk dengan beberapa alat laboratorium yang berada di atas meja dekat ranjang rawat Juju.


Namun Juju mempunyai inisiatif untuk mengganggu kesibukan Jupiter. Lelaki itu segera meraih pergelangan tangan istrinya dan menarik wanita itu ke dalam dekapannya.


"Aku akan menunggumu sampai selesai!" kata Juju.


"Tolong dewasa--lah Juju! Kamu adalah calon pemimpin SYPUS, kamu jangan seperti anak kecil yang manja begini!" gerutu Jupiter yang masih berada di dekapan Juju.


"Aku tidak ingin ada orang lain, selain kamu di rumah kita!" kata Juju.


Lelaki itu memeluk istrinya dengan lebih erat, apa yang dikatakan Juju kepada Jupiter adalah sesuatu yang jujur. Juju hanya berharap Jupiter menjadi satu-satunya wanita, yang akan mendampinginya sampai di hari kematiannya.


"Tapi kau harus menikahi satu perempuan dari Gen Uras, dan juga satu perempuan dari Gen Sai!


"Kau tidak akan bisa menghindari hal itu!" kata Jupiter.


Juju melepas pelukannya dari tubuh istrinya, namun ia  masih membelenggu Jupiter dengan kekuatan tangannya yang meremas lembut kedua bahu istrinya itu.


"Aku harus melakukan hal itu?"  tanya Juju dengan raut wajah yang amat bingung.


"Biar adil, semua Gen harus mendapatkan keturunan dari Gen Horo!" kata Jupiter.


"Tapi itu tidak adil bagiku! Apa aku tidak bisa memilih untuk mempunyai satu istri saja?" tanya Juju dengan nada yang kesal.


Dia mengibaskan poninya, dan sedikit mengertakkan giginya saat berkata. Jelas pemuda di depan Jupiter ini sedang menahan kekesalan.


"Bahkan aku belum bisa membuatmu mengandung anakku! Kenapa aku harus menikahi dua perempuan lagi?" tanya Juju, dia masih kesal.


"Apa kau sedang berakting?


"Biasanya seorang lelaki akan sangat senang, jika dia mendapatkan istri lagi secara cuma-cuma!" kata Jupiter.


"Apa semua lelaki harus bersikap sama?" tanya Juju.

__ADS_1


Jupiter menangkis kedua remasan tangan Juju di atas bahunya. Namun kedua telapak tangannya kini memgelus kedua belah pipi suaminya itu. Jupiter ingin menenangkan hati suaminya, yang ternyata sangat setia kepadanya.


"Pulanglah jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama!" perintah Jupiter.


"Aku tak akan pulang!" kata Juju.


"Tapi kau tak bisa terus berada di sini! Gen Akis akan mengira memata-matai penelitian di laboratorium ini," kata Jupiter.


"Lalu aku harus pergi ke mana?" tanya Juju.


Untuk pertama kalinya, lelaki kekar itu memasang ekspresi wajah imut di depan istrinya. Jupiter yang menyaksikan hal itu secara langsung pun, hanya bisa terpaku. Gadis itu tak menyangka jika suaminya, bisa melakukan hal lucu semacam ini.


Karena luluh Jupiter memberikan kartu akses rumahnya kepada Juju.


"Ingat, kau tidak bisa menghindari hal ini sepanjang hidupmu!


"Kau hanya bisa tidur di rumahku, malam ini saja," kata Jupiter.


"Besok Tuan Gayo memintaku mengunjungi Benua Auts. Aku bisa kabur dari mereka!" kata Juju dengan senyum ceria.


Juju segera melompat turun, dari ranjang rawat yang ia duduki. Dia harus segera pergi ke rumah Jupiter dan membiarkan Jupiter melakukan pekerjaannya tanpa rasa khawatir. Juju tahu jika ia tetap disini, dia hanya akan mengganggu kerjaan Jupiter.


Sedangkan penelitian yang dikerjakan Jupiter di laboratorium ini, adalah hal yang sangat penting. Penelitian yang menyangkut hidup dan matinya manusia di Bumi.


