
Tolong beritahu Alea bagaimana cara menyikapi manusia yang diam dan tak suka bicara. Entah marah atau tidak, ekspresinya tak bisa ditebak sama sekali. Alea bingung sendiri melihat sikap mas Arsen yang nyaris tak bicara apapun selain 'cepetan'.
Nempeleng kepala suami yang punya sifat seperti itu dosa atau tidak ya?.
Alea mengepalkan tangannya sambil terus mengekor Arsen yang mengitari jejeran rak berisi sayuran di supermarket ini. Sudah hampir 3 kali muter, namun tak ada satupun yang laki-laki itu ambil padahal memiliki daftar barang-barang yang harus dibeli dari bunda. Diminta pun, suaminya ini tak memberikan sama sekali.
"Aku capek mas, muter-muter. Mas itu mau beli apa sih?" tanya Alea sewot. Kakinya benar-benar sudah pegal karena mengekor Arsen tanpa tujuan yang jelas sama sekali.
Tangan Alea mengepal diudara, ingin sekali ia melayangkan tangannya mengenai kepala Arsen yang lagi dan lagi tak menjawab pertanyaan dirinya barusan. Suaminya itu kini malah asik membolak-balikkan bumbu dapur yang Alea yakini tak diketahui namanya oleh Arsen.
Kesal karena sikap Arsen yang sebenarnya tak tahu namun sok-sokan tahu dengan barang-barang yang di list oleh bunda yang isinya kebanyakan bumbu dapur itu, Alea menarik paksa ponsel suaminya itu.
"Kalau nggak tahu itu nggak usah sok-sokan tahu. Emang mas mau mijetin kalau kaki aku pegel" oceh Alea. Sama sekali tak peduli dengan beberapa pengunjung yang melirik ke arahnya. Toh mereka juga pasti menganggap Alea adalah anak yang tak sopan kepada om nya. Bukan istri yang tak sopan dengan suami.
"Coba kalau dari tadi kasih listnya ke aku. Kita nggak muter-muter nggak jelas kaya tadi" oceh Alea lagi.
Tak ada sahutan apapun dari Arsen. Alea mendapati suaminya hanya diam dan kini balik mengekor dirinya yang mulai mengisi troli dengan belanjaan yang dipesan oleh bunda. Bagus mas Arsen diam, kesempatan bagi Alea untuk mengutarakan keluh kesalnya sejak tadi.
Suasana hati suaminya ini sudah buruk sejak dari rumah tadi. Sebenarnya Alea tahu alasannya. Pasti karena dirinya bergaul dengan Wira.
Hai, mas bejo. Itu sepupumu. Ya kali Dirinya jutek sama mas Wira.
"Mas ja—"
"Jangan marah-marah di tempat umum. Nggak enak diliatin orang" potong Arsen.
Alea langsung mengatupkan bibirnya tak lagi berani melanjutkan kalimatnya yang terpotong barusan. Diliriknya suaminya itu yang kini tengah menatapnya dengan dahi berkerut, seolah ada kata 'kenapa?' di dahi Arsen sekarang.
Memasukan jahe kemasan ke dalam troli, Alea balik menatap Arsen lekat. Sejak kemarin, dirinya sudah amat dibuat penasaran alasan kenapa suaminya ini bersikap tak ramah pada Wira.
"Ada yang pengin Alea tanyain ke mas. Boleh?" tanya Alea akhirnya.
"Sambil jalan"
Alea mengangguk menuruti ucapan Arsen "Mas Wira udah lama di Singapore mas?" untuk sejenak tak ada jawaban dari Arsen. Alea melirik sedikit guna melihat bagaimana eskpresi suaminya. Dan wajah tampan super dingin yang Alea lihat sekarang.
"Sekitar 8 tahun" jawab Arsen.
Mari berputar-putar dulu sebelum menanyakan inti dari pertanyaan yang sejak kemarin mengganggu pikiran Alea.
"Kerja di sana?" tanya Alea lagi.
__ADS_1
"Iya. Dia kuliah kedokteran di sana, dan sekarang sedang ambil spesialis"
Alea menganggukkan kepalanya "Tapi ada niatan buat balik kerja di sini kan mas?"
