HUMAN 2075

HUMAN 2075
Julukan Tyfan


__ADS_3

Julukan Tyfan


Hal yang paling tepat untuk menjatuhkan lawanmu adalah menjadi temannya dan mencari kelemahannya. Jika waktunya telah pas, kau bisa menyerangnya secara lebih dekat.


Sehingga kau bisa memastikan bahwa lawanmu, benar-benar tidak berdaya lagi.


Itu fakta, saat manusia berkuasa dia akan menjadi sombong karena merasa memilik segalanya. Dia akan lupa dengan banyak hal yang menaikannya ke posisi teratas.


Dia juga akan mudah kesepian, dia akan mudah merasa merasa kecil dalam suatu waktu. Dia jadi tak akan mudah percaya pada orang lain, dia tersiksa namun dia tetap akan bersikap sombong.


Menjadi temannya untuk menjatuhkannya. Picik memang.


Tapi itu lebih baik, dari pada berperang dengan pasukan yang punya banyak senjata. Sementara keadaan kita hanyalah punya tubuh dan nyawa yang melekat.


Juju memang polos dan naif. Tapi tanggung jawab yang harus ia emban membuatnya menjadi sosok yang lebih dewasa. Dia tau jika dia gagal, semua akan berhenti bergerak.


Dirinya, Jupiter, bayinya dan dunia akan hancur dalam waktu berasaan. Jika dia ceroboh dan menuruti emosi sesaatnya.


Juju menahan dirinya, meski dia tau seberapa besar pengaruh ayah angkatnya di kerusakan Bumi saat ini.


.


.


.


.


Juju pulang dari Mension Tuan Gayo, dia pulang tak dengan tangan kosong. Dia berhasil membawa sample darah hijau milik Makhluk Mars, yang dikurung oleh Tuan Gayo di ruang kaca Mansion pribadinya.


Juju tidak tahu, jalan yang ia pilih kali ini benar atau salah. Namun dia tak bisa memikirkan cara lain yang tak selicik ini.


Untuk pertama kalinya Juju berbohong pada orang lain, dan yang dia bohongi adalah ayah angkatnya sendiri. Tetapi ia tak merasakan rasa takut dan gelisah, entah kenapa hal yang salah ini menjadi benar di hati kecilnya.


Meski dia tak mengajukan pembelaan dalam bentuk apa pun, hati dan otaknya tak menangkap apa yang ia lalukan sebagai sebuah kesalahan. Tampaknya hatinya sudah tak sepolos dulu, menjadi licik bukanlah impian Juju.


Tapi keadaan yang memaksanya, dia sedang tersudut di sebuah tempat. Dimana bukan nyawanya saja yang menjadi taruhannya, tapi juga nyawa-nyawa orang-orang yang ia cintai.

__ADS_1


Juju tak langsung pergi ke Laboratorium Gen Akis, dia mengikuti arahan Tuan Gayo untuk pergi ke Lingkar Pusat SYPUS untuk menyelesaikan beberapa urusan penting menyangkut perusahaan. Dia pergi dengan Tyfan menuju Lingkar paling megah di bumi itu.


Mereka duduk berhadapan di Mobil Terbang milik Juju, keduanya saling memandang dengan tatapan tajam dan tak suka.


"Apa yang kau rencanakan, Juju?" tanya Tyfan.


"Seharusnya aku yang bertanya pertanyaan itu kepadamu, Tyfan!" ujar Juju, dengan nada yang lebih sarkas.


Tyfan tak langsung menimpali perkataan Juju yang menyudutkannya. Meski hampir saja dia kehilangan kepercayaan Tuan Gayo, tetapi Tyfan tau dia tidak boleh bertindak gegabah untuk mengurus Juju.


Tyfan menelisik setiap ekspresi dan juga tingkah laku Juju di dalam mobil, bahkan tangan kanan Tuan Gayo itu seolah tidak mau berkedip karena tidak mau melewatkan sedetik saja untuk mengawasi gerak-gerik Juju.


Padahal Juju mengarahkan pandangan tajamnya ke mata Tyfan, sebagai sinyal bahwa Juju tidak nyaman mendapat pandangan curiga semacam itu.


"Apa kau begitu mencurigaiku Tyfan?" tanya Juju akhirnya.


Siapa yang tahan jika di lihati terus oleh mahluk sesama lelaki, dengan tatapan menelisik dan penuh pertanyaan.


Mata tajam Tyfan akhirnya bertemu dengan kedua bola mata Juju. Entah Karena tidak tahan menatap pesona Kharisma yang dipancarkan oleh bola mata Juju, atau sudah jengah karena dari tadi Tyfan terus memandangi Juju. Lelaki berwajah kalem tapi tegas itu membuang mukanya dengan tak sopan.


