Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
Bab 24 : Perasaan Itu Ternyata Ada


__ADS_3

Alea masih berdiri sambil menatap kedua orang itu. Membandingkan dirinya dengan mbak Dira yang nampak begitu cantik dengan blush berwarna biru, rambut pendek sebahunya tertiup angit laut yang anehnya malah nampak semakin anggun. Jika dibanding dirinya yang kini mengenakan baju kodok berwarna hijau dengan kartun katak super besar di bagian depannya, mbak Dira nampak lebih cocok bersanding dengan mas Arsen yang berdiri di depan wanita itu.


Karena posisi berdiri mas Arsen yang memunggunginya, Alea tak bisa melihat bagaimana ekspresi suaminya itu sekarang. Entah ekspresi datar seperti yang biasa ditunjukan kepadanya atau ekspresi sumringah seperti mbak Dira.


Kaki Alea terpaku seketika saat melihat mbak Dira yang sebelumnya tersenyum kini nampak menundukkan kepala nya, raut wajah bahagianya hilang seolah-olah ikut tertiup oleh angin dan berubah menjadi raut wajah rasa bersalah. Pembicaraan mereka juga nampak serius, dan Alea melihat mas Arsen melepas cincin yang ada di jari manis laki-laki itu.


Melihat itu, rasanya ada bangunan yang roboh seketika didalam hati Alea. Remuk, hingga membuat langkahnya kini berbalik arah. Tak mendekat, melainkan berjalan kembali menuju penginapan mereka. Sebuah banner bertuliskan RA Architecs terpasang di rumah penginapan yang berdekatan dengan penginapan mereka. Seolah memaksa Alea untuk percaya jika liburan mereka di Bali kali ini tak akan sesuai dengan rencana dan tak akan sebahagia itu khususnya untuk dirinya.


"Mas Arsen mana Al?"


Alea melewati Diwa yang mengajukan pertanyaan, begitu saja. Tak ingin menjawab, dan tak ingin juga memberi tahu karena Alea tak ingin mas Arsen tahu dirinya melihat semua itu. Alea hanya perlu menyusun puzzel-puzzel yang ada dan tinggal menarik benang merahnya.


***


Bukan hanya Arsen yang terpaku beberapa menit yang lalu, Dira juga nampak terdiam sebentar sebelum akhirnya tersenyum dan mendekat.


Sosok wanita yang dulu pernah mengisi hatinya hingga setiap akhir pekan Arsen bersedia untuk terbang ke Singapura, kini kembali berhadapan dengannya setelah sekian lama tak pernah bertemu.


Degup jantungnya yang tak berirama, menjadi pertanyaan bagi Arsen mengenai sejauh mana perasaan terhadap wanita itu masih ada di dalam hatinya. Sebesar apa cintainya hingga jantungnya masih berdegup kencang begitu melihat wajahnya. Ada rasa lega melihat Dira baik-baik saja, namun juga ada rasa marah karena wanita itu memilih untuk meninggalkannya waktu itu.


Tak ada senyuman balasan, Arsen hanya berdiri dengan ekspresi datar meski rasanya ingin sekali merengkuh wanita di depannya ini. Disaat seperti ini, dirinya benar-benar menjadi pria brengsek karena melupakan sosok Alea sebagai istri sahnya.


Senyuman Dira kini berubah menjadi ekspresi yang penuh dengan rasa bersalah. Ekspresi yang sama yang ditunjukan dulu dan membuat Arsen begitu tak menyukainya, karena ekspresi itu membuatnya terlihat menyedihkan sebagai seorang korban dari keegoisan dua orang.


Dan sekarang lebih bujuk lagi, karena setengah dari keegoisan itu tengah ia lakukan pada istrinya sendiri.

__ADS_1


"Hai, mas, gimana kabarnya?"


