Istri Dibalik Layar

Istri Dibalik Layar
Bab 126


__ADS_3

Amayra termenung mengunci diri di kamarnya sejak ia pulang dari Bandung. Bocah itu tak keluar sama sekali hingga pukul delapan malam. Meski para pelayan bahkan Fany dan Rian juga sudah membujuknya untuk membuka pintu. Namun, tetap saja Amayra tak bergeming.


Amayra tetap diam tanpa menjawab panggilan dari orang diluar sana. Kini giliran nyonya Winda yang akan membujuk Amayra dan mudah-mudahan saja anak itu mau membuka pintu kamarnya. " Sayang Princess nya Oma, buka pintunya nak" bujuk nyonya Winda.


Namun, tetap saja Amayra diam tak menjawab sepatah katapun. Nyonya Winda Fany dan Rian sudah kehabisan kata-kata untuk membuat Amayra mau keluar dari kamarnya. " Biar aku saja Mah, aku akan mencoba membujuk Amayra." kini si dingin Haikal pun yang biasanya tak banyak bicara, ingin menyumbangkan suaranya untuk membujuk sepupunya.


" Hai Amayra kamu tidak mau keluar? baiklah tidak usah keluar sampai kapanpun!" uacap Haikal pada Amayra yang membuat semua orang yang ada di sana mendelik. pasalnya semua orang merayu Amayra tapi apa yang dilakukan Haikal. Bocah dingin itu malah menyuh Amayra untuk tetap mengurung diri.


" Sayang apa yang kamu kat— " Fany hendak memarahi Haikal terhenti karena seseorang menyela ucapannya.


Ceklek ....


"Kamu bilang apa tadi Haikal? kamu menyuruhku untuk tetap mengurung diri dikamar, kenapa! oh, apa kamu mau merebut semua mainan Lego milik ku! iya hah!" Haikal berlalu dengan gaya cool nya dan mengabaikan Amayra yang sedang marah.


"Aku tidak akan membiarkannya, kamu tidak akan pernah mendapatkan legonku walau hanya satu!" teriak Amayra pada Haikal yang telah berlalu pergi. Pada akhirnya Amayra membuka pintu kamarnya dan keluar, memarahi Haikal. Semua orang terdiam melongo melihat kelakuan Amayra dan Haikal.


"Sayang, kita makan malam dulu ya nak" nyonya Winda berjongkok dan langsung mengajak Amayra untuk makan malam. Karena sedari tadi siang, Amayra yang mengunci diri dikamar belum makan apapun.


" Nggak Oma! Amayra tidak ingin makan apapun Amayra mau makan jika Mommy yang menyuapi!" Amayra berbalik dan kembali menutup pintu kamarnya. " Sayang nak jangan seperti ini nanti Amayra bisa sakit sayang ..." Fany kembali membujuk Amayra yang telah masuk ke dalam kamar dan kembali mengunci diri.


" Bagaimana Fan, apa Ferrell sudah bisa pulang membawa Ranty?" tanya nyonya Winda pada Fany.


" Belum Mom, Ferrell sepertinya tidak berhasil membawa Ranty ke sini." jawab Fany tertunduk ia begitu perihatin atas apa yang telah menimpa rumah tangga adik iparnya.


" Sebegitu marahnya Ranty pada Ferrell, sampai-sampai Amayra juga menjadi korban, Mommy akui Ferrell memang bersalah tapi setidaknya fikirkan tentang Amayra," hiks ... hiks ... hiks ... nyonya Winda terisak pilu.


" Amayra baru saja bertemu dengan Mommy nya kau tahu kan Fan, selama tiga tahun ini ia tidak pernah sekalipun merasakan bagaimana disuapi Mommy nya, bagaimna pelukan seorang Mommy dan setelah ia bertemu Mommy nya, ia masih juga tak mendapatkan kasih sayang dan perhatiannya" nyonya Winda makin terisak kala mengingat betapa sang cucu begitu ingin Mommy dan Daddy nya bersatu dan menjadi keluarga yang utuh.

__ADS_1


"Mom ...." panggil Ferrell pada nyonya Winda. Ferrell baru saja kembali dari kediaman keluarga Tuan Prabu. Setelah berpisah dengan Ranty di pengadilan agama. Ferrell kembali ke kantor FN, akan tetapi sore harinya ia mendapat kabar jika Amayra mengurung diri sejak siang tadi. Amayra hanya mau membuka pintu jika Mommy nya datang.


Ferrell lalu mencoba menghubungi nomor Ranty bebrapa kali. Namun, hasilnya nihil nomer Ranty tetap tidak dapat dihubungi. Hingga Ferrell harus mendatangi Ranty ke kediaman keluarga Tuan Prabu.


Namun, lagi-lagi Ferrell harus menelan kecewaan. Karena ternyata, Ranty tak mau menemuinya sama sekali. Bahkan Arkha lah yang menemui Ferrell. Arkha berkata jika saat ini Ranty tidak ingin bertemu dan berurusan lagi dengan Ferrell.


