HUMAN 2075

HUMAN 2075
Anak Kita


__ADS_3

Mobil terbang yang di tumpangi oleh Juju dan Tuan Gayo sudah mendarat di landasan pacu Mansion pribadi Tuan Gayo. Bangunan megah yang berada di tengah laut itu, menjadi tujuan akhir untuk Tuan Gayo dan Juju hari ini.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke arah laboratorium. Berbagai sistem keamanan harus dilewati keduanya. Hanya Tuan Gayo dan beberapa stafnya saja, yang mempunyai akses kedalam laboratorium itu.


Juju yang sudah terpilih menjadi Calon Pemimpin SYPUS, belum mendapatkan kepercayaan Tuan Gayo. Untuk keluar-masuk secara bebas di Mansion pribadi Tuan Gayo ini.


Lagi-lagi Juju diajak ke tempat pembuatan bayi kloning. Juju sama sekali tidak suka dengan tempat ini, baginya tempat ini sama sekali tidak manusiawi.


Bagaimana bisa embrio tumbuh di dalam tabung. Namun pertanyaan Juju itu, segera terjawab karena dia mendengar suara tangis bayi yang baru saja pecah.


"Kau mendengarnya?" tanya Tuan Gayo.


Langkah mereka berdua segera berjalan ke arah, dimana suara bayi itu di dengar. Ini adalah kali pertama Juju mendengar suara tangisan bayi. Juju merasa seperti mendengar sebuah suara dari surga yang amat menakjubkan.


Matanya berbinar saat melihat manusia kecil  yang ditimang oleh salah satu dokter di ruangan itu.


"Akhirnya aku barhasil, melahirkan seorang anak!" kata Tuan Gayo.


Dokter itu membawa bayi yang masih menangis, ke dekat Tuan Gayo. Lelaki itu dengan santainya mengambil bayi kecil itu dari gendongan sang Dokter.


"Dia juga putramu Juju!" kata Tuan Gayo.


Juju kaget, tapi melihat wajah bayi digendongan Tuan Gayo. Hati lembut Juju langsung menerima, dia tak peduli bayi itu anak siapa. Karena melihatnya saja membuat Juju merasa sebahagia ini.


"Maaf aku tak meminta ijin darimu!


"Aku telah mengambil darahmu untuk di campur dengan darahku.


"Namun mereka berhasil melahirkan bayi kita!" kata Tuan Gayo.


Ekspresi Juju yang awalnya bahagia karena melihat bayi di gendongan Tuan Gayo, kini ia merasa sedikit jijik dengan perkataan Tuan Gayo barusan. Kata-kata 'bayi kita' itu membuat Juju memikirkan hal yang aneh-aneh.


"Siapa namanya?" tanya Juju.


Dia harus mengalihkan pikirannya yang semakin kotor.


"Aku menunggumu pulang! "Karena aku ingin, kau yang memberi nama kepada anak kita!" kata Tuan Gayo.


Perkataan Tuan Gayo itu sukses membuat Juju terpaku. Bukankah harusnya, adegan ini dilakukan oleh lelaki dan perempuan.


"Saya tidak terlalu tahu banyak nama yang indah! "Sepertinya aku tidak pantas memberinya nama!" ujar Juju.


Namun setiap kali Juju melihat ke arah bayi itu, dia hanya bisa merasakan kebahagiaan di dalam hatinya.


"Apakah ingin menggendongnya?" tanya Tuan Gayo.

__ADS_1


"Tapi saya belum pernah menggendong bayi sebelumnya!" kata Juju.


Namun Tuan Gayo langsung memberikan bayi itu itu ke arah Juju, mau tak mau Juju harus menerima bayi itu agar bayi itu tidak terjatuh.


Jemari tangan Juju bisa meraba kulit bayi itu sangat lembut sekali, sangat mungil, sangat lucu dan sangat indah.


"Gisel, Bolehkah saya beri nama dia Gisel?" tanya Juju.


"Nama yang indah! Jadi sekarang adik perempuanmu bernama Gisel!" kata Tuan Gayo.


.


.


.


.


Di laboratorium Gen Akis, semua staf dan anggota laboratorium sedang berada di sekeliling sebuah ruangan kaca.


Di dalam ruangan itu ada Wenda, yang masih tertidur terlentang di atas ranjang penelitian.


"Apa yang kau rasakan?" Tanya Jupiter


Gadis itu sudah memakai pakaian peneliti, berupa jas Dokter sepanjang lututnya. Dia juga membawa Tablet canggih, untuk menulis semua hasil wawancaranya dengan Wenda kali ini.


Tubuh gadis bangsawan itu sudah tidak dibelenggu dengan banyak pengikat. Hanya pinggangnya saja yang diikat dengan tali khusus, yang tersambung di bawah ranjang penelitian yang dia rebahi.