Para peneliti di laboratorium Gen Akis ini, harus berusaha memecahkan penyebab virus zombie yang menyerang Nyonya Wenda. Untuk melakukan pencegahan, kita harus tahu tentang asal-usul bahaya itu.


Gen Akis harus membuat anti-virus sebelum Virus Zombie menyerang umat manusia.


Tugas mereka sangat berat, namun setelah mendapatkan hasilnya. Mereka hanya mendapatkan cercaan, tentang kekurangan anti-virus yang mereka buat.


.


.


Mereka berdua berada di atap kapal induk, tempat favorit Seva. Karena dari tempat ini, Seva dapat melihat bintang yang tidak bisa ia lihat Jika dia berada di atas tanah.


"Entahlah!" kata Seva.


"Kau sendiri, apa kau masih mencintainya?" tanya Seva.


Anthony menundukkan kepalanya, rambut hitamnya tersapu angin malam menutupi wajah tampannya.


"Entahlah, perasaanku pada Jupiter sepertinya tidak pernah bisa pudar!" kata Anthony.


Pria bermanik mata merah itu hanya bisa jujur kepada Seva. Seva mungkin seorang perempuan, tapi hati dan kemauan yang ia miliki. Lebih kuat dari pada lelaki mana pun.


Hal itu membuat Seva mempunyai sifat seperti selayaknya laki-laki. Teguh berpendirian dan tidak peduli dengan hal yang tidak penting.


Gadis yang hampir terkena virus zombie itu, memandang ke arah sahabatnya.


"Bagaimana rasanya jatuh cinta?" tanya Seva.


"Rasanya sangat aneh!

__ADS_1


"Tiba-tiba kau hanya ingin melihatnya tersenyum, dan saat kau sudah melihatnya tersenyum.


"Kau hanya akan merasakan kebahagiaan!" jelas Anthony.


Seva memutar manik matanya, lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Tampaknya gadis setengah robot itu, tengah mengalami perasaan yang dijelaskan oleh Anthony sahabatnya.


"Begitu ya?!" nada bicara Seva pun terdengar grogi.


"Apa perasaan cinta masih dihargai di zaman ini?" tanya Seva pada langit malam.


Namun karena Anthony mendengarnya, jadi Anthony menjawab pertanyaan Seva.


"Kurasa tidak, karena tidak ada hal yang bisa dibeli dengan cinta saat ini!


"Bahkan kepercayaan orang tuaku saja,  harus kudapat dengan cara. Kerja keras setiap hari," ujar Anthony.


"Siapa yang paling kuat dia yang akan bertahan. Siapa yang terbaik dia yang akan mendapatkan segalanya.


"Bukankah duniia ini mengerikan?" tanya Seva.


"Bagaimana lagi! Kita terlahir di zaman yang seperti ini!" kata Anthony.


"Apa dongeng tentang masa lalu, itu nyata?" tanya Seva.


Kedua sahabat karib itu saling berpandangan.


"Meski pun itu nyata, tapi sulit untuk dipercaya!" kata Anthony sambil tertawa terkekeh.


"Si kaya dan si miskin. Si buruk rupa dan si cantik. Orang lemah  yang sangat dicintai oleh orang yang sangat kuat.


"Itu terdengar seperti zombie yang menikah dengan manusia!" kata Seva.


"Benar sekali, bahkan jika orang terkuat kedua di Gen Uras, mencintai seorang gadis terkuat di Gen Akis.


"Mereka tidak akan bisa bersatu. Apapun Yang Terjadi!" kata Anthony.


Pria itu menyinggung tentang nasib tragisnya sendiri.


"Kau harus melupakan perasaanmu,


"Carilah seorang wanita, agar kau terhibur!" usul Seva.


"Aku tidak bisa memikirkan siapa pun!" kata Anthony.


"Lisa, dari Gen Sai? Gadis itu terlihat manis dan cerdas," Seva menyebutkan wanita termanis di Gen Sai.


"Lisa dari Gen Sai dan Amana dari Gen Uras,


"Sudah di pilih untuk menjadi istri kedua dan juga ketika, Juju!" ujar Anthony.


"Begitu ya, pria itu harusnya bahagiakan--kan?


"Dikelilingi oleh tiga wanita yang sangat cantik dan pintar!" kata Seva.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2