
~♡~
7 SUMPAH
Ada yang hilang
Jiwaku tak tenang
Semakin dalam, tubuhku tenggelam
Oh hujan badai temani aku pulang
Dinginnnya malam tak mampu ku bertahan
Kini kau datang
Berikan aku ruang
Walau kau lelah, tapi nafasku panjang
Akankah s'lalu, kau tetap menemani
Sinari aku, bagai cahaya mentari
Aku berjanji jika saatnya nanti
Kau ku beri arti, hingga diriku mati
Yang hilang biarlah hilang
Yang pergi biarlah pergi
Tetap kau disini, temani aku malam ini
Kini dimana
Harus ku cari lagi
Saat kau pergi, tinggal aku sendiri
Lelah ku cari tak juga ku temui
Saat kau hilang, tujuh sumpah ku maki
Aku berjanji, jika nanti kau pergi
Akan selalu, ku doakan kau mati
Aku yang slama ini, berharap kau untuk coba mengerti
Untuk apa ku disini terjerat gelap malam ini
Dan aku yang slama ini, berharap kau untuk cepat kembali
Temani aku tuk pulang, dimana aku tenggelam.
Hilang
Yang hilang biarlah hilang
Yang pergi biarlah pergi
__ADS_1
Tetap kau disini, temani aku malam ini
Yang hilang biarlah hilang
Yang pergi biarkan mati
Tetap disini temani aku, warnai hari
~♡~
Dunia yang redup, dikelilingi kekelaman tanpa ujung. Serpihan harapan tak kunjung terjadi, membuat hati mamusia yang mulai tak percaya pada Tuhan-Tuhan mereka.
Air mata yang jatuh, tak ada artinya lagi. Keringat yang menetes, tak punya hasil apa pun. Sia-sia saja, semua harapan, kerja keras dan pemgorbanan.
Karena dunia pasti akan hancur, apa pun caranya.
.
.
.
.
Buakkkkkkkkk
Tyfan melempar tubuh Edward dengan kasar. Tubuh Manusia biasa yang sudah tak berdaya itu terbentur dinding, tetapi tubuh kekar Edward masih mengeliat meski pelan, pertanda manusia Malio itu masih hidup.
Entah alasan apa yang tersirat di kepala Tyfan, sehingga lelaki dengan penuh ambisi itu tak jadi membunuh musuh bebuyutannya.
"Aku akan tunjukkan sebuah fakta!" ujar Tyfan, tanpa mempedulikan keadaan Edward yang sedang berusaha mengisi paru-parunya dengan oksigen hingga penuh.
Lelaki yang masih mempunyai darah murni manusia Malio itu masih punya hasrat untuk hidup juga.
Seorang kakak yang bahkan meninggalkan adiknya sendirian di tempat persembunyian mereka dulu. Sehingga adiknya tertangkap oleh kelompok Tyfan, yang sedang mencari tikus lercobaan.
Namun kini dia hadir dan meminta dianggap kakak lagi oleh adik semata wayangnya.
"Fakta apa?" tanya Edward dengan suara yang masih lemah.
"Aku berdiri di sini bukan untuk SYPUS!" kata Tyfan.
"Untuk apa lagi?!" Edward menyeringai kesal ke arah Tyfan, padahal dia masih kesakitan. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang sangat layu.
"Jangan membela diri lagi, Tyfan! Tak ada gunanya!" Edward meninggikan suaranya. "Di Malio sudah tidak ada manusia yang hidup lagi, karena ulahmu!" teriak Edward sambil menahan sakit di tubuhnya.
"Sebagian dari mereka masih hidup!" Tyfan berjalan meninggalkan Edward begitu saja di dalam ruangan itu. "Bukankah kau sudah melihat adikmu, Alan?".
Edward sadar, dia tak salah lihat. Orang yang menemuinya beberapa saat yang lalu, adalah adiknya Alan.
"Dimana dia sekarang?!"
"Dia baik-baik saja!" Tyfan menghentikan langkah kakinya, namun tubuhnya sama sekali tidak berbalik ke arah Edward yang masih tersungkur di atas lantai. "Asal kau tak melawan dan menuruti semua perintah kami, maka adikmu akan baik-baik saja!".
Tampaknya Tyfan memilih menyiksa Edward, daripada membunuh lelaki itu.
Bagaimanapun pasukan rahasia yang dibentuk oleh Tuan Gayo masih kekurangan banyak personil. Tyfan tak mau kehilangan satu manusia-pun untuk saat ini. Apalagi manusia-manusia yang dapat dirubah menjadi monster, hanyalah manusia-manusia dari Malio.
Tingkat populasi di Malio sangat rendah, mereka sudah tidak punya waktu lagi untuk menunggu manusia-manusia berikutnya lahir.
"Lepaskan Alan!" Edward mengumpulkan kekuatan di tubuhnya, untuk berusaha berdiri.
