
Safira telah diperbolehkan pulang oleh dokter, dan tentang pembahasan kemana Safira akan pulang pun telah di rembug oleh keluarga Tuan Prabu dan Tuan Nugraha.
Safira akhirnya bisa di bawa pulang oleh keluarga Tuan Nugraha, senyum terus saja terkembang menghiasi wajah, cantik nyonya Winda la begitu bahagia akhirnya menantunya kembali, meski dalam keadaan tak mengingat apapun.
Sehari sebelum Safira pulang ke mension keluarga Nugraha, para pelayan telah lebih dulu mendekor ulang seisi rumah, foto-foto Ranty yang dulu sudah di singkirkan ke gudang, hanya foto keluarga saat Fany belum menjadi bagian keluarga Nugraha yang terpampang di ruang keluarga.
Fany menyambut kedatangan Safira dengan senyum yang sama sumringah nya dengan nyonya Winda. " Selamat datang Safira ...." sambut Fany seraya memeluk Safira.
Mereka kemudian masuk, Safira terus mengedarkan pandangan nya di setiap sudut mension megah milik keluarga Nugraha.
" Sayang duduk dulu ya nak" ucap lembut Nyonya Winda.
" Mommy maaf jika Safira belum mengingat apapun." jawab Safira sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
" it's ok sayang, Mommy mengerti kamu mau ikut Mommy kembali pulang bersama mommy saja mommy sudah bahagia nak, segalanya pasti akan baik-baik saja."
" Mom... Safira sudah kembali?" tanya Ferrell, tiba-tiba.
" Kak..." Safira menghampiri Ferrell dan Amayra yang baru saja tiba.
" Mommy...." Safira langsung menghambur memeluk Safira.
" Hei...sayang kenapa? aunty baik-baik saja jangan bersedih ok, kita akan tinggal sama-sama disini."
" Mommy, bolehkah aku memanggil aunty Mommy?"
Safira tercengang, sebenarnya inilah yang ingin la ketahui tentang dimana keberadaan istri Ferrell sekaligus Mommy nya Amayra. " Mommy, kak..." ucapnya sambil menatap Ferrell dan Nyonya Winda.
Nyonya Winda mengangguk, memberi isyarat kepada Safira untuk mengiyakan permintaan Amayra. " nanti akan Mommy ceritakan" ujar nyonya Winda kemudian.
" Iya sayang...." ucap Safira pada Amayra seraya kembali membawa Amayra dalam dekapannya.
Ferrell berlari keatas menunju kamarnya, dengan air mata yang sudah tak dapat lagi la bendung, melihat putrinya begitu merindukan sosok Mommy nya namun, setelah bertemu takdir seolah mempermainkan keadaan. sementara Nyonya Winda dan Fany terisak melihat pemandangan, yang menyesakan.
__ADS_1
" Amayra sayang, Oma dan Mommy Safira mau bicara ya nak, Amayra ke kamar ya ."
" Iya sayang ayo sama aunty ya." Fany membawa Amayra menuju kamar, bocah itu pun menurut mengikuti Aunty nya.
Selepas kepergian Amayra nyonya Winda mulai menceritakan, tentang dimana Mommy nya Amayra. nyonya Winda menceritakan cerita karangannya jika Mommy nya Amayra pergi entah kemana sejak Amayra masih berusia dua setengah tahun.
Safira pun mengangguk mengerti dan tak ingin membahas lagi tentang keberadaan, Mommy nya Amayra. la tak ingin membuka luka lama, pikir Safira.
Fany menghampiri Ferrell di kamarnya, setelah mengantar Amayra, Fany berinisiatif melihat keadaan Ferrell. benar saja pria itu sedang dalam keadaan hancur dan terisak.
" Rell...." panggil Fany menghampiri Ferrell.
" Ini semua karna aku Fan, semua penderitaan ini akulah penyebab nya, harusnya aku yang mengalami ini Fan bukan Ranty, aku bukan hanya menyakiti Ranty, tapi aku juga menciptakan penderitaan sekian lama untuk putriku. aku...aku bukan suami dan Daddy yang baik buat mereka Fan." raung Ferrell penuh sesak, la terisak sementara Fany tak tahu harus berkata apa, untuk menenangkan Ferrell.
" Sabar Rell kamu harus kuat untuk Amayra yakin lah semua akan baik-baik saja, dan yang terpenting sekarang kita sudah berkumpul kembali dengan Ranty, ini hanya tentang keadaan, dan aku yakin suatu saat nanti semua akan kembali." ucapnya setelah terdiam beberapa saat.
Sore yang penuh harus telah berganti dengan malam yang cukup ceria, kehadiran Safira benar-benar membuat suasana di keluarga Tuan Nugraha semakin hidup.
Amayra pun sudah kembali ceria kini di meja makan semua sudah berkumpul namun, hanya tinggal Ferrell yang masih berada di kamarnya.
" Iya sayang, bilang jangan terlalu lama, karna semua sudah menunggu."
