HUMAN 2075

HUMAN 2075
Sifat lain Jupiter


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Jupiter dengan senyum di wajah cantiknya.


"Jangan mengintip lagi, saat aku sedang berpakaian!" ujar Juju.


Dia ingin membentak istrinya itu, tapi dia merasa tidak tega juga.


"Aku tak mengintip! Aku melihat!" ujar Jupiter.


Gadis yang sudah menikah tiga kali itu malah berjalan pelan ke arah Juju. Membuat Juju mundur tanpa perintah.


"Sampai kapan kau akan menghindariku?" tanya Jupiter.


"Aku masih banyak pekerjaan!" jawab Juju.


Lelaki gagah itu, malah mengunakan kemeja putihnya yang masih berada di tangannya untuk menutupi dada berototnya.


"Aku sudah melihat semua! Percuma juga kau tutupi!" ujar Jupiter yang sudah berdiri di depan Juju yang sudah terpojok di ujung ruang ganti itu.


Jupiter merebut kemaja putih di tangan Juju dan melemparnya ke sembarang arah. Juju tak atau harus berbuat apa tapi dia juga tak bisa pasrah begitu saja.


Juju akhirnya menekan bahu Jupiter dengan kedua telapak tangannya, agar wanita itu tak semakin mendekati tubuhnya.


Tapi dugaan Juju salah, Jupiter lebih pintar soal merangsang daya juang seorang pria. Jemari lentik Jupiter malah mengelus pelan perut datar Juju yang berotor.


Pria muda itu hanya bisa menahan napasnya dalam-dalam.


"Bukankah kau datang ke sini, karena sudah siap memberiku bayi?" tanya Jupiter.


"Belum, aku belum siap!" Juju hanya bisa mengatakan kata-kata itu saja. "Aku datang ke sini, karena perlu mandi dan ganti baju saja!" ujar Juju lagi.


Tapi manik mata di paras cantik Jupiter belum mau melepaskan pandangan penuh n.afsunya dari wajah suaminya itu.


Jupiter memundurkan tubuhnya perlahan, hal itu segera diambil Juju sebagai kesempatan untuk kabur.


Dia meraih kemeja lain di gantungan pakaian di sebelahnya. Karena Juju tak mungkin kabur dari sana dengan telanjang dada.


"Jika kau butuh bantuan dariku, bilang saja!" kata Jupiter.


Juju tak mengubris apa yang dikatakan oleh Jupiter, bagaimana bisa seorang Gen Akis yang agresif seperti itu dapat membantunya bertempur melawan Zombi.


Tapi Juju lupa bahwa orang-orang di Gen Akis adalah tenaga medis yang sangat mumpuni. Tak ada orang yang lebih cekatan dan pintar, saat berada di tempat penuh dengan orang terluka.


Apa lagi Jupiter adalah satu penguji dan juga orang terbaik dalam hal Gen dan Vaksin. Wanita itu bisa membedakan tipe Gen dan tinkatannya hanya dengan melihat warna darah, tak perlu mengetesnya terlebih dahulu.


.


.


Juju yang sudah berada di area di mana para manusia selamat sudah berhasil dievakuasi. Juju bisa melihat, kesedihan dan kebahagian di saat yang bersamaan.


Para manusia yang selamat ini pastilah juga kehilangan angota keluarga mereka yang lain.


Meski emosi seperti ini pernah menyerangnya, tapi Juju berusaha untuk tetap menjaga ke wibawaannya. Dia nggak boleh mewek di tempat yang sudah di banjiri oleh banyak manusia yang selamat ini.

__ADS_1


Saat satu manusia turun dari pesawat mereka harus melewati ruang relaksasi. Di sana manusia yang terkontaminasi akan langsung di tarik oleh pasukan SYPUS dan dibawa ke tempat lain jika masih memungkinkan.


Jika tidak mereka akan langsung dibantai di tempat. Tak ada cara yang manusiawi untuk melawan Zombi.


Setelah itu mereka harus menjalani Vaksin pertama, banyak yang meninggal juga di fase ini. Karena kekebalan tubuh mereka kurang, tapi siapa yang berani protes masalah itu di saat seperti ini.


Manusia yang lemah harus dibunuh sebelum menjadi menyusahkan nantinya, itu pedoman SYPUS saat membuat Vaksin pertama untuk Virus Zombi itu.


Sebagian besar dari Pasukan yang dibawa Juju melakukan evakuasi. Dan saat ini manusia yang selamat semakin banyak dan butuh lebih banyak tenaga medis lagi, untuk merawat mereka.


"Sepertinya kau butuh bantuanku!" kata Jupiter.


Gadis super cantik dan seksi itu sudah berdiri di dekat Juju.


