HUMAN 2075

HUMAN 2075
Ranegades


__ADS_3

      \= Renegades \=


    -Aku punya api di jiwaku


    -Saya telah kehilangan kepercayaan saya pada sistem yang rusak ini


    -Aku punya cinta untuk rumahku


     -Tapi jika kita menangis apakah ada yang mendengarkan?


     -Kami adalah generasi yang terlupakan


     -Kami ingin percakapan terbuka


     -Ikuti saya di jalan ini


     -Anda tahu kita harus melepaskan


     -Untuk semua waktu yang mereka katakan itu tidak mungkin


     -Mereka membangun semua rintangan, tembok, dan rintangan


     -Saat kita bersama, kau tahu kita tak terhentikan sekarang


     -Aku tidak takut untuk meruntuhkannya dan membangunnya kembali


     -Ini bukan takdir kita, kita bisa menjadi pemberontak (memberontak)


     -Aku di sini untukmu


     -Apakah Anda di sini untuk saya juga?


     -Mari kita mulai lagi (lagi), kita bisa menjadi pemberontak (memberontak)


     -Mereka telah menahan kita


     -Mereka telah memberitahu kita untuk mengubah suara kita


     -Tapi kami bukan bagian dari kerumunan itu


     -Kami membuat tempat tidur kami dan kami akan membuat pilihan kami sendiri


     -Kita mungkin diremehkan


     -Tapi aku tahu suatu hari kita akan berhasil


     -Saatnya mengatakannya dengan lantang


     -Kami masih muda dan kami bangga


     -Untuk semua kebohongan dan beban yang mereka berikan pada kita


     -Sepanjang waktu mereka menyuruh kami hanya karena


     -Kita harus memperjuangkan hak kita dan hal-hal yang kita cintai sekarang


     -Saya tidak takut untuk meruntuhkannya dan membangunnya lagi (naik lagi)


    -Tarik napas dalam-dalam, pejamkan mata dan bersiaplah


    -Karena kita akan mulai sekarang


~●~●~●~●~●~●~●~●~●~●~


.

__ADS_1


.


.


.


Warna biru cerah terhampar sepanjang mata memandang, danau yang ingin dikunjungi oleh Lisa. Kini mereka sudah berada di sana, Juju dan istri ketiganya itu.


Dentuman kemenangan menyejukkan setiap hembusan nafas Juju. Senyumnya mengembang amat konsisten, dia terdampar di ringkasan interval keriangan yang mencapai garisnya.


Presiden Benua Aust telah menyerahkan sepenuhnya kekuasaan Benua indah ini kepada Juju calon pemimpin SYPUS. Dia sedang dapat rejeki nomplok, mendapatkan Benua. Siapa yang tak senang.


"Indah sekali!" kata Juju.


"Apa Anda ingin berenang?" tanya Lisa.


"Ini pertama kalinya dalam hidupku melihat air tawar sebanyak ini.


"Aku tak bisa berenang!" kata Juju jujur.


"Aku tak keberatan, mengajari anda!" kata Lisa.


Senyum gadis itu juga tidak pernah surut dari wajahnya. Baru sehari dia ditunjuk menjadi istri ketiga Juju, tapi dia sudah bisa menikmati semua kemewahan milik SYPUS.


"Besok saja! Hari sudah hampir petang juga!" ujar Juju.


Namun lelaki gagah nan tampan yang masih mengenakan setelan jas di badan kekarnya itu, tak langsung memasuki area dalam rumah yang sudah disediakan oleh pihak Benua Aust.


Rumah mewah yang berada di tengah-tengah Danau Janwa, danau air payau yang airnya berwarna biru kehijauan yang sangat indah.


Langkah kaki Juju menyusuri, jembatan kayu yang dibangun di sekitar rumah tengah danau itu. Tentu saja Lisa tidak membiarkan Juju berkeliling sendiri, gadis manis itu selalu berada di dekat Juju.


"Kau pasti lelah! Jika lelah masuklah dan istirahat!" nasehat Juju pada istri ketiganya itu.


"Enggak kok, aku nggak lelah!" kata Lisa.


"Ngomong-ngomong, kita hanya berdua di tempat ini!" kata Lisa.


Lisa mengatakan perkataan itu dengan nada malu-malu.


"Memangnya kau butuh sesuatu yang sulit untuk dilakukan?" tanya Juju.


"Enggak, bukan begitu! Aku bisa melakukan pekerjaan rumah,


"Maksudku bukan itu!" ralat Lisa.


Juju menggaruk salah satu alisnya dengan telunjuk tangan kanannya. Dia mencoba mengerti apa yang dipikirkan oleh Lisa saat ini.


"Kurasa...!"


Belum sempat Juju mengutarakan apa yang ingin dia katakan. Lisa sudah mencium salah satu pipi Juju.


