
"Aku harus mencari Ranty Mom," ucap Ferrell memohon pada sang Mommy untuk keluar mencari keberadaan sang istri.
"Tapi kamu masih belum pulih Nak," bujuk Nyonya Winda pada Ferrell mengingat ia baru saja di pindahkan dari ruang ICU dan harus banyak beristirahat.
"Mom, aku bisa menjaga diri Mom aku mohon." pinta Ferrell masih saja berkeras.
Nyonya Winda terdiam ia berfikir bagaimana caranya membuat Ferrell sadar jika sat ini dirinya belum sembuh benar.
"Mom, biar aku yang mengantarnya," ujar Rian ikut membujuk sang Mommy.
"huhh ya sudah tapi jika kamu merasakan sakit di bagian tubuhmu kau harus cepat kembali mengerti!" tegas nyonya Winda memperingati Ferrell.
"Siap Momm," girang Ferrell seraya memberi hormat
Rian akhirnya mengantar Ferrell menemui Ranty. Ia menelpon Fany menanyakan keberadaan mereka. Benar saja jika saat ini Fany sudah menemukan Ranty. Rian pun bergegas menuju taman rumah sakit.
Sementara Ranty terduduk di kursi taman rumah sakit dengan masih terisak. Sesak rasanya menerima kenyataan jika suami yang dulunya begitu mencintainya kini seakan enggan untuk mempertahankan nya. "Heh ... mana ada Pria yang benar-benar mencintai apa adanya Ranty ..." gumamnya lirih.
"Ran ... "
"Mommy ..."
Panggil Amayra dan Fany secara bersamaan, mereka akhirnya menemukan keberadaan Ranty. Fany dan Amayra mendudukan diri mereka tepat disisi kanan dan kiri Ranty. Ranty langsung memeluk Fany tangisnya semakin pecah di pelukan kakak ipar sekaligus sahabatnya itu.
"Fan, Mas Ferrell di-dia." isak Ranty tak mampu lagi berkata-kata.
"Settt ... ada apa Ran?" tanya Fany seraya mengelus lembut punggung Ranty mencoba menenangkan ibu hamil itu.
"Mas Ferrell di-dia tidak ingin lagi bersamaku dia tidak ingin memperjuangkan ku Fan, apa mungkin karena aku sudah sangat menjijikan dimatanya, aku sudah tak lagi pantas untuknya Fan, aku - aku kotor Fan ... hiks, hiks, hiks," ucap Ranty tersedu mengeluarkan segala unek-unek dalam hatinya.
__ADS_1
"Sayang kumohon jangan bicara seperti itu ..." Ferrell menyusul Ranty dengan menggunakan kursi roda.
Ferrell begitu merasa bersalah saat sikap nya tadi justru membuat Ranty salah paham. Membuat Ranty mengungkit kejadian yang begitu menyedihkan. Lagi-lagi Ferrell merasa gagal memahami keinginan dan kebahagiaan orang yang sangat ia cintai itu.
"Sayang ... hemm," panggilnya lagi seraya merentangkan tangan mengisyaratkan agar Ranty masuk kedalam pelukannya.
"Mas, ...." Isak Ranty menyambut pelukan Ferrell.
"Mas jahat, kamu udah nggak mau lagi memperjuangkan ku Kamu tega Mas," ucap Ranty tersedu di pelukan Ferrell," Isak Ranty meluapkan segala sesak di dadanya.
"No, sayang Mas hanya tidak ingin memaksakan mu lagi, Mas hanya ingin kamu nyaman dan bahagia sungguh," ucap Ferrell menjelaskan apa yang sebenarnya ada dalam hatinya.
"Tapi Ku hanya bahagia saat bersama mu, didekat mu, membayangkan saat kemarin Kamu hampir pergi A-akuโ
"Settt ... kita tidak akan pernah berpisah selamanya akan tetap bersama,"
Ferrell dan Ranty larut dalam suasana haru mencurahkan segala isi hati mereka. Menyadari bahwa mereka tak bisa berpisah satu sama lain. Ferrell memeluk erat tubuh Ranty penuh rasa cinta mereka menangis bersama dalam kebagian.
"Sayang kemari Nak," ucap Ferrell seraya meraih tangan Amayra membawanya dalam dekapannya.
"Apa ini artinya Kita akan hidup bersama Mom, Dadd," ucap Amayra dengan derai air mata bahagia.
"Iya sayang kita akan hidup bersama Daddy, Mommy, Amayra dan baby hem," ucap Ferrell seraya mengelus perut Ranty yang masih rata.
"Mas,...." Ranty mendongak menatap Ferrell.
"Iya sayang, Aku sudah tahu jika sebentar lagi akan hadir baby boy dalam keluarga kita," Ferrell berkata dengan yakin.
"Daddy sok tahu sayang,"balas Ranty mencubit hidung Ferrell.
__ADS_1
"Iya dari mana Daddy tahu kalau nanti baby yang akan lahir itu laki-laki," ujar Amayra yang sependapat dengan sang Mommy.
"Jelas Daddy tahu kan Daddy yangโ bikin," ucap Ferrell berbisik diakhir kalimatnya tepat di telinga Ranty.
"Daddy,...." Ranty tersipu malu kemudian menghadiahi Ferrell dengan cubitan diperut sang suami. merasa gemas dengan kelakuan mesumnya yang tak pernah hilang.
"Auwww ..." ringis Ferrell memegangi perut nya yang panas akibat cubitan dari Ranty.
"Mommy, Daddy, cepat katakan dari mana Daddy bisa yakin jika baby dalam perut Mommy itu laki-laki." Amayra cemberut merasa diabaikan.
"Daddy hanya asal tebak sayang, jangan pikirkan mau baby boy atau baby girl yang penting sehat sayang hem," Ferrell berkata sambil memeluk putri tercintanya. Ia juga begitu merindukan sang putri.
Seketika moment haru menyelimuti mereka berdua. Fany dan Rian perlahan melangkah mundur meninggalkan Ferrell, Ranty dan Amayra. Memberi kesempatan pada mereka untuk mencurahkan segala rasa yang selama ini terpendam.
Mereka kini saling bercanda tertawa bahagia. Hingga tak menyadari kehadiran Nyonya Anjani dan tuan Prabu.
Tuan Prabu dan Nyonya Anjani memutuskan untuk menemui Ferrell setelah Ferrell keluar dari ruang ICU. Nyonya Anjani dan Tuan Prabu menatap lekat Ferrell.
Ada rasa yang entah apa mereka rasakan saat melihat Ferrell begitu bahagia bersama keluarga kecilnya. Mereka berdua lalu mendekat pada keluarga kecil itu berdiri dengan terus menatap Ferrell.
๐ผ BERSAMBUNG ....๐ผ
Terimakasih banyak aku ucapkan untuk kalian semua yang sudah Sudi mampir di karyaku ... tetap like, comen, hadiah dan vote nya ya ๐
Aku sungguh-sungguh terharu pada kalian yang mau memberikan komentar' yang pastinya jadi semangat buat aku ๐
Nah sambil nunggu kelanjutan cerita Ferrell dan Ranty seperti biasa nih aku akan kasih rekomendasi novel keren karya temen ku. Kali ini ada novel dari :
Napen : Liana Keiza
__ADS_1
Judul novel : Terjerat Cinta Brondong Kaya