Raut wajah Arsen yang terlihat terkejut ditambah laki-laki itu yang juga berhenti berjalan, membuat Alea langsung membalikan badannya menghadap ke arah Arsen.
"Tante Jani yang cerita, mas Wira katanya pengin kerja disana karena seseorang, makanya aku nanya lagi buat mastiin" jelas Alea. Kali ini posisi mereka yang terbalik, Arsen jalan di depan, dan Alea mengekor suaminya itu yang berjalan menuju kasir.
"Nggak tahu, bukan urusan kamu juga." jawab Arsen.
"Tante Jani di Indo, berarti di Singapore sama mbak Dira ya mas? Aww"
Alea menabrak punggung Arsen. Tubuh tinggi dan kekar suaminya ini tiba-tiba berhenti mendadak membuat Alea yang sejak tadi mengekor dibelakang Arsen jelas langsung menubruk tubuh laki-laki itu. Sepertinya menyebut nama Dira yang membuat Arsen menghentikan langkahnya tiba-tiba.
"Jangan terlalu dekat dengan Wira" titahnya.
"Kenapa?" tanya Alea. Dilarang untuk dekat dengan Wira padahal sepupu suaminya itu sangat enak diajak bicara, Alea jelas menolak jika tidak ada alasan yang jelas.
"Nggak usah banyak tanya. Pokoknya jangan terlalu dekat dengan Wira. Atau mas ambil lagi kartu kredit kamu" ancam Arsen lalu kembali jalan menuju kasir.
Jika ini bukan tempat umum, atau jika saja Arsen tak mengingatkannya untuk tidak marah-marah di tempat umum. Percayalah, kodrat kebawelan milik Alea pasti sudah meledak sekarang.
**
"Sudah selesai dandannya. Bunda nyariin kamu"
Alea menoleh ke sumber suara. Arsen berdiri diambang pintu kamar dengan stelan jas yang warnanya senada dengan gaun yang Alea kenakan. Gaun dan jas pemberian dari om Dirga.
"Kalau ada acara di keluarga kamu, emang selalu seramai ini ya mas?" tanya Alea sambil berjalan mendekati Arsen.
"Ini masih nggak seberapa. Kalau diadain di gedung jauh lebih ramai lagi. Sebagian besar tamu kenal sama tante Jani dan Om Dirga. Makanya pada datang"
Alea menganggukkan kepalanya. Baru kali ini bersedia untuk menjelaskan panjang lebar tanpa dipaksa terlebih dahulu. "Aku digandeng ya mas. Ramai banget. kalau ilang, malam ini nggak ada yang bisa kamu peluk"
Dilihat dari mata suaminya yang membulat karena terkejut, sudah dipastikan apa yang Alea rasakan malam itu bukanlah sebuah mimpi. Alea nggak sekebo itu sampai nggak sadar ada yang memeluknya saat tidur.
Meski terlihat canggung. Arsen mengambil tangan Alea lalu menggandengnya menuruni anak tangga.
Ini cowok suka mengambil kesempatan dalam kesempitan emang. Kesempitan sofa maksudnya. Batin Alea.
Lambaian tangan bunda yang meminta Alea mendekat ke arahnya, membuat Alea bisa merasakan genggaman Arsen sedikit mengendur. Cepat-cepat ia mengalungkan tangannya di lengan Arsen dan berbisik pada suaminya itu. Serius, Alea takut ditinggal sendirian di dalam keramaian ini. "Jangan di lepasin mas."
__ADS_1
"Bunda nggak bakal ngelepasin kamu. Tenang aja" ucap Arsen sambil melepaskan tangan Alea dan memberikannya pada bunda.
Begitu memberikan tangannya kepada bunda, Arsen langsung berlalu pergi meninggalkan Alea yang menatap punggung Arsen semakin menjauh.
Mengekor bunda, satu persatu kolega diperkenalkan padanya. Alea yang hanya gadis berumur 19 tahun yang tidak mengetahui apapun tentang bisnis hanya menjadi pendengar baik. Sesekali senyum guna menanggapi pembahasan orang-orang di sekelilingnya meski matanya terus saja mencari keberadaan sosok suaminya itu.
