
Waktu telah menunjukan pukul setengah sembilan pagi. Namun, sepasang manusia masih saja betah berada ditempat tidur. Mereka bahkan saling merapatkan pelukannya dibawah selimut. Mereka terlelap begitu nyaman dan damai.
Jika ada yang melihat keadaan mereka saat ini. Mungkin orang tidak akan mengira jika pasangan ini sedang dalam proses perceraian. Ranty dan Ferrell begitu nyaman bergelung di bawah selimut. Dengan posisi Ranty yang berada dalam pelukan Ferrell. Baik Ranty maupun Ferrell mereka terlihat sangat nyaman berada dalam posisi itu.
Hingga ketukan pintu pun tidak membuat mereka terusik. Tok ... tok ... tok ..., Arkha terus saja menggedor pintu kamar Ranty. Amayra dan Tomi yang mengintip dari balik tembok dapur menjadi geram.
" Uncle Tom, kenapa Uncle Arkha ganggu Mommy dan Daddy terus si." Ucap Amayra pada Tomi dengan nada kesal.
" Hei ... calm down girl ... kau tahukan apa yang harus kau perbuat hem." Tomi berkata seraya menaik turunkan alisnya dan tersenyum licik.
" Of course Uncle …." Setelah berucap Amayra dan Tomi melakukan high five. Amayra kemudian berlari menghampiri Arkha yang sedang mengetuk pintu kamar Ranty.
" Uncle Arkha... ," panggil Amayra dengan nada manja menghentikan Arkha yang sedang mengetuk pintu.
" Hei Amayra kau ada di luar lalu Mommy dan Daddy mu?" ucap Arkha dengan raut wajah bingung menatap Amayra dan pintu kamar Ranty secara bergantian.
🌼 Flashback on 🌼
Amayra, bocah cerdas itu memang sudah keluar kamar sejak jam setengah lima pagi. Ia terbangun dan mendapati kedua orang tuanya tertidur di sebelahnya. Amayra lalu bangkit dari ranjang dan keluar hendak mengambil air minum.
Amayra kemudian berpapasan dengan Tomi yang kala itu juga ada di dapur. Mereka akhirnya terlibat satu pembicaraan dan berujung rencana yang tentu saja akan membuat Mommy dan Daddy nya menjadi dekat.
Amayra melancarkan aksinya ia kembali ke kamar. Namun, bukan untuk tidur kembali melainkan. Mengambil ponsel mommy dan daddy nya kemudian membuka laci dan mengambil kunci cadangan ia juga menaruh lem pada kursi meja rias.
Amayra berfikir jika sang mommy pasti akan duduk disana, dan setelah itu mommy pasti tidak dapat bangun. Kemudian mommy akan meminta bantuan Daddy nya. Saat itulah mommy dan Daddy pasti akan menjadi semakin dekat.
Begitulah yang Amayra fikirkan. keinginannya begitu sederhana ia hanya ingin mommy dan daddy nya kembali bersatu. Namun, keinginan Amayra yang begitu sederhana tapi begitu sulit untuk Ranty.
Selesai dengan misinya Amayra lalu keluar dari kamar Ranty dan mengunci pintu kamar dari luar.
🌼 Flashback off 🌼
" Uncle Arkha, aku mengunci pintu kamar Mommy tapi kuncinya hilang ... bisa tidak Uncle bantu Amayra mencari kuncinya?" Amayra memasang wajah bersalahnya berpura-pura menyesali perbuatannya.
" Jadi Mommy dan Daddy mu mereka di kamar dan hanya berdua!" Arkha tersentak saat ia sadar. Jika saat ini Safira ternyata hanya berdua saja dengan Ferrell, dan itu karena ulah Amayra.
Amayra hanya mengangguk mengiyakan apa yang Arkha ucapkan. Arkha menggeram kesal, bisa-bisa ia kecolongan oleh anak berusia enam tahun. 'ini pasti rencana Ferrell juga dasar pecundang memanfaatkan anak kecil untuk keuntungannya sendiri' Arkha membantin memaki kelicikan Ferrell.
Brakkk ...brakk .... brakk ....
