
Tujuan Seva mengawal Raves, hanyalah agar dia bisa bertemu dengan pria bertubuh mungil dengan wajah datar, yang menyerang Raves di gedung terbengkalai beberapa saat yang lalu.
Dia ingin melihat dan kalau memungkinkan, ia akan menangkap lelaki dengan kemampuan berteleportasi tersebut.
Sebab tidak mungkin manusia biasa bisa melakukan teleportasi tanpa alat apa pun. Dan jika manusia biasa tanpa gen bisa melakukan teleportasi, pasti ada sebuah kecurangan yang terjadi di area Malio(Area luar SYPUS).
Jika rakyat Malio bisa menemukan teknologi semacam itu, maka keberadaan SYPUS akan terancam.
Bagi Seva SYPUS adalah segalanya. Karena tanpa SYPUS dia tidak akan hidup sampai hari ini.
"Bukan begitu, tapi saya--kan bawahan anda! Seharusnya saya yang mengawal anda, bukan anda yang mengawal saya!" kata Raves, mimik mukanya benar-benar tidak enak dilihat, karena canggung.
Mungkin karena dia begitu sangat sukan kepada Seva, yang dijuluki Dewi Pembasmi Zombie. Padahal Seva hanyalah manusia biasa tanpa Gen, tetapi tubuhnya begitu sangat kuat bahkan melebihi kekuatan manusia yang memiliki bertubuh Gen Uras.
"Terserah saja kau menyebutnya bagaimana, tapi aku tidak bisa membiarkan kau sendiri! Karena aku ditugaskan untuk menjagamu oleh Juju!" kata Seva.
Manik mata bulannya memandang lurus ke arah Raves. Lelaki gagah perkasa itu tidak bisa berkutik lagi di depan gadis mungil yang bertubuh setengah robot itu.
"Baiklah!" ujar Raves lemas.
Sedetik kemudian Raves berjalan di depan Seva dengan gelisah. Berkali-kali lelaki itu menoleh takut ke arah Seva yang berjalan di belakangnya.
"Sebaiknya Nona Seva berjalan di depan saya saja!" ujar Raves yang masih terus berjalan arah depan.
"Kenapa dari tadi kau ribut sekali, sih?!" tanya Seva dengan nada sedikit membentak.
Raves seketika terdiam ketika dibentak oleh Seva, Raves benar-benar tak bisa berkutik ketika Seva memarahinya. Dia takut karena Seva merupakan atasannya dan Raves sangat mengagumi Seva sebagai sesama anggota Tim Keamanan.
Seva adalah panutan bagi Raves. Kegigihan dan keberanian Seva jadi pemacunya untuk tumbuh selama ini.
Tugas yang diemban oleh Tim Keamanan bukanlah sesuatu yang ringan. Banyak rintangan yang harus dihadapi. Selama ini tanpa Seva ketahui, Seva adalah sosok yang membuat banyak anggota Tim Keamanan tak patah semangat, saat melewati rintangan-rintangan sulit itu.
Jika Seva yang hanyalah seorang wanita biasa tanpa Gen, bisa menjadi salah satu petinggi di pusat militer SYPUS. Maka orang lain yang lebih kuat, pasti juga bisa berada di posisi Seva suatu saat nanti.
"Sebaiknya anda mennunggu di luar saja!" kata Raves, saat ini dia sudah tiba di depan kamar khusus yang disediakan oleh laboratorium Gen Akis untuknya.
Sejak sebelum terkontaminasi Virus Zombie, Raves memang ditugaskan menjadi Tim Keamanan di laboratorium Gen Akis oleh Luca. Alhasil kamar yang ia tuju sekarang, adalah kamar yang dia tinggali sebelum ia terkontaminasi Virus Zombie.
__ADS_1
"Aku akan masuk!" ujar Seva.
Tanpa meminta izin dari Raves, Seva ingin membuka pintu kamar khusus milik Raves. Tapi dengan sigap Raves sudah berdiri di depan Seva, menghalangi gadis manis itu untuk membuka pintu kamar Raves.
"Minggir!" kata Seva.
"Jangan Nona!" kata Raves masih kekeh tidak mengijinkan Seva memasuki ruangan pribadinya.
"Aku bilang minggir!" Seva masih sabar meski nada bicaranya meninggi.
"Tidak sekarang, Nona!" ucap Raves. Wajah tegasnya itu berubah sangat imut karena ingin dikasihani oleh Seva.
"Memangnya apa yang kau sembunyikan di dalam kamarmu?" tanya Seva mulai curiga.
"Aku tidak menyembunyikan apa pun! Tapi anda tidak boleh masuk ke sini! Benar-benar tidak boleh!!!" ucap Raves masih dengan wajah memelas yang malah terlihat lucu.
