Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
Bab 15 : Kedatangan Wira


__ADS_3

Suami dingin:


Saya, di depan toilet.


Mendapat pesan dari mas Arsen bersamaan dengan suara laki-laki itu yang memanggilnya, Alea buru-buru keluar dari kamar mandi. Kepalanya celingak-celinguk takut jika ada mahasiswi yang berasa di kamar mandi. Merasa kondisi aman, Alea melongokkan kepala dari balik pintu.


"Mas Arsen"


Suaminya itu benar-benar berasa di depan pintu. Tangannya mengansurkan sebuah paper bag berwarna coklat yang langsung diterima oleh Alea. Cukup cepat karena takut jika ada yang memergoki mereka berdua. Bisa habis dirinya ditangan Gita dan Keke jika ketahuan istri yang Arsen maksud di kelas tidak lain tidak bukan adalah sosok sahabat dekat mereka.


Meninggalkan mas Arsen, Alea kembali masuk ke bilik kamar mandi.


Ada secarik kertas berwarna putih yang juga berada di dalam sana. Membukanya, Alea tak bisa menahan senyumnya membaca sederet kalimat yang tertera.


Maaf untuk yang semalam.


Dari suami kamu.


"Bisa minta maaf juga ternyata itu orang" monolog Alea. Senyuman masih tercetak jelas di wajahnya, mungkin setelah ini dirinya juga harus meminta maaf pada suaminya itu.


Selesai mengganti semua, Alea berjalan keluar dari kamar mandi guna mengucapkan terimakasih pada suaminya itu. Namun jantungnya mendadak bergemuruh kencang saat bukan Arsen yang ia temukan didepan toilet, melainkan Saga yang berdiri dengan satu paper bag yang ada di tangannya.


"E.. Lo ngapain di sini?" tanya Alea gugup. Jangan sampai Saga melihat mas Arsen tadi.


"Ini" Saga menyodorkan paper bag yang ada di tangan "Gita chat gue, katanya lo butuh ini"


Alea menelan ludahnya samar, dilihatnya isi paper bag itu, dan satu bungkus pembalut berada di dalamnya. "Makasih" jawab Alea.


"Lo nggak jadi ganti?"


Buset dah, ini orang blak-blakan banget.


"Nggak. Udah ada tadi" jawab Alea sambil menggenggam erat tali tasnya.


Dahi Saga berkerut. Raut penasaran tergambar jelas di wajah laki-laki ini sekarang, membuat kaki Alea mulai terasa lemas saking takut ketahuan.


"Gue.. Gue cabut duluan ya. Mak—"


"Ada hubungan apa lo sama pak Arsen?"


Fix, Saga melihat Arsen tadi.


Tak mungkin untuk mengelak atau bahkan pura-pura tak tahu dengan apa yang Saga maksud. Alea memejamkan matanya sebentar sambil menghela napasnya. Otaknya berputar sangat cepat mencari alasan yang masuk akal untuk laki-laki ini sekarang. Alea masih tak ingin jika statusnya sebagai istri orang terbongkar, apalagi menjadi istri seorang Arsenio Yudhistira yang baru saja menjelma menjadi idola para mahasiswi di kampus.


Setelah menemukan alasan yang tepat. Alea menarik Saga agar duduk di salah satu kursi kantin. "Ini rahasia kita aja ya. Jangan sampai bocor, bisa-bisa digantung gue kalau kesebar"

__ADS_1


Saga menganggukkan kepalanya.


"Dia..."


"Dia?"


"Emm.. Dia"


"Dia siapa?" Saga mencondongkan badanya ke arah Alea saat tangan Alea memintanya untuk mendekat.


"Dia sepupu Diwa" jawab Alea. Tak menjadi korban kemarahan Gita dan Keke, tapi mungkin dirinya bisa digantung oleg Diwa jika hal ini kesebar. Maaf Diwa, cuman nama lo yang ada benang merahnya sama mas Arsen.


"Sepupu Diwa?" tanya Saga memastikan lagi.


Alea menganggukkan kepalanya "Jangan sampai orang lain denger ya. Bisa digantung gue"


"Kok lo bisa kenal?"


Boleh nggak jahit mulut ini cowok. Kaya rentenir, banyak banget yang ditanya.


"Gue pernah main ke rumah Diwa. Gue udah kenal Diwa kan dari SMA, nah, pas main, ketemulah gue sama pak Arsen. Tadi dibawain juga karena Diwa yang nyuruh"


"Serius?"


"Serius lah"


Alea menghela napasnya saat Saga akhirnya percaya dengan kebohongannya barusan. Dari pada dikorek lebih dalam lagi oleh laki-laki ini, Alea buru-buru cabut duluan meninggalkan Saga yang masih duduk di kursi kantin. Baguslah kalau dia percaya.


***


Karena mas Arsen sudah minta maaf, maka sekarang waktunya bagi Alea untuk balik minta maaf. Memboyong dua jinjing kantong bersisi sayuran yang ia beli tadi setelah pulang dari kampus, Alea meletakkannya di dapur yang langsung mendapat tatapan bingung dari bi Ami.