Tanpa menanggapi ucapan Amayra, Arkha kini malah bukan hanya mengetuk. Kini Arkha malah menggebrak pintu dengan keras. " Uncle Arkha stop! kita harus mencari di mana kuncinya dulu Uncle." Amayra coba menghentikan Arkha.
Sementara Ranty menggeliat ia membuka perlahan kelopak matanya. Pandangannya langsung tertuju pada wajah tampan Ferrell. Ranty mengamati wajah suaminya yang begitu terlihat damai ketika tertidur. Seulas senyum terkembang menghiasi wajah cantiknya. Tanpa sadar ia membelai lembut wajah Ferrell.
__ADS_1
" Aku begitu mencintaimu Mas tapi sungguh, aku tidak sanggup jika harus terus mencintaimu aku tidak ingin lagi merasakan sakit, karena di sisimu ternyata begitu berat dan aku tak memiliki banyak kekuatan untuk terus berada di sisimu ... maaf." Ranty terisak kemudian ia melepaskan pelukan Ferrell dan bergegas menuju kamar mandi.
Ranty tak ingin Ferrell terbangun dan mendapati dirinya yang rapuh. Ranty sudah bertekad sekuat tenaga untuk mencoba mengubur dan melupakan Ferrell. Jika ia tak memiliki banyak kekuatan untuk terus berada disisi Ferrell dan mencintainya. Maka ia pasti memiliki kekuatan untuk melupakan cintanya pada Ferrell.
Tanpa Ranty sadari Ferrell juga sudah terbangun. Ia memilih tetap berpura-pura tertidur saat melihat tangan Ranty menyentuh permukaan wajahnya. Ferrell memilih mengamati pergerakan Ranty dan mendengarkan segala yang Ranty katakan.
" Aku tahu kau masih sangat mencintaiku sayang, aku akan lebih meyakinkan mu dan aku akan memastikan jika di masa depan kamu tidak akan mersakan sakit lagi aku janji." Gumam Ferrell, seakan mendapat harapan baru setelah ia mendengar isi hati Ranty.
Ferrell bangkit hendak membuka pintu akan tetapi pintunya tak juga bisa ia buka. "Amayra, Tomi hei siapapun di luar tolong buka pintunya!" teriak Ferrell memanggil Tomi dan Amayra untuk membuka pintu.
Sementara Ranty yang baru saja menyelesaikan acara mandinya. Keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Seketika Ferrell tercengang menatap Ranty yang begitu terlihat sexy dan begitu cantik dengan wajah polos tanpa polesan make up.
" Em ... pintunya ini seperti di luar terkunci, em ..." Ferrell merasakan kegugupan sampai belepotan mengucapkan kalimatnya.
" Hehhh ... sepertinya pintunya di kunci dari luar." Ranty menghela nafas dan memperbaiki susunan kata yang Ferrell ucapkan.
Ferrell tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ranty mendekat kearah ranjang membuka laci yang berada disamping ranjang guna mencari kunci cadangan. " Cari apa sayang?" tanya Ferrell mendekati Ranty.
" Em ... kunci cadangan ... biasanya aku taruh di sini kok, kenapa sekarang nggak ada ya." Ranty terus mengacak-acak isi laci mencari kunci cadangan kamarnya. Namun, nihil kuncinya tak kunjung ditemukan.
" Pelan-pelan carinya sayang, coba aku yang cari." Kini gantian Ferrell yang mencari kuncinya. Namun, hasilnya juga sama mereka tetap tidak menemukan kunci yang mereka cari.
" Mas gimana dong ini udah siang kita harus kepengadilan jam satu." ucap Ranty yang sudah merasa frustasi.
" Mas, ponsel ku sama ponsel mu nggak ada juga!" Ranty semakin gelisah manakala ponsel mereka juga menghilang.
" Oh ... ya ampun ini pasti ulah Amayra " tebak Ferrell yakin jika ini semua ulah putri cantiknya.
" Kamu serius mas? ini semua ulah Amayra?"
