
Safira langsung mendapat penanganan dari dokter Jhon beruntung hal yang tidak diinginkan tidak terjadi, Safira mengalami serangan pada saraf otaknya, akibat terlalu keras berfikir.
Keluarga Tuan Prabu, datang setelah dihubungi, oleh pihak sanggar, mengenai keadaan Safira yang sempat jatuh pingsan, dan dilarikan ke rumah sakit.
Tuan Nugraha langsung menemui Tuan Prabu, mereka terlibat pembicaraan serius, sehubungan dengan Safira. Tuan Nugraha juga menyerahkan bukti hasil tes DNA, dan juga foto-foto Safira, pada Tuan Prabu, yang ternyata adalah Ranty, istri dari Ferrell Nugraha.
Seluruh anggota keluarga Tuan Prabu Wijaya tercengang termasuk Arkha, inilah yang la takutkan, jika suatu hari nanti masa lalu Safira akan terungkap, dan yang paling menyakitkan adalah ternyata Safira sudah memiliki suami dan juga anak.
Tuan Prabu Wijaya, tidak bisa lagi berkata dan berbuat apa-apa, bahkan Nyonya Anjani, hanya bisa terisak, tidak ada lagi rencana pertunangan, apalagi pernikahan, antara Arkha dan juga Safira.
" Maaf Tuan Prabu, tapi inilah kenyataan yang harus kita terima, Safira menantu keluarga kami, la menghilang saat kecelakaan di sungai M tiga tahun silam, dan sampai sekarng jasadnya belum diketemukan, dan ternyata keajaiban Tuhan datang, menantu yang sangat kami sayangi dan rindukan ternyata muncul, namun dengan kondisi, hilang ingatan, meski bagaimana pun keadaannya, pada kenyataan nya la tetap adalah menantu kami, milik keluarga Nugraha."
Ucap Tuan Nugraha, panjang lebar, namun tetap dengan nada tegasnya, la ingin keluarga Prabu dapat merelakan Safira alias Ranty, agar dapat kembali ke keluarga aslinya.
Tuan Prabu, hanya tertunduk terdiam begitupun dengan Arkha, hanya Nyonya Anjani yang terlihat sesenggukan namun sama, la juga menangis dalam diam.
Sementara, di dalam ruangan Ranty, nyonya Winda tengah diwanti-wanti oleh dokter Jhon, agar Nyonya Winda tidak mengungkit kejadian beberapa jam yang lalu.
" Tolong Nyonya jangan, menceritakan hal-hal dimasa lalu apalagi jika itu adalah hal buruk, karna jika sampai nona Safira, berusaha memaksakan diri untuk mengingat lagi, maka saya tidak akan menjamin keselamatannya, dan biarkan ingatannya kembali secara perlahan dan tanpa paksaan." jelas dokter Jhon panjang lebar.
Nyonya Winda hanya mengangguk pasrah, la tak bisa lagi, memaksakan Safira untuk mengingat siapa sebenarnya dirinya, dan itu artinya, la hanya bisa menerima apapun yang Safira inginkan, termasuk jika tak ingin, mengakui keluarganya lagi.
" ehhhh...." leguh Safira mulai membuka kelopak matanya.
" Mommy... Ranty sadar Mom..."ucap Fany senang.
" Sayang...." nyonya Winda bergegas mendekati Ranty.
" Ingat pesan saya Nyonya." dokter Jhon kembali mengingatkan.
" Baik dok terimakasih." jawab singkat Nyonya Winda, mengalihkan pandangannya, sebentar kemudian kembali fokus pada Ranty.
__ADS_1
Setelah perkataan Tuan Nugraha tentang siapa Safira sebenarnya, tak ada lagi perbincangan, kini mereka semua terdiam, hanya suara isakan yang masih terdengar dari nyonya Anjani.
Sementara, Arkha nampak terdiam melamun, menerawang kejadian tiga tahun silam saat pertama kalinya la menemukan Safira alias Ranty.
Flash back on....
Ditengah perjalanan pulang setelah mengunjungi makan sang adik, mobil yang di kemudian oleh Arkha tiba-tiba mengalami mogok.
" Ah sial, Ron !!, mobil butut, Lo kasih ke gue, tahu gini nggak gue kasih pinjem mobil gue ke elo, dasar !! umpatnya saat menelfon, Roni, sahabatnya yang meminta bertukar mobil, Roni meminjam mobil Arkha, untuk berkencan dengan kekasihnya.
" Ya maaf, itu paling-paling air dalam radiatornya habis bro heheh sory namanya juga mobil tua, mobil bokap " Roni berucap ringan tanpa beban, tidak mengetahui jika saat ini Arkha, dalam keadaan genting, cuaca yang gerimis, serta jalanan yang sangat sepi karna sekarang Arkha, berada di atas jembatan X.
Dengan malas Arkha mencoba mencari radiator coolant, atau air radiator, namun sialnya lagi ternyata, Roni tidak menyimpan cadangan cairan coolant didalam mobilnya, alhasil mau tak mau, Arkha harus mengambil air sungai di bawah untuk mengisi air radiator.
