
"Setelah dipikir ulang, rasanya bunda nggak setuju kalau kamu ngelakuin hal ini mas"
Arsen tertegun. Ia tahu meyakinkan kedua orang tuanya jelas tak akan semudah yang ia bayangkan. Jika saja tadi Alea tak datang Ayah juga pasti akan menolaknya mentah. Arsen paham betul apa yang ia lakukan sekarang adalah sebuah kesalahan untuk kedua kali dengan cara yang sama. Namun kehilangan Alea terasa lebih menakutkan baginya.
"Bun"
"Dengar mas" ucap bunda. Suaranya terdengar lirih karena takut jika Alea yang masih berada di kamar bisa mendengar pembicaraan mereka sekarang. "Kamu tahu dan sadar kebohongan itu yang menjadi awal kehancuran rumah tangga kalian. Dan sekarang, kamu masih ingin melakukan hal yang sama mas?"
Arsen tak menjawab. Benar. Kebohongan yang ia lakukan dulu menjadi awal kehancuran rumah tangga mereka. Bodoh namanya jika melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Meski rasa ketakutan kehilangan Alea ia pendam sedalam mungkin, namun kejujuran tetap kalah dan Arsen masih tetap kekeh untuk rencana awalnya.
"Ayah juga nggak setuju"
"Ayah" rengek Arsen. Jika kedua orang tuanya tak setuju, Arsen tak tahu lagi harus bagaimana.
Amel yang duduk tepat disamping putranya, mengusap punggung tangan putranya lembut. Tak ada orang tua yang senang jika melihat anaknya sedih, namun bukan berarti juga ia menyetujui putranya menyakiti hati putri orang lain dengan kebohongan kembali.
"Kemarin Alea masih punya teman-temannya pas tahu semuanya. Masih ada tempat untuk ia tuju. Tapi sekarang mas? Kamu ngelibatin semua orang. Saat Alea tahu, nggak ada lagi tempat yang dia tuju. Saat itu, kamu bakal menyesal lebih dari kemarin"
Arsen terdiam. Sialnya, semua yang diucapkan bunda adalah kebenaran. Dia melibatkan semua orang, melibatkan Gita dan Keke, jika seperti ini maka tak ada tempat bagi Alea untuk bertahan. Tak ada jaminan saat itu terjadi dirinya bisa menahan Alea di sisinya. Jika suatu hal buruk terjadi, maka hanya akan ada penyesalan yang lebih parah dari sebelumnya.
***
Hanya ada sebuah senyuman yang Arsen tunjukkan sekarang. Dirinya masih belum tahu dari mana ia akan menjelaskan semuanya, karena jika satu hal dibahas, maka akan terus berlanjut sampai kecelakaan itu dan akan berakhir dengan Alea yang mungkin akan kesakitan karena berusaha mengingat semuanya.
Arsen sedikit membungkuk guna mensejajarkan wajahnya dengan wajah Alea "Kamu takut mas masih punya perasaan sama Dira, hmm?"
"Masih. Apalagi aku nggak ingat apa-apa mas"
"Nggak usah berusaha untuk ingat semuanya sekarang Al" mengeratkan genggaman tangannya, mereka kembali berjalan menikmati kesunyian malam ini berdua "Karena aku yang akan bantu kamu untuk ingat semuanya"
Apa yang bunda katakan tadi, benar-benar tak mampu untuk Arsen anggap sebagai angin lalu begitu saja. Semuanya benar.
"Dek"
__ADS_1
"Ya?"
"Kalau suatu saat kita bertengkar hebat sampai cerai karena kamu nggak bisa maafin aku. Terus, beberapa tahun kemudian kita ketemu lagi, dan aku ajak kamu buat rujuk. Kamu mau?"
Sebuah Kekehan kecil kini terdengar memecah kesunyian diantara mereka. Arsen merasa jari-jari yang bertaut dengan jarinya kini semakin erat.
"Kenapa ketawa?" tanya Arsen bingung. Lagi dan lagi, tawa Alea seakan menyihir dirinya untuk ikut tersenyum.
"Pertanyaan kamu lagian aneh-aneh aja. Kalau masalah mbak Dira. Asal kamu bisa lupain dia. Kayanya aku bisa maafin mas. Baik kan istri kecil Arsen ini?"
