Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
Bab 13 : Pemateri Itu Suami ku


__ADS_3

Alea hanya duduk tanpa bergerak sedikitpun. Bisik-bisik disekitarnya yang kini berubah menjadi sebuah siulan bahkan tanpa membuat Alea terusik sama sekali. Pandangan Alea terus tertuju ke arah suaminya yang kini berjalan masuk ke kelas bersama pak Hamdan. Mata kuliah pemograman hari ini akan diubah menjadi bincang-bincang dengan sosok Arsen selaku pemateri hari ini. Sosok yang banyak didamba oleh mahasiswi pemograman karena ketampanan laki-laki itu.


Tidak. Bukan hanya mahasiswi saja, namun mahasiswa juga tak kalah terlihat mendamba dari cara mereka berpikir. Bahkan sosok Saga dan Diwa yang biasanya selalu duduk di barisan belakang kini langsung mengambil posisi menduduki kursi paling depan. Saga benar-benar mengidolakan sosok Arsen, sedangkan Diwa ikut pura-pura heboh agar tidak ketahuan jika sosok laki-laki di depan adalah kakak sepupunya sendiri.


Menelan ludah, Alea menoleh ke marah kanan menemukan Gita yang menatap sosok Arsen tanpa berkedip sama sekali. Kedua tangan wanita itu gunakan untuk menopang dagu dengan cengiran lebarnya. Beralih ke arah kiri, Alea menemukan Keke yang juga tak kalah terpesona, meski tak secara terang-terangan terus melihat ke arah Arsen, namun Alea tahu senyuman Keke tak pernah selebar itu jika melihat lawan jenis.


Alea menghela napasnya kesal. Kenapa dari banyaknya programer sekaligus pengusaha di negri ini, kenapa harus Arsen yang berdiri di podium depan sana.


Saat tak sengaja pandangan mereka bertemu, Alea buru-buru menutup wajahnua dengan buku. Pantas saja hari ini mas Arsen mengenakan baju tak seperti biasanya, tujuannya adalah kampus dan dalam waktu 30 menit ke depan mungkin Alea akan keringat dingin saking gugupnya. Dilihat dari mas Arsen yang tersenyum, suaminya itu pasti sudah menemukan dimana letak dirinya duduk.


"Sumpah Al. Ganteng banget. Mana mas Arsen sering liat ke sini lagi" ucap Gita dengan kaki yang berjingkrakan tak karuan.


Iya lah liat ke sini. Orang istrinya di sini. Pekik Alea dalam hati.


Tangan Alea menyingkirkan tangan Gita yang sesekali memukul pahanya karena gembira. Jika terus di pukul, Alea tidak mempertahankan buku yang kini menutupi wajahnya. Jangan sampai mas Arsen melihat dirinya sekarang.


"Kayanya sering ngeliatin ke sini gara-gara lo nutupin muka pakai buku deh Al. Nggak sopan banget" Keke menarik buku Alea tanpa izin.


Begitu di tarik, Alea hanya bisa pasrah saat pandanganya langsung bertemu dengan mata Arsen. Syukur suaminya itu yang paham dengan kegugupan Alea langsung mengalihkan pandangnya sambil terus memberikan materi yang telah dipersiapkan. Rasanya Alea ingin sekali pindah ke planet Mars sekarang juga.


"Sumpah, gue kalau punya suami seganteng dan sepinter itu bakal betah di rumah Al"


Terlalu tak bersemangat, Alea hanya mengangguk saat Gita kembali bicara. Nggak tahu aja dia, menjadi istri Arsen tak seindah yang dibayangkan. Kalau nggak ngambek atau ngasih hadiah, mau ngomel panjang lebar pun laki-laki itu tak akan menggubrisnya.


Mengingat tentang hadiah, Alea langsung menyentuh pipinya yang mungkin kini sudah semerah batu bata. Serius dirinya mungkin bisa pingsan sebentar lagi.


"Ada pertanyaan yang akan saya ajukan setelah materi. Jadi mohon untuk di dengarkan dengan baik ya. Ada hadiah laptop juga yang menti kalian" ucap Arsen ditengah-tengah kuliahnya.

__ADS_1


Menyindir, jelas Alea terasa tersindir dengan kalimat suaminya barusan. Dengan senyuman paripurna sampai matanya melengkung Alea duduk tegak sambil menatap wajah Arsen di depan. Yang ditatap kini malah tertawa seolah takjub dengan suasana dikelas yang tiba-tiba sepi dan memperhatikan semuanya. Tanpa ada yang tahu, Arsen tengah menertawakannya sekarang.


