Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
S2 : Diwa dan Cita-citanya


__ADS_3

"Sejak kapan mas?"


Arsen terlonjak kaget saat pertanyaan itu meluncur begitu dirinya keluar dari kamar mandi. Alea duduk di tepi ranjang dengan tatapan yang tertuju ke arah Arsen. Arsen memutuskan untuk tidur dikamar bawah sedangkan Alea mengisi kamar dilantai 2. Saat malam, Arsen baru akan pindah ke ruang kerjanya mengingat setelah bangun dari koma pun Alea masih takut dengan hantu.


Maka dari itu melihat Alea yang duduk di tepi ranjang kamar bawah, membuat Arsen sedikit terkejut karena mereka berada di dalam kamar yang sama padahal ada bunda dan ayah di rumah ini. Syukur, Arsen keluar dari kamar mandi dengan kondisi sudah pakai baju lengkap.


"Al, ada bunda sama ayah. Kenapa masuk?" pintu kamar memang terbuka lebar. Namun, Arsen bisa dicincang habis oleh bunda jika sang bunda melihat semuanya sekarang.


"Pintu ke buka mas."


"Tetep aja Al. Ayo keluar" Arsen berjalan menuju pintu, namun langkahnya berhenti saat tak merasakan kehadiran Alea dibelakangnya. Saat berbalik, benar saja wanita itu masih duduk di pinggir ranjang dengan santainya.


"Aku mau nanya tentang kakek. Nggak mungkin kan kalau aku tanya depan orangnya langsung?"


Menghela napas, Arsen mendekat lalu mendaratkan satu jitakan lembut di dahi Alea. Meski usia Alea kini menginjak 25 tahun, kadang kala Arsen masih menganggap Alea berusia 19 tahun seperti dulu. Gemas ingin cubit pada calon istrinya itu. "Kakek pasti ada diruang tengah. Kita bisa bicara di dapur. Nggak di kamar begini. Ah atau—" Arsen sengaja menjeda kalimatnya. Menatap jahil ke arah Alea yang membuat wanita itu sontak berdiri. "Bicara di sini dengan pintu tertutup?"


"Kita bicara di dapur!" tukas Alea dan langsung berjalan cepat keluar dari kamar. Arsen yang melihat itu tertawa geli sambil menggelengkan kepalanya. Benar kata Kenzo, menggoda wanita sampai merah pipinya adalah hal yang begitu menyenangkan.


Mengekor Alea menuju dapur, keduanya kini malah berada di teras belakang rumah. Hanya untuk sebentar saja meninggalkan bunda dan ayah. Arsen hanya ingin tanda tanya di kepala Alea menghilang.


"Sejak kapan mas?"


Pertanyaan itu kembali terlontar. Tak langsung menjawab, Arsen menarik tangan Alea agar duduk bersebelahan dengannya.


"Aku rasanya kaya diintrogasi kalau kamu nanyanya sambil berdiri"

__ADS_1


"Jadi, sejak kapan?"


Arsen terdiam sejenak. Kondisi kakek memburuk begitu mereka berdua bercerai 5 tahun yang lalu. Sering kali bolak balik ke rumah sakit karena penyakit yang dimilikinya, dan 3 tahun belakangan didiagnosa menderita Alzhamer. Kakek melupakan semua orang, bahkan anggota keluarganyapun dilupakan oleh orang tertua dikeluarga Yudhistira.


"Sejak kita cerai dulu. 5 tahun yang lalu. Cuman didiagnosa Alzheimer baru 3 tahun belakangan"


"Bukan karena kita kan mas?"


Arsen menangkap raut wajah sedih Alea. Sebuah senyuman Arsen berikan bersamaan dengan tangannya yang mengelus lembut puncak kepala Alea.  Sepertinya, mengusap kepala Alea akan menjadi kegemaran kedepannya.


