HUMAN 2075

HUMAN 2075
Zombi Wenda


__ADS_3

Luca mengeluarkan sebuah kotak, lalu membukanya perlahan. Kotak sebesar telapak tangannya itu terdapat beberapa chip. Ia mengambilnya lalu menempelkannya di dinding batu, bagian belakang bangunan galeri seni.


Kotak itu berisi empat chip, masing-masing ditempelkan di atas dinding sampai membentuk persegi panjang atau sama sisi. Setelah meletakkan empat chip di keempat sisi, Luca mundur beberapa langkah lalu menekan tombol merah didalam kotak kecil itu.


Jeduarrrrrrrrrrr


Suara ledakan itu tidaklah besar namun cukup mengganggu pendengaran. Luca hanya membuat lubang sebesar pintu saja, dia hanya membutuhkan akses untuk masuk ke dalam bangunan. Jadi Luca tidak merusak lebih banyak hal.


Suasana di lantai pertama sangat sunyi, tak ada suara apapun yang dapat didengar oleh Luca. Namun lelaki berambut pirang itu tetap memasang telinganya, dia harus tetap waspada karena semua kemungkinan bisa saja terjadi.


Luca melihat tangga lebar di tengah bangunan itu. Perlahan tapi pasti, Luca naik ke atas. Derap langkahnya terdengar jelas menggema di seluruh ruangan, namun langkahnya langsung dia percepat saat melihat noda darah di lantai tangga itu.


Manik matanya langsung menyapu ke semua area, sementara kedua tangannya mencabut senjata api di rompinya. Dengan sigap Luca menodongkan pistolnya ke depan, matanya masih memicing tajam. Dan kedua kakinya mulai melangkah naik dengan perlahan.


Luca masih belum mendengar apapun, namun dia tetap sigap. Sampai pria itu menapakkan kakinya di atas lantai dua. Manik matanya langsung membesar, karena kaget.


Di seluruh penjuru lantai dua, ruangan yang amat luas dengan lukisan yang digantung di dinding-dindingnya itu. Luca hanya bisa melihat genangan darah dan mayat-mayat yang tergeletak tak beraturan.


Tembok putihnya sudah  berubah menjadi merah, dengan gambar telapak tangan manusia yang berserakan. Gambar telapak tangan dengan noda darah yang kental.


Luca mencoba untuk berjalan ke arah mayat yang paling dekat dengannya. Luca memperhatikan mayat itu dengan seksama, seorang wanita bergaun putih yang tak putih lagi. Dengan tubuh yang sudah di grogoti oleh Zombie. Darah segar masih menyelimuti luka-luka yang mengerikan di tubuh wanita itu.


Luca menendang pelan tubuh wanita itu beberapa kali. Untuk memastikan bahwa tubuh itu sudah mati atau belum. Tak ada gerakan yang dapat dilihat oleh mata Luca dari tubuh itu. Wanita bergaun putih yang sudah robek-robek dan kotor, karena noda darah dan dagingnya sendiri itu pasti sedah mati.


Wajah Luca semakin khawatir, dia benar-benar merasa bahwa istrinya masih di dalam bangunan ini. Dengan hati-hati Luca mencoba untuk mengenali para mayat di lantai dua itu. Namun Luca tidak dapat menemukan istrinya.


Luca memutuskan untuk naik ke lantai tiga, ada beberapa mayat manusia yang tergeletak di tangga menuju lantai tiga. Namun di lantai tiga  bersih tampaknya para Zombie belum pergi ke area itu.


Luca dengan cepat menyusuri semua ruangan di lantai itu, sampai dia mendengar suara gedoran dari sebuah pintu.


Deemm...Deem...Deemm


Suara benturan itu terdengar berkali-kali di telinga Luca. Suara benturan itu cukup aneh, selain keras namun juga beraturan. Luca tak mau terburu-buru, dia berjalan perlahan ke arah pintu yang diketuk itu.


Deemm...Deemm...Deemmm

__ADS_1


Suaranya masih terdengar jelas dan masih beraturan. Pintu itu adalah pintu besi, jadi kalau pintu itu diketuk dengan tangan manusia. Suaranya tidak akan sekeras itu.


Pintu besi itu tampaknya tak bisa dibuka dari luar. Namun kenapa jika ada orang di dalam, dia tak membuka pintu itu dan malah mengetuk seperti pintu itu.


"Ada orang di dalam?" teriak Luca.