Safira mengangguk kemudian melangkah menaiki anak tangga menuju kamar Farrell. entah bagaimana Safira yang belum diberitahu letak kamar Ferrell langsung langkah kan kakinya menuju kamar yang berada di ujung. kakinya seakan sudah mengetahui dimana letak kamar Ferrell.
" Kak...." Safira langsung membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu membuat Ferrell seketika membalikan badannya dan mematung menatap wanita yang selama tiga tahun ini la rindukan, berada di kamar mereka.
'Hah bagaimana aku bisa langsung tahu ini kamar kak Ferrell .' ucapnya dalam hati setelah melihat Ferrell berada di depan cermin hanya dengan menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya. menyisakan pemandangan yang membuat degup jantung Safira seolah menggila.
'Ya ampun otak mu dimana Safira dia kakakmu bagaimana mungkin kau begitu gugup, bukan kah harusnya biasa saja, huh...ini efek ingatan ku yang hilang, iya karna ingatanku yang hilang.' ucapnya lagi masih dalam hati.
' Ranty... oh shitt aku merindukan mu sayang, ...' Ferrell pun terdiam dan menatap Safira penuh damba dan rasa rindu yang membuncah.
" Khemm... kak maaf, kakak sudah di tunggu semuanya untuk makan malam kak Jagan lama ya." Safira berdehem dan berucap seraya pergi dengan langkah seribu bahkan Ferrell belum sempat bercap apapun.
__ADS_1
Makan malam berlangsung hikmat, mereka menyelipkan obrolan-obrolan ringan, sesekali mereka saling bercanda dan tertawa sungguh kebahagian yang telah lama hilang kini seakan telah kembali meski belum sepenuhnya.
Kini mereka berkumpul di ruang keluarga setelah menyelesaikan makan malam. masih dengan suasana yang hangat dengan obrolan, dan juga canda tawa. hingga dering ponsel Safira terdengar memecah suasana.
" Hallo... mamah, apa kabar mah?." ucap Safira riang. seketika semua orang yang berada di ruang keluarga menatap Safira.
Sementara Nyonya Winda langsung memasang wajah waspada, la sudah tahu siapa yang menelfon Safira saat ini.
(..............)
" Iya mah, pah... nanti akan aku sampaikan pada Mommy dan Daddy."
(..............)
" Iya Mah selamat malam salam untuk Abang."
Sambungan telepon sudah berakhir dan menyisakan Safira yang tersenyum dengan wajah yang merona. membuat seluruh anggota keluarga terheran.
" Safira apakah itu telfon dari nyonya Anjani ?" tanya Fany penasaran sekaligus mewakili seluruh keluarga.
" Eh iya...." Safira tersentak dari lamunannya tentang Arkha yang sangat la rindukan saat ini. " Mom..., Dadd... besok malam Mamah dan Papah akan berkunjung, mereka akan membicarakan kelanjutan hubungan ku dan Abang, dan sekaligus membahas acara pertunangan kami yang sempat tertunda." ujarnya lagi menjelaskan tentang apa yang di bicarakan nya tadi bersama Nyonya Anjani.
Seketika wajah Nyonya Winda berubah pias, begitu juga dengan seluruh anggota keluarga, Ferrell bahkan melotot kaget. apalagi ini, apa maksud dari keluarga Tuan Prabu ? mengapa mereka masih saja ingin melanjutkan hubungan Ranty dan Arkha meski sudah mengetahui kebenarannya.
Ferrell mengepalkan tangannya, geram dengan sikap keluarga Tuan Prabu.
# BERSAMBUNG... #
Happy reading love you all my renders ❤️🥰
Baca juga yuk novel punya teman author yang lain, yang nggak kalah seru loh.
__ADS_1
Ayreen Anatasya A'Morra harus kembali dari masa pelatihannya setelah dipanggil sang kakek. Ayree mendapati sang kakek telah terbujur kaku dengan memegang liontin ruby dengan ukiran rumit dan sebuah surat wasiat. Surat wasiat yang berisikan perintah bahwa Ayreen diminta untuk menerima perjodohan yang sudah dibuat sang kakek dengan sahabatnya. Orang tua Ayreen meninggal ketika dia berusia satu bulan. Bayi yang masih polos harus menerima kenyataan pahit itu. Tetapi ada misteri dibalik kematian orang tuanya. Ayreen tumbuh menjadi gadis luar biasa menjadi ratu yang sangat mendominasi. Keano Nataniel Wicaksana, tinggi 182cm.Memiliki temperamen luar biasa. Pria cacat yang harus duduk di korsi roda diakibatkan kecelakaan yang menimpanya.Tuan muda keluarga besar, salah satu dari 5 keluarga besar. Dia adalah pengusaha dunia bisnis dan tertampan namun misterius. Bagaimana bila sang ratu dominan disandingkan dengan Keano? Akankah Ayreen bisa menjalankan perannya dengan baik sesuai wasiat sang kakek?