HUMAN 2075

HUMAN 2075
Membobol Rumah Sendiri


__ADS_3

Wanita bangsawan itu, masih berjalan menyusuri lorong masuk ke area rumah suaminya. Tampa sengaja seorang robot gagah, bertubuh pria mengenali tuannya.


"Selamat datang Nyonya, lama tak jumpa!" sapa robot lelaki itu.


Nyonya Wenda yang sudah tidak punya waktu lagi, hanya meinggalkan robot pria itu begitu saja. Urusannya lebih penting, dari pada mengobrol dengan seonggok besi yang canggih.


Langkah cepat Nyonya Wenda dihentikan oleh pertanyaan robot itu lagi. "Nyonya, kenapa anda memakai baju pelayan?".


Terpaksa Nyonya Wenda berbalik dan menghampiri robot pria, yang mempunyai perawakan dan wajah mirip Aktor Brad Pitt saat muda itu.


"Aku sedang ingin memakai ini! Kau tidak perlu ribut tentang apa yang kukenakan mulai sekarang!" ujar Nyonya Wenda dengan nada kesal.


"Apa Nyonya sedang ada masalah? Anda terlihat sangat kesal?!" tanya robot pria itu lagi.


Robot pelayan di zaman ini, sangatlah pintar. Mereka bisa mengenali ekspresi manusia yang mereka jumpai.


Selain untuk membersihkan dan menjaga keamanan rumah manusia. Para robot juga diciptakan, untuk melayani majikan seperti manusia pada umumnya.


Mereka bisa diajak mengobrol layaknya manusia biasa. Tentu saja dengan keistimewaan, para robot lebih peka terhadap ekspresi lawan bicaranya dan juga tidak pandai berbohong.


Dan satu hal lagi, mereka tidak akan menghianatimu. Apa pun yang terjadi.


"Aku baik-baik saja Ziro-1! Aku mungkin kelelahan, jadi aku butuh istirahat saja.


"Aku akan ke kamarku sekarang!" kata Nyonya Wenda.


"Baiknya Nyonya Wenda.


"Tapi anda harus hati-hati, karena baru saja sistem keamanan rumah ini berbunyi!


"Mungkin saja ada penyusup yang memasuki rumah ini!" ujar si robot Brad Pitt.


"Tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri!" Nyonya Wenda segera melanjutkan langkahnya untuk memasuki rumah suaminya itu.


Lorong yang dilewati oleh Nyonya Wenda memang cukup panjang. Lorong yang memisahkan antara rumah utama dan juga rumah depan keluarga Ferdinan itu, dilengkapi keamanan yang ketat.


Tidak ada satu orang pun, yang bisa menembus area itu. selain orang-orang yang sudah terdaftar dalam sistem keamanan.


Nyonya Wenda bisa melewati area itu, karena dia adalah salah satu penghuni rumah. Jika tidak maka hujan tembakan pasti sudah membunuhnya.


Akhirnya Nyonya Wenda sampai di pintu masuk rumah utama. Dia harus dipindah kornea matanya dan sidik jari jempol kanannya.


Barulah pintu berlapis besi dan beberapa logam lainnya itu, terbuka untuk Nyonya Wenda.

__ADS_1


Kaki jenjangnya yang bersepatu hak tinggi berwarna hitam, milik robot pelayan yang ia lumpuhkan diri rumah depan. Melangkah Menyusuri ruang tengah, yang tadi digunakan oleh Jupiter dan juga Luca untuk meneriksa sistem keamanan rumah tersebut.


Nyonya Wenda melangkah sepelan mungkin, dia tidak ingin membuat suara gaduh yang bisa membangunkan siapapun di rumah ini. Karena rencananya hanyalah menemui Luca suaminya, lalu pergi lagi dari tempat ini.


Nyonya Wenda hanya akan mengatakan, Jika dia telah merubah seseorang menjadi zombie. Dan beberapa kata romantis untuk suaminya.


Rasa kerinduannya pada Luca suaminya, sama sekali tidak bisa ditahan. Meski Nyonya Wenda tahu, dia bisa saja melukai suaminya jika dia memaksakan diri untuk menemuinya.


Meski sedang mengalami reaksi, terhadap virus Zombie. Nyonya Wenda tetaplah seorang manusia biasa, yang mempunyai perasaan dan juga hati.


Dia masih merasakan rasa rindu, rasa lapar dan rasa kantuk. Dan juga rasa haus yang sering muncul, membuat Nyonya Wenda menahan dirinya ketika rasa haus itu menguasai dirinya.


Wanita bangsawan itu tidak mau menyakiti orang lain lagi. Apa lagi membuat manusia lain, menjadi zombie setengah manusia seperti dirinya.