Acara berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya. Banyak sekali ucapan selamat yang Alea terima dari beberapa tamu yang datang, bahkan ada juga yang memberikannya kado yang entah diletakan sekarang dimana oleh Diwa, karena saat mendapat tumpukan kado, Diwa langsung membantu membawanya ke lantai atas.
Bibir Alea mengerucut sebal saat Arsen tak kunjung juga terlihat batang hidungnya. Setelah acara selesai, suaminya itu menghilang layaknya setan. Alea terpaksa terus mengekor Diwa diantara para keluarga besar di rumah ini.
"Lo ngapain sih ngikutin gue mulu?!"
Tak peduli dengan omelan Diwa, Alea terus saja mengikuti kemana pun laki-laki itu pergi. Bahkan saat Diwa ke kamar mandi, Alea dengan setia menunggu hingga Diwa keluar.
"Sejak kapan Alea yang ramah ini jadi introvert sama orang lain?!"
"Nggak banyak yang gu—"
"Alea, sinih nak"
Ucapan Alea tadi terpaksa berhenti saat bunda kembali menyuruhnya mendekat. Jika Diwa menolak untuk diikuti, maka Alea akan mengikuti ibu mertuanya itu kemanapun berada.
"Yang sopan. Gue kakak ipar lo!" bisik Alea lengkap dengan cubitan di pinggang sebelum akhirnya mendekati bunda dengan senyuman penuh kemenangan pada Diwa.
Mengikuti bunda yang kini menggandeng tangannya sambil berjalan menuju ruang tengah. Alea bisa menemukan suaminya itu tengah duduk di sana dengan tatapan yang masih tertuju ke ponsel. Di sofa ada kakek yang menyambut kedatangan Alea dengan senyuman mengembangnya. Meski sudah berumur hampir 87 tahun, aura ketampanan mas muda masih terlihat jelas di setiap kerutan wajahnya. Selain ayah mertuanya, Alea tahu dari mana ketampanan suaminya itu didapatkan.
"Karena ada kamu di rumah ini, selain Gea, akhirnya kakek punya cucu perempuan lagi"
Alea tersenyum sebagai jawaban atas ucapan kakek barusan. Ibu mertuanya itu langsung pergi begitu Alea duduk di samping Arsen, digantikan dengan kedatangan Wira dan beberapa sepupu Arsen lain yang kini berkumpul di ruang tengah. Mungkin dikeluarga suaminya ini ada tradisi dimana semua cucu berkumpul bersama mendengar nasehat dari satu-satunya orang paling tua di rumah ini.
Saat Wira duduk tepat di depan mereka, Alea tahu jika Arsen langsung meletakan ponselnya dan menatap datar ke arah sepupunya itu.
"Arsen, sudah saatnya kamu maafin Wira" ucap kakek lembut.
Alea menatap lekat wajah suaminya yang kini menampilkan raut wajah tak suka. Entah apa yang terjadi sebenarnya, tapi Alea yakin hal besar pasti pernah terjadi diantara keduanya.
"Bahagia sama nak Alea. Dan Wira juga akan menjemput kebahagiaannya yang lain" lanjut kakek. Laki-laki tua itu meraih tangan Arsen dan menggenggamnya dengan erat. "Sudah saatnya hubungan kalian baik-baik saja. Kakek sudah kehilangan Dira, jangan sampai kakek kehilangan istrimu juga"
Ingin rasanya Alea bertanya kepada siapapun tentang apa yang dimaksud kakek barusan. Namun belum sempat mengutarakannya, tangannya tiba-tiba digenggam Arsen yang memaksanya untuk berdiri.
"Alea ada jam kuliah besok kek. Arsen dan Alea pamit pulang dulu ya kek" Arsen mencium tangan kakek. Mau bagaimanpun Alea mengikuti apa yang laki-laki itu lakukan, meski tanda tanya besar kini tengah terukir di kepalanya sekarang. Dan setelahnya Alea merasa genggaman tangan Arsen yang menariknya keluar dari rumah semakin mengencang.
__ADS_1
Dira. Pasti, ada sesuatu pada wanita itu.