HUMAN 2075

HUMAN 2075
Perubahan Jupiter


__ADS_3

"Apa dia mau mati disini?" tanya Anthony seketika.


Ungkapan pertanyaan yang dikatakan oleh Anthony benar-benar realistis. Bagaimana tidak Jupiter adalah Gen Akis yang sangat rentan dengan Virus Zombi.


Antara tak kenal takut, atau memang mau mati. Hanya itu kesimpulan yang dapat di ambil, karena kelakuan gabutnya Jupiter.


"Suruh dia kembali ke Pangkalan di Malio!" perintah Juju pada Leon.


"Nyonya Jupiter sama sekali tak mendengar apa yang kukatakan, Tuan!" ujar Leon.


"Tampaknya kau akan lebih repot mengurus istrimu, dari pada mengurus kota yang sudah penuh dengan Zombi!" ujar Anthony.


"Apa yang dia pikirkan, kenapa malah datang ke medan perang seperti ini?!" tanya Juju.


Tapi tak ada satu pun orang yang tau jawaban dari pertanyaan Juju itu.


.


.


Tak butuh waktu lama, Jupiter sudah mendarat dengan pesawatnya di pangkalan Benua Aust.


Juju segera menghampiri istri yang tak pernah dia anggap itu. Lelaki itu menghampiri Jupiter di landasan pacu bukan untuk menyambutnya, tapi untuk menyuruh Jupiter cepat pulang.


"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Juju pada istrinya.


Wanita itu bahkan baru menapakkan kedua kakinya di landasan pacu pagi itu. Tapi suaminya sudah menanyakan perkataan nyolotnya.


"Apa nggak boleh?" tanya Jupiter tak kalah nyolot.


"Kau tau--kan, di sini sedang banyak masalah. Jangan menambah masalahku!" ujar Juju.


Entah keberanian dari mana, mungkin Juju juga sakit hati dengan perkataan istrinya itu. Tentang Anthony yang dibilang sampah oleh Jupiter.


"Aku tak akan menambah masalah apa pun untukmu, suamiku!" ujar Jupiter.


"Dengan melihatmu saja, otakku sudah kacau. Apa kau tau!" kata Juju.


Kata-kata Juju membuat Jupiter memandang suaminya dengan tatapan yang tajam.


"Apa pun yang kau lakukan, itu tak akan merubah apa pun. Aku sudah bilang ke Tuan Gayo untuk menurunkanmu!" kata Juju bohong.


"Memang dia setuju?" tanya Jupiter.


Tampaknya wanita cantik yang seksi itu tak dapat ditipu dengan tipuan receh seperti itu.


"Terlalu banyak hal yang kuketahui tentang Tuan Gayo. Dia tak akan menyingkirkanku hidup-hidup!" kata Jupiter dengan santai.


Wanita itu malah berjalan masuk ke dalam bangunan gedung utama, dan meninggalkan suaminya sendirian di landasan pacu.


.


.


Juju tampak sedikit goyah, sepertinya dia bisa menebak kondisi Jupiter saat ini. Dan kenapa Jupiter berusah mendekatinya meski ditolak oleh Juju berkali-kali.


Bahkan tanpa rasa takut, Jupiter datang ke tempat ini. Alasannya, gadis itu harus punya bayi dari Juju apa pun yang terjadi. Jika tidak, mungkin Jupiter akan kehilangan nyawanya.


Juju segera pergi ke arah Jupiter pergi. Lelaki itu akhirnya menemukan istrinya itu akan masuk kedalam lift menuju ke ruang khusus. Dimana pemerintah Benua Aust menyediakan tempat untuk Juju beristirahat. Meski Juju tak pernah mengunakannya.

__ADS_1


Juju segera masuk ke dalam lift yang dimasuki oleh Jupiter.


"Apa kau akan berhenti jika kau hamil anakku?" tanya Juju.


Jupiter yang tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar itu pun hanya bisa memandang ke arah Juju dengan tatapan yang aneh.


"Apa kau akan diam di Olio, jika kau bisa hamil anak dariku?" Juju kembali menegaskan pertanyaanya.


"Kau bahkan tak mau menyentuhku! Jangan menanyakan pertanyaan seperti itu!" ujar Jupiter.


Tanpa persiapan apa pun, tubuh seksi Jupiter sudah dihimpit oleh tubuh kekar Juju. Dengan berani Juju mendorong tubuh istrinya itu ke dinding lift.


"Kau bisa mati seperti Vie!" kata Jupiter.


Juju memandang ke arah paras cantik Jupiter. Pandagan yang tajam dan sangat menusuk, lelaki muda itu tampak menahan sesuatu dalam hatinya. Tapi dia segera mengeluarkan, semua unek-uneknya itu.


"Apa kau mengatakan hal ini juga pada mendiang Vie?" tanya Juju.


