
Semuanya tak semudah yang orang bayangkan. Sekuat mungkin Alea berusaha untuk mengingat apa yang terjadi, nyatanya hanya akan berakhir dengan telinganya yang berdengung nyaring disertai sakit kepala. Fakta bahwa mereka pernah bercerai sebenarnya tak begitu mengejutkan bagi Alea, karena sejak dari rumah sakit pun dirinya sudah merasa aneh karena Arsen tak mengenakan cincin pernikahan mereka, begitu pun dirinya yang menggunakan cincin yang berbeda.
Alea ingat betul cincin pernikahan dirinya dan Arsen tak memiliki inisial apapun di dalamnya, namun cincin yang ia kenakan sekarang memiliki inisial namanya di sana.
Sesungguhnya Alea penasaran dengan apa yang sebenarnya telah terjadi diantara mereka sebelum dirinya koma. Hanya saja, rasa sakit di kepalanya membuat Alea tak sanggup untuk menerima ingatan-ingatan kenyataan yang ada sekaligus. Biarkan semuanya bertahap. Setidaknya Arsen memiliki keberanian untuk bicara jujur, tak berusaha membohonginya seperti dulu.
Bukan hanya sekedar mengelilinginya taman komplek seperti rencana awal. Alea meminta agar mereka tak langsung pulang ke rumah karena dirinya sedikit kesulitan bernapas saat berusaha untuk mengingat alasan mereka bercerai.
Maka disinilah mereka sekarang, Arsen membawanya ke taman luar kompleks perumahan yang jelas kondisinya jauh lebih ramai dari taman sebelumnya. Ada beberapa orang yang berolahraga, ada juga beberapa sejoli yang duduk menikmati malam minggu mereka, ada juga beberapa keluarga yang bermain sepeda dengan anak-anaknya. Alea tersenyum melihat pemandangan itu, napasnya jauh lebih teratur dari sebelumnya.
Duduk di salah satu kursi taman, Alea menatap sepasang suami istri yang duduk tak jauh dari mereka, sang suami mengelus perut besar istrinya yang membuat Alea refleks mengelus perutnya sendiri.
"Keren ya mas"
Arsen yang tengah berlutut di depan Alea sambil mengikat tali sepatu Alea, mendongak menatap wajah cantik wanitanya. "Siapa? Mas yang keren? Itu sih udah dari lahir"
Alea tertawa. Ini adalah sisi lain Arsen yang dulu sering Alea lihat saat laki-laki ini bersama mbak Dira. Tak menyangka jika Arsen akan menunjukkan kepadanya sekarang.
"Pede banget sumpah kamu mas. Kayanya dulu datar aja nggak pernah bercanda sama aku. Kok sekarang beda banget"
"Anggap aja yang dulu itu pria brengsek, dan Arsen yang sekarang itu bucin"
"Emang kamu tahu arti bucin?"
Alea bergeser sedikit memberi ruang agar Arsen bisa duduk disampingnya.
"Budak cinta?"
Alea membulatkan matanya lalu mengangguk. Dulu Arsen sangat sibuk di kantor, tak bergaul dengan orang lain selain Kenzo, maka dari itu Alea tak menyangkan jika Arsen tahu istilah itu "Betul. Tapi yang keren bukan kamu" Alea menunjuk ke arah pasangan suami istri itu.
__ADS_1
"Mereka? Kenapa?"
"Keren, karena dua orang yang dulunya nggak saling mengenal bahkan terkadang lahir dibeda provinsi ada juga yang beda negara. Terus ketemu, jatuh cinta, nikah, habis itu ada bayi yang tumbuh di rahim wanita. Itu keren"
Alea menoleh saat kepalanya diusap begitu lembut.
"Ayo mulai dari awal semuanya sama aku dek. Karena aku juga ingin punya anak dari kamu. Tanda kalau ada cinta diantara kita"
Sebuah senyuman terbentuk begitu tampan di wajah Arsen sekarang. Apa yang Alea harapkan pada pernikahan mereka dulu kini sepenuhnya sudah ia dapatkan.
"Aku ingin pulang ke rumah kita mas, secepatnya" jujur Alea. Masih banyak list yang ingin Alea lakukan bersama Arsen. List yang dulu tak pernah mereka lakukan bahkan tak pernah keluar dari mulut Alea sama sekali.