"Kenapa kau masuk kedalam kandang Makhluk Mars itu??? Memangnya apa yang kau cari di sana?" akhirnya Tyfan tidak kuat menahan pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepalanya.


Tyfan terdiam lagi dia malah merenggangkan posisi kedua kakinya, lalu menundukkan tubuhnya sedikit lebih rendah, meletakkan kedua tangannya di sela-sela kakinya lalu menggosoknya dengan frustasi.


Lelaki itu ingin mengungkap apa yang terjadi di Lingkar Olio Gen Akis, untuk mendukung tuduhan yang ia layangkan kepada Juju. Tetapi Tyfan tidak mungkin mengatakan hal itu, karena jika dia mengakui tahu tentang apa yang terjadi dilingkar Olio Gen Akis.


Bukannya Juju yang dalam masalah tetapi dia yang akan menjadi incaran pasukan khusus Gen Akis dan SYPUS.


"Kau pun pasti punya alasan, yang tidak diketahui oleh siapapun!" ucap Tyfan dia mengatakan perkataannya tanpa melihat ke arah Juju.


Juju tidak sebodoh itu, dia bisa menangkap apa yang sebenarnya Tyfan maksud. Lelaki itu pasti tahu alasan yang membuat Juju senekat ini.


Jadi Juju bersikap sombong dia berganti posisi duduk, tubuhnya ia tegakkan dengan angkuhnya.


"Kau pasti juga punya alasan sendiri!" ujar Juju dengan nada guyonan. "Jika tidak, kau tak akan mencurigaiku sampai seyakin itu!".


Tyfan segera menaikkan wajahnya lagi, ia tak menyangka jika Juju ternyata mempunyai keberanian untuk menimpali perkataannya.

__ADS_1


"Meskipun kau adalah Calon Pemimpin SYPUS, tapi kau tidak tahu apa-apa tentang perusahaan itu.


"Jangan sampai kau terbunuh, sebelum menjadi Pemimpin SYPUS yang sebenarnya!" ancam Tyfan terang-terangan.


Pandangan pengawal yang menjadi tangan kanan Tuan Gayo itu, begitu sangat tajam. Namun Juju sama sekali tidak merasa takut dengan ancaman yang dikatakan oleh Tyfan.


Keduanya masih di posisi yang sama, saling berhadapan dengan tatapan tajam yang mengarah satu sama lain. Sampai pintu mobil yang mereka tumpangi terbuka.


Dhan yang bertugas untuk menemani Juju di lingkar Pusat SYPUS, sudah berada di depan pintu mobil Juju yang terbuka.


Lelaki berwajah oriental itu cukup kaget dengan atmosfer permusuhan di dalam mobil Juju.


Mata sipitnya berputar, dia mencoba cara-cara untuk membuat suasana menjadi mencair kembali. Meskipun perasaannya masih tidak enak, karena hal tersebut.


"Tuan Juju silakan turun! Saya akan memandu anda, untuk menjalani beberapa meeting!" kata Dhan.


Lelaki jenius itu tidak dapat memikirkan kata-kata lain, sebab bagaimanapun Juju adalah Calon Pemimpin SYPUS dan dia tidak mungkin mengatakan lelucon garing kepada Juju di depan Tyfan.


Tyfan mengambil inisiatif lebih dulu, sebelum turun Tyfan menghela nafasnya panjang. "Sebaiknya kau berhati-hati denganku! Karena aku, biasanya tidak akan melepaskan orang-orang yang kubenci!" ujar Tyfan dengan nada bicara yang sangat percaya diri.


"Aku akan mengingat perkataan anda, Tuan Tyfan!" jawab Juju.


Tyfan turun duluan dan Mengabaikan Dhan dengan sombongnya.


Juju segera turun setelah Tyfan turun, ia segera menyapa Dhan yang sepertinya telah menunggu dirinya di sana cukup lama.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Juju pada Dhan.


"Apa kau membuat masalah dengan Tuan Tyfan?" tanya Dhan dengan nada khawatir.


"Sepertinya begitu!" kata Juju santai.


"Apa kau tahu, julukan Tuan Tyfan di SYPUS?" tanya Dhan.


Tentu saja Juju hanya menggeleng, bagaimana dia bisa tahu julukan pria songong itu di SYPUS. Padahal hari ini adalah kali kedua dia, datang ke perusahaan yang diwariskan kepadanya ini.


"Tuan Tyfan lebih berkuasa dari pada Tuan Gayo! Dia bukan anjing yang penurut, dia bisa menerkam Tuannya kapanpun!" jelas Dhan. Wajahnya yang kecil memasang ekspresi mengerikan untuk menakuti Juju.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2