"Siapa yang tau dia akan mati setelah menikmati tubuhku?" ujar Jupiter.


"Perasaanku pada Vie, bukan sedangkal itu.


"Aku sangat mencintainya, karena itu aku harus mengejarmu!" kata Jupiter.


"Maksutmu?" tanya Juju bingung.


"Karena kau dan Vie...,"


Suara lembut pintu lift terbuka membuat ke intiman mereka terganggu.


Jupiter mendorong tubuh Juju dan membuat lelaki itu merasakan betapa kuat lengan istrinya.


"Apa hubungan antara aku dan Vie?" tanya Juju.


Lelaki itu masih mengejar Jupiter sampai ke kamarnya.


"Aku tak akan pernah mengatakannya!" ujar Jupiter.


"Kau?!" Juju mulai emosi.


Lelaki itu jadi mepikiran dengan perkataan Jupiter tadi.


"Jupiter, kau pasti mengarang sesuatu--kan. Untuk membuatku penasaran?" tanya Juju.


"Mungkin aku kaku, dan seperti tak punya perasaan. Tapi aku tak pernah berbohong pada siapa pun!" ujar Jupiter.


"Sebenarnya apa yang kau mau dari aku?" tanya Juju to the point.


Jupiter tak mengatakan apa pun pada suaminya. Dia hanya mendekat ke arah Juju dan meraih wajah Juju.


Juju ingin menarik wajahnya kembali tapi bibirnya sudah terkunci dengan kecupan Jupiter. Juju sempat tertegun dengan apa yang baru saja dia terima.


Kenapa rasa kecupan itu seperti sesuatu yang pernah dia rasakan. Kenapa, Juju bisa langsung menikmati kecupan bibir Jupiter pada bibirnya.


Hanya sebuah kecupan, dan Jupiter manarik lagi wajahnya dari wajah Juju yang tengah berada di mode kebingungan.


Saking bingung dan cangungnya Juju hanya bisa mengaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal.


Kenapa Juju merasa hatinya tak bisa menerima tapi otaknya bisa mengenali kecupan Jupiter.

__ADS_1


Jupiter dengan teliti malah memandangi wajah Juju yang memerah.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Juju pada istrinya itu.


"Ciuman, apa lagi?!" kata Jupiter.


Wanita itu masih dengan perasaan antusis, hanya memandang ke arah bibir Juju.


"Jangan memandangku seperti itu!" kata Juju, wajahnya sudah merah padam sekarang.


"Kau tak bereaksi dengan Genku?!" ujar Jupiter.


"Hehhhhhh?" tanya Juju bingung.


"Bibirmu tidak membiru saat berciuman denganku!" ujar Jupiter.


"Memang harusnya membiru?" tanya Juju.


Lelaki somplak itu malah pergi ke arah kaca yang ada di ruang ganti dan bercermin di sana.


Dia melihati area bibirnya dan tampak tak ada sesuatu yang aneh.


Tapi Juju segera tersentak saat sebuah pelukan hangat mendekapnya dari belakang.


"Aku tak bisa menyakitimu!" ujar Jupiter, nada bicanya terdengar bahagia.


Gadis itu tiba-tiba jadi manis.


"Lepaskan!" perintah Juju, tangan kekarnya melepas dekapan kedua lengan ramping Jupiter di pinggangnya.


"Aku akan diam di Olio, jika kau mau menghamiliku!" ujar Jupiter dengan senyuman merekah di wajah cantiknya.


Juju yang sudah berhasil melepaskan pelukan Jupiter dan berbalik ke arah wanita itu berdiri itu pun, hanya bisa tertegun. Karena senyum Jupiter sudah mengalihkan sebagian dunia Juju.


"Mari lakukan!" ujar Jupiter.


Juju yang sudah sadar dari keterpesonaannya segera menepis kedua tangan Jupiter yang dia gengam sebelumnya.


"Kamu gila yaaaa?" tanya Juju.


"Kau sendiri yang tanya tadi! Ayo--lah semakin cepat jadi, semakin baik!" kata Jupiter dengan nada yang antusias dan manis.


"Apa kau Jupiter dari Gen Akis?" tanya Juju bingung.


Bagaimana seorang gadis bisa berubah sikapnya hanya dalam beberapa detik saja.


"Iya aku Jupiter!" kata gadis cantik itu.


"Kayaknya kamu lain orang!" ujar Juju.


Juju yang tak mengerti dengan situasi ini, hanya bisa berusaha keluar dari dalam kamar mewah yang sudah disediakan oleh pemerintah Benua Aust itu.


"Aku takut membunuh orang yang kucintai lagi! Karena itu aku juga ragu berada di dekatmu.


"Tapi sepertinya aku tak bisa menyakiti pria dengan Gen Horo level 10 sepertimu!" ujar Jupiter masih dengan senyum yang mengembang indah.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2