
Bangkai ikan Lentera sudah berserakan di setiap area, air di dalam danau air payau juga hampir terkuras habis.
Matahari menyingsing, dari arah timur. Sinarnya tampak kemerahan, dan langit hari ini terlihat sangat abu-abu. Langit pagi hari itu, mirip sekali dengan langit senja di masa lalu.
Meski di masa lalu hal itu dianggap aneh, apa lagi saat fenomena alam itu pertama kali muncul. Semua orang di bumi begitu gempar. Berbagai kalangan, dari rakyat jelata sampai ahlinya, membicarakan fenomena aneh gersebut.
Banyak yang menyangka aurora aneh langit sore yang terjadi di pagi hari itu, sebagai tanda-tanda kimat.
Hal itu terjadi untuk pertama kalinya, sekitar 50 tahun yang lalu. Tetapi seperti yang kita lihat, bumi masih berputar di porosnya.
Planet bumi masih bisa dihuni, meski banyak hal mengerikan yang terjadi. Hal-hal yang lebih mengerikan dari kiamat.
Sebagai mana mestinya, semakin tua akan semakin rapuh.
Wajah runcing dengan kulit pucat, bibirnya yang semerah darah dan manik matanya yang merah itu. Menengadah ke arah matahari yang baru muncul. Seolah menantang sang surya yang sinarnya tak setajam dahulu.
Namun senyum kecut ia sungingkan di sana, ternyata Anthony menertawakan usaha yang ia lakukan sendiri.
Persis seperti tebakannya ia tak dapat menemukan apa pun, meski hanya seruas jari kelingking gadis cantik bernama Lisa, yang amat sangat di cintai oleh Juju.
Tubuh ikan lentera yang bisa mereka tangkap, bahkan telah mereka cincang sampai sehalus air. Para pasukan di Tim Anthony berpikir, jika saja masih ada sebagian tubuh Lisa, yang tertinggal di perut ikan lentera.
Kenyataannya tidak ada apa pun disana, bahkan Sehelai rambut manusia pun tidak dapat ditemukan oleh Anthony dan timnya.
Setelah puas melihati langit pagi yang begitu indah, Anthony berjalan di atas tumpukan cacahan ikan lentera yang baru saja dibantai oleh timnya.
"Bakar, ini semua!" perintah pria itu.
Semua angota tim yang ia punya segera menyahuti perintah yang ia berikan. "Baik Tuan!".
Anthony masih terus berjalan, ia akan menuju pesawat yang paling besar. Karena ia butuh sedikit istirahat.
Tetapi perhatiannya teralihkan karena ponsel di saku rompi seragam tempurnya berdering. Sebuah panggilan dari Seva.
"Hay!" sapa gadis setengah robot yang masih berada di area laboratorium Gen Akis.
"Apa ada masalah?" tanya Anthony pada Seva.
Meski Seva sering menghubungi dirinya, tapi Anthony selalu saja menanyakan hal tersebut pada Seva.
Mereka berdua adalah penanggung jawab keamanan di semua luar wilayah Lingkar Olio. Jadi pekerjaan mereka lebih penting dari apa pun, bagi keduanya.
Seva tak menjawab pertanyaan Anthony, dan lelaki bermanik mata merah itu segera menaruh curiga terhadap sahabat kecilnya itu.
"Seva, apa yang terjadi?" tanya Anthony.
Lelaki itu ingin menegaskan untuk sekali lagi.
"Semua pasti akan selesai nanti, lagi pula masalah di sini bukan urusan kita!" ucap Seva.
__ADS_1
Wanita setengah robot itu tak ingin menceritakan banyak hal dengan Anthony, tapi Juju memintanya untuk bertanya perkembangan apa yang mereka dapatkan tentang danau air payau.
"Apa ini tentang serangan Zombie di Lingkar Olio Gen Akis?" tanya Anthony.
"Begitu--lah!"
"Apa separah itu, dampaknya?" tanya Anthony dengan nada yang amat sangat khawatir.
"Tidak juga!" ujar Seva.
Seva tidak ingin mengabari Anthony tentang Jupiter, yang telah terkontaminasi Virus Zombie. Gadis robot itu tak ingin Anthony langsung kabur ke Lingkar Olio Gen Akis dan meninggalkan tanggung jawabnya di Benua Aust, secara serampangan.
Seva tau benar, betapa cinta dan bucinnya Anthony pada Jupiter. Lelaki bermanik mata merah darah itu, pasti akan menghalalkan segala cara untuk menemui Jupiter.
"Lalu kenapa suaramu sengau sekali?" tanya Anthony.