" Sial benar-benar si Roni, ngerjain gue abis-abisan, awas saja." Arkha terus menggerutu sambil membuka sepatunya kemudian turun, ke sungai.
Dan saat itulah la melihat sosok tubuh tersangkut, di bawah akar pohon, tanpa pikir panjang la langsung melihat dan mengecek.
Arkha langsung membawa wanita itu kerumah sakit dengan mengunakan, mobil tumpangan yang kebetulan lewat, Arka membawa wanita yang tak lain adalah Ranty, kerumah sakit namun, kondisi yang sudah sangat buruk membuat, Ranty harus segera mendapatkan, penanganan operasi, setelah tiga hari dirawat, dokter menyarankan agar Ranty di bawa ke rumah sakit yang lebih besar dengan fasilitas lengkap dan itu hanya ada di luar negeri, karna cidera di bagian kepalanya terbilang cukup parah.
Arkha kemudian memberi tahukan tentang wanita yang la temukan pada keluarga nya, nyonya Anjani langsung jatuh hati begitu melihat Ranty, dan setelah berdiskusi akhirnya keluarga Tuan Prabu membawa Ranty ke New York, dengan menggunakan pesawat jet, sewaan. setelah dirawat beberapa hari di New York barulah Ranty sadar dan ternyata la mengalami amnesia, sejak saat itu keluarga tuan Prabu memutuskan, mengadopsi Ranty, dan seiring berjalannya waktu, dimana Arkha ternyata menaruh rasa pada Ranty.
Dan saat itulah Nyonya Anjani dan Tuan Prabu merencanakan pernikahan Arkha dan Ranty alias Safira.
# flash back off #
" Daddy... Ranty sudah sadar...."
Teriakan Fany seketika menyadarkan Arkha dari lamunannya.
Sedangkan, Fany tersenyum sumringah, memberi tahu bahwa Safira sudah sadar, la dan Nyonya Winda, yang setia menemani Safira sedari tadi di ruangannya.
__ADS_1
Semua bergegas masuk kedalam ruangan Safira, Tuan Nugraha, Ferrell, Rian, dan keluarga tuan Prabu.
" Emm... mamah..." panggil Safira pertama kali saat melihat sosok, sosok Nyonya Anjani, yang baru masuk.
" Iya sayang Mamah ada di sini nak...." ucap nyonya Anjani, seraya menghampiri Safira.
" Mah... ternyata aku adalah putri Nyonya Winda, mah...." ucap Safira sambil meneteskan air mata.
Nyonya Anjani hanya mengangguk, pasrah walau la belum mempersiapkan, hati dan dirinya untuk merelakan Safira, baginya ini sama saja dengan kejadian sepuluh tahun silam saat la kehilangan putri tercintanya, hanya bedanya jika saat ini bukan kematian yang memisahkan, namun apapun itu nyonya Anjani, tetap akan merasakan kehilangan untuk kedua kalinya.
" Kau sudah ingat semuanya nak" nyonya Winda, tersenyum sumringah, ketika mendengar penuturan Safira.
" Aku memang belum mengingat segalanya, tapi setelah melihat foto-foto itu..." Safira berkata sambil menggelengkan kepalanya, la memang belum mengingat segalanya, tapi yang la bisa simpulkan, jika la mungkin adalah anak dari keluarga Nugraha.
" Iya sayang kamu putri mommy dan Daddy, Daddy... " Nyonya Winda menggenggam tangan Ranty kemudian memanggil Tuan Nugraha untuk ikut mendekat.
" Em...sayang ini Daddy mu, dan ini kak Rian kakak mu sayang, ini Fany istri kakak mu Rian em..." Nyonya Winda tercekat la tak tahu harus memperkenalkan siapa Ferrell, jika Nyonya Winda mengenalkan Ferrell sebagai suami Safira dan Amyra adalah putri mereka.
Maka tidak menutup kemungkinan jika nantinya Safira kembali, mencoba mengingat, dan itu akan kembali berdampak buruk bahkan mungkin, akan berakibat fatal sesuai perkataan dokter Jhon barusan.
" Dia,....?" tunjuk Safira pada Ferrell.
" Sayang aku Ferrell aku su--" nyonya Winda dengan sigap memotong ucapan Ferrell.
" Dia kakak kedua mu sayang, kak Ferrell, iya dia kakak mu juga."
Jederrr... bagai disambar petir pernyataan nyonya Winda membuat Ferrell bagai di hantam batu besar, sesak dan sakit datang secara bersamaan.
Nyonya Winda menahan tangan Ferrell, saat melihat Ferrell yang akan kembali bersuara, Ferrell tak mengerti kenapa sang Mommy memperkenalkan dirinya sebagai kakak Safira dan bukan suaminya kemudian Nyonya Winda, memberi isyarat lewat tatapan matanya, jika Ferrell harus diam.
\# Bersambung....\#
__ADS_1