"Tajir cuyy. Jiwa ingin di nafakahi meronta-ronta ini" bisik Gita. Percayalah saat ini ingin sekali Alea menyumpal mulut temannya ini sekarang. Atau mungkin menimpukan sepatunya ke arah Diwa yang tengah menoleh ke arahnya sambil tertawa.


30 menit waktu terlama yang ada didalam hidup Alea kini sudah berlalu. Sesi tanya jawab yang dipenuhi oleh pertanyaan dari mahasiswa kini mulai berdatangan. Meraih ponselnya, Alea mengetikan sesuatu ke suaminya itu.


Alea : mas. Please, kasihanilah aku kali ini. Jangan nanya ke aku ya mas.


Setelah menekan tombol send, Alea kembali menatap ke arah Arsen yang tengah menjawab pertanyaan Saga. Sepertinya mengirim pesan pada laki-laki itu sekarang tak akan berguna sama sekali. Jangankan dibuka, ponsel yang ada di saku laki-laki itu di sentuh saja tidak sama sekali.


"Al, Ke. Gue nanya tuh cowok udah punya pacar kali ya?, gue yakin bukan cuman gue doang ya penasaran. Kali aja masih jomblo" bisik Gita.


Keke mengangguk setuju, bahkan Anisa yang duduk di sebelah Keke dan tak sengaja mendengar ucapan Gita, menganggukkan kepala. Ingin sekali Alea menggelengkan kepalanya karena takut jika mas Arsen malah akan menunjuk ke arahnya, diperkenalkan bukan hanya sebagai pacar, melainkan sebagai istri. Kehidupan kampus Alea akan hancur sehancur-hancurnya.


"Coba tanya Git. Lo doang yang berani nanya. Gue nggak, tapi gue penasaran juga" kata Nisa.


Gita mengerutkan dahinya "Tumben. Biasanya lo ikut semangat"


"Liat-liat dulu orangnya. Ya kali cowok mapan kaya gitu mau lu tanyain hal begitu. Malu-maluin aja"


Cowok mapan. Cowok mapan itu sayangnya udah punya gue. Batin Alea.


"Bodo amat. Gue mau nanya. Lumayan bisa gue deketin kalau ternyata masih jomblo" seru Gita sambil mengangkat tangannya saat pertanyaan dari Saga sudah di jawab.


"Silahkan di sana. Mbak nya yang mau bertanya" ucap Arsen.


Sesamar mungkin Alea berusaha menggelengkan kepala ke arah Arsen. Semoga laki-laki itu bisa melihatnya.

__ADS_1


"Saya mau tanya mas" ucap Gita.


Seketika suasana kelas menjadi riuh saat Gita malah memanggil Arsen dengan sebutan 'mas' padahal yang lain memanggilnya dengan sebutan 'Pak'.


"Mas. Mas. Dikira lahirnya serahim sama lo kali Git" seru Bimo.


Bukan Gita namanya jika langsung menciut mendengar ejekan Bimo barusan. Tak peduli dengan Bimo, Gita berdiri dan kembali menatap ke arah Arsen.


"Bukan mengenai materi sih mas. Cuman saya mau tanya, mas nya sudah punya pacar belum?"


Ruang kelas kembali riuh dengan suara mahasiswi yang setuju dengan pertanyaan Gita barusan. Untuk siapa saja yang mempunyai pintu doraemon, tolong pinjamkan ke Alea yang rasanya ingin menghilang saja sekarang.


Saat tatapan Arsen tertuju ke arahnya, Alea langsung menggelengkan kepalanya. Menunjukkan tatapan penuh permohonan agar Arsen tak membawanya masuk ke dalam jawaban laki-laki itu.


"Sayang sekali. Saya sudah pakai cincin ini"


Alea melotot saat Arsen malah terang-terangan menunjukkan cincin pernikahan mereka. Dengan sigap Alea menarik tangan kirinya sembunyi dibawah meja. Semoga saja baik Gita dan Keke tak menyadari kesamaan cincin miliknya dengan cincin Arsen. Alea masih menggunakan cincin pernikahannya, hanya saja di sematkan di jari tengah tangan kirinya. Saat ditanya pun, Alea menjawab jika itu pemberian dari kakak sepupunya.


Suara patah hati para mahasiswi kembali terdengar. Gita yang bertanya, kini kembali mengangkat tangannya "Itu cincin tunangan apa pernikahan mas?"


Gak sopan. Benar-benar gak sopan. Seru Alea dalam hati.


"Pernikahan. Jadi janurnya sudah melengkung ya" jawab Arsen kemudian dilanjut dengan kalimat penutup.


Di kampus kali ini dirinya selamat. Tapi Alea tak yakin saat di rumah nanti, dirinya juga akan selamat.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2