Ngucapin minta maaf secara dadakan tanpa ada embel-embel lainnya, Alea terlalu gengsi untuk melakukan hal itu. Mengingat Keke pernah berkata jika laki-laki akan luluh saat berada di posisi perutnya yang kenyang, Alea berniat memasakan sesaat untuk mas Arsen sebelum laki-laki itu pulang.


Tadi Alea sudah sempat bertanya, dan Suaminya menjawab jika kemungkinan pulang ba'da maghrib karena ada urusan kerjaan di kantor.


"Mbak Alea yang belanja ini semua?" tanya bi Ami.


"Iya bi. Malam ini biar aku yang masak buat mas Arsen. Jadi bibi bisa ngerjain yang lain, kalau nggak istirahat aja. Biar Alea yang nyiapin asupan perut mas Arsen"


Bi Ami tersenyum mendengarnya "MasyaAllah, beruntungnya mas Arsen punya istri sholeh yang bisa masak juga"


Alea mengedipkan matanya ke bi Ami, lalu mulai menyiapkan semua bahan masakan. Malam ini ia akan membuat ayam rica-rica, sayur sop dan pepes ikan. Tiga masakan kesukaan mas Arsen yang Alea ketahui setelah menanyakan ke ibu mertuanya.


Ting tong.

__ADS_1


Suara bel yang ditekan, sejenak membuat Alea dan bi Ami saling pandang. Jangan bilang mas Arsen pulang dan tidak jadi ke kantor?, kalau begitu gagal sudah rencana Alea.


Tapi seakan memang mas Arsen bisa diajak kerja sama. Alea menghela napasnya saat bi Ami yang tadi pergi untuk membuka pintu, kini kembali ke dapur dengan sosok mas Wira yang berjalan di belakangnya.


"Eh, mas Wira. Wih alhamdulillah udah nggak pake tongkat nih mas" ucap Alea. Mempersilahkan mas Wira untuk duduk di kursi meja makan, sedangkan bi Ami beranjak ke kulkas untuk membuat minuman.


"Iya Al, alhamdulillah. Ini mas gangguin kamu masak nggak nih?"


Alea menggelengkan kepalanya "Nggak mas. Baru mau mulai. Pulangnya nanti aja mas, biar bisa makan malam sekalian sama mas Arsen. Eh, itu tas aku ya mas?"


Wira mengangguk, meletakan tas berisi baju itu diatas meja makan "Iya. Disuruh bunda buat nganterin ini"


"Hehe, makasih ya mas. Baru mau nyuruh Diwa suruh ngambilin. Lumayan, punya adik ipar. Ada yang di suruh" canda Alea.


Keduanya tertawa bersamaan. Bicara dengan mas Wira memang cukup menyenangkan.


Jika bicara dengan Diwa, Alea kesal minta ampun karena malah diledekin oleh laki-laki itu, atau mungkin jika bicara dengan mas Arsen, Alea kesal karena tanggapannya yang dingin. Bicara dengan mas Wira menjadi menyenangkan karena sikap easy going sepupu suaminya itu.


"Kamu, ngapain di sini?"


Baik Alea, Wira dan bi Ami sama-sama menoleh ke sumber suara. Mas Arsen berdiri diambang pintu yang memisahkan antara dapur dan ruang tengah. Alea buru-buru berdiri dan menyembunyikan bahan masakan dengan tubuh kecilnya. Berbeda dengan bi Ami dan Wira yang menampakkan ekspresi yang mirip.


"Mas Arsen bilangnya pulangnya maghrib. Kok malah udah pulang?" tanya Alea kesal. Gagal sudah rencananya untuk membuat kejutan.


"Gue nanya. Ngapain lo ke sini?" tak menggubris ucapan Alea. Arsen kembali melontarkan pertanyaan yang sama kepada Wira.


Alea yang kini menyadari ada ekspresi tak suka dari wajah suaminya saat melihat Wira, terdiam seketika. Raut wajah itu, yang Alea liat pertama kali saat acara kemarin.


"Gue disuruh bunda nganterin tas baju lo sama Alea" jawab Wira akhirnya. Ekspresi Arsen saat menatapnya masih sama seperti dulu. Kebencian itu masih amat terlihat di sana.


"Oke. Sudah gue terima. Makasih, jadi lo bisa pergi sekarang!"


"Mas" tegur Alea halus.


Tak memperdulikan ucapan istrinya, Arsen menyambar tas yang ada di meja, lalu langsung berjalan menuju kamar yang ada di lantai dua.


Wira yang mendapat usiran barusan. Tersenyum ramah, lalu pamit pulang. Meninggalkan Alea yang masih berada di dapur dengan kebingungan yang nyata.


Berpikir barangkali bisa bertanya saat perut suaminya itu kenyang. Alea kembali melanjutkan masaknya. Malam ini ia harus tahu alasan kenapa Arsen sedingin itu dengan Wira, padahal cukup ramah dengan sepupu yang lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


***Ayo tinggalkan komentar kalian di bawah. kali aja bisa double up karena hayati semangat 🤭


 

__ADS_1


 


__ADS_2