" Iya sayang, Amayra bahkan pernah mengerjai beberapa sekertaris ku dan artis-artis wanita yang mencoba mendekatiku, Amayra begitu posesif ia tak ingin Mommy nya tergantikan. Sebenarnya tanpa Amayra larang pun aku juga tidak akan pernah menggantikan mu dengan wanita manapun." Ucap Ferrell seraya mendudukan dirinya di kursi meja rias Ranty.
Ranty hanya mendengarkan apa yang Ferrell ceritakan tentang putrinya. Ranty terdiam membayangkan betapa sayangnya Amayra padanya. Meski Amayra tidak mengingat apapun tentang Ranty akan tetapi putrinya itu ternyata begitu mencintai dan menyayanginya.
Ferrell mersakan ada sesuatu yang aneh pada kursi yang ia duduki. Ferrell mencoba bangkit akan tetapi ia tak bisa. Bokongnya terasa menempel ketat pada kursi yang ia duduki.
" Ada apa mas?" tanya Ranty yang melihat gelagat aneh pada diri Ferrell.
" Sepertinya Amayra menaruh lem di kursi ini."
" Hah ... ya ampun ... sini aku bantu." Ranty meraih tangan Ferrell dan menariknya.
" Pelan-pelan sayang, jangan terburu-buru nanti tenaga mu habis."
__ADS_1
"Ini sudah siang mas kita harus cepat"
" Sepertinya harus digoyang-goyang dulu yangk"
" Ya udah mas lah yang harus goyang"
Arkha yang hendak membuka pintu tertahan mendengar suara Ranty dan Ferrell yang terlibat obrolan yang terdengar begitu intim. Membuat dada Arkha begitu panas. Ia sudah dibuat kesal dengan kelakuan Amayra yang menyembunyikan kunci dan dengan sengaja mengunci Ranty dan Ferrell. Membuat emosi Arkha semakin membuncah.
Amayra dan Tomi saling pandang, melihat aneh pada Arkha yang terdiam tanpa melakukan apapun. Padahal tadi Arkha begitu terburu-buru ingin segera membuka pintu kamar Ranty.
" Uncle Tom, kenapa Uncle Arkha diam saja? kenapa tidak membuka pintunya?" tanya Amayra lirih, yang melihat Arkha malah seperti sedang menguping.
" Entah lah ayo kita samperin." Ajak Tomi pada Amayra. Kini mereka bertiga sudah ada di depan pintu kamar Ranty. Tomi dan Amayra menempelkan telinganya pada daun pintu mengikuti kelakuan Arkha.
" Ih susah banget mas ini keras banget aku nggak bisa."
" Ayolah coba lagi sayang, tolong bantu aku melepaskannya."
" Nggak bisa mas aku udah cape, kamu berat banget ternyata."
" Uncle Tom mommy dan daddy sedang apa? kenapa mommy keberatan? apa mommy sedang menggendong daddy? apa mereka sedang main gendong- gendongan?
" Setttt tutup telingamu ..." Tomi tersentak saat tersadar jika Amayra juga ikut mendengarkan obrolan-obrolan yang sepertinya tak pantas di dengar.
" Mana ada sayang, aku masih seperti yang dulu kok cuma memang sedikit kekar."
" Ishh ... udah ah aku cape"
" Eh nggak bisa gitu yangk aku belum lepas ini masa iya aku seperti ini terus, apa kamu nggak kasihan."
" Tapi aku cape mas ..."
" Ayo sayang aku mohon kita coba sekali lagi"
" Akhhhaaa ...." teriak Ranty saat Ferrell menarik pergelangan tangannya. Hingga Ranty terjerembab kedalam pangkuan Ferrell dan ...
Brakkk ...
🌼 BERSAMBUNG ...🌼
Terimakasih untuk semua yang sudah Sudi mampir ke novel ku dan meninggalkan jejak. Karena komen kalian sangat lah berarti untuk ku. Dan jika kalian ingin melihat visual Ferrell dan Ranty silakan mampir ke IG ku ya megarisama_89, dan tetap ya aku minta like, comen, hadiah dan vote nya ya 🤗
love you all my renders ❤️🥰 And happy reading 🤗
__ADS_1