HUMAN 2075

HUMAN 2075
Saudara


__ADS_3

Hanya Alan yang bisa masuk kedalam ruangan kaca yang digunakan untuk mengurung lelaki dari Malio. Karena ruangan kaca itu memang didesain tak berpintu, bahkan tak ada ventilasi udara dari luar.


Namun udara bersih disalurkan melalui alat yang berfungsi seperti AC yang berbentuk cukup kecil. Alat yang diletakkan di pojok atas di salah satu sisi bangunan kaca itu, menyalurkan oksigen tak tercemar, bercampur dengan Anti Virus. Gunanya, tentu saja agar orang yang akan dijadikan kelinci percobaan, mendapatkan udara yang bagus dan menyingkirkan Virus-Virus yang mungkin telah mengkontaminasi tubuh manusia yang ada di dalamnya.


Langkah kaki Alan berderap lambat, lelaki berwajah tanpa ekspresi itu sama sekali tak merasakan kegugupan sama sekali. Dia tau betul apa yang sedang ia bawa, dan apa yang akan terjadi dengan orang di depannya, jika ia sampai menyuntikkan rekayasa DNA makhluk Mars ke dalam tubuh yang terbaring lelap itu.


Lelaki sempurna ini akan berubah menjadi seperti dirinya. Dia yang menjadi, sama sekali tidak bisa merasakan nikmatnya rasa makanan manusia. Tidak mempunyai hasrat untuk melakukan hubungan badan dengan lawan jenis.


Bahkan ia tidak dapat mencium aroma-aroma dan mendengar seperti manusia biasa. Indra penciumannya menurun dan Indra pendengarannya meningkat.


Sulit sekali bagi Alan untuk menyesuaikan diri dengan tubuhnya yang sekarang. Dia tidak bisa sembarangan memikirkan suatu tempat, karena jika dia memikirkannya maka tubuhnya akan melakukan teleportasi tanpa ia sengaja.


Jika melakukan teleportasi tanpa persiapan yang cukup, maka tubuhnya akan merasakan rasa sakit yang luar biasa.


Begitulah dirinya sekarang. Dia masih berwujud manusia, tetapi dia tidak bisa menikmati apa yang manusia biasa nikmati. Karena DNA makhluk Mars yang dimasukkan ke dalam tubuhnya, membuat ia tak nyaman.


Tanpa bersuara apa pun, Alan sudah berdiri dekat sekali dengan pria Malio yang tertidur lelap di atas ranjang. Ia segera mengeluarkan alat suntikan yang ia simpan di saku jasnya.


Ekspresi di wajahnya masih sangat datar, padahal dia sedang melakukan sesuatu hal yang akan membuat orang di depannya ini tak akan pernah merasa nyaman, selama sisa hidupnya.


Gubrakkkkkkk


Ternyata lelaki dari Malio itu tidak sepenuhnya tidur, siapa yang menyangka Manusia masih mempunyai kekuatan setelah dua hari tidak mengkonsumsi apa pun.


"Alan!" lelaki dari Malio itu memandang lurus ke arah Alan yang sudah tersungkur di atas lantai.


Alan sama sekali tidak menggubris perkataan lelaki dari Malio itu, dia segera berdiri dengan cepat menggunakan kekuatan makhluk Mars yang sudah menyatu di dalam dirinya.


Setelah berdiri Alan segera menghampiri lelaki dari Mario itu. Tugasnya adalah menyuntikan rekayasa DNA makhluk Mars ke dalam tubuh lelaki di depannya ini.


Sebab itu Alan tidak ingin membuang waktunya yang sangat berharga, hanya untuk mengurus satu manusia lemah di dalam kotak kaca.

__ADS_1


Tangan kanan Alan yang masih menggenggam suntikan berayun cepat ke arah leher bagian kiri lelaki dari Malio itu.


Siattttttttt


"Alan, ini aku Edward!!! Kakakmu!" kata lelaki dari Malio, dengan mimik wajah yang penuh harapan.


Kekuatan tubuh lelaki bernama Edward itu seolah bertambah, setelah melihat wajah adiknya yang sudah menghilang beberapa bulan yang lalu.


Ia bahkan mempunyai cukup tenaga untuk menangkis tangan adiknya, yang akan menyuntikkan DNA makhluk Mars ke dalam pembuluh darah yang berada di lehernya.


"Aku tak mengenalmu!" ujar Alan.


Mata Edward membulat saat mendengar perkataan adiknya. Dia sangat terkejut, bagaimana bisa adiknya tidak mengenalinya. Padahal sejak mereka bayi, mereka menghabiskan waktu bersama sampai beberapa bulan yang lalu.