"Jangan bergerak!" sebuah suara maskulin, menyergap Nyonya Winda yang sedang mengendap-endap.


Suara maskulin itu, tak lain dan tak bukan adalah milik Luca suaminya sendiri. Pria gagah, bermata biru dengan rambut pirang itu. Mengacungkan sebuah senjata ke arah istrinya, tanpa ragu.


"Mau apa kau kesini?" tanya Luca tanpa sopan santun, ataupun romantisme.


Nyonya Wenda mencoba tidak kaget dengan nada bicara yang digunakan oleh suaminya, untuk bertanya padanya. Selama ini suaminya, selalu menggunakan bahasa yang lembut dan juga penuh kasih ketika berbincang dengan dirinya.


Apakah karena dia terinfeksi oleh virus Zombie, jadi suaminya ketakutan terhadapnya. Hanya itulah hal yang dipikirkan oleh oleh Nyonya Wenda.


Hari ini, tampaknya dia harus menerima todongan senjata dari pria-pria di sekitarnya.


"Kak Wenda, kenapa kau bisa ada di sini?!" Jupiter baru saja muncul dari pintu kamarnya.


"Jupiter, aku melukai seseorang! Kurasa dia bukan manusia dari Gen kita, dia pasti sudah berubah jadi zombie sekarang!" jelas Nyonya Wenda.


"Di mana kakak melukai orang itu?" tanya Jupiter dengan nada yang sangat gugup.


"Di pusat kota!" ujar Nyonya Wenda.


Jupiter dan Luca masih menjaga jarak dari Nyonya Wenda. Kedua kembar tak identik itu, sudah tahu bahwa Nyonya Wenda telah terpapar Virus Zombie dan belum sembuh.


"Kak Luca kerahkan pasukan keamanan Gen Akis untuk mencari orang yang terinfeksi itu.


"Aku akan membawa Kak Wenda ke laboratorium Gen Akis sekarang juga!" ujar Jupiter.


"Apa kau yakin akan membawanya sendirian?" tanya Luca kepada Jupiter.


"Kita tidak punya banyak waktu.

__ADS_1


"Jika sampai zombie itu menggigit orang lain dari Gen Akis.


"Maka Gen Akis kita, bisa musnah dalam jangka waktu semalam!" ujar Jupiter.


Di pusat kota Gen Akis, terdapat banyak manusia yang mempunyai kekebalan tubuh yang tidak terlalu tinggi. Mereka akan sangat mudah terinfeksi oleh Virus Zombie. Dan ketika mereka telah terjangkit virus itu, mereka akan mencari mangsa lain untuk dijadikan santapan.


Baru setelah mereka menenggak darah dari manusia Gen Akis lain ,Zombie itu bisa mati.


"Bagaimana jika Winda melukaimu? Kita harus memanggil orang untuk membawanya dari sini!


"Kau tidak boleh membawanya ke laboratorium sendirian!"  kata Luca.


"Kurasa Kak Wenda baru saja meminum banyak darah manusia.


"Dia pasti bisa menahan rasa hausnya sampai tiba di laboratorium!" ujar Jupiter.


Mereka bertiga saling berpandangan secara bergantian.


"Jika dibiarkan makin lama, maka Kak Wenda akan kehausan lagi!


"Dia akan menjadi tak terkendali jika rasa haus menguasai dirinya!" tambah Jupiter.


Jupiter mencoba meyakinkan Luca kakaknya, untuk mengijinkannya membawa Nyonya Wenda sekarang juga.


Raut keraguan masih jelas terlihat di wajah Luca. Meskipun dia tidak terlalu dekat dengan Jupiter, namun jika Jupiter celaka. Luca adalah orang pertama yang akan menangisinya.


Tetapi sepertinya, keinginan Jupiter untuk membawa Wenda kembali ke laboratorium secepatnya. Tidak bisa dilarang oleh siapapun.


Jupiter memang keras kepala, namun dia punya alasan yang jelas.


"Jika kau sampai melukai adikku, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!


"Ingat itu baik-baik!" ancam Luca kepada Wenda.


Untuk pertama kalinya, Wenda melihat bagaimana ekspresi marah dari suaminya.


Selama ini Luca hanya menunjukkan senyum bahagia dan manja kepada Wenda. Wanita bangsawan itu, sama sekali tidak tahu sisi lain dari suaminya.


Wenda tidak menyangka, jika Luca bisa marah kepadanya. Bahkan mengancam akan membunuh dirinya.


Kata-kata yang keluar dari mulut Luca, benar-benar melukai hati Nyonya Wenda. Dirinya memang seorang monster sekarang, namun bukankah dia masih istri Luca.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2