HUMAN 2075

HUMAN 2075
Darah Hijau


__ADS_3

"Aku terkesan karena Gen Akis mau mengakuiku!" kata Juju.


"Kami adalah bagian dari SIPUS, jadi Gen kami wajib tunduk pada pemimpin dan calon pemimpin SYPUS!" kata Jupiter.


Jupiter mendampingi suaminya menyusuri lorong, untuk masuk ke dalam laboratorium Gen Akis. Lorong panjang yang menggabungkan, setiap ruangan di menara utama Gen Akis. Lorong ini cukup terang dengan berapa kaca bening di pinggirnya, fungsinya untuk memperlihatkan pemandangan ruangan di dalam bangunan yang didominasi dengan ruang penelitian itu.


Sepanjang lorong suara dentuman langkah kaki mereka menggema nyaring. Bisa dipastikan bangunan ini, memiliki sistem kedap suara yang bagus. Lantai yang terbuat dari marmer putih tebal dan mengkilap, menambah kesan elegan di sepanjang lorong ini.


.


.


Jupiter mengajak suaminya itu ke dalam ruangan, yang difungsikan untuk menisolasi Nyonya Wenda. Yang telah berubah menjadi zombie setengah manusia.


Di dalam ruangan itu terdapat berapa ruang kaca, yang dilengkapi oleh alat-alat kesehatan dan ranjang yang nyaman untuk pasien. Ruangan ini dulunya digunakan, untuk penelitian pasien-pasien virus Danger25.


"Siapa itu?" tanya Juju.


Perhatiannya pasti langsung tertuju pada Nyonya Wenda yang dikurung di dalam salah satu ruang kaca, dengan rantai yang membelengunya.


"Dia istri kakakku!" kata Jupiter.


"Kenapa iya dikurung di sana?" tanya Juju.


Setahu Juju virus Danger25 sudah tidak terlalu berbahaya lagi bagi umat manusia saat ini. Tapi kenapa masih ada manusia yang dikurung di ruang penelitian ini.


Apalagi yang dikurung adalah istri kakak Jupiter, semua itu tanpa aneh di mata Juju.


"Nyonya Wenda terkenal Virus Zombie!" kata Jupiter tanpa menutup-nutupinya.


Namun keadaannya Nyonya Wenda yang dilihat oleh Juju sekarang, bukanlah sosok mengerikan yang haus darah. Jadi Juju mengeryitkan dahinya dan memandang Jupiter dengan pandangan bingung.


"Aku sudah bilang padamu--kan jika seorang Gen Akis digigit oleh Zombie.


"Maka satu-satunya jalan untuk mereka adalah kematian?!" kata Jupiter.


Juju mengangguk, dia masih mengingat ucapan Jupiter di dalam pesawat. Saat perjalanan mereka dari Benua Aust menuju ke Lingkat Utama SYPUS.


"Tapi kali ini Nyonya Wenda, menjadi manusia setengah Zombie!" jelas Jupiter.


"Bagaimana bisa? Manusia setengah Zombi?!" Juju sulit untuk percaya apa yang dikatakan oleh Jupiter padanya.


Mereka berdua masih memperhatikan Nyonya Wenda dari kejauhan. Disaat sadar seperti itu Nyonya Wenda masih mempunyai pemikiran seperti manusia pada umumnya. Jadi dia pasti akan merasa terganggu, jika diperhatikan oleh Juju dan juga Jupiter secara terang-terangan.

__ADS_1


Namun perhatian Jupiter sudah menangkap pergerakan aneh dari gerak-gerik Nyonya Wenda. Wanita itu mulai mengelus-eluskan salah satu tangannya ke dadanya. Bisa dipastikan jika Nyonya Wenda sedang kehausan.


"Perhatikan dia sudah mulai berubah!" kata Jupiter pada Juju.


Nyonya Wenda mulai gelisah, dia meraih botol air mineral di atas meja sebelah ranjang tidurnya. Wanita itu membuka tutupnya secara kasar, lalu menengak seluruh isi dari botol air mineral yang berat kemasan satu liter itu.


Jupiter menarik salah satu pergelangan tangan suaminya, dia mengajak Juju mendekat ke arah dimana Nyonya Wenda dikurung.


Terlihat jelas tangan dan kaki Nyonya Wenda yang tidak ditutupi oleh kain apapun itu, mulai berwarna menghitam. Manik matanya yang semula coklat kini berubah menjadi menghitam seluruhnya.


Heistttttt


Aghhhhhhhhh


Akkkkkkkkhhh


Wajahnya yang cantik menengadah ke langit sambil berteriak mendesis, kini wujudnya benar-benar seperti Zombie pada umumnya.


