HUMAN 2075

HUMAN 2075
Ibu-Ibu Hamil


__ADS_3

"Kita harus turun sekarang!" kata Seva.


"Biar kami berdua saja, Seva! Kau masih terluka!" ujar Juju.


"Padahal pasukan kita sudah banyak yang terluka!" kata Anthony.


"Kita tak punya waktu lagi!" kata Juju.


Karena pergerakan Zombi besar itu begitu cepat, mereka tampaknya begitu tertarik pada jalur pemblokiran. Mungkin mereka mencium bau darah manusia yang segar dari tempat itu.


"Saya akan meminta pasukan bantuan lagi pada SYPUS!" kata Leon.


"Lakukan Leon!" ujar Juju.


Juju tau bagaimana pun dia dan pasukannya yang tersisa, tak akan bisa bertahan sampai para Zombi itu musnah.


Jet tempur sudah dikerahkan semua ke area kota. Para pilot sudah siap menyerang para Zombi besar yang jumlahnya makin banyak saja.


Seva yang dilarang oleh Juju, bahkan nekat turun tangan. Dia tak bisa diam saja saat kondisi kota makin kacau.


Anthony menembakkan peluru dari Jetnya ke arah tubuh satu Zombi besar. Tapi Zombi itu tampak tak mau mati padahal tubuhnya sudah hampir hancur.


"Letak kelemahan Zombi ini adalah kepalanya!" kata Juju di earpiecenya pada Anthony.


"Menyusahkan sekali!" ujar Anthony, dia sudah siap mengarahkan tembakannya ke arah kepala besar Zombi itu.


Benar saja, Zombi itu langsung menyerah dan terjatuh ke tanah.


"Leon suruh semua Pasukan hanya menembak kepala para Zombi!" perintah Juju.


"Baik Tuan!" kata Leon.


Leon segera mengarahkan mulutnya ke mikrofon di depannya. Dia menyetel perangkatnya agar mengirim suaranya ke semua perangkat earpiece seluruh Pasukan yang turun ke medan pertempuran.


"Kelemahan Zombi besar itu adalah kepalanya! Usahakan menembak di area kepala Zombi!" kata Leon.


Tampaknya semua Pasukan sudah mulai faham dengan apa yang di maksut Leon. Mereka mulai menembak dengan ketepatan di kepala para zombi-zombi besar itu.


"Tuan Juju...Gawat!" ujar Leon.


Manik mata hitam beningnya sedang mengawasi camera drone di bagian perbatasan area pembrokiran.


"Kenapa?" tanya Juju.


"Ada Zombi yang masuk ke area perbatasan pemblokiran!" ujar Leon.

__ADS_1


Juju yang awalnya hanya melihat fokus ke layar paling besar segera bergeser ke arah tempat duduk Leon yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Beberapa Zombi biasa mulai memasuki area perbatasan pemblokiran, dimana tempat ini masih penuh dengan manusia yang belum terkontaminasi.


"Berapa pasukan darat yang masih sehat?" tanya Juju pada Leon.


"Tak lebih dari 20 orang!" jawab Leon.


"Tutup gerbang pemblokiran sampai radius ini!" Juju menunjuk area dengan garis merah.


Area yang masih dipenuhi oleh manusia, tapi belum mendapatkan pengematan dari pihah SYPUS.


"Suruh mereka bersiap, aku sendiri yang akan memimpin mereka!" ujar Juju.


"Tapi Tuan, kita harus ijin pada Tuan Gayo terlebih dahulu!" kata Leon yang seorang dari Gen Sai.


Tapi saat menoleh ke arah Juju, lelaki gagah perkasa itu sudah tak dapat dilihat oleh Leon. Tentu saja Leon sudah tak bisa melakukan apa-apa lagi.


Pimpinannya membuat keputusan yang tepat, bagaimana pun keadaannya. Seorang pemimpin harus melindungi manusia yang lebih lemah terlebih dahulu.


.


.


Mereka mengunakan Pesawat Induk dengan beberapa kendaraan darat SYPUS yang canggih. Kendaraan yang di peruntukkan untuk bertempur di area penuh manusia.


Kendaraan itu turun dengan cara meggapung di udara seperti pesawat mobil, tapi kendaraan itu juga bisa mendarat dan berjalan di daratan dengan medan yang terjal sekali pun.


Juju dan seorang pasukan lain yang menyetir kendaraan itu, dia turun paling pertama. Mendarat di tengah-tengah kerumunan Zombi yang sedang menyerang manusia yang berusaha masuk ke dalam area pemblokiran.