Arsen mengangguk setuju. Itu juga kalimat yang ia dengar dari Alea 5 tahun yang lalu. "Kalau kita sampai cerai? Kamu mau nikah sama aku lagi?"
"Emang kita beneran pernah cerai mas?"
Untuk kedua kalinya, langkah Arsen kembali berhenti. Ia menuntun Alea untuk duduk di kursi taman yang nyaris sepi ini, sedangkan dirinya berjongkok di depan Alea.
Untuk sejenak kepalanya menunduk bersandar pada paha Alea sebelum akhirnya kembali tegak saat sebuah usapan Arsen rasakan di belakang kepalanya.
Ada rasa tak sanggup untuk mengatakan sebenarnya karena takut jika Alea akan pergi darinya. Lalu, kembali menegakkan diri saat ucapan bunda terlintas di kepala. Ia memang harus jujur sekarang.
"Mas"
Arsen tahu dirinya tampak lemah dimata Alea sekarang. Bahkan air mata kini sudah menggenangi kedua matanya.
"Mas. Kita beneran pernah cerai? Tapi kenapa?"
"Janji dulu, ja.. Jangan pergi dari aku Al"
"Mas"
Mata Arsen terpejam saat Alea menghapus jejak air mata miliknya. Alea masih berada di depannya sekarang, namun tubuhnya sudah bergetar hebat hanya dengan membayangkan Alea akan pergi saat ia mengatakan semuanya dengan jujur. Setakut itu, Arsen kehilangan sosok mantan istrinya itu.
"Kita pernah bercerai dek" kalimat itu akhirnya keluar. Arsen sudah pasrah jika Alea akan diam sambil berjalan sendiri menuju rumah bunda. Pura-pura tak mendengar apa yang ia katakan karena Alea juga tak mengingat apapun.
__ADS_1
Lalu, semua itu ternyata hanya bayangan Arsen saja. Tangisnya pecah saat tubuhnya ditarik dan berakhir di dalam dekapan hangat Alea. Tangis yang sejak tadi ditahan, akhirnya pecah juga didepan orang yang tersayang.
"Aku nggak ingat apapun mas. Aku nggak ingat kita pernah bercerai. Mungkin aku akan ingat nanti, tapi..."
Pelukan mereka merenggang, tangan Alea kembali mengusap pipi Arsen. "Aku sangat menghargai ucapan kamu yang ingin kita mulai dari awal. Dari akad pernikahan. Itu berarti karena kamu tanggung jawab dengan tidak membawa wanita yang belum sah jadi istri kamu pulang ke rumah kita di Jakarta. Aku suka cara kamu lebih pilih bawa aku ke rumah bunda"
Hati Arsen terasa menghangat seketika.
"Untuk alasan cerai, aku belum ingin tahu sekarang ya mas. Karena kepala aku sakit banget sekarang"
Dengan wajah khawatir, Arsen langsung duduk disisi kiri Alea. Tangannya mengusap kepala Alea lembut dengan tatapan penuh kekhawatiran "Kita pulang aja ya? Oh nggak. Ayo kita ke rumah sakit"
Alea menggeleng sambil tersenyum "Aku masih pengin jalan berdua sama kamu."
"Al"
"Kita puterin taman sekali aja ya? Aku pengin banget dari dulu. Tapi nggak berani ngomong sama kamu"
Arsen mengalah. Merasa bersalah dengan sikap dinginnya dulu hingga Alea merasa segan hanya sekedar untuk meminta ditemani berjalan di taman.
"Kalau sakit banget. Kita langsung pulang ya dek"
Alea mengangguk "Oke" jawabnya sambil senyam-senyum menatap wajah Arsen.
"Kenapa ngeliatin aku sambil senyam-senyum begitu?"
"Gemes liat mas sampai nangis begitu. Seneng aja"
"Seneng lihat mas sedih?"
"Bukan. Seneng karena aku merasa dicintai banget banget banget sama mas"
Keduanya kini tertawa bersamaan. Tanpa sadar Arsen hendak mencium kening Alea jika saja wanita itu tak langsung berdiri.
__ADS_1
"Katanya kita udah cerai kan? Berarti belum halal. Nggak boleh cium-cium"
Keduanya kini tertawa bersamaan. Aktifitas baru yang dulu tak pernah mereka lakukan.