Manik mata Juju bergetar, dia tak menyangka akan melihat perubahan seperti ini pada manusia yang sehat. Tubuh wanita itu terus berusaha untuk bergerak, sampai ranjang yang ia tempati bergoyang-goyang. Padahal ranjang itu adalah ranjang tanam yang tidak bisa bergerak selain dicongkel dari bawah.


"Apa dia akan, bisa normal kembali?" tanya Juju.


"Dia akan normal kembali beberapa saat lagi!" kata Jupiter.


Suara gemeratak ranjang yang bergoyang masih terdengar dengan jelas. Seringai, desisan dan juga teriakan Zombi Nyonya Wenda masih berlangsung.


Gerakan gemeratak ranjang dan juga teriakan desisan Nyonya Wenda mulai berangsur-angsur berkurang. Suara hidup berubah menjadi isak tangis, yang memilukan.


"Lihat dia berubah menjadi manusia lagi!" kata Jupiter.


Perubahan menjadi Zombie Nyonya Wenda memang tak lama, mungkin hanya sekitar lima menit. Tapi jika ada manusia di dekat mereka, maka bisa dipastikan bahwa manusia itu tidak akan hidup.


"Apa hanya orang ini? Yang terkena virus zombie dan menjadi seperti ini?" tanya Juju pada Jupiter.


"Untuk sementara ini hanya Nyonya Wenda, yang mengalami hal ini!" jawab Jupiter.


Setelah menyaksikan hal yang cukup menegangkan itu, mereka keluar dari ruang isolasi itu. Meninggalkannya Nyonya Wenda yang meratapi nasib naas--nya.


"Aku masih meneliti, dan mencoba mencari antivirus--nya!" kata Jupiter.


"Apa masih lama?" tanya Jupiter.


Terlihat jelas, bahwa Juju tampak khawatir dengan keadaan Nyonya Wenda.

__ADS_1


"Sebenarnya aku mengundangmu datang ke sini!


"Untuk hal yang lebih penting daripada menunjukkan, keadanya Nyonya Wenda padamu!" kata Jupiter.


Mereka masih berada di depan ruang isolasi, keduanya saling memandang dengan pandangan penuh tanya.


"Apa itu?" tanya Juju.


"Aku menemukan darah hijau aneh yang terkandung di dalam darahmu, berada di darah Nyonya Wenda saat ini!" kata Jupiter.


Juju menatap Jupiter dengan tatapan yang sangat fokus, lelaki itu mulai merasa kebimbangan menyerap dirinya. Dia merasa berada di dua persimpangan antara ingin percaya atau tidak.


"Apakah akan menuduh Tuan Gayo lagi?" tanya Juju.


Jawaban yang tidak ingin Jupiter dengar, dia berpikir bahwa Juju sudah berada di pihaknya. Ternyata ia salah menilai suaminya itu.


"Aku tidak sedang menuduh Tuan Gayo! Tapi semua bukti tertuju padanya!" Jupiter masih mencoba menjelaskan apa yang dipikirkannya kepada suaminya.


Jupiter sangat berharap bahwa Juju mau percaya padanya.


"Darah mahluk hidup mana yang berwarna hijau?" tanya Juju.


Meski Juju tidak tahu tentang banyak hal tentang medis, tapi dia belum pernah mendengar jika ada makhluk hidup yang mempunyai darah berwarna hijau.


"Kau tau? Sekarang ini Tuan Gayo sedang mengembangkan tentang kloning manusia dan dia berhasil.


"Dia terlalu sibuk, untuk mencari seorang makhluk yang mempunyai darah berwarna hijau!" kata Juju, dengan nada yang cukup sarkas.


Jupiter sering mendengarkan banyak kalimat mengerikan, lebih dari yang Juju katakan padanya. Namun entah kenapa hatinya terasa sangat sakit sekali, ketika mendengar ucapan kasar Juju barusan.


"Lalu dari mana asalnya darah hijau itu? Kenapa bisa berada di tubuhmu dan juga di tubuh Nyonya Wenda!


"Jelaskan!" tuntut Jupiter.


Santai indahnya terlihat sembab, dia menahan airmatanya supaya tak menetes. Sejak kapan hatinya menjadi selembut ini, kenapa ia bisa menangis hanya dengan ucapan semacam itu.


"Maafkan aku karena telah membentakmu!" kata Juju.


Tanpa rasa malu dan juga canggung lagi, Juju memeluk tubuh istrinya. Dia memeluk erat tubuh istrinya itu, lalu satu tangannya lagi mengelus lembut ujung kepala Jupiter. Bukannya berhenti, isakan tangis Jupiter semakin menjadi.


"Maafkan aku! Maaf aku takkan, membentakmu lagi lain kali!" ucap Juju selembut mungkin.


"Sial! Kenapa aku menangis hanya karena hal semacam ini?" tanya Jupiter di sela tangisnya.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2