
Jupiter baru saja tiba di ruang isolasi, namun dia sudah tak menemukan satu sosok manusia pun di tempat itu.
Matanya mengedar meneliti setiap kekacauan, dan mulai berspekulasi dengan apa yang ada di depan matanya.
Tuan Benjamin benar-benar sudah keterlaluan, dia menculik putrinya dari ruangan isolasi dengan melumpuhkan banyak ilmuwan yang menjaga Nyonya Wenda.
Wajah cantik yang dimiliki Jupiter tampak mengeras, dia mengertakan rahangnya dan memandang ke depan dengan penuh emosi. Kedua genggaman tangannya mengepal, siap dihantamkan ke seseorang.
Ilmuwan cantik itu, melangkahkan kakinya ke depan. Mengabaikan kekacauan yang telah dibuat oleh Tuan Benjamin. Jupiter merasa dia harus merebut kembali Nyonya Winda, yang tidak tahu bagaimana kondisinya.
Sangat berbahaya jika Nyonya Wenda, berubah kembali menjadi zombie.
.
.
.
.
Juju segera meninggalkan lantai yang ia pijak, teriakan Lisa benar-benar sudah membuatnya hilang akal.
Juju tak ingin Lisa terluka, meski hanya segores saja. Lelaki itu baru saja tertarik pada seorang gadis, dan bencana aneh sudah menghampirinya.
Jantung lelaki itu seolah berhenti berdetak saat melihat darah yang berceceran di lantai kayu halaman rumah itu.
Netranya terfokus ke arah darah yang berceceran di lantai. Pikirannya seketika kosong, pandangannya gamang dan tongkat besi yang ia pegang terlepas dari cengkraman tangannya.
Juju mencoba mencari, keberadaan Lisa.
Memang tak ada satu pun ikan lentera di area pelataran halaman rumah terapung itu. Namun Lisa juga tak ada di sana.
Kakinya melemah, hingga untuk melangkah saja Juju tampak terhuyung. Lelaki itu tau ini adalah akhir, akhir dari Lisa istri ketiganya.
Sayup-sayup deru suara pesawat yang mulai mendekat. Seva turun dari pesawat pribadi Juju, dan menghampiri pria itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Seva pada Juju.
"Lisa...
"Kamu lihat Lisa?" tanya Juju.
"Aku baru sampai, bagaimana aku bisa melihat Lisa?" tanya Seva.
Juju melangkahkan kakinya yang masih lemas ke arah pinggir danau. Dia mengikuti noda darah yang berceceran di lantai yang mengarah ke dalam danau, dengan langkah yang terhuyun.
__ADS_1
Kegelapan, hanya itu yang bisa dilihat oleh dua pasang mata Juju dan Seva saat melihat ke arah danau.
Seva memberi isyarat pada anak buahnya, yang menjadi pilot pesawat pribadi Juju untuk mengarahkan sorot lampu ke arah air.
Kalian pernah melempar pakan ikan ke kolam ikan emas. Riuh dan saling berebut, kondisi air dan ikan lentera di dalam air danau saat ini tak jauh beda. Mendapatkan makanan yang lezat malam ini.
"Apa itu?" tanya si Seva pada Juju.
"Yang aku bilang tadi, monster dari laut dalam!" ujar Juju lemas.
Matanya masih mengarah ke arah air danau yang sangat riuh. Dia tidak ingin membayangkan, namun otaknya sudah bisa menebak apa yang diperebutkan ikan lentera di dalam air itu.
Tubuh Lisa pasti sudah tercabik-cabik, Menjadi santapan malam ikan yang sudah terkontaminasi Virus Zombie itu
"Seandainya aku tidak menyuruh Lisa keluar!" kata Juju dengan nada yang sangat lirih.
"Apa Lisa jatuh ke air?" tanya Seva.
Juju tak bisa menjawab pertanyaan Seva, dadanya terlalu sesak bahkan untuk mengolah nafas. Rasa penyesalan dan juga bersalah sudah bersarang di setiap sel tubuh Juju.
Bagaimana dia bisa menghadapi dunia, setelah melakukan kecerobohan yang tidak bisa termaafkan ini.
Ekspresi sedih dan juga lemas Juju, menjadi sebuah jawaban konkret bagi pertanyaan Seva.
"Kita harus pergi dari sini sekarang, ayo!" ajak Seva.
"Juju sadarlah!" bentak Seva.
Kondisi sudah kembali tenang, namun kondisi ini tentu saja tak akan berlangsung lama. Ikan lentera yang tidak tahu rasa puas itu pasti sudah mendeteksi keberadaan Juju dan juga Seva.