Seperti; masak bersama, liburan bersama, berkebun bersama hingga menikmati senja di teras dengan dua cangkir teh. Alea ingin melakukan semua itu.
Arsen mengangguk mengiyakan. Bukan hanya Alea saja yang ingin kembali ke rumah mereka. Arsen juga sama. Maka dari itu acara pernikahan mereka akan digelar di minggu ini juga.
"Kalau kamu bersedia, kita menikah lagi minggu ini. Dan mengadakan pesta pernikahan di rumah kita" usul Arsen. Tema pesta pernikahan akan ia serahkan semuanya kepada Alea. Wanita pasti memiliki keinginan tersendiri akan pesta pernikahan.
"Siap ibu negara" jawab Arsen sambil memberikan hormat pada Alea. Wanita itu kembali tertawa. Dan Arsen berjanji pada dirinya, akan membuat Alea terus tertawa selama tinggal bersamanya. Kejujurannya hari ini diterima dengan baik oleh Alea, maka kejujuran selanjutnya hanya perlu Arsen siapkan mental agar Alea juga bisa menerimanya seperti sekarang.
"Ini mbak Alea kan?"
Saat keduanya asik tertawa, suara ibu-ibu menginterupsi membuat tawa mereka berhenti sejenak. Ibu Popi—tetangga yang rumahnya hanya berbeda beberapa blok dari bunda berdiri di depan mereka.
Hanya Arsen yang mengenal ibu Popi disini, sedangkan Alea tampak mengerutkan dahinya berusaha mengingat wanita yang menggunakan celana training dengan warna yang senada dengan kaos yang digunakan.
"Mas Arsen. Ini mbak Alea kan bener?"
Alea menoleh ke arah Arsen. Sungguh Alea tak mengenal wanita yang berdiri di depan mereka. Alea yakin bukan karena hilang ingatan dirinya tak mengenal ibu-ibu ini, tapi memang Alea tak mengenalnya atau mungkin karena mereka hanya pernah bertemu beberapa kali.
__ADS_1
"Siapa mas?" bisik Alea.
Popi yang mendengar bisikan itu tampak tertawa kecut. "Ih, mbak nya nggak ingat sama saya? Ya emang dulu kita cuman ketemu beberapa kali sih mbak. Pas mbak ke rumah ibu Amel karena urus perceraian"
Arsen berdehem keras. Ia tak suka dengan kalimat ibu Popi barusan "Iya bu Popi. Ini Alea" jawab Arsen datar.
"Eh, beneran mbak Alea?. Gimana kabarnya mbak?"
Karena tangan ibu Popi terulur ke arahnya, mau tak mau Alea menjabat tangan itu "Baik bu" jawab Alea dengan senyuman tipis.
"Keren sih kalian. Udah pisah tapi bisa jadi teman. Mbak Alea pasti lagi main ke rumah ibu Amel ya?"
"Emm.. Iya bu" jawab Alea seadanya. Raut wajah tak suka bisa Alea lihat dari wajah tampan Arsen sekarang. Laki-laki itu terlihat begitu tak nyaman dengan kehadiran ibu Popi.
Bu Popi bertepuk tangan sekali. Seolah menemukan jawaban akan kehadiran Alea di sini "Ah. Mbak Alea pasti mau ngasih undangan ke bu Amel ya"
Alea mengerutkan dahinya bingung "Undangan?"
"Iya undangan. Saya denger mbak Alea mau nikah. Pasti datang ke sini juga karena ngundang mas Arsen ya mbak? Saya diundang nggak mbak?"
Baik Alea maupun bu Popi, keduanya sama-sama terkejut saat Arsen tiba-tiba berdiri. Terlebih, Alea karena tangannya ikut ditarik Arsen agar berdiri.
"Untuk apa saya diundang? Saya dan Alea yang akan nikah sebentar lagi bu. Kami rujuk. Jadi, pengantin pria jelas harus datang kan?"
"Eh? Sama mas Arsen? Yang saya denger sama—"
"Sudah malam. Kami permisi bu" potong Arsen cepat. Mengeratkan genggaman tangannya pada Alea, Arsen menggandeng Alea untuk berjalan kembali ke rumah bunda.
Bisakah beri ia jeda untuk bernapas setelah jujur akan perceraian mereka tadi?
__ADS_1
Ia perlu bernapas terlebih dahulu sebelum menyinggung Saga.