Sava masih curiga karena dahinya masih mengeryit dan matanya masih tertuju pada wajah Raves yang tengah memohon kepadanya.
"Ok, aku akan menunggu di luar! Jadi cepatlah!" ujar Seva.
Wanita bertubuh setengah robot itu mundur dari hadapan Raves beberapa langkah.
Namun gerakan Seva lebih cepat daripada gerakan Raves. Wanita manis itu sudah masuk duluan ke dalam kamar Raves, saat RavesĀ membuka pintu kamarnya sendiri.
"Nona...!" pekik Raves.
Lelaki gagah perkasa itu langsung kehilangan kepercayaan dirinya.
"Jadi begini bentuknya kamar seorang Tim Keamanan Khusus laboratorium Gen Akis?" tanya Seva.
Wajah tegas Seva seketika berubah jijik-ngeri saat ia melihat isi kamar Raves yang seperti kapal hancur.
"Aku sering masuk ke dalam kamar pria! Tapi aku tidak pernah melihat kamar yang lebih berantakan daripada ini!" ucap Seva.
"Mungkin Tim Keamanan mengacak-acaknya, setelah aku menghilang dari sini! Mereka harus melakukan investigasi, kan?!" Raves tentu saja sedang mencari alasan, karena dia tidak ingin dibilang jorok oleh sosok panutannya.
Bukannya keluar dari sana karena merasa jijik, Seva malah berjalan pelan menghampiri beberapa pakaian milik Raves yang berserakan tak bentuk arah.
__ADS_1
Seva mengambil sehelai kain yang berbentuk seperti celana pendek kecil. Celana itu bau dan tergeletak di atas tempat tidur Raves.
"Apa sebelum mereka mengacak-acaknya, mereka memakainya dulu?" tanya Seva.
Seva tau kamar Raves belum disentuh siapapun, semenjak Raves dikurung oleh Luca di bangunan terbengkalai. Jadi pelaku yang membuat kamar ini berantakan, tak lain dan tak bukan adalah sang pemilik kamar itu sendiri.
Raves menutupi wajah tampannya dengan kedua telapak tangannya saking malunya.
"Rajin-rajinlah beres-beres! Karena isi kamar seseorang mencerminkan kepribadian yang ia miliki!" kata Seva sambil melepar onderdil bau milik Raves.
"Baik! Komandan!" Raves memberi hormat kepada Seva seperti para tentara. Apa pun yang keluar dari mulut Seva dianggap Raves sebagai perintah.
Mau tak mau Seva harus pergi dari kamar Raves, dia sudah tak tahan dengan betapa berantakannya kamar lelaki yang baru saja dia kenal beberapa saat yang lalu.
Sebagian kecil hatinya mengingat bagaimana kelakuan Anthony ketika masih belajar di akademi milik SYPUS dulu. Anthony tak kalah joroknya dengan Raves, hingga lelaki bermata merah itu sering dijulukinya si mata iblis dari tempat sampah.
Matanya yang merah dan penampilannya yang selalu berantakan. Apa lagi tutur katanya yang tidak pernah mengandung sopan santun, meskipun kepada guru ataupun senior di sekolah.
Anthony adalah putra kandung dari pemimpin Gen Uras pada saat itu. Siapa yang berani mengganggunya dengan kasta semacam itu, dia bisa melakukan apa yang dia mau tanpa dihantui oleh hukuman-hukuman dari pihak akademi.
Meskipun begitu Anthony bukanlah tipe pria yang sombong, hanya karena dia adalah seorang anak dari salah satu penguasa. Kebalikannya, Anthony adalah pria yang sangat setia kawan dan suka menolong sesama.
.
.
.
.
Pria berkulit setengah gosong karena terlalu lama terpapar sinar matahari dan bermata merah yang dipikirkan oleh Seva. Saat ini tengah duduk tenang di di sebuah kursi.
Wajahnya yang runcing serta licik itu memandang lurus kedepan, ia meneliti setiap jengkal pemandangan yang ia lihat.
"Wahhhhhh. Tuhan benar-benar tak adil padaku!" ujar lelaki yang sekarang mengenakan pakaian kasual itu, dengan nada yang amat kesal.
"Baru kali ini aku melihat pantai! Tapi kenapa airnya tak sebiru seperti kata orang! Aisttttttt!"
__ADS_1
Melihat pantai dengan air biru dan langit yang cerah adalah sebuah hal langka untuk disaksikan di jaman ini. Mimpi yang mungkin adalah hal yang sederhana di masa lalu, kini menjadi sebuah hal yang terlalu mewah untuk bisa terwujud.