Tak ada sahutan apapun, namun ketukan ikut terhenti sejenak. Luca menempelkan telinganya ke arah pintu besi itu. Dia memutar bola matanya dan mencoba menangkap suara apapun yang keluar di dalam sana.


Blammmmm


"Astaga!!!" teriak Luca kaget.


Suara ketukan itu berubah menjadi semacam suara benturan, hingga membuat Luca kaget. Seketika ia menjauhkan dirinya dari pintu besi. Tapi dia masih mengamati pintu besi itu.


Blammmmm


Suara itu terdengar lagi, namun kali ini suara itu semakin keras dan menggerakkan pintu besi di depan Luca. Manik mata Luca membesar, wajahnya yang rupawan itu seketika terkesiap. Matanya terus menajam ke arah pintu besi.


Dengan sigap Luca juga mengarahkan senjatanya ke area itu.


Jeduarrrrrrr


Blaaaammmmmm


Pintu itu jatuh ke lantai, dengan kepulan asap tipis yang mengelilinginya. Luca memusatkan semua indranya ke arah tempat itu, dia sangat waspada.


Sebuah tangan penuh darah meraih pinggiran tembok pintu yang sudah rusak. Seketika jantung Luca berpacu lebih cepat, dia menahan napasnya. Kedua tangannya bersiap untuk memacu senjata di tangannya.


Seorang perempuan dengan rambut panjang yang acak-acakan, gaun biru langitnya yang sudah memerah. Wanita itu berjalan sempoyongan dari dalam ruang besi, tanpa alas kaki namun tangannya memegang sebilah besi sepanjang satu meter.


Darah kental menetes dari setiap ujung rambut panjang dan juga gaunnya. Kepalanya menunduk, mungkin wajahnya sudah penuh dengan noda darah atau memucat karena menjadi Zombie.


"Apa kau sudah berubah?" tanya Luca.


Pria itu menanyakan hal itu  karena dia merasa perempuan yang berada di depannya adalah Wenda istrinya.

__ADS_1


Gadis itu perlahan-lahan mendongak, lalu menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan karena merasa mendengar suara. Sekejap wajah Winda langsung tertuju pada suaminya yang berada di sebelah kiri tubuhnya.


Mata gadis itu sudah putih seutuhnya, itu artinya Winda sudah menjadi Zombie. Harusnya gadis itu mati, namun kenapa dia masih tetap hidup.


Langkah kaki Zombie Winda perlahan menghadap ke arah Luca.


Klontanggggggg


Sebilah besi di tangan Zombi Wenda terjatuh ke lantai, kepala gadis itu bergerak-gerak mengikuti insting yang diciumnya. Wenda pasti mengenali Luca suaminya sebagai makanan. Benar saja langkah perlahan itu akhirnya menjadi cepat, Zombie Winda berlari ke arah Luca.


Di sana Luca hanya bisa membeku dia tidak mungkin menembak istrinya. Namun dari belakang luka terdengar suara tembakan.


Duarrrrrrrrrrrr


Tembakan itu mengenai sebelah kaki Zombie Wenda. Zombie itu rubuh ke lantai, namun masih berusaha berdiri. Zombie itu tak bisa merasakan rasa sakit apa pun.


Sebelum sempat menerkam Luca orang yang berada di belakang Luca sudah maju ke depan, untuk menghadang Zombie Wenda.


Salah satu pasukan khusus itu, menghadang serangan Zombu Wenda dengan meletakkan senapan panjangnya melintang di dada Wenda. Pasukan itu mendorong tubuh Winda ke arah dinding dan menekan kuat-kuat pergerakan zombie itu.


"Tuan tidak papa?" tanya Pasukan itu.


"Ini adalah Zombi Nyonya Wenda!" pasukan khusus itu baru mengenali sosok majikan perempuannya.


"Sebaiknya Tuan cepat keluar dari sini!" kata salah satu angota pasukan inti yang dibentuk oleh Luca.


Luca masih terdiam dan memandangi Zombie istrinya. Hatinya pasti sangat hancur saat melihat Winda yang cantik jelita, berubah menjadi di Zombie yang mengerikan.


"Tuan!" Ravas nama pasukan itu, dia kembali berteriak ke arah Luca.


Ravasya sedikit gamang, dia merasakan Zombi Nyonya Wenda tak lagi melakukan gerakan yang kuat lagi.


Keduanya malah mendengar suara isakan dari mulut Zombi Wenda, manik mata istri Luca itu sudah kembali menghitam ditengahnya.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2