__ADS_1
Edward yang sudah dapat berdiri meskipun dengan sempoyongan, ia mengejar Tyfan yang berjalan ke arah pintu keluar penjara kaca.
"Bajingan!!! Jika sampai terjadi apa-apa pada Alan...Aku tak akan pernah mengampunimu!!!" Edward meraih kerah baju Tyfan.
Wajahnya yang selalu kalem dan sayu, berubah bengis dengan penuh ancaman.
"Menyingkir!!! Dan diam!" Tyfan menangkis dengan sekali sabetan saja, tubuh Edward sudah kembali melayang ke udara dan mendarat di dinding kaca lain.
Edward masih bernafas, namun tubuh lemahnya tampak tak bisa memikul rasa sakit, terhempas dua kali oleh tangan monster sekuat Tyfan.
~■~■~■~■~■~■~■~■~■~
Dulu sekali...
Sebenarnya tak terlalu dulu...
Hanya sekitar 30 tahunan silam...
Ada sebuah kota di Malio yang lebih makmur dari Lingkar Olio. Nama kota di Malio itu adalah Dawas.
Dawas terletak di paling ujung selatan dunia, dengan populasi mausia paling sedikit.
Saat semua belahan bumi terserang Virus Enza 19 hanya Kota Dawas-lah yang tak terpengaruh oleh Virus aneh tapi mematikan itu.
Di kota yang sangat terpencil itu, hanya dihuni oleh 200 populasi manusia. Mereka sudah terbiasa dengan hawa dingin dan kekuatan fisik mereka amatlah kuat.
Setiap hari, kematian terjadi di setiap belahan dunia. Membabi-buta, tak pandang bulu, siapa pun yang terkena Virus Enza 19 pasti akan meninggal, jika tak mendapatkan Vaksin AntiVirus dari perusahaan SYPUS yang saat itu mulai membesar.
Awalnya tidak ada yang peduli dan menyentuh kota Dawas, tapi pada suatu hari ada sebuah keluarga yang kabur dari kejaran SYPUS.
Mereka sekeluarga terjangkit Virus Enza 19, namun mereka tak mau dirawat di pusat kesehatan SYPUS kala itu. Akhirnya sebuah keluarga dengan dua orang anak perempuan dan lelaki kabur ke selatan.
Malam itu matahari masih tinggi, begitulah keadaan di kutub selatan. Ada kalanya matahari selalu hadir sepanjang hari, dan ada kalanya juga matahari tak muncul sama sekali.
Dua orang pemuda berjalan beriringan, keduanya masing-masing membawa hasil buruan yang mereka dapatkan.
"Harusnya kau dijuluki 'Penangkap Burung'!" Joseph ayah Edward dan Alan yang masih muda meledek Arlo sahabat karibnya.
Bagaimana Joseph tak meledek Arlo, sahabatnya itu selalu hanya mendapatkan beberapa burung ketika berburu.
"Jangan meledekku! Aku hanya sedang melatih kemampuan menembakku!" entah hanya alasan atau memang iya, Arlo mengatakan hal itu.
"Baiklah... Anggap saja begitu! Tapi jika kau mahir menembak?! Apa gunanya hal semacam itu, kecuali untuk hal seperti ini?!" Joseph kembali menyombongkan rusa gemuk, hasil buruannya.
Lelaki muda itu hampir tak kuat mengendong buruannya. Jadi senapan angin laras panjangnya dibawakan oleh Arlo sahabatnya.
"Aku percaya kau akan mendapatkan Rusa gemuk! Jadi aku berburu hal yang lebih kecil! Jika kita berdua sama-sama membawa Rusa gemuk, aku khawatir Bibi Noah akan mengumpat seharian!" Arlo kembali membela diri, tampaknya lelaki berwajah kalem itu pandai bicara juga.
Arlo dan Joseph hanya tinggal bertiga dengan Bibi Noah, jadi satu-satunya orang yang akan memasak buruan mereka adalah bibi Noah.
"Sudahlah jangan mencari banyak alasan! Bantu aku membawa ini!" Joseph segera menurunkan hasil buruannya ke atas tanah yang bersalju tebal.
"Kau lemah! Membawa satu ekor Rusa saja, sudah mengeluh sepanjang hari!" Arlo balik meledek Joseph.
Joseph yang berdiri tegak mengabaikan sahabatnya, karena ada sesuatu yang telah menarik perhatiannya. Ia melihat lurus ke arah jalan besar yang melintasi tepian hutan Dawas.
"Ar... Itu apa?" tanya Joseph pada Arlo.
Arlo segera memutar kepalanya, agar dia bias melihat apa yang sahabatnya maksut.
"Itu seperti mobil!" ujar Arlo.
__ADS_1
"Kau benar! Itu mobil!" Joseph masih berdiri diam di tempatnya, sambil menatap tajam ke arah mobil merah yang sudah hampir tertutup semua, oleh salju.