"Bohong kalau mas bilang nggak. Tapi bukan berarti semua kesalahan ada di kita. Itu yang selalu bunda jawab setiap kali mas tanya"


"Tapi kondisinya memburuk setelah itu kan mas? Aku nggak ingat apa alasan kita cerai. Cuman aku juga belum ingin tahu alasannya karena kita akan nikah sebentar lagi. Aku nggak buat salah sama kakek kan mas?"


"Nggak sama sekali dek. Mas yang nyakitin kamu sebelumnya" tangan Arsen kini beralih menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Alea "Maka seharusnya mas yang paling salah di sini. Cuman kalau saling berlomba siapa yang paling salah di sini, maka nggak akan ada habisnya."


"Apa?"


"Cicit. Ya walaupun kakek juga nggak ingat. Tapi, mas ingin ngabulin hal itu. Sama kamu tentunya"


Sebuah anggukan kecil ditunjukkan oleh Alea. Keduanya saling menatap satu sama lain tanpa ada yang bicara, seolah berusaha mengetahui isi hati masing-masing. Meyakinkan diri bahwa pernikahan kali ini akan membawa mereka di kehidupan yang bahagia. Meski tak bisa dipungkiri jika akan ada masalah-masalah kedepannya, namun Arsen berharap saat masalah paling besar datang, mereka berdua tak akan saling menjauh seperti sebelumnya, namun akan semakin mendekat dan mempererat hubungan mereka dengan mengatasi masalah bersama.


"Tahan bang. Sebentar lagi halal. Diliatinnya udah kaya mau dilahap aja si Alea"


Pandangan mereka terputus saat Diwa tiba-tiba muncul dari arah kanan. Tangan laki-laki itu membawa helm sedangkan tangan kanannya membawa kotak berwarna krem dengan pita hitam diatasnya. Tak perlu tanya, Arsen tahu apa isi didalamnya.

__ADS_1


"Itu kado buat pernikahan gue Wa?" Alea yang pertama kali mencairkan suasana canggung tadi.


Diwa menggeleng. Memang jiwa cosplay jadi nyamuk begitu mendarah daging, laki-laki itu dengan santainya mengambil posisi duduk ditengah. Arsen terpaksa mundur setelah mendekat sedikit demi sedikit ke calon istrinya itu.


"Belum halal, nggak boleh deket-deket" tukas Diwa.


Satu pukulan dari Arsen melayang tepat dibelakang kepala Diwa. "Pikiran lo aja yang ngeres"


"Lah. Monyet juga tahu apa yang bakal lo lakuin sampai duduk sedekat itu sama Alea bang"


Alea berdehem canggung. Diwa memang jagonya membuat suasana menjadi suram bin canggung seperti ini. "Terus kado buat siapa?" Alea masih berusaha untuk mengubah topik diantara mereka bertiga.


"Buat seseorang. Ngomong-ngomong Al, lo serius mau nikah sama sepupu gue? Gue denger lo udah inget kalau dia bucin banget sama mbak Dira dan —"


Satu pukulan kembali mendarat mulus di kepala belakang Diwa "Dulu Wa. Itu dulu, sekarang gue udah cinta sama Alea" potong Arsen.


"Bagus deh kalau gitu" jawab Diwa. Posisi duduknya yang sebelumnya lebih kearah Alea, kini berganti ke arah Arsen "Gue nggak jadi masuk perusahaan lo bang"


"Kenapa?"


"Ada hal lain yang pengin gue raih"


"Apa?"


"Dosen. Gue mau lanjut kuliah untuk S3"

__ADS_1


Baik Alea ataupun Arsen keduanya menganga tak percaya. Diwa memang baru saja menyelesaikan strata 2 nya. Namun Arsen pikir, itu hanya dilakukan Diwa untuk mengisi waktu luangnya sebagai pengangguran. lulus setengah tahun lebih cepat dari mahasiswa lainnya pun, Arsen pikir hanya karena Diwa terlalu malas untuk kuliah lama-lama yang didukung dengan otaknya yang cerdas. bukan memiliki tujuan seperti sekarang.


__ADS_2