Juju yang sudah bersiap dengan senapan meriam yang dipasang di atap mobil canggih itu. Segera menembak zombi-zombi di sekitarnya.


Senapan meriam dengan sekala ledakan yang cukup signifikan itu membuat Juju sedikit kaget. Karena pria gagah itu mengira bahwa senapan itu hanya berisi peluru biasa, tapi ternyata berisi peluru meriam yang bahkan bisa meledak.


Di area itu masih banyak manusia yang sedang dikejar-kejar oleh zombi. Juju harus segera bertindak, jika tidak. Semua orang di kota ini akan berubah menjadi zombi dengan cepat.


"Siapa namamu?" tanya Juju pada rekan barunya.


"Nama saya Zen Tuan!" kata lelaki yang ternyata masih muda itu.


"Lindungi aku! Aku harus keluar!" kata Juju.


Zen tak bisa membantah, dia segera mengambil alih tempat duduk Juju di kursi penembak di belakang kursi kemudinya. Sesuai rencana Juju keluar dari dalam mobil berlapis baja sekuat tank perang masa kini 


Juju tak membawa senjata api seperti pasukan yang lain. Lelaki gagah itu hanya membawa sepasang katana yang dia letakkan di punggungnya. Bukan niat untuk bergaya, tapi Juju tak mau melukai manusia yang mungkin belum terkontaminasi.

__ADS_1


Juju segera menarik kedua katananya, dia hanya fokus untuk menebas setiap leher Zombi yang dia temui. Juju berusaha semakin maju dan menghampiri seorang ibu yang tengah hamil yang sedang di kroyok oleh zombi.


Dengan secepat kilat Juju menebaskan katanya pada gerombolan zombi yang mengeroyok ibu hamil itu. Tapi setelah zombi-zombi itu berhasil dikalahkan oleh Juju.


Lelaki itu mendapati ibu hamil itu sudah mendapat banyak luka gigitan zombi, itu artinya Juju tak bisa menolong wanita muda itu.


Wanita itu hanya bisa terbaring di aspal jalan dan menikmati rasa sakit disekujur tubuhnya.


"Tuan!!! Tolong selamatkan bayi sayaaa!" rengek ibu itu.


Juju hanya bisa diam, perut ibu itu sudah sangat besar. Tapi apakah bayi yang dikandungan ibu-ibu itu bisa diselamatkan dari Virus Zombi.


"Anda bisa bunuhhhh sayaaa! Tapiii jangan anak sayyya!" kata ibu itu.


Ibu-ibu yang sudah berlumuran darah itu tampak memegangi perutnya dengan kedua tangannya yang sudah banyak luka. Dia meringis kesakitan karena rasa sakit di perutnya makin menjadi.


"Kenapa kau bengong saja!" kata sebuah suara wanita.


"Sepertinya ibu ini akan melahirkan, jika cepat kita bisa menyelamatkan bayinya!" ujar sebuah robot wanita di depan Juju.


"Lindungi aku, aku akan membantu ibu ini melahirkan!" kata robot wanita itu.


Tapi helm yang digunakan oleh wanita itu terbuka, setelah wanita itu memencet sebuah tombol di tangannya.


"Jupiter!" Juju tampak terkejut.


"Ini bukan waktunya melamun, Tuan Juju!" ujar Jupiter.


Gadis dengan pakaian robot itu segera berjongkok di bawah kaki ibu-ibu yang tengah hamil itu.


Duarrrrrrrrrrrr


Tembakan Zen dari mobil tanknya membuat Juju sadar. Dia harus melindungi istrinya yang tengah menolong ibu-ibu itu mengeluarkan bayi dalam rahimnya.


Ternyata Zen penembak yang handal, dia bisa menembakkan dengan akurat meski jarak mereka cukup jauh. Hingga menghalangi beberapa zombi yang baru datang dan ingin menyerang Juju.


Juju kembali memasang kuda-kudanya lagi, pendengarannya yang cukup sensitif bisa merasakan arah datangnya zombi-zombi yang sudah mulai berkurang di area itu.


Dengan sigap Juju langsung menerjang zombi yang melompat dari atas gedung. Zombi itu melompat menuju tubuh ibu-ibu dan Jupiter yang masih berusaha mengeluarkan bayi dari rahim ibu itu.


Alhasil zombi itu langsung diremukkan tengkoraknya oleh tinjuan tangan kosong Juju. Ditambah tekanan benturan ke aspal, tengkorak busuk itu seketika luluh lantah dengan cairan hitam lekat di atas aspal.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2