"Kamu mengkagetkanku!" Juju yang masih mengalami trauma mendalam soal kejadian mengintip tadi, tak dapat tenang di dekat Jupiter.


"Kenapa kau seperti melihat hantu di siang bolong?" tanya Jupiter pada suaminya itu.


"Aku hanya kaget saja!" Juju berkilah.


Tanpa ijin dari Juju, Jupiter segera maju dan dia berbicara lantang.


"Aku akan mengurus anak-anak dibawah umur yang selamat!" kata Jupiter.


Gadis cantik itu segera mengenakan sarung tangan medis dan duduk di sebuah korsi Dokter.


Anak-anak dibawah umur memang harus di Vaksin dengan dosis yang tak sama dengan orang dewasa. Dan Jupiter adalah ahlinya dalam hal itu.


"Yaaa ampun, kamu cantik sekali!" Jupiter memuji seorang gadis kecil yang berpenampilan kumuh tapi bermata biru yang indah.


Gadis kecil yang hampir menangis karena takut dengan pasukan itu, tampak tak takut lagi saat melihat wajah Jupiter yang cantik.


"Siapa namamu, gadis manis?" Jupiter kembali bertanya, setelah memeriksa denyut nadi gadis kecil itu.


"Sera!" kata gadis kecil itu dengan suara imutnya.


"Sera, kau tau berapa usiamu?" tanya Jupiter, gadis cantik itu sedang memilah beberapa Vaksin di atas meja sebelah kirinya.


Tapi gadis kecil itu mengeleng pelan.


"Usiamnu, mungkin enam tahun! Kakak akan menyuntik bahumu di sini.


"Akan sakit tapi kau harus bertahan yaaa!" ujar Jupiter dengan nada lembut.


Jupiter yang sudah siap dengan dosis yang pas, segera menyuntikkan Vaksin itu ke lengan mungil si gadis kecil.


"Sudah. Sakitkan?" tanya Jupiter.


"Enggak, hanya sedikit!" kata Gadis kecil itu.


"Ternyata kau kuat sekali yaaa!


"Sekarang kamu ikut paman itu dan minta makanan yang banyak yaaaa!" nasehat Jupiter.

__ADS_1


Dia malah menunjuk Juju untuk mengurus gadis kecil yang baru saja selesai dia Vaksin.


"Paman?" tanya Juju tak percaya.


Juju segera melambaikan tangannya ke arah gadis kecil bermata biru itu. Dan mencarikan gadis kecil itu tempat duduk di sebuah sudut.


Juju juga memanggil beberapa petugas dari Benua Auts yang bertugas membagikan makanan dan pakaian baru pada korban yang selamat.


"Harus ada orang khusus yang membantu anak-anak ini membersihkan diri!" kata Juju pada petugas Benua Aust itu.


"Kami akan segera mencarikan beberapa orang!" kata petugas itu.


"Dimana para petinggi kalian?" tanya Juju.


"Entahlah, mereka hanya memberi perintah. Tak mau turun langsung!" petugas itu tampak sedikit kesal.


Pasalnya di Benua Aust sistem pemimpin masih menggunakan cara lama. Yaitu Pemilu, dan Presiden yang terpilih saat ini terkenal merakyat. Malah tak nongol sedikit pun saat situasi jadi kacau.


"Saya dengar anda adalah pewaris utama SYPUS, anda keren!" kata petugas itu.


Laki itu memuji Juju yang berani berada di garis depan, dan menentang bahaya meski dapat terluka.


"Trimakasih sudah mau datang dan menyelamantkan kami!" imbuh petugas itu.


"Sama-sama, maaf juga karena kami cukup brutal saat menangani masalah ini!" kata Juju.


"Kenapa anda harus minta maaf, andai pemimpin kami seperti anda.


"Mungkin Zombi tidak akan menyerang Benua kami!" kata petugas itu.


Juju ingin lanjut mengobrol tapi, ponsel pintarnya yang berada di saku celananya bergetar. Minta diangkat.


"Ada apa?" tanya Juju.


Panggilan itu dari Leon di ruang Monitoring.


"Tuan, bisa anda ke pesawat kami segera!" kata Leon.


"Kenapa apa ada masalah?" tanya Juju.


"Zombi sejenis dengan yang menyerang anda diruang pertemuan. 


"Mereka muncul di kota yang sudah selesai di evakuasi!" lapor Leon.


"Aku akan ke sana!" kata Juju.


Calon Pemimpin SYPUS itu menutup panggilan Leon.


"Urus mereka dengan baik yaaa!" pinta Juju pada Polisi Benua Aust yang tadi diajaknya mengobrol.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2