Seva yang tak pandai berbohong akhirnya ketahuan. Anthony memang paling pintar, jika di suruh untuk menilai sahabat-sahabatnya.
Seva mulai bingung, ia ingin mencari alasan. Tapi matanya hanya bisa memandang Juju yang sedang fokus pada Jupiter.
Calon pemimpin SYPUS yang mempunyai tubuh gagah perkasa itu, sedang berdiri tegak di luar ruangan karantina Jupiter.
Sedangkan Seva berdiri agak jauh dari pria itu, agar Seva tidak mengganggu Juju. Saat berbicara dengan Anthony di panggilan telepon.
"Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Jupiter!" tanya Anthony.
Tampaknya ikatan batin Anthony kepada Jupiter masih amat sangat kuat.
"Tapi aku yang tidak!" ujar Seva.
Bagaimana pun, Seva dan Juju sudah sepakat. Agar menyembunyikan, apa yang terjadi pada
Jupiter dari siapa pun.
"Kau kenapa?" tanya pria itu.
"Tampaknya aku menyukai Juju!" kata Seva.
Rahasia yang dia rencanakan, akan ia pendam selama-lamanya itu terpaksa dia buka. Karena Seva ingin mengalihkan perhatian Anthony dari kekhawatiran pria itu terhadap Jupiter.
Anthony cukup terkejut dengan pengakuan Seva yang mendadak. Harusnya Anthony adalah orang yang pertama kali tahu, jika Seva menyukai seseorang.
Karena Anthony selalu berada di dekat Sava dan tahu bagaimana karakter sahabatnya itu. Mustahil jika Anthony tidak bisa menebak perasaan Seva terhadap Juju selama ini. Padahal mereka bertiga terus bersama.
"Apa yang kau sukai darinya?" tanya Anthony penasaran.
"Aku melihat Kak Vie, di diri Juju!" ujar Seva jujur.
"Kurasa kau hanya kagum saja kepadanya! Kau tidak bisa menyebut perasaan seperti itu, sebagai rasa cinta!" jelas Anthony.
__ADS_1
"Benarkah? Kurasa, aku memang keliru.
"Bagaimanapun aku dengan dia, tidak akan mungkin bersama!" ujar Seva.
Gadis tangguh itu mengatakan beberapa kata-kata pendukung, untuk membuat dirinya lebih menyedihkan.
Seva harus melakukan hal itu, agar Anthony tidak mengkhawatirkan tentang Jupiter lagi.
"Kau harus melupakan perasaan itu secepatnya, karena jika kau jatuh cinta. Kau pasti akan merasa sakitnya nanti!" nasehat Anthony.
Seva kembali memfokuskan arah matanya ke arah Juju yang sedang berdiri tegak, menghadap ke kaca. Pandangan matanya begitu nanar dan menyedihkan.
Kenapa, apa pun yang dia inginkan, tidak pernah dia dapatkan. Hanya karena dirinya adalah manusia biasa.
Apakah salah menjadi manusia biasa di bumi ini, jawabannya adalah iya. Karena kau akan menjadi makhluk pertama yang mati, jika terjadi sesuatu di tempat ini.
"Seva ingat baik-baik, masih ada lelaki lain yang akan menghargaimu nanti.
"Jadi jangan sia-siakan perasaan tulusmu, kepada orang yang tidak akan pernah menghargaimu!" Anthony tampaknya benar-benar peduli dengan Seva.
Apakah benar Juju tidak akan pernah menghargainya, karena dia adalah manusia biasa.
"Kau harus tetap pada tujuanmu! Membebaskan dunia ini dari virus!" Anthony kembali mengingatkan Seva tentang tujuan hidupnya.
Apakah gadis setengah robot itu, tidak boleh merasakan kebahagiaan sedikit pun.
"Kau harus selalu ingat tentang perkataan kakakmu. Kita harus setia pada SYPUS.
"Kita harus selalu menjaga SYPUS!" ujar Anthony.
Begitulah hidup Seva, dia akan dihargai Jika dia mempunyai kemampuan untuk menjaga SYPUS. Dan Gadis itu akan bahagia jika...
Benar definisi kebahagiaannya telah berubah.
Safa akan bahagia jika, Juju bahagia.
"Hai, apa kau mendengarku?" tanya Anthony dibalik panggilan teleponnya.
"Iya aku dengar semua!" kata Seva.
"Jadi kau tahu, kan. Arah perkataanku?" tanya Anthony.
"Terima kasih kau sudah mengingatkanku Anthony.
"Aku tahu, aku tidak boleh bermimpi terlalu tinggi!
"Karena jika aku melakukannya, aku pasti akan terjatuh ke dasar dan tidak bisa bangun lagi!" ucap Seva.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