Ferrell pulang dengan perasaan kecewa, bahkan ia sudah mengatakan pada Arkha jika Amayra lah yang meminta Ranty untuk datang. Namun, Arkha tetap berkata jika Ranty tak ingin bertemu, dengan alasan apapun. Ranty sepertinya sudah tak lagi perduli baik padanya maupun Amayra.


Tok ...tok ...tok ...


"Amayra buka pintunya Daddy ingin bicara." ucap Ferrell sambil mengetuk pintu kamar Amayra


" Stop Daddy! jika daddy tidak membawa Mommy pulang maka jangan harap aku akan membuka pintunya! teriak Amayra dari dalam kamarnya.


" Amayra! jangan buat Daddy kehilangan kesabaran cepat buka sekarang atau Daddy akan dobrak pintunya!" bentak Ferrell dengan nada tinggi. Ini kali pertama Ferrell semarah ini pada Amayra. Selama ini Ferrell tak sekali pun memarahi putrinya itu.


Namun, tetap aja Ferrell tak mampu meredam emosinya. Kali ini sungguh Ferrell sudah kehilangan kesabarannya. " Rell kendalikan dirimu, Amayra masih kecil dia belum mengerti dia hanyalah, seorang anak yang sangat merindukan kehadiran Mommy nya." kali ini Nyonya Winda yang mencoba menenangkan Ferrell.


Ceklek ....


Amayra membuka pintu kamarnya semua orang langusng menoleh kearah Amayra yang sedang terisak dengan wajah yang dipenuhi air mata. Jejak kesedihan begitu terlihat diwajah nya mata yang membengkak, dengan air mata yang masih terus menetes di pipinya.


" Daddy marah padaku, Daddy membentak ku, katakan Daddy apa aku begitu buruk hingga Mommy tak ingin bersamaku? dan sekarang Daddy juga membentak dan marah padaku! katakan Daddy apa aku seburuk itu!" hiks ... hiks ... hiks ... Amayra terisak meluapkan segala sesak di dadanya.


" Jawab Daddy! apa karena aku begitu buruk hingga Daddy dan mommy tak ingin berkumpul dengan ku, mengabulkan permintaan ku, aku hanya ingin Daddy dan mommy bisa sama-sama lagi, Daddy... huaaaa, hiks ... hiks Am-ayra ha-nya ing-in kita kumpul dan ja-di ke-luar-ga yang utuh, Daddy apa itu sungguh sulit." ucap Amayra tersendat sesenggukan.


" No sayang, maafkan Daddy, Daddy tidak bermaksud membentak mu nak, Amayra putri Daddy yang terbaik, perpisahan Daddy dan Mommy bukan karena Amayra anak yang buruk, Amayra adalah yang terbaik, Amayra putri kebanggan Daddy dan akan selalu seperti itu." Ucap Ferrell penuh sesal seraya menghapus air mata Amayra.

__ADS_1


Nyonya Winda dan Fany ikut terisak pilu. Menyaksikan betapa Amyra, bocah yang baru berusia enam tahun itu. Yang biasanya terlihat kuat dan ceria. Kini terlihat begitu terpukul atas apa yang tengah terjadi pada kedua orang tuanya.


" Tapi kenapa Mommy tidak mau bertemu dengan ku Dadd?" tanya Amayra.


" Mommy sedang ada urusan sayang tapi Mommy janji nanti jika urusan Mommy sudah selesai, Mommy akan segera menemui mu sayang, Amayra jangan sedih lagi ya." ujar Ferrell berbohong ia terpaksa harus melakukan itu tak ingin melihat putrinya kembali bersedih.


Ferrell menghapus air mata Amayra kemudian memeluknya penuh sayang. "Kita makan sekarang ya sayang" Ferrell kembali membujuk Amayra mengajaknya untuk makan.


" Daddy, Amayra sayang sama Daddy dan Mommy, jangan ada perpisahan Daddy, Amayra ingin bers-ama Mo-mmy dan Da-ddy" kata-kata Amayra tersendat seiring suaranya yang melemah kemudain memejamkan matanya.


" Sayang, hei putri Daddy bangun sayang kamu kenapa Amayra" Ferrell begitu terkejut melihat Amyra yang tiba-tiba saja pingsan.


" Amayra, nak ... bangun sayang..."ucap nyonya Winda panik.


" Rell kita bawa ke kamar" perintah Rian agar Ferrell segera membawa Amayra kekamar. "Sayang tolong telfon dokter Prita untuk segera datang." Rian kembali berucap memerintahkan sang istri untuk menghubungi dokter Prita.


🌼


🌼


🌼


Sementara dipinggir jalan yang sepi Ranty terlihat menepikan mobilnya di sebrang mension keluarga Nugraha. Ranty terisak sesenggukan mencengkram setir mobilnya kuat. Hingga jari-jari lentiknya terlihat memutih. Sungguh Ranty begitu hancur kali ini. Keputusannya menemui Viona ternyata membawanya pada sebuah kenyataan yang tak pernah ia ketahui sebelumnya.


***🌼 BERSAMBUNG ...🌼


Ucapan Terimakasih ... tak hentinya aku ucapkan pada kalian semua yang sudah Sudi mampir dan meninggalkan jejak. tetep ya dukung aku dengan cara like, komen, hadiah dan votenya🤗***.

__ADS_1


__ADS_2