Suara yang dulu sering kali ia dengar dari sebrang telfon kini kembali menyapanya. Sederet kenangan yang mati-matian Arsen lupakan, kembali satu persatu dan terus beruntun seperti kereta yang tak memiliki gerbong akhir. Bahkan sampai kemunculan Wira pun menusuk ingatannya seketika.


"Aku sehat mas. Barang kali kamu ingin nanya gimana kabar aku. Sehat di fisik namun tak sehat di batin" ucapnya lagi.


Jika kalian ingin bertanya sejahat apa wanita ini terhadapnya? Sangat jahat. Blush yang wanita itu kenakan adalah pemberian dari Wira yang katanya untuk gebetannya yang belum dikenalkan dengan pihak keluarga, Arsen yang menemani Wira kala itu.


Sedangkan sepatu kets yang wanita itu kenakan adalah pemberian darinya. Ajaibnya dibeli di hari yang sama dengan blush itu.


Jika saja saat itu baik Wira dan dirinya menunjukkan foto masing-masing dari wanita yang disukai, mungkin semua masalah tak akan sejauh ini.


"Kenapa kamu bisa di sini?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Arsen dengan nada ketus dan sangat dingin.


"Dapat liburan dari kantor ke Bali"


"Ini penginapan paling bagus mas. Aku nggak ngerekomendasi apapun ke kantor. Mereka memilihnya sendiri" jawab Dira sambil menyelipkan rambutnya kebelakang telinga.


Untuk sesaat, tatapan Arsen terpaku melihat sebuah cincin yang tersemat di jari wanita itu. Cincin pertunangan mereka masih tersemat dijari manis wanita itu.


"Aku masih pakai cincin ini karena indah mas."


Arsen menatap ke arah lain saat matanya memanas tiba-tiba. Nyatanya dirinya ternyata masih memerlukan waktu yang lebih kaka lagi untuk membuat semuanya baik-baik saja.


Sebaik mungkin, Arsen menahan diri untuk tidak memeluk wanita ini, rasa rindu yang dulu hilang kini datang bertubi-tubi lengkap dengan amarah yang membuncah tak terkira.

__ADS_1


"Aku dengar dari Gea, kalau kamu udah nikah ya mas?"


Memutar cincin pernikahannya dengan Alea, Arsen melepaskannya sebentar untuk menunjukkannya pada Dira "Aku sudah menikah." jawabnya lalu kembali mengenakan cincin itu.


"Selamat ya mas"


Arsen tertawa sarkas mendengar penuturan Dira. Ketika kehidupannya menjadi kacau balau karena pembatalan pertunangan mereka dulu, sepertinya hanya dirinya saja yang terluka sedangkan wanita ini malah tampak baik-baik saja.


"Selamat? Jika kata itu tulus, seharusnya kau paham dan tak berani muncul di depan ku lagi Ra. Seharusnya katakan selamat itu diam-diam. Bukan bertatap langsung seperti ini" ucap Arsen.


"Aku minta maaf ya mas, alasan aku masih pakai cincin ini ag—"


"Ikut aku bang" ucapan Dira berhenti saat Diwa datang dan menarik tangan Arsen menjauh dari Dira.


Tepat saat jarak mereka sudah cukup jauh dari Dira yang memutuskan untuk kembali ke penginapan. Satu bogeman dari Diwa melayang ke pipinya hingga membuat dirinya tersungkur ke tanah. Arsen pasrah, tak ada pembalasan yang ia lakukan sekarang, hanya diam sambil menerima satu bogeman lagi dari Diwa yang mendarat ke pipinya.


"Lo gilang ya bang!!" pekik Diwa.


"Bener Wa. Kayanya gue beneran gila karena perasaan itu masih ada" jawab Arsen lirih sambil mengusap kasar wajahnya sendiri.


Jika seperti ini, bagaimana hubungan dirinya dan Alea akan berlanjut?.


...****************...


***Baru kali ini nulis tokoh utama, tapi juga sebel sama karakternya.

__ADS_1


cung yang sebel sama Arsen. ☝🏻


mohon dukungannya ya teman-teman


__ADS_2