
Hai semua. Hari ini akan double up ya. karena kemarin aku menghilang ðŸ¤.
mau mengingatkan jangan lupa LIKE dulu bab ini ya..
satu lagi, mengingatkan lagi umur Alea baru awal 20 tahun, jadi masih rada labil.
***
Sayup-sayup suara derasnya hujan membuat Alea membuka matanya perlahan. Hujan masih turun dibalik jendela kamar yang terbuka, awan masih tampak bergumul hitam pekat menggantung di langit seolah tengah memberitahu para penghuni bumi jika hujan tak akan berhenti hingga malam menyapa mereka dengan kedinginan. Dibalik tirai yang menyibak karena tertiup angin, Alea melihat kumpulan asap rokok berterbangan setelah dihembuskan oleh sosok pria yang berdiri sambil menatap hujan di luar sana.
Tampilannya tampak berantakan dari terakhir Alea lihat. Kemeja yang biasanya dimasukan kedalam celana, kini setengahnya mencuat keluar. Rambut juga tampak begitu berantakan seolah jarang terkena sapuan sisir akhir-akhir ini. Dan yang membuat Alea tahu jika laki-laki itu sama tak baiknya adalah kaki telanjang yang tak beralas sendal maupun kaos kaki. Memang ini di rumah, namun selama hidup berdua, Arsen biasanya akan selalu menggunakan alas kaki, tak pernah telapak kaki itu bersentuhan langsung dengan lantai.
Biarkan saja, Alea tak ingin bicara dengan laki-laki itu. Ia akan tetap berpura-pura tidur hingga Arsen bosan dan memilih untuk pulang. Dilihat dari laki-laki itu yang menyentuh batang rokok padahal tak pernah dilakukan sebelumnya, sudah pasti Arsen mulai bosan menunggunya sadar.
Sebelum matanya kembali ia pejamkan. Alea menatap figuran foto kedua orang tuanya yang sangat besar dan dipasang lurus dengan ranjang. Entah kenapa Alea merasa senyuman kedua orang tuanya kini tampak terlihat tak begitu tulus, seolah dipaksakan agar Alea tidak terlalu merasa bersalah. Bersalah karena menjadi salah satu menantu dari keluarga yang merenggut nyawa keduanya.
Dari figuran foto kedua orang tuanya, pandangan Alea kini beralih pada foto pernikahan dirinya dan Arsen yang memang diletakan dilantai bersandar pada tembok, posisinya persis dibawah foto kedua orang tuanya. Seharusnya Alea tak meletakkannya di sana. Seharusnya ia tak boleh pernah berniat untuk memajangnya tepat di samping foto mendiang keluarganya.
Meski semuanya masih begitu abu-abu baginya, namun kenyataanya detik ini ia mulai terbawa ucapan Marinka. Melihat kondisi mas Arsen, membuatnya semakin percaya jika apa yang diucapkan oleh sepupunya itu adalah kebenaran.
__ADS_1
Lalu, pertanyaannya. Bagaimana jika itu memang fakta yang ada?
Bagaimana jika ternyata memang keluarga Yudhistira lah yang menabrak mobil mereka dulu?
Bagaimana jika hingga detik ini juga keluarga suaminya masih tetap mengubur kenyataannya yang ada.
Dan segala bagaimana lainnya hingga membuat Alea tak sadar jika sosok pria yang tadi tengah menghisap gulungan tembakau kini sudah berbalik badan dan menatap ke arahnya.
"Hai" sapa Arsen sambil mematikan rokok yang ada ditangan lalu dibuang ke tong sampah terdekat.
Alea tak menjawab sapaan itu. Dia merubah posisi menjadi miring membelakangi Arsen yang masih berdiri didekat pintu balkon.
"Minum dulu yuk de. Habis itu kamu makan ya" meyakinkan diri, Arsen berjalan mendekat mengitari ranjang agar bisa berhadapan dengan istrinya. Duduk ditepian ranjang berniat untuk membantu sang istri duduk agar bisa minum, namuntangannya ditampik keras oleh Alea yang kembali merubah posisi hingga Arsen hanya bisa melihat punggung istrinya yang dibalut dengan selimut tebal.
"Kamu pingsan karena belum makan pasti dek. Makan ya, mas udah buatin bubur. Ya walaupun mas yakin, bubur ini nggak seenak masakan kamu"
Tak ada balasan dari istrinya. Arsen malah mendapati Alea yang menutupi seluruh tubuh dengan selimut. Setelahnya terdengar suara tangisan yang mengiris hati Arsen tatkala tubuh kecil Alea mulai bergetar hebat.
Arsen bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju jendela. Menutup jendela itu hingga suara hujan dari arah luar tak lagi terdengar keras seperti tadi.
__ADS_1
"Maaf, aku baru tahu kamu nggak suka hujan dari bi Ina" setelahnya Arsen memilih berjalan keluar dari kamar. Meninggalkan Alea yang menangis semakin kencang saat suara pintu tertutup.
Rasa sesak yang sempat menghilang karena pingsan tadi, kini kembali merambat naik hingga menyesakan dadanya. Entah meski sudah puluhan kali menangis, air matanya terus saja keluar bahkan tak ada lelahnya sama sekali. Fisik Alea sudah lelah namun hatinya memaksanya untuk mengeluarkan semua beban yang ada dengan tangisan.
Kenapa semua ini harus terjadi padanya?
Kenapa Arsen harus datang disaat jiwa berguncang seperti sekarang?
Kenapa mencintai laki-laki begitu menyakitkan?
Satu yang Alea takutkan adalah karena rasa sesak yang ada akan membuatnya salah mengambil langkah dan menciptakan kesedihan bagaikan neraka dunia untuk kehidupan kedepannya.
Menyibakkan selimut lalu menatap kembali foto kedua orang tuanya. Alea menyesal harusnya ia juga mati saja waktu itu. Harusnya ia tak memeluk erat tubuh mamah untuk melindunginya. Seharusnya ia merenggang nyawa malam itu. Namun kembali lagi, takdir bukanlah kehendak manusia. Semuanya sudah diberikan garis takdirnya masing-masing.
Memejamkan matanya, Alea butuh tidur sekarang. Mengistirahatkan fisik, jiwa dan pikirannya yang begitu kacau akhir-akhir Ini.
...****************...
Sebelum lanjut, yuk pencet LIKE nya dulu
__ADS_1