Mereka mulai menyerang ke arah Seva dan juga Juju, yang masih berdiri tegak di depan teras yang terbuka itu.
Beberapa ikan lentera mulai ingin melompat naik ke teras bangunan rumah terapung itu. Dengan cekatan Seva segera mengambil tongkat besi, yang dijatuhkan oleh Juju beberapa saat yang lalu.
"Kita harus pergi dari sini Juju!" kata Seva lagi.
Namun Juju masih tidak ingin mendengarkan perkataan Seva. Calon pemimpin SYPUS itu masih terbenam dalam penyesalan.
Buakkkkkkkkkk
Seva mencoba memukul ikan yang mulai melompat ke arah mereka.
"Juju sadarlah!" teriak Seva.
Karena melihat cucu yang tidak bereaksi, Seva segera mengambil inisiatif. Wanita tangguh itu menarik salah satu dengan Juju dan menariknya dengan kuat.
__ADS_1
Seva tahu bagaimana perasaan Juju saat ini, dia juga merasakan hal yang sama ketika anak buahnya meninggal di medan perang.
Hal pertama yang dia rasakan adalah rasa bersalah yang sangat tinggi. Rasa ingin mati dan mengakhiri segalanya. Namun hal itu bukanlah sebuah keputusan yang berujung.
Karena dengan kita membunuh diri kita sendiri, kita tidak akan bisa menebus kematian orang-orang di sekitar kita.
"Ingatlah kematian Lisa sebagai sebuah pengorbanan, yang harus kau bayar suatu saat nanti!" kata Seva.
Perkataan siapa itu merasuk ke dalam pikiran Juju, lelaki yang sudah kehabisan amunisi di hidupnya itu. Kini kembali memiliki sebuah tujuan.
Tujuan awalnya dan tujuan nya sekarang, Juju akhirnya mengingat tujuan yang sempat dia lupakan sebelumnya.
Sebelum dia menjalani tes pemilihan pemimpin SYPUS, dia berencana untuk mengungkap fakta tentang virus Danger25 yang sudah membuat ibunya meninggal dunia.
Lalu tentang kebenaran ibunya yang menjadi zombie pertama setelah seminggu kematiannya. Hal itu juga harus diungkap oleh Juju.
"Pegang ini, kita harus cepat!" perintah Seva.
Gadis itu memberikan tongkat besi yang dia pegang kepada Juju. Dengan semangat baru yang berkobar di dalam dirinya Juju menerima tongkat itu.
Dengan sigap dan cekatan Juju kembali beraksi dengan tongkatnya. Lelaki itu mengayunkan tongkatnya dengan penuh tenaga, ke arah ikan-ikan yang mulai melompat ke arahnya. Sementara Sefa menggunakan kaki dan tangan robotnya untuk menghalau.
Mereka berdua saling bekerja sama untuk sampai di bibir pintu pesawat yang masih tertutup.
"Masuklah duluan!" perintah Juju pada Seva.
Terlihat jelas kaki dan juga tangan robot milik Seva sudah penyok-penyok. Namun wanita tangguh itu tidak ingin membebani Juju. Dia terus membantu calon pemimpin SYPUS itu, menghalau ikan-ikan Lentera yang semakin banyak berdatangan.
"Kerja sama tim yang bagus adalah, tidak pernah meninggalkan temannya!" ujar Seva.
Di tengah pergelutan yang sangat menegangkan itu sempat-sempatnya Seva dan Juju saling melempar senyum. Meski senyum Juju tidak terlalu tulus, karena dia masih memikirkan tentang Lisa.
Namun Juju tidak bisa memungkiri, bahwa Seva adalah wanita yang benar-benar tangguh dan juga mempunyai pengalaman tempur yang luar biasa.
Gadis itu bisa langsung memacu semangatnya lagi. Padahal beberapa detik yang lalu Juju sudah ingin mengakhiri hidupnya.
"Sialan! Kenapa aku turun tidak membawa senjata tadi?!" ujar Seva kesal.
Wanita itu hanya bisa menggunakan kaki dan tangan robotnya untuk menyerang ikan-ikan keparat yang ukurannya sebesar anak manusia itu secara manual.
"Terima kasih sudah datang kemari! Aku yakin kau menganggap perkataanku ditelepon sebagai lelucon!" ujar Juju.
Jika Seva menganggap perkataan Juju ditelepon adalah sebuah bahaya. Wanita itu pasti turun dari pesawat dengan senjata yang lengkap.
Namun Seva hanya tersenyum kearah Juju. Ternyata apa yang dia pikirkan, bisa dibaca juga oleh calon pemimpin SYPUS itu.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