"Terima kasih! Karena sudah mau memenuhi permintaanku untuk datang ke sini!" kata Lisa.


Sangat jelas di wajah Lisa, gadis itu sedang menahan malu di depan suaminya. Dia yang yang besar dan tumbuh di dalam keluarga Gen Akis, yang menjunjung tinggi norma-norma kemanusiaan. Pastinya belum pernah melakukan hal sefulgar itu.


Karena tidak bisa menahan rasa malunya lebih lama lagi, Lisa memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.


Juju hanya bisa melihat kepergian Lisa dengan senyuman. Ternyata ada orang yang lebih polos dari dirinya, di dunia yang sudah tua ini.


.


.


Hari semakin menjelang sore matahari yang masih terbenam di arah barat. Mulai condong dan merubah warna langit secara perlahan-lahan.

__ADS_1


Manik mata Juju berbinar, pupilnya membesar tanda dia terpesona. Ribuan kali pemuda itu melihat, langit saar matahari terbenam. Namun hari ini dia melihat yang paling cantik.


Warna jingga kemerahan yang bercampur dengan awan-awan berwarna seperti terbakar.


"Indah sekali!


"Bukankah harusnya bumi terlihat seperti ini selamanya?" gumam Juju.


.


.


Lampu-lampu menyala secara otomatis, saat langit mengelap. Sinarnya tampak gemerlap dari kejauhan, memudarkan sedikit penyesan setiap insan.


Namun setiap penyesalan itu pasti akan ada, karena manusia cenderung berpikir sebelum melakukan tindakan. Mereka membuat perencanaan supaya tindakan yang mereka ambil akan berjalan dengan mulus.


Namun siapa yang bisa menebak takdir, karena manusia pasti selalu melakukan kesalahan di setiap rencananya.


Mereka selalu berpikir merekalah yang paling benar, dan mengabaikan orang lain yang mereka anggap salah.


Mereka melupakan Tuhan yang telah memberikan mereka sebuah kehidupan. Mereka lupa jika ada makhluk paling besar yang mengatur hidup mereka.


Ketika semua sudah mencapai titiknya, dampak kesalahan itu akan datang secara bersamaan. Tanpa memberikan nafas istirahat untuk para pembuat salah.


.


.


Benar-benar seharian penuh Nyonya Winda tidak menunjukkan reaksi apa pun dan berubah menjadi zombie. Bahkan ketika seorang perawat masuk untuk memberikan beberapa suntikan vitamin, Nyonya Wenda tampak sangat tenang dan normal.


Jupiter dan Dokter Daniel sangat bingung dengan apa yang terjadi pada Nyonya Wenda.


.


.


"Apa kau tak ingin melepaskannya? Dia terlihat baik-baik saja!" Ayah Nyonya Wenda sudah berada di ruangan Jupiter.


"Apa anda tidak bisa menunggu sedikit lebih lama lagi?


"Berikan aku waktu tiga hari, Jika dalam jangka waktu tiga hari ini Nyonya Wenda tidak menunjukkan gejala sama sekali.


"Aku akan menyatakan dia sembuh dari virus Zombie!" kata Jupiter dengan tegas.


"Bukankah sudah sangat jelas? Wenda--ku mempunyai darah Gen Uras.


"Dia pasti mempunyai kekebalan pada Virus Zombie!" ujar Benjamin dengan bangganya.


Pemimpin Gen Akis yang awalnya, sangat malu karena telah menghamili seorang wanita dari Gen Uras. Kini terlihat membanggakan hal itu, karena anaknya kebal terhadap virus Zombie.


"Saya tidak bisa menanggung resiko apa pun. Jika mengeluarkannya Nyonya Wenda dari laboratorium, untuk saat ini!" kata Jupiter.


"Aku yang akan bertanggung jawab, dengan apa pun yang terjadi pada anakku!" lelaki tua itu begitu kekeh dengan pendiriannya.


"Bagaimana jika anak anda, berubah menjadi Zombie lagi dan menyerang manusia?" tanya Jupiter.


Tampaknya kepala peneliti di laboratorium Gen Akis itu juga sama keras kepalanya. Karena bagaimana pun, Jupiter adalah penanggung jawab utama. Jika sampai Nyonya Wenda mencelakai seseorang lagi. Itulah tanggung jawab yang harus diemban oleh kepala penelitian.


"Bukankah kau sudah mengungkapkannya sendiri padaku?


"Bahwa seharian ini, anakku tidak berubah menjadi Zombie!" Benjamin mencoba memutar pernyataan Jupiter untuk memuluskan keinginannya sendiri.


"Saya memang mengungkapkan hal itu kepada anda, karena anda adalah Ayah dari objek penelitian saya!


"Namun saya tidak pernah mengatakan bahwa anak anda, telah sembuh dari Virus Zombie!" jelas Jupiter dengan penuh penekanan.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2