"Alan, aku ini kakakmu, Edward! Si beruang coklat!" ujar Edward yang masih berusaha untuk meyakinkan adiknya.


Kulit Edward memang cenderung gelap daripada Alan dan dia mempunyai tubuh yang cukup besar.


Tapi sedikit banyak Edward mengerti, jika apa pun yang akan dimasukkan ke dalam tubuhnya. Pasti bukanlah sesuatu yang baik, begitu juga dengan cairan yang memenuhi alat suntikan yang kini tengah diarahkan adiknya ke arah lehernya. Edward harus menangkis sekuat tenaga tangan adiknya, agar cairan itu tidak bisa masuk ke dalam tubuhnya.


Tampaknya kata-kata 'beruang coklat' yang dikatakan oleh Edward membuat Alan yang awalnya menggebu-gebu menjadi sedikit tenang.


'Beruang coklat???' Alan tiba-tiba memikirkan tentang hal itu.


Lalu Ia mendapatkan gambaran yang sangat jelas di dalam otaknya. Serpihan-serpihan ingatan sebelum dia menjalani transplantasi otak, tiba-tiba bermunculan di dalam pikirannya.


Kemunculan serpihan-serpihan ingatan itu membuat kepala Alan kesakitan. Sehingga kekuatan tangannya yang mendesak Edward segera melemah, dan alat suntikan yang berisi DNA makhluk Mars yang sudah direkayasa, terjatuh begitu saja di atas lantai.


Kedua tangan Alan mencengkram keras kepalanya, wajahnya yang biasanya berekspresi datar kini bisa meringis kesakitan.


"Akhhhhhhhhh!" Alan berteriak kencang karena rasa sakit di kepalanya semakin bertambah intens.

__ADS_1


Edward yang menyaksikan adik kandungnya kesakitan, segera memegangi kedua bahwa adiknya. "Kau kenapa Alan!" tanya Edward dengan wajah pucat penuh kekawatiran.


"Akkkkkkkkkkk!" Alan menjerit semakin keras.


Tubuh mungilnya sampai terjatuh ke lantai, tangannya masih saja mencengkeram kepalanya.


Edward makin kebingungan melihat keadaan adiknya yang begitu mengkawatirkan.


Ternyata semua kejadian di dalam ruang kaca itu disaksikan oleh Tyfan dari ruang keamanan Mansion pribadi Tuan Gayo.


"Apa yang terjadi?" Tyfan juga kebingungan saat melihat keadaan Alan, melalui layar komputer canggihnya.


Tangan kanan Tuan Gayo itu tidak bisa menahan dirinya, untuk tidak keluar dari ruang keamanan yang  memonitoring seluruh pergerakan di mention pribadi pemimpin SYPUS, melalui CCTV.


Langkah kaki Tyfan makin lama makin cepat, ia harus segera sampai ke laboratorium Mention Pribadi Tuan Gayo sebelum terjadi sesuatu di sana.


.


.


Tidak membutuhkan waktu lama, Tyfan sudah berada di depan pintu masuk laboratorium yang berada di dalam bangunan Mansion pribadi Tuan Gayo. Tanpa banyak berpikir lagi Tyfan segera membuka pintu laboratorium menggunakan telapak tangannya.


Tidak ada orang yang bisa masuk ke dalam laboratorium pribadi Tuan Gayo, jika orang itu tidak mempunyai akses. Karena sistem keamanan yang digunakan di Mansion pribadi Tuan Gayo sangat--lah kuat dan rumit. Meski tidak serumit sistem keamanan yang yang dimiliki oleh Gen Akis.


Hanya dengan menempelkan telapak tangannya di sebuah layar, yang terletak di samping pintu. Tyfan dengan mudah, membuka pintu masuk ke dalam laboratorium pribadi Tuan Gayo.


Beberapa ilmuwan yang sedang mengurus bayi-bayi kloningan di ruang pertama laboratorium, segera melihat kearah Tyfan yang yang sangat tergesa-gesa ketika memasuki ruangan itu.


Namun para ilmuwan itu hanya bisa saling berpandangan, untuk mengekspresikan rasa keingintahuan mereka. Sebab mereka tidak mungkin bertanya secara langsung kepada Tyfan, yang sedang berlari terburu-buru menuju ke ruang laboratorium berikutnya.


Mereka hanya berpikir jika telah terjadi sesuatu di laboratorium ini, tidak biasanya mereka melihat Tyfan begitu sangat khawatir akan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2