"Apa Nyonya Winda masih mengingat kejadian di dalam gedung galeri kesenian?" tanya Jupiter dalam sekali bernafas.


Hal ini dilakukan untuk mengetes kecerdasan Wenda, apakah menurun atau tidak.


"Aku hanya mengingat beberapa orang berubah menjadi zombie!


"Dua orang staf mengajakku pergi ke sebuah ruangan bunker yang aman,


"Setelah itu aku tidak ingat apapun lagi!" jelas Wenda.


"Apakah anda sempat bersentuhan dengan zombie, di dalam galeri itu?" tanya Jupiter.


"Salah satu Zombie menggigit pergelangan tanganku, saat kami mencoba lari ke arah bunker!" ujar Wenda.


"Apa anda merasa lemas atau kurang bertenaga?" tanya Jupiter.


"Tidak!

__ADS_1


"Saya merasa sangat nyaman dengan tubuh saya sekarang!


"Saya hanya merasa sedikit haus!" kata Wenda.


"Apa anda butuh air minum?" tanya salah satu staf junior di laboratorium itu.


"Boleh!" kata Wenda.


Junior itu segera mengambil sebotol air mineral dan pergi ke dalam ruang kaca dimana tempat Winda dikurung. Perlahan-lahan Junior itu membuka tutup botol air mineral itu dan diberikan kepada Winda yang masih duduk santai di atas ranjang.


Namun yang disahut Wenda bukanlah botol air mineral yang disodorkan kepadanya, namun dia menarik pergelangan tangan Junior yang menyodorkan minuman kepadanya.


Entah mendapat kekuatan dari mana, Wenda dapat menarik lengan kekar Pemuda itu. Lalu menarik tubuh pria kekar itu ke pangkuannya.


"Akkkkkkkkkkk!" pria itu berteriak keras sekali karena menahan rasa sakit.


Wenda berubah menjadi zombie dan menghisap seluruh darah di tubuh Junior itu. Tidak ada yang berani mendekati, apalagi masuk ke dalam ruang kaca untuk menolong Junior itu.


Sudah bisa dipastikan bahwa Junior itu akan mati atau menjadi Zombie.


Wajah Jupiter yang biasanya datar, kini bergidik ngeri melihat Zombie Wenda memakan manusia. Namun Jupiter harus mengamati bagaimana Wenda memakan korbannya kalian. Ia juga harus memeriksa korban yang dimakan Winda nantinya. Apakah akan menjadi zombie atau tidak.


"Apa kita harus memanggil pasukan Gen Uras?" tanya salah satu staf di sana pada Jupiter.


"Kurasa tidak perlu! Aku punya firasat yang tidak baik, dengan hal ini," ujar Jupiter.


"Apa hasil tes darah Nyonya Wenda sudah keluar?" tanya Jupiter.


"Saya akan memeriksanya Nyonya!" kata staf itu.


Staf itu segera pergi dari samping Jupiter. Sementara Jupiter kembali mengalihkan pandangannya pada Wenda. Yang masih dengan rakusnya menegak darah di tubuh Junior muda Gen Akis.


Terdengar jelas suara tenggakkan dari mulut Wenda, gadis yang biasanya makan tanpa suara itu. Kini menenggak darah, langsung dari leher manusia dengan sangat rakus. Pemandangan yang sering dilihat oleh Jupiter, namun Ia tidak percaya bahwa yang melakukan hal itu di depannya adalah seorang dari Gen Akis.


Saking penasarannya Jupiter melangkahkan kakinya, beberapa langkah ke depan menuju kubah kaca yang mengurung Wenda. Mata indahnya memperhatikan setiap gerak-gerik Wenda dengan seksama. Meski rasa ketakutan menjalar di setiap sel tubuhnya Jupiter harus bisa memecahkan misteri ini.


Kenapa Winda bisa berubah menjadi Zombie kadang-kadang saja. Kenapa wanita itu bisa diajak bicara ketika dia tidak menjadi Zombie.


Wajah Wenda yang yang penuh dengan darah menengadah ke atas, dengan perasaan puas. Dengus nafas kepuasan dan tunggakan terakhir terdengar jelas di telinga Jupiter.


Mata Wenda yang menghitam kembali ke asalnya dan dia mulai menyadari apa yang dia lakukan. Gadis cantik itu melihat kearah tangannya, yang penuh dengan darah dan seonggok mayat di pangkuannya.


"Apa yang aku lakukan?" tanya Wenda dengan nada yang gemetar ketakutan.


"Apa anda tidak ingat?! Anda menghisap darah pria itu sampai habis!" kata Jupiter.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2