
"Sehat nak?"
"Sehat bun. Ayah sudah sehat? Kata mas Arsen ayah sakit kemarin makanya nggak bisa jenguk Alea bareng bunda"
Arsen yang berdiri dibelakang Alea, sedikit mengangguk saat pandangan kedua orang tuanya tertuju ke arahnya. Karena kehadiran Azri di kafe tadi, Arsen lupa untuk mengirim pesan kepada bunda agar mengiyakan saat Alea bertanya kondisi ayah. Ini dosa, Arsen tahu. Apalagi mengajak kedua orang tuanya itu ikut bergabung membohongi Alea.
"Sehat Al. Maafin bunda dan ayah ya. Nggak bisa datang ke rumah sakit waktu kamu sadar"
Pelukan bunda pada Alea yang disertai dengan tangis wanita itu, semakin membuat Arsen merasa bersalah. Alea jelas akan amat marah saat ingatannya kembali.
"Nggak apa-apa bun. Bunda jangan nangis. Alea sehat sekarang. Mas Arsen terus ada disamping Alea pas di rumah sakit. Jadi Alea nggak ngerasa kesepian. Yang penting semuanya sehat sekarang"
Saat Alea mengajak bunda untuk masuk ke dalam rumah. Arsen yang hendak untuk ikut masuk ke rumah, ditarik ayah hingga keduanya berada di halaman belakang rumah. Ayah bukanlah tipe orang yang akan melakukan kebohongan untuk kedua kalinya, maka dari itu Arsen pasrah saja saat satu tamparan mendarat di pipinya begitu mereka berada di halaman belakang.
"Ayah sudah dengar semuanya dari Kenzo. Kamu gila mas!!!" meski bukan tergolong teriakan karena suara ayah yang terdengar rendah, Arsen tahu seberapa marah laki-laki yang sudah membesarkannya selama ini. Didik untuk menjadi laki-laki penuh kejujuran dan menghargai wanita, yang terjadi malah sebaliknya. Demi ego Arsen akan tetap menahan Alea berada di sisinya.
"Kalian sudah bercerai. Bukannya ayah menolak kehadiran Alea lagi dalam keluarga kita. Ayah senang karena Alea kembali. Tapi bukan dengan cara seperti ini"
"Terus cara seperti apa yang harus Arsen lakuin? Alea hilang ingatan yah"
"Kembalikan ke keluarganya. Kembalikan Alea ke keluarga suaminya."
"Saga meninggal yah. Alea lupa semuanya. Yang dia ingat cuman aku, keluarga kita dan luka yang aku buat untuk dia."
Satu cengkraman erat Arsen rasakan di kedua bahunya sekarang "Kamu tahu mas. Kalau dia ingat semuanya. Bukannya sembuh, kamu cuman nambah luka di luka yang bahkan mungkin belum kering"
__ADS_1
Arsen mengangguk. Ia pahan betul hal itu. Maka demi antisipasi kemarahan Alea kelak, Arsen akan membuat kenangan indah bersama Alea beberapa hari ke depan. Sebelum ingatan itu kembali menyapa Alea.
"Terus, Apa rencana kamu setelah ini. Kalian sudah bercerai. Tidak mungkin sekamar dan tidak mungkin pula kamu ajak Alea ke rumah kalian dulu"
"Aku akan nikahin Alea sebelum kembali ke rumah kami"
Bagas menghela napasnya. Ada sedikit rasa kesal dan ada pula sedikit rasa kasihan pada putranya. 5 tahun Bagas seolah melihat Arsen dalam sosok lain, dan kini Arsen, sosok Arsen putranya sepenuhnya kembali Bagas lihat. "Bagaimana caranya?"
"Aku sudah bicarain ini sama Alea yah. Dia merasa aneh karena sikap aku sekarang. Dan itu buat mas ngusulin untuk mulai semuanya dari awal. Acara pernikahan dan juga akad"
Satu hal yang Bagas dan Amel pikirkan adalah bagaimana cara ia menjelaskan pada kakek nanti. Sejak Arsen dan Alea menikah, kakek juga dalam kondisi tak baik-baik saja. Rasa bersalah itu kembali datang dan membuat kondisi tubuhnya memburuk seketika kala itu.
"Lalu bagaimana dengan kakek kamu?"
"Arsen!"
"Mas nggak ngungkit tentang Dira dan Wira di depan Alea yah. Nggak ngungkit pernikahan mereka"
"Mbak Dira sama mas Wira nikah?"
Baik Arsen dan Bagas, keduanya menoleh bersamaan ke sumber suara. Alea berdiri tak jauh dari mereka dengan nampan berisi dua cangkir ditangan.
Tubuh Arsen membeku seketika. Meski tahu jika Alea hanya mengalami hilang ingatan sementara yang itu berarti Alea akan kembali ingat dalam kurun waktu yang tidak lama, Arsen masih tetap nekat melakukan rencanannya. Tapi dengan kebodohannya sendiri, dia malah membuka semuanya perlahan bahkan dihari pertama mereka keluar dari rumah sakit.
"Loh, ngapain bawa kopi Al? Istirahat di kamar aja" Bagas berusaha mengalihkan pembicaraan. Dan itu berarti sebagai awal dirinya setuju masuk ke dalam rencana gila putranya itu.
__ADS_1
"Buat ayah sama mas Arsen. Alea kira di teras tadi. Karena nggak ada, makanya Alea ke halaman belakang. Soalnya ayah juga suka duduk di sini nemenin Alea dulu"
Bagas tersenyum. Mengambil nampan dari tangan Alea, lalu mengajak mantan menantunya berjalan ke halaman depan, meninggalkan Arsen yang masih berdiri mematung di halaman belakang.
"Nggak usah repot-repot. Biarin bi Ina kalau nggak bunda aja ya nak. Kamu harus banyak istirahat" Bagas melirik sedikit ke arah Arsen yang kini berjalan mengekor mereka.
"Kangen sama ayah, pengin ngobrol kaya dulu lagi"
Bagas tersenyum, membuka pintu rumah dan mempersilahkan Alea untuk masuk terlebih dahulu. "Di luar panas, kita ngobrol di dalam aja ya"
Disisi lain, Arsen tak ikut masuk ke dalam rumah. Ia memilih untuk duduk di teras selagi mencari alasan yang tepat untuk pertanyaan Alea barusan. Arsen yakin, pertanyaan itu akan kembali ia dengar saat berdua dengan Alea.
Suara motor Diwa yang berhenti di depan rumah. Mata Arsen langsung menatap sengit ke arah sepupunya itu. Bisa-bisanya Diwa juga menyembunyikan kondisi Alea selama ini. Entah apa yang Diwa pikirkan sebenarnya padahal melihat kondisinya yang amat buruk 5 tahun ini, Diwa masih tega untuk menyembunyikan semuanya.
"Lo gila mas bawa Alea balik?" bisik Diwa.
"Lo yang lebih gila karena tega nyembunyiin semua ini dari gue"
"Itu karena.." Diwa menyentuh dahi Arsen dengan punggung telapak tangannya.
"Karena apa?"
"Karena otak mas rada gila 5 tahun belakangan. Dan itu di buktiin sekarang karena nekat bawa Alea balik ke rumah"
Mari, telan saja semua kalimat-kalimat itu Sen. Karena gue emang